Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 59 Aurora Datang


__ADS_3

Polisi menjelaskan tidak ada kasus pembunuhan di rumah Luky saat itu, semua barang bukti aman. Luky tidak bersalah.


Gemuruh hati Delia seakan meresah kesal dengan penyelidikan polisi, membuat Delia muak dan geram.


"Tapi pak, bukannya barang bukti sudah saya serahkan. Kenapa tidak terbukti sama sekali?" tanya Delia. Mempertanyakan lagi barang bukti yang ia bawa waktu itu.


"Barang bukti itu tidak terbukti sama sekali, yang ada itu hanya bekas darah hewan saja," ucap pak polisi menjelaska semuanya.


Delia masih tak habis pikir dengan pernyelidikan polisi.


"Sekarang Luky bebas dari pen ..."


Belum pak polisi berucap, seorang wanita datang membawa bayi mungil kecil. Ia adalah mantan istri Luky yaitu Aurora.


"Aurora sejak kapan kamu datang ke sini?" tanya Ami.


Luky yang melihatnya terseyum bahagia, raut wajah mantan istrinya terlihat oleh kedua matanya.


"Aku punya barang bukti yang lebih kuat lagi," ucap Aurora menujukan rekaman vidio di ponselnya.


Semua orang yang ada di sana tetohok kaget, melihat vidio dimana Luky menendang keluar Fairus. Dari mobil lelaki bertubuh gendut itu.


"Dari mana anda dapat vidio ini?" tanya pak polisi.


Sekilas Aurora melihat mantan suaminya yang membekam di dalam penjara, meneteskan air mata seraya berkata pelan." Maafkan aku Mas Luky, ini demi kebaikanmu."


"Dimana aku tengah menghadiri acara pernikahan Delia, aku melihat mantan suamiku, menendang seseorang dari dalam mobilnya. Kebetulan di tempat itu tak ada orang sedikit pun, keadaan begitu sepi."


Deg ... Luky mendengar Aurora berkata seperti itu membuat hatinya kian rapuh, mantan istrinya membeberakan kejahatanya saat ini.


"Aurora, kamu ...," teriak Luky. Mengedor-gedor jeruji besinya.


Tangisan Luky pecah, air matanya mengalir deras. Sang mantan menghampiri seraya berkata," ini demi kebaikanmu Mas. Semoga kamu sadar, atas perbuatanmu."


"Kenapa? Kenapa kamu bela mereka. Harusnya kamu bela aku," cecar Luky. Matanya merah, bergitu telihat genangan air di pelipih matanya.


"Maafkan aku mas." Aurora menyerahkan barang bukti itu. Berlalu pergi meninggalkan Luky saat itu juga.


Hati Luky hancur berkeping-keping, rasanya seperti mimpi. Mantan istrinya datang dengan barang bukti yang lebih kuat.


"Aurora kamu ...," teriak Luky.


"Sudahlah Luky, ini memang yang terbaik. Kamu harus terima. Dengan semua ini," ucap Ami. Membuat kedua tangan Luky mengepal erat pada jeruji besi di hadapanya.

__ADS_1


"Diam kamu ...," hardik Luky. Ia tak suka bila seseorang menasehatinya. Apalagi orang itu, yang di rasa Luky telah menghancurkan hidupnya.


Rudi meraih pundak istrinya agar menjauh dari amukan Luky, Rudi takut Luky meraih tangan Ami dan memukulnya.


"Kemana kalian berengsek," teriak Luky. Menggedor-gedor sel tahanan itu.


Sang polisi sangat geram mendengar teriakan itu, polisi meminta untuk Luky lebih tenang. Kalau tidak dia bisa di masukan ke dalam Rumah Sakit Jiwa.


Dari sana Lelaki bertubuh gendut itu tertawa seraya berkata." Masukan saja aku ke dalam Rumah Sakit Jiwa. Biar kalian puas melihat penderitaanku."


Polisi hanya mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Luky yang seakan depresi.


Delia seakan terseyum puas ini lah kemenangan yang hakiki.


"Kalian diam, kenapa?" tanya Luky bernada tinggi. Tertawa terbahak-bahak.


"Luky akal sehatmu sudah di selimuti kebencian dan dendam membuat kamu seakan tidak waras," ucap Delia. Menatap lekat pada lelaki bertubuh gendut itu, yang terkurung di jeruji besi yaitu penjara.


"Jangan sok bijak kamu! Semua gara-gara kalian," hardik Luky, seperti harimau yang seakan mau menekram mangsanya.


Pak polisi akan membuat laporan baru bahwa Luky akan di tahan di penjara lebih lama.


Delia mendengar semua itu seakan puas. Karna memang Luky pantas di penjara.


Ami dan Rudi mengajak Delia untuk segera pulang.


Saat keluar dari penjara, Delia melihat keluarga Fairus datang.


"Kamu ada di sini delia?" tanya wanita tua yang tak lain adalah orang tua Fairus. Masih terlihat sorot matanya yang seakan meperlihatkan ketidak sukaannya pada Delia. Mereka masih membenci Delia.


Dan tetap menghina Delia sebagai wanita pembawa sial.


Delia menghiraukan tatapan mereka yang seakan mengancam, berlalu pergi bersama Ami dan Rudi.


Bagaimana aku bisa menyatukan keluarga Fairus dan keluargaku lagi. Bagaimana pun ayahku sangat bergantung dengan keluarga Fairus, gumam Delia.


Ami mengusap lembut pundak Delia seraya berkata." Jangan bersedih semua sudah terbukti. Bahwa kamu bukan pembunuhnya."


Seyuman itu kembali terpancar dari bibir Delia, membuat Delia lebih tenang dan merasa nyaman.


Langkah kaki mendekati parkiran mobil, sosok lelaki berlarian menyebut nama Delia.


Delia mengusap-ngusap matanya, seakan tak menyangka Alan datang masih memakai baju dokter. sembari terseyum.

__ADS_1


"Hay sayang," sapa Alan. Delia terdiam mencubit pinggang Alan saat itu.


"Jangan lebai deh!" jawab Delia cubitan itu semakin keras. Sampai Alan berteriak kesakitan.


"Kenapa kamu Alan?" tanya Ami.


"Ini mba, di cium semut besar!" jawab Alan meringis kesakitan. Delia seakan malu dengan jawaban suaminya itu. Mambuat pipinya memerah seperti tomat.


Alan yang senang dengan pipi Delia mencubit, hingga Delia kesakitan. Ami dan Rudi yang melihat tingkah mereka tertawa terbahak-bahak.


Dari kejauhan Sisi melihat kebahagian itu.


"Ahk, kenapa sih. Mereka selalu menang dari apa yang terjadi. Aku tak suka melihat kebahagian mereka. Sekarang Luky sahabatku malah membekam di penjara gara-gara mereka."


Saat mengintip di balik mobil seseorang memeluk wanita berwajah bulat itu. Sisi yang merasakannya langsung terkejut kaget.


"Hay, sayang," sapa seorang lelaki tua. Yang tak lain adalah Pak Hendra.


"Siapa kamu?" tanya Sisi yang masih belum pulih dari ingatanya."


"Aku ini pacarmu!" jawaban Pak Hendra membuat Sisi bergidig ngeri. Melihat lelaki tua berada dihadapnya menggaku-ngaku sebagai pacarnya.


"Kamu gila ya. Dasar tua bangka," hardik Sisi berlalu pergi melewati Pak Hendra saat itu. Dengan sigap Pak Hendra menarik tangan kiri Sisi yang tengah berjalan.


"Lepaskan aku, dasar tua bangka tak tahu malu," cecar Sisi menghepaskan tangan yang memegang erat pada lengannya.


"Kamu harus ikut aku?"


Sisi di sered paksa oleh Pak Hendra, ke dalam mobil. Namun wanita berwajah bulat itu tak sudi untuk pergi bersamanya.


"Lepaskan aku, tak sudi ikut dengan tua bangka macam kamu."


"Ayolah satu kali ini saja."


Memakasa dan menyered hingga wanita berwajah bulat itu masuk ke dalam mobil Pak Hendra.


Sisi yang meronta-ronta seakan tak sanggup ia berusaha untuk pergi dari dalam mobil lelaki tua bangka yang tak ia ingat.


"Aku ingin keluar lepaskan aku," teriak Sisi di dalam mobil.


"Kamu harus tenang sayang. Kita akan menikmati semuanya."


Dengan sigap Pak Hendra menempelkan sapu tangan yang sudah tua bangka itu campur dengan parfum mampu membuat Sisi pingsan.

__ADS_1


Pak Hendra berhasil membuat Sisi pingsan. Entah akan di bawa kemana Sisi saat itu?


__ADS_2