
Saat ketiga penjaga itu mendekat, ke arah Sumber suara orang yang tengah bersin. Pada saat itulah Alan mulai keluar dan menembakkan pistol ke arah mereka bertiga, Alan tak henti menembakkan beberapa kali tembakan ke tubuh mereka, membuat ketiga penjaga itu tergeletak ke atas lantai.
Riri yang mulai memberanikan diri, kini mulai mengambil pistol ketika penjaga itu. Ia memasukkan pistol itu ke dalam tas yang ia pakai.
“Bagaimana, apa mereka sudah mati?”
Tanya Alan, saat Riri mengecek detak jantung mereka bertiga.
“Mereka sudah mati!” jawab Riri.
Alan dan Riri mulai membuka baju yang mereka pakai, untuk menyamar. Setelah selesai mengganti pakaian mereka, Alan mulai menyeret ketiga penjaga itu. Ke tempat yang tertutup.
Mereka kini masuk dengan berpura-pura menjadi seorang penjaga, agar penjaga yang lainnya tidak mencurigai mereka.
Perlahan berjalan, para penjaga sering berlarian. Karena mendengar beberapa tembakan dari luar.
Tentu saja Alan berusaha menahan mereka, meyakinkan mereka agar percaya bahwa tidak terjadi apa-apa.
“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kami mendengar suara tembakan beberapa kali,” tanya para penjaga kepada Alan dan juga Riri yang memakai seragam penjaga itu.
“Kami hanya sedang latihan tembakan saja, jadi iseng!” jawab Alan. Mereka mengangkat kedua alis mereka dan saling menatap satu sama lain, seakan tak masuk akal dengan jawaban yang di lontarkan Alan pada saat itu.”
Baru saja para penjaga itu merasa aneh dengan penampilan sahabatnya yang kurus, mereka langsung bertanya,” badan kalian?”
Saat Alan menjawab, teriakan Sarah terdengar dari dalam rumah. Membuat para penjaga yang berada di sana dengan sigap berlari, menghampiri sang nyonya.
“Nyonya sepertinya sedang mengamuk, ayo kita lihat dulu nyonya,” ucap penjaga berbadan kekar itu.
Mereka langsung berlari menghampiri Sarah yang tiba-tiba saja berteriak. Sedangkan Alan dan Riri mulai mengikuti langkah para penjaga itu di belakang.
Saat masuk, ruangan mewah terlihat begitu jelas. Alan menatap ke arah foto yang tersusun begitu rapi. Melihat dalam foto itu banyak sekali gambar Rudi dan Ami yang di silang dengan tanda merah.
“Rudi, Ami. Ada apa dengan pemilik rumah ini, kenapa Foto Rudi dan Ami di tandai merah seperti itu. Apa pemilik rumah ini mempunyai dendam pada Rudi dan Ami.”
Perasaan Alan terus bertanya-tanya, ia semakin penasaran, pada saat itulah ia berpura- pura tenang mengikuti para penjaga.
Alan melihat Dina berdiri di belakang Sarah, membuat Alan senang bisa menemukan Dina.
“Ada apa Nyonya berteriak-teriak?” tanya para penjaga.
Sarah mulai menyuruh para penjaga di rumahnya, untuk bersiap-siap menghadapi polisi. Karna sebentar lagi polisi datang ke rumah Sarah, karna Sisi dan Rudi sudah menemukan rumah Sarah dengan menekan Tama.
“Ahk, si Tama itu bodoh benar- benar bodoh. Kenapa aku harus bekerja sama dengan dia.” Gerutu Sarah.
__ADS_1
@@@@@
Sisi dan Rudi kini berhasil menemukan tempat Sarah, mereka berdua menekan Tama. Mengancam lelaki itu untuk mengaku, awalnya Tama susah sekali mengaku, dia malah membela terus menerus Sarah.
Sampai di mana perkataan Rudi terlontar begitu kejamnya pada Tama.
“Asal kamu tahu Tama, kamu mencintai orang yang hanya bisa memperbudak kamu saja.”
Tama menatap tajam ke arah Rudi dan berkata,” apa maksud kamu berkata seperti itu.”
“Aku heran saja, kenapa bisa kamu membela wanita yang memang tidak mencintai kamu.”
“Kamu .... Rudi.”
Rudi tertawa dan bertanya kembali,” apa setelah kamu membela Sarah mati- matian, dia akan menjadi milikmu seutuhnya.”
Tama termenung memikirkan ucapan Rudi. Ia menelan ludah dan membayangkan bahwa selama ini dirinya memang tak pernah di beri kesempatan oleh Sarah.
“Kenapa kamu terdiam, Tama.”
“Ahk, semua ini karna kamu Rudi. Andai saja kamu tidak ada di dunia ini, Sarah akan menjadi milikmu.”
Tama seakan tak sadar akan apa yang ia katakan, betapa besar cintanya pada Sarah, sampai ia menutup mata hatinya sendiri, tak menyadari bahwa Sarah hanya memperbudak Tama.
“Apa maksud kamu Rudi?”
Tama kesal, ia memegang erat jeruji besi di hadapannya.
“Hahha, kenapa kamu tidak mengerti, jika memang kamu tidak di perbudak oleh Sarah. Pastinya Sarah akan menyelamatkan kamu saat ini juga, dan lagi jika kamu memberi tahu alamat Sarah, pastinya dia tak akan marah. Kecuali kalau memang Sarah menganggap kamu budaknya, dia pasti akan marah.”
Tama sanggatlah kesal dengan ucapan Rudi yang terus terlontar, membuat dirinya ingin sekali memukul wajah Rudi.
Karna terlanjur emosi Tama akhirnya memberi tahu tempat keberadaan Sarah saat ini.
Rudi dan Sisi berhasil manipulasi Tama pada saat itu, rencana mereka tak sia-sia.
@@@@@
Rudi sudah menyusun rencana dengan membawa polisi, ia tak ingin pergi berdua begitu saja. Karna di rumah Sarah begitu banyak penjaga yang berjaga memegang pistol.
Setelah sampai di tempat tujuan, Rudi merasa heran dengan mobil yang terparkir jauh dari rumah Sarah. Mobil itu membuat Rudi merasa penasaran.
“Kamu kenapa, Rudi?” Tanya Sisi, Rudi malah berjalan terus menerus sampai ia mendekati mobil itu.
__ADS_1
Mengintip pada kaca mobil, terlihat kedua bocah laki- laki tengah tertidur pulas.
“Siapa mereka?” tanya Rudi dalam hatinya sendiri.
Saat itulah Rudi mulai mengedor-gedor pintu mobil itu, tapi Dodi dan cucu Pak Tejo hanya membukukan badan menutup wajah, takut jika orang yang mengetuk itu adalah orang jahat.
“Kalian kenapa?” tanya Rudi mengetuk kaca mobil, berusaha membuka pintu mobil itu.
Dodi mendengar suara yang tak asing dari telinganya saat itu," kenapa suaranya seperti ayah Rudi" ucap Dodi dalam hati.
cucu Pak Tejo menempelkan Jari tangannya pada mulut, berucap kepada Dodi," kita tak boleh membuka pintu mobil sebelum kake datang ke sini."
Dodi mengingat pesan dari Pak Tejo, jika ada orang yang tak dikenal jangan sampai mereka membuka pintu mobil itu.
"Tapi, aku seperti mendengar suara papahku," ucap Dodi.
"Sudah abaikan Dodi," balaa cucuk pak tejo.
mau tidak mau Dodi hanya menurut perkataannya sahabatnya itu, biasa mau buka pintu mobil. walaupun Rudi mengetuk-ketuk nya beberapa kali.
Rudi Yang benar-benar penasaran dengan kedua anak laki-laki itu, merusak pintu mobil.
Namun di saat Rudi merusak mobil, Sisi datang menarik tangan Rudi. untuk bersiap-siap menemui Sarah.
"Ayo Rudi, kenapa kamu di sini?"
"Tunggu, Si. Di dalam mobil ini!"
"Sudah sekarang fokus, kita harus menemukan Arpan."
pada saat itulah, Dodi mulai mengangkat kepalanya. melihat kearah jendela Siapa orang yang mau membuka pintu mobil.
saat ia melihat, ternyata dugaannya sangatlah benar. lelaki yang berusaha membuka pintu mobil yang ditempati Dodi, dialah sang papah. yang sudah lama tak pernah bertemu, dalam keadaan seperti ini. Dodi ini menyuruh sahabat hanya untuk segera keluar dari dalam mobil, sebelum Rudi jauh.
"Ayo, aku melihat papahku."
"Benarkah itu Dodi."
."Iya."
Dengan perasaan gembira pada saat itulah kedua anak laki- laki itu membuka pintu mobil, mengejar Rudi yang berjalan cukup lumayan jauh.
Dodi mulai berteriak, tapi teriakan Dodi tertahan, saat seseorang membekam mulutnya. Dan cucuk pak tejo jatuh pingsan karna satu pukulan mengenai bahunya.
__ADS_1