
“ Jangan bergerak cepat lepaskan wanita itu.” ucap polisi mengepung Tama, kini Tama tak bisa pergi ke mana-mana lagi.
Salah satu polisi bergerak cepat, saat Tama menyodorkan pisau pada leher Sisi. Kedua tangan Tama di borgol. Membuat Tama tak bisa melarikan diri.
Rudi tak tahu jika Polisi datang begitu cepat, membuat mereka bisa selamat dari ancaman Tama. Sopir taksi yang Rudi percaya, kini menghampiri dirinya yang tengah berdiri melihat Tama di tangkap polisi.
“ Apa Bapak tidak kenapa-napa?” tanya sang sopir dengan wajah gelisah dan rasa kuatir.
“ saya baik-baik saja. Apa kamu memanggil polisi untuk datang ke sini, menyelamatkan kami!?” jawab Rudi dengan bertanya kepada sang sopir.
Sang supir menganggukkan kepala Seraya menjawab pertanyaan Rudi,” saya kuatir dengan kalian berdua, karena sudah 2 jam kalian tidak juga keluar dari gedung. Maka dari itu saya panggil polisi untuk menyelamatkan kalian.”
Jawaban sang supir membuat Rudi sangat senang, sang Sopir itu begitu Sigap akan apa yang diperintahkan-nya.
Rudi kini menepuk bahu sang sopir dan berkata,” Terima kasih karena sudah mengkuatirkan kami berdua, dan juga menyelamatkan kami.”
“ Saya hanya menjalankan perintah dan juga amanat, yang Bapak berikan kepada saya.”
Saat itulah Tama mulai dibawa ke kantor polisi, untuk dimintai penjelasan atas kejahatannya. Begitupun dengan Kedua lelaki berotot sudah polisi tangani.
Saat Tama dibawa paksa oleh Polisi, saat itulah ia melewati Rudi yang berdiri dengan wajah begitu lega.
“Dasar lemah kau Rudi, mengandalkan polisi. Pecundang,” Pekik Tama kepada Rudi.
Rudi mengabaikan ucapan Tama, Iya tak peduli jika dirinya memang disebut pecundang. Yang terpenting orang yang jahat seperti Tama bisa merasakan kesalahannya sendiri, dengan masuk ke dalam penjara.
Sisi yang merasakan sok, kini terjatuh ke atas lantai secara tiba-tiba. Tubuhnya begitu terlihat lemas, membuat Rudi dengan Sigap membantunya untuk berdiri.
“ si, kamu baik-baik saja kan. Sini aku bantu untuk berdiri.” Ucap Rudi. Sisi mulai merangkul bahu Rudi, berusaha berdiri.
Namun, ia begitu lemah, membuat Rudi dengan terpaksa harus membopong tubuhnya untuk pergi dari gedung itu.
“ Bagaimana dengan Arpan?” tanya Sisi yang masih ingin mencari keberadaan sang suami, dirinya seakan tak bisa pergi begitu saja sebelum dirinya menemukan Arpan.
“ kamu jangan pikirkan Arpan dulu! Sepertinya Arfan tidak ada di gedung ini. Kita ini hanya dijebak oleh Tama dan juga Sarah,” balas Rudi berusaha menenangkan perasaan Sisi yang begitu gundah memikirkan sang suami.
Rudi mulai membawa Sisi masuk ke dalam Taksi, sang supir mulai bertanya kepada Rudi,” apakah kita perlu ke rumah sakit?”
Sisi menimpal ucapan sang sopir Taksi itu,” tak perlu aku baik-baik saja.”
“Baik kalau begitu.”
__ADS_1
Kini sang sopir taksi itu mulai mengantarkan Rudi dan juga Sisi, untuk pergi ke kantor polisi. Menjelaskan kejahatan Apa yang dilakukan Tama kepada mereka.
Di dalam mobil Rudi masih bertanya-tanya pada hatinya,” kemana sebenarnya Sarah menyembunyikan Arpan? Kenapa Tama malah di jadikan bahan umpan. Sebenarnya rencana apa yang sedang Sarah rencanakan?”
Sarah seakan membuat suatu teka-teki untuk membingungkan Rudi dan juga Sisi, sampai di mana Rudi Harus berpikir begitu keras. Menjawab semua teka teki yang di buat Sarah.
Rudi masih penasaran dengan cerita yang belum selesai diceritakan oleh Tama, di mana cerita itu menyangkut pautkan antara istrinya dan juga Sarah.
Menghembuskan nafas secara perlahan. Rudi mulai mengeluh pada hatinya, baru saja mendapatkan kebahagiaan kini cobaan silih datang bergantian. Apa aku dan keluargaku tak pantas bahagia.
Berubahnya Sisi malah membuat masalah datang secara bergantian, apalagi ini menyangkut tentang masa lalu. Yang mungkin sudah Terlupakan.
Di tengah Lamunan Rudi, kini Sisi mulai berucap di dalam mobil. Membuat Lamunan Rudi yang menyesakkan hati, kini membuyar seketika.
“Rud, Sepertinya kita harus mencari keberadaan Sarah. Bisa saja Sarah sudah menyembunyikan Arpan di rumahnya.”
“Iya, kamu memang benar. Bisa saja Sarah menyembunyikan Arpan di rumahnya, tapi ....
Di mana kita bisa menemukan Sarah, sedangkan Alamat rumahnya pun kita tidak tahu.”
Rudi seakan putus asa dengan apa yang ia ucapkan, tubuhnya begitu lemas dan juga hatinya begitu hancur.
Namun dengan semangatnya Sisi mencari keberadaan Arpan. Ia mulai berucap kembali,” Tama. Pasti tahu semuanya.”
Kedua bola mata mulai menatap kearah wajah Rudi yang begitu terlihat sayu dan tak bersemangat, Sisi merasakan jika Rudi sudah hampir menyerah dan lelah dengan keadaan yang dia hadapi.
Saat itulah Sisi memanggang bahu Rudi, tersenyum menyemangati sang sahabat terus menerus,” ayolah Rud, semangat. Ini demi anak kamu juga Dodi. Sebenarnya ..., aku juga tak yakin. Tapi bisa saja Tama jujur jika kita melibatkan semuanya dengan polisi.”
Kata semangat dari Sisi tak mampu membuat Rudi bangkit, Sisi begitu mudah berucap.
“Tetap saja Si, Sarah itu sudah berubah menjadi orang yang sangat licik. Kita bisa saja melibatkan kasus ini dengan polisi. Tapi resikonya akan patal sekali, aku tak mau Arpan menjadi korban keganasan dendam Sarah. Yang tak terkendali itu.”
Rasa bingung mulai membuat pikiran Sisi dan Rudi menjadi tak karuan, mereka merasa tak punya rencana lagi untuk bisa menjebak Sarah. Karna jebakan Sarah begitu kuat dan membingungkan mereka, apalagi kini Sarah sudah membuat Arpan tak kembali lagi.
Setelah sampai.
Tama di minta- i penjelasan oleh polisi, dengan kecerdasan yang Tama punya. Polisi begitu susah membuat mulutnya berbicara kebenaran, membuat mereka harus menahannya sementara waktu.
Rudi dan Sisi yang baru saja datang, kini mendengar penjelasan dari polisi bahwa bukti belum cukup kuat. Jika Tama tersangka dari semua kasus di mana Arpan di sembunyikan, rasa kecewa mulai menyelimuti hati Rudi kembali.
Dengan rasa kesal yang menjalar ke otak, kini Rudi menghampiri Tama yang sudah terkurung di penjara.
__ADS_1
“Tama.”
Panggilan Rudi membuat Tama membalikkan badan ke arahnya, ia tersenyum kecut.” Ada apa lagi Rudi.”
Rudi yang sudah tak tahan dengan sandiwara yang dibuat oleh Tama dan juga Sarah, membuat yang menarik kerah baju Tama.
“Aku tanya padamu sekarang? Dimana Sarah?”
Tama hanya tertawa kecil, ia diam saat Rudi bertanya seperti itu.
“Jawab Tama. Kenapa kamu diam?”
Sisi mulai menenangkan Rudi dari amarahnya yang terus menggebu-gebu,” Rud. Jaga amarahmu, ini kantor polisi.”
Dengan rasa kesal Rudi langsung meninju jeruji besi,
“Sudahlah Rudi, santai saja. Nanti juga kamu akan bertemu dengan Sarah, di mana dia membawa mayat anakmu.”
Sontak ucapan Tama membuat kedua bola mata Sisi membulat begitupun dengan Rudi.
“Kurang ajar, apa maksud kamu ba**ngan.”
“Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya menjelaskan semuanya. Jadi kamu tak usah kuatir.”
“Keparat kamu, Tama.”
POLISI Mulai menenangkan Rudi, membawa Rudi menjauh dari tahanan Tama.
“Bapak, harus bisa jaga emosi bapak. Ini kantor polisi, di sini ada aturannya.”
“Tapi .... Pak.”
Sisi mulai menarik tangan Rudi untuk ke luar dari kantor polisi, agar Rudi tak terpancing dengan perkataan Tama.
“Sudah Rud, kamu tenangi dulu amarahmu.”
“Bagaimana aku bisa tenang. Dikasih badjingan itu lancang berkata, Sarah akan bertemu denganku dan membawa membawa mayat anakku ke hadapanku.”
“ kamu harus tenang, jangan sampai kamu terkecoh dengan ucapannya yang hanya memancing emosi sesaat saja.”
Perlahan Rudi mulai menenangkan amarahnya, ya Berusaha tetap tenang dan Mendengarkan nasehat Sisi pada saat itu.
__ADS_1
“Awas saja jika benar Sarah berniat membunuh anakku, tak akan aku ampuni dia.” Gerutu hati Rudi.