Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 233 Bebasnya Alan dari hutan.


__ADS_3

Riri mulai berjalan mendekat kearah lelaki yang tengah menyender pada mobil, lelaki itu mulai terpesona dengan keseksian Riri.


Riri kini mulai berjalan lenggak lenggok memperlihatkan ke cantikkan wajah dan bodi seksinya.


Ia tersenyum menyapa lelaki itu, membuat lelaki itu dengan beraninya menghampiri Riri. Ia tersenyum penuh dengan hawa nafsu.


“Kenapa bisa ada wanita cantik di sini?”


Tanya lelaki berkepala botak itu mulai berani memegang pinggang Riri dengan begitu santainya, sedangkan Riri berusaha menahan rasa kesalnya dan juga rasa jijik nya terhadap lelaki itu. Dirinya harus bisa merayu lelaki itu bagaimanapun caranya.


“Masa sih, aku ini gadis di desa ini loh bang!”


Jawab Riri mulai merangkul bahu lelaki itu, dia tersenyum dengan manjanya.


“Mm, ngomong-ngomong sedang apa kamu di hutan ini?”


Tanya lelaki berkepala botak itu menyedot rokok yang sudah mulai habis, sedangkan Riri mencoba mengibas-ngibas asap rokok itu agar tidak mengenali wajahnya.


“Tuh, abang bisa liat tidak. Saya bawa apa!”


Jawab Riri menunjuk kayu yang terikat begitu kencang, membuat lelaki itu langsung berkata,” wanita secantik kamu mencari kayu?”


Riri menganggukkan kepala Seraya tersenyum kepada lelaki botak itu.


“Mm, ngomong-ngomong di hutan ini sepi, teman aku lagi kencing di sana. Kamu mau ikut abang enggak, nanti abang kasih deh uang dan bantu cari-in kayu yang banyak buat kamu.”


Lelaki itu seakan tak kuat menahan hawa nafsunya, tangan kekarnya mulai meraba ke arah belakang pinggul Riri.


“Mmm, enggak ah, abang nanti bohongin aku deh,” ucap Riri mencuil pipi lelaki berkepala botak itu.


“ Ya ampun mana mungkin abang bohong,” balas lelaki berkepala botak itu menunjukkan dompet tebalnya yang berisi uang.


Kedua mata Riri seketika membulat, melihat uang pada dompet itu begitu banyak. Membuat ia perlahan mengambil dompet itu.


Namun lelaki botak itu malah menjauhkan dompetnya di hadapan Riri.


“Ets, tunggu dulu. Sebelum kamu ngambil uang dari dompet ini, Kamu Harus nurutin apa kemauan ku. Bagaimana? Kamu mau kan.”


Riri hanya tersenyum kecut, saat lelaki itu menginginkan agar Riri melayani dirinya. Dengan senang hati saat itulah Riri mulai menganggukan kepala.


“ dasar si botak ini bisa aku kelabuhi.” gumam Hati Riri.


Alan yang melihat dari kejauhan, kini mulai menjalankan rencananya. Gimana Riri dan lelaki berkepala botak itu tengah berjalan masuk ke dalam hutan, pada saat itulah Riri memberikan kode. Tangannya bawa rencananya sudah mulai berhasil, tinggal Alan yang beraksi.


Laki-laki berkepala botak itu benar-benar tak kuat menahan hawa nafsunya, ia mulai mendorong tubuh Riri di atas tanah yang tertutupi dedaunan.


“ Apa kamu sudah siap?” tanya lelaki bertubuh kekar berkepala botak itu perlahan melepaskan kain yang menempel pada tubuhnya.


“ Abang mau apa!” jawab Riri berpura-pura polos di hadapan lelaki botak itu.


Baju pun terlepas, terlihat otot-otot besar pada tubuh lelaki itu. Membuat Riri sedikit ketakutan, karena Iya tidak melihat Alan datang menghampirinya.


“Kamu diam saja di situ, aku akan membuat kamu merasakan apa yang belum kamu rasakan.”


Ucap lelaki berkepala botak itu mulai menindih tubuh Riri. Bibir lelaki itu mulai mendekat kearah leher Riri, tangannya mulai membuka kancing baju yang dikenakan Riri.


Hingga tiba-tiba dari arah belakang.


Bruk ....

__ADS_1


Satu pukulan mengenai kepala lelaki berkepala botak itu, membuat lelaki itu langsung menindih Riri.


Riri yang merasa berat, akan tindihan lelaki itu langsung mendorong tubuh lelaki itu ke arah samping, membuat ia tergeletak dan jatuh pingsan.


Berhasil


Alan langsung membantu Riri untuk berdiri, mereka kini keluar dari hutan.


“Lan, kenapa tak kamu ikat dulu saja lelaki itu,” ucap Riri. Memberikan solusi agar lelaki itu tak langsung bangun dari pingsannya.


“Kamu benar juga Ri, ya sudah ayo kita ikat dulu tubuh dan kakinya,” balas Alan.


Mereka berdua langsung mengikat tangan kaki dan juga badan lelaki berkepala botak itu.


@@@@@@


Saat Alan dan Riri sibuk mengikat lelaki berkepala botak itu, Dodi dan cucu Pak Tejo mulai mengerjai sahabatnya, Mereka melihat sahabat lelaki yang berkepala botak itu Tengah kencing di dalam hutan sendirian.


Dodi dan cucunya Pak Tejo bergegas membuat suatu rencana, Di mana mereka menakut-nakuti lelaki itu.


“He, kau sudah berani mengotori wilayahku?”


Sahabat dari lelaki berkepala botak itu, tiba-tiba saja kaget. Menatap ke arah kiri dan kanan tidak ada orang satupun yang berada di sana, bulu kuduknya terasa berdiri membuat dirinya tak melanjutkan hajatnya.


Lelaki itu berlari menuju mobil, sedangkan cucu Pak Tejo dan Dodi tertawa senang melihat aksi mereka yang hanya sepele ditakuti oleh lelaki itu.


Setelah sampai di mobil, dia tidak melihat sahabatnya yang tak lain lelaki berkepala botak itu sudah tidak ada di tempat.


Pada saat itulah Pak Tejo datang membawa senjata tajam, di mana ia menyodorkan ke arah lelaki itu.


Dengan Sigap ia mencari pistolnya di dalam mobil.


“kalian siapa? Jangan mendekat.”


Lelaki itu benar-benar ketakutan, hingga ia kencing di dalam celana. Membuat Pak Tejo tertawa terbahak-bahak.


“He, kamu cepat bawa kami ke luar dari hutan ini. Kalau tidak kami akan mengorokmu, seperti sahabatmu.”


Kedua lelaki itu bergetar ketakutan, Iya bersujud kepada Pak Tejo memohon agar dirinya diselamatkan.


Pada saat itulah Pak Tejo mulai membuat perjanjian untuk lelaki itu. Membuat lelaki itu setuju dengan perjanjian yang diberikan Pak Tejo.


Iya berjanji akan mengeluarkan Pak Tejo dan yang lainnya dari hutan belantara ini.


Sampai saat itulah Pak Tejo dan yang lainnya begitu senang, mereka bisa keluar dari hutan dengan mengancam suruhan wanita yang Alan belum tahu siapa dirinya.


@@@@


Di tengah kebahagiaan Alan dan yang lainnya, Sarah merasa heran. Kenapa suruhannya tidak kembali lagi, padahal Sarah sudah memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan mencari Dodi.


Pada saat itulah Sarah mulai menelpon suruhannya, yang lain ialah lelaki berkepala botak berotot besar yang selalu Sarah sebut namanya Bobby.


“Sial, ke mana Boby, sudah siang hari begini dia belum balik.”


Sarah benar-benar kesal membuat ya terus menelpon Boby, Sudah beberapa kali Bobby tak mengangkat panggilan telepon darinya.


Membuat Sarah langsung menelepon Sandi, saat itulah ponsel sandi bergetar. Membuat sandi bingung harus mengangkatnya atau tidak, karena dirinya Tengah diancam oleh beberapa orang di dalam mobil.


Riri yang menyadari ponsel di dalam saku sopir yang diancam bergetar, pada saat itulah tangan Riri Mulai mengambil ponsel itu.

__ADS_1


Membuat sandi yang berkata,” jangan.”


Riri mengabaikan ucapan lelaki yang menjadi Sopir itu, pada saat itulah ia mengangkat panggilan telepon itu.


Terdengar dari sambungan telepon, Sarah mencaci maki suruhannya yang tak kembali sampai saat ini juga.


Membuat Riri hanya terdiam mendengar ocehan wanita itu.


Pada saat itulah Riri mulai menyuruh lelaki yang menjadi suruhan Sarah berbicara.


“Sandi, halo. Sekarang kamu ada di mana?”


“Iya nyonya. Saya ada di dalam mobil untuk segera kembali ke sana!”


“Mana Bobby, aku ingin berbicara dengannya.”


Riri mulai memelototi Supir itu, untuk tidak berkata jujur . Mengancam dengan menyodorkan pistol kepada supir yang bernama sandi itu.


“Bobby ada Nyonya. Dia tidur.”


“Dasar si Bobby pekerjaannya tidak beres, dia malah santai-santai tidur. Ya sudah cepat kembali.”


“Baik nyonya.”


Telepon pun dimatikan sebelah pihak, pada saat itulah Riri Mulai mengambil kembali ponsel yang ia berikan pada sopir.


Ya langsung mengambil dompet yang berada di saku celana Supir itu. Menyuruh memberhentikan mobil saat Jalanan sudah terlihat.


Lelaki yang menjadi sopir mereka itu langsung memberhentikan mobil, membuat Alan turun dan membuka pintu mobil Sopir itu.


Alan menarik kerah baju Sopir itu keluar dari mobil, membuat lelaki itu terjatuh ke atas jalanan.


Pada saat itulah Alan mengangsur mengambil alih mobil, dia meninggalkan lelaki itu sendirian.


Alan langsung membuka jendela mobil, Melambaikan tangan ke arah lelaki itu dan tersenyum kecut," kamu gantikan kami di sini ya."


kini Alan menginjak gas mobil, membuat mobil itu melaju dengan cepat. sedangkan lelaki itu menangis dia sendirian di jalanan. tidak ada mobil atau motor yang melintas di jalanan itu. semua sepi.


"Tunggu saya, Jangan tinggalkan saya di sini?"


Lelaki itu benar- benar kebingungan. ponsel dan dompet diambil.


"Ahk, sial semua gara-gara si Bobby, ke mana dia."


Bobby lelaki berkepala botak, kini tersadar dari pingsannya, yang merasakan rasa sakit pada kepalanya bekas pukulan yang dilayangkan oleh Alan. menatap kesana kemari, hanya ada pepohonan dan juga daun berguguran.


iya mulai berusaha berdiri, namun setelah ia sadar, seluruh badannya terikat begitu kuat. membuat ia tak bisa kemana-mana?


"Sial, wanita itu. Bagaimana aku bisa pergi dari hutan ini."


Bobby berusaha melepaskan diri, dengan mengandalkan ototnya yang besar. dengan berusaha dan beberapa kali melepaskan ikatan itu. dirinya tak kuasa yang merasakan kesakitan karena tali itu terlalu kuat mengikat tubuhnya.


Bobby berusaha berteriak-teriak, memanggil sahabatnya Sandi.


"Tolong,tolong. Sandi."


Tak Ada Jawaban sama sekali, mobil benar-benar kesal pada saat itu.


"Ke mana si cucunguk itu, apa jangan- jangan dia juga sama sepertiku."

__ADS_1


__ADS_2