Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 272 Tamparan.


__ADS_3

Ane membuka pintu ruangannya, dan ternyata itu adalah perawat yang berjaga di rumah sakit. Ia memberikan sebuah surat pada Ane.


Surat dari Deni.


Perlahan Ane mulai membuka surat itu dan membacanya secara perlahan.


“Deni.”


Merusak surat itu dan membuangnya pada tong sampah, Ane benar-benar di sulitkan dengan masalah yang bertubi-tubi. Membuat kepalanya pusing.


@@@@@


Jam sudah menujukan pukul 08:00 malam di mana Ane mulai menghampiri sang papa, ia menaiki mobilnya sendiri dengan hati yang gusar.


Ane tak tahu apa yang akan di bicarakan papahnya, karna di dalam telepon sang papah seperti kesal kepadanya.


Menggigit jari tangannya, di dalam perjalanan Ane merasa hal janggal merasuk hatinya. Hingga beberapa menit kemudian, tak terasa mobil Ane sudah sampai di depan rumah sang papah yang terbilang megah.


Ane memarkirkan mobil di halaman depan rumah yang begitu luas, ia keluar dari dalam mobil melihat sang papah yang sudah menunggu di depan rumah.


Melangkah dengan perasaan yang begitu ragu, saat itulah Ane mendekat dan berkata,” apa kabar papah.”


“Hem ....”


Sang papah tak menjawab perkataan Ane, dia malah melangkah masuk ke dalam rumah. Begitu pun dengan Ane, wajar saja sang papah bersikap seperti itu, karna Ane bukalah anak kandung. Ane hannyalah anak angkat yang di pungut waktu kecil.


Lelaki tua itu duduk di atas kursi dengan tampang gagahnya, sang mamah yang mulai datang dengan membawakan minuman untuk Ane hanya melirik sekilas.


Tatapan kedua orang tua Ane seakan menanamkan sebuah kebencian, seakan tak ada kehangatan pada malam itu untuk Ane.


Sang papah, mulai mengawali pembicaraan. Dengan duduk menatap tajam ke arah Ane.


“Apa kamu sudah menyadari tentang berita hari ini?” tanya sang papah. Dengan berucap sedikit bernada tinggi.


Ane yang duduk di atas kursi, menundukkan pandangan ia menyesali semua perbuatannya.


“Iya, pah.”


Plak, satu tamparan melayang pada pipi kiri Ane. Sang mamah yang melihat tamparan itu hanya bisa terdiam dengan berdiri mematung seakan tak melihat yang terjadi pada Ane.


Ane mulai meneteskan air mata, menahan rasa sakit dari tamparan sang papa.

__ADS_1


Lelaki tua itu mulai berdiri menunjuk-nunjuk jari tangan ke arah wajah Ane.


“kamu tahu akibat dari keteledoranmu itu,” bentak sang papah.


Bentakan dari lelaki tua itu seakan mengingatkan Ane pada Alan, yang tadi siang membentaknya.


“Maaf.”


Plak ....


Permintaan maaf Ane malah membuat sang papah semakin murka, lelaki tua itu malah menampar kembali Ane.


Rambut Ane kini menjadi kusut dan wajah yang penuh air mata, sang mamah masih tetap saja diam tak ada pembelaan sedikit pun.


“Papah, tidak mau tahu lagi. Kamu harus membereskan semua masalah yang berada di rumah sakit, jika tidak kamu akan tahu akibatnya Ane.” Ancaman Sang papah tak segan-segan terlontar begitu saja, membuat Ane ingin sekali lari dari semua masalah yang di hadapinya saat ini. Tapi itu tak mungkin, karna ia bertanggung jawab atas rumah sakit yang ia tempati.


“Ane akan usahakan, pah,” ucap Ane. Berusaha meyakini sang papah.


“Papah akan beri kamu kesempatan satu kali lagi, tapi jika kamu tidak bisa menyelesaikan semuanya, ingat apa yang di katakan papah dulu,” balas sang papah.


Ane menganggukkan kepala mengerti apa yang dikatakan sang papah, pada saat itulah Ane mulai berdiri. Dan mencium punggung tangan sang papah.


Ane juga mendekat ke arah sang mamah, dan tak lupa mengecup punggung tangan wanita tua itu. Tak ada ucapan terlontar dari mulut wanita tua itu, seakan dia tak menganggap Ane sebagai anaknya.


Ane mulai masuk ke dalam mobil untuk segera pulang menemui keluarganya di rumah, ia berusaha menghapus bekas air mata dan juga tanda merah di pipinya. Bekas pukulan sang papah begitu keras, membuat tanda merah pada pipi Ane susah hilang.


Apalagi wajah Ane yang putih, “ apa jadinya nanti jika suamiku tahu.”


Ane berusaha bersikap tenang. Saat dirinya sudah sampai di halaman rumah. Menarik nafas pelan, mengeluarkan secara perlahan.


Kini sang suami datang menyambut kehadirannya di depan mata.


“Sudah malam, kenapa baru pulang?” tanya sang suami berjalan ke arah Ane.


Ane berusaha menutupi pipi merahnya bekas tamparan sang papah.


“Kenapa wajahmu kusut sekali?” tanya sang suami.


Ane tetap saja terdiam menundukkan pandangan, seakan enggan menatap wajah lelaki yang menjadi suaminya.


“Hey, aku bertanya padamu, Ane. Kenapa kamu diam saja?”

__ADS_1


Ane pusing dengan pertanyaan sang suami yang terus saja terlontar, membuat Ane tanpa sadari membentak sang suami.


“Bisa tidak kamu diam, pah. Aku cape.”


Bentakan Ane membuat Putra diam seribu bahasa, Ane melewati tubuh sang suami begitu saja.


Ia bergegas berjalan ke dalam rumah, membuat putra mengejarnya.


“Ane.”


Teriak Putra diabaikan Ane begitu saja, wanita yang menjadi dokter itu kini mempercepat langkah kakinya menuju kamar mandi.


Putra yang penasaran menunggu di abang pintu kamar mandi.


Sampai beberapa menit kemudian Ane keluar dari kamar mandi, saat itulah Putra membulatkan kedua matanya Melihat pipi Ane yang sudah memerah bengkak.


“kenapa dengan pipimu, Ane?” tanya Sang suami mencoba melepaskan tangan Ane yang menempel pada pipi kiri yang terlihat bengkak itu.


“Kamu tak harus tahu, pah. Ini urusanku!” jawab Ane. Bergegas pergi untuk segera mengganti pakaian, untuk tidur.


Putra mengejar istrinya itu, sampai di mana. Putra membentak Ane tanpa ia sadari.


“Ane, aku ini suamimu. Apa kamu bisa menghargaiku.”


Bentakan Putra membuat Ane membalikkan wajah ke arah Putra dengan air mata yang sudah berkaca-kaca.


“Bisa tidak kamu tidak membentakku, aku lelah, cape. Mas di bentak terus dari tadi siang. Oleh ....”


Ane tak meneruskan ucapannya, ia mulai menutup mulut. Merapikan rambutnya duduk di depan cermin, sembari air matanya tak henti ke luar.


“Ane, maafkan aku. Aku tak tahu masalahmu, tapi aku sangat menghawatirkanmu.”


Ane menarik nafasnya secara perlahan dan berkata,” sudah lupakan lah pah, aku ingin tidur sekarang.”


Setelah beres merapikan rambut, Ane kini berdiri dan mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur. Putra yang merasa tak tega kini mendekat tanpa berucap, memeluk perlahan tubuh Ane. Agar kesedihannya memudar.


Pelukan Putra sedikit membuat hati Ane tenang, walau belum sepenuhnya.


Saat itulah Ane mulai menutup ke dua matanya dan terlelap tidur, dengan air mata yang tanpa ia sadari menetes pada bantalnya.


Putra yang berada di samping sang istri hanya bisa berkata dalam hati,” apa papah angkat kamu tega memukul kamu Ane. Kenapa dia tidak berubah sama sekali.”

__ADS_1


Saat itulah Putra mulai menutup perlahan matanya dan tidur dalam memeluk sang istri.


@@@@@


__ADS_2