
Alan mengirimkan video yang berada pada ponselnya Suster Ayuni, ke ponselnya sendiri, setelah terkirim. Saat itulah Alan memberikan ponsel Suster Ayuni kepada pemiliknya.
"Ini, aku beri kamu kesempatan. sekarang kamu bisa bebas dariku. tapi jika nanti orang yang ada pada video ini bukanlah Ane. Jangan harap kamu bisa tenang, aku bisa saja menyeredmu ke kantor polisi."
Deg ....
Ancaman Alan membuat suster Ayuni menelan ludah, ia tak menyangka jika Alan mengancamnya dengan begitu serius." Baik, pak."
Delia menarik lengan Alan, untuk segera pergi ke rumah Ane. memastikan bahwa orang yang berada di dalam video itu adalah Ane.
"Ayo, sayang. sebaiknya kita cepat pergi, menemui Ane. Aku takut jika terjadi apa-apa dengan anakku."
"Ya sudah ayo."
Alan dan Delia mulai melangkah menuju mobil, sedangkan suster Ayuni menarik nafas pelan, merasakan rasa lega, perlahan mengusap belahan dada yang merasa tak karuan, karena ancaman yang dilayangkan oleh Alan. membuat hatinya benar-benar tak tenang.
kini mobil Alan mulai menjauh dari pandangan suster Ayuni, membuat Ayuni mengepalkan kedua tangannya." sial, aku harus mencari keberadaan Lita dan juga Ida. karena mereka juga harus bertanggung jawab atas kehilangan bayi Delia dan juga Alan."
suster Ayuni mulai masuk ke dalam rumah sakit, menanyakan data-data tentang Lita dan juga Ida. melihat dimana keberadaan mereka tinggal.
"Aku harus mencari keberadaan mereka sekarang juga."
setelah menemukan data-data Lita dan juga Ida, suster Ayuni mulai meminta izin untuk libur sehari.
namun sayangnya suster Ayuni tidak diizinkan libur, karena ternyata. Lita dan Ida sudah mengundurkan diri pada saat itu juga.
"Sebaiknya kamu jangan libur, kita kekurangan suster."
"Bukanya di sini suster banyak."
"Memang iya, tapi tadi pagi Lita dan Ida mengundurkan diri secara mendadak."
"Loh, kok bisa? Apa alasanya."
"Entahlah. sekarang kamu jangan kemana-mana. karena kita kedatangan banyak pasien hari ini."
sungguh disayangkan, niat menemui Lita dan juga Ida di rumah mereka. malah gagal begitu saja. padahal suster Ayuni sangat membutuhkan mereka berdua.
"Ahk, sial sekali. Kenapa bisa mereka dengan segampang itu mengundurkan diri." Gerutu hati Suster Ayuni.
@@@@@
__ADS_1
Ida dan Lita kini mulai bergegas untuk segera pergi dari tempat tinggalnya. mereka bergegas mencari tempat tinggal baru, yang di mana suster Ayuni tidak akan menemui keberadaan mereka. hanya ini jalan satu-satunya agar mereka berdua terbebas dari perintah suster Ayuni. yang menyuruh untuk mencari keberadaan bayi Delia dan juga Alan.
"Gimana sudah beres?" tanya Lita kepada Ida. saat itulah Ida mulai mengacungkan jempolnya.
sesaat mereka berjalan meninggalkan kediaman mereka, suara ponsel berbunyi yang di mana saat Lita mulai mengangkat panggilan itu. dia melihat layar ponselnya tertera nama suster Ayuni.
"Siapa Lita?" Tanya Ida. Merasa heran, dengan Lita yang mendadak berhenti berjalan.
" suster Ayuni yang meneleponku saat ini!" jawab Lita.
" ya sudah, kamu jangan angkat panggilan dari suster Ayuni. abaikan saja. kalau kamu mengangkat panggilan dari suster Ayuni. bisa-bisa kita dalam bahaya besar," ucap Ida.
Lita mulai matikan layar ponselnya, agar suster Ayuni tak meneleponnya lagi.
"Sudah aku matikan," ucap Lita.
"Bagus, Ayo cepat kita pergi dari sini. sebelum ada yang mencurigai kita berdua,"
mereka berdua langsung menaiki taksi, yang di mana taksi itu langsung berada di hadapan mereka.
namun sesaat taksi itu mulai melaju, Deni membunyikan klakson mobilnya. membuat Lita langsung menengok ke belakang kaca mobil taksi.
"Pak Deni."
" Pak berhenti dulu."
sopir taksi itu langsung memberhentikan mobilnya, Lita keluar dari dalam mobil menghampiri Pak Deni yang masih berada di dalam mobil. Lita berdiri di samping kaca mobil Pak Deni. membuat Pak Deni langsung menurunkan kaca mobil.
"Pak Deni."
Lita menampilkan senyuman kehadapan Deni, membuat sopir Deni langsung turun dari dalam mobil. mengambilkan kursi roda untuk Deni.
" kalian mau ke mana? kenapa membawa koper segala?" hanya Deni yang merasa heran.
"Sebenarnya kita mau pergi dari rumah ini, kebertulan kita tak sanggup lagi bayaran cicilan rumah sebesar ini, karna kami yang memutuskan ke luar bekerja dari rumah sakit, untuk mengurus anak pak Deni!" jawab Lita yang berbohong.
"Jadi kalian membawa anal Delia sekarang?" tanya Deni.
"Ya, pak. Kami membawa anak Delia!" jawab Lita.
"Sekarang di mana bayi itu, aku ingin melihatnya," ucap Deni. yang begitu senang mendengar Lita sudah mengambil bayi Delia dan juga Alan."
__ADS_1
pada saat itulah Ida mulai keluar dari dalam mobil taksi, dengan menggendong bayi yang dimintai oleh Deni. langkah kaki Ida semakin dekat terhadap Deni. dia langsung menyodorkan bayi yang ia gendong kepada Deni.
" Ini pak, bayi Delia."
Deni tersenyum senang, lelaki itu langsung menggendong bayi yang disodorkan Ida kepada dirinya." Bayi Delia begitu tampan seperti aku."
Deg .....
saat mendengar ucapan Deni yang berkata bahwa bayi Delia persis seperti Deni membuat mereka heran, mereka saling menatap satu sama lain.
"Kamu sekarang jadi milikku," ucap Deni.
Ida yang penasaran dengan ucapan Deni langsung membisikan sebuah kata-kata kepada Lita." Ada yang aneh enggak. Dari kata kata yang terlontar pada mulut Pak Deni."
"Iya, aku juga merasa seperti itu," balas Lita.
Lita dan Ida, terus menatap ke arah pak Deni yang begitu senang mengendong bayi bekas curian mereka berdua. Yang di mana bayi itu bukanlah bayi Delia.
"Oh, ya. sekarang kalian berencana tinggal di mana?" tanya Deni pada Lita dan Ida.
" kami masih memikirkan, tempat untuk kami tinggali. karena Kebetulan sekali uang kami sudah menipis. palingan kami hanya bisa mengontrak di gubuk kecil," ucap Lita.
"Kalau aku sarankan kalian tinggal saja di rumahku yang di bogor. Agar kalian berdua fokus mengurus bayiku," ucap Deni menawarkan sebuah rumah untuk di tinggali Lita dan Ida.
mereka menatap satu sama lain dengan sebuah senyuman.
"Wah, lumayan juga, kalau tinggal di tempat pak Deni. Tak perlu membayar uang sewa." Gumam hati Lita.
" bagaimana. Apa kalian mau tinggal di rumahku yang sudah jarang aku tempati?" tanya Deni.
"Sebenarnya ....."
belum perkataan Lita dan Ida terlontar semuanya, Deni langsung berucap," kalian pasti memikirkan soal biaya kan?"
"I- ya!" balas Lita sedikit gugup.
" kalian tenang saja. aku akan mengatur semuanya. kalian berdua tinggal fokus bayi ini sehingga bayi ini tumbuh dewasa," ucap Deni.
Lita dan Ida sangatlah senang dengan perkataan Deni, dengan semangatnya mereka menjawab," kami mau."
"Bagus. Ya sudah kalian berdua Sekarang ikut ke mobil saya."
__ADS_1
"Baik pak."