
Masa lalu Sarah 5
Naina yang tak tahan dengan perkataan anaknya, terus saja berjalan bulak balik di dalam kamar, dia menggigit ujung jari kuku nya. Gelisah dan resah masuk dalam hatinya terus menerus, kepalanya seakan di penuhi rasa kesal.
“Tama, kenapa kamu bisa mencintai istri ke empat papah kamu.” Gerutu hati Naina.
Kedua tangannya mulai menggenggam erat pada rambut depan, mengusap kasar. Bingung dengan apa yang harus dirinya lakukan?
“Apa yang harus aku lakukan saat ini.”
Berkacak pinggang, saat itulah tanpa berpikir panjang. Naina langsung menghampiri kamar Sarah. Mengetuk pintu perlahan kamar itu.
Tok .... Tok ....
Sarah yang tengah tenang menatap jendela kamarnya, kini dikagetkan dengan suara ketukan pintu.
Pada saat itulah Sarah mulai berjalan mendekat ke arah pintu, membuka Siapa yang sudah mengetuk pintu begitu keras.
“Siapa?”
Saat pintu terbuka, Naina tengah berdiri dengan wajah gelisah dan cemasnya. Membuat Sarah hanya terdiam.
“Ada apa?” tanya Sarah. Naina melipatkan kedua tangannya dan berkata,” aku ingin mengobrol empat mata denganmu.
“Boleh!” jawab Sarah. Ia mulai menutup pintu kamarnya.
Saat itulah mereka mulai berjalan beriringan, untuk mengobrol di taman.
Sarah mulai duduk di kursi belakang taman, begitupun dengan Naina.
Naina mulai mengajak ngobrol Sarah, secara perlahan,” Sarah sudah berapa lama kamu kenal dengan anakku?” tanya Naina.
Pertanyaan yang malas sekali dijawab oleh Sarah.
“Saya hanya mengenal dia saat bekerja. Dan itu pun baru baru ini lagi, karna penampilan Tama yang dulu sanggatlah berbeda seperti sekarang!” jawab Sarah dengan wajah polosnya.
“Apa Tama pernah menyatakan cinta padamu?” tanya Naina.
Sarah benar-benar tak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan Naina. Ibunda Sarah.
__ADS_1
“Sebenarnya, aku tidak menyukai anak ibu. Hanya saja Tama selalu mengejar-ngejar saya!” jawab Sarah.
Naina sedikit kesal dengan jawaban yang di lontarkan Sarah. Kenapa bisa anaknya menyukai wanita seperti Sarah, yang rela kegadisannya di miliki lelaki tua yang sudah beristri tiga.
.”Kalau memang, itu yang kamu katakan. Aku berharap saja Tama sadar. Dan kamu kalau memang kamu tak menyukai anakku, kenapa kamu masih melayaninya?”
Pertanyaan Naina membuat Sarah sedikit kesal, padahal anaknya sendiri yang selalu memulai dari awal. Jika tidak karna Tama. Mungkin Sarah akan hidup bahagia dengan Pak Anton, yang bergelimpangan harta.
Namun, nyatanya lelaki tua itu malah meninggal secara mendadak. Karna ulah Tama dan Sarah menjadi korban dari semua itu.
“Sarah. Sarah.”
Panggilan Naina membuat lamunan Sarah membuyar, pada saat itulah ia membalikkan wajah ke arah Naina dan berkata,” kenapa. Bu Naina?”
“Aku akan tegaskan kamu sekarang, jika Tama mendekati terus padamu. Aku berharap kamu menjauhi dia, jangan sampai Tama tak bisa menghilangkan cintanya, karna kamu malah selalu meladeni dia!” jawab Naina.
Seharusnya Naina memperingati Tama, karna yang selalu membuat ulah dari awal.
Kedua tangan Sarah mengepal, ia menahan rasa kesal karna sebuah peringatan yang tidak ia sukai.
“Bu Naina, seharunya anda memberi peringatan ini pada anak anda sendiri, saya sebagai istri dari Pak Anton merasa teraniaya.” gumam hati Sarah, sebenarnya ia ingin sekali mengatakan semua kekesalan yang menumpuk dari hatinya.
“Sarah, apa kamu mendengar semua perkataanku?” tanya Naina.
“Mm, iya Bu Naina!” jawab Sarah.
Kini Naina mulai berdiri berjalan meninggalkan Sarah yang duduk sendiri, tanpa mengajak Sarah berjalan bersamanya lagi.
“Ahkkk, padahal anaknya yang kurang ajar. Tapi kenapa ibunya malah berkata seperti itu padaku.” Gerutu hati Sarah.
@@@@@
Saat itu Meri mulai menjalankan aksinya sendiri, di mana semua orang sudah terlelap tidur. Ia membuka pintu berjalan perlahan ke arah kamar Sarah,” Aku harus mencari bukti, sebelum melaporkan wanita itu ke polisi.”
Di saat itu juga, Tama sudah membuat suatu kejutan yang akan ia perlihatkan pada ibu tirinya.
Tama mulai mengintip, melihat apakah ibu tirinya sudah menjalankan aksinya.
Lampu ruangan kini begitu gelap, Tama sengaja mematikan kabel listrik di rumahnya. Ia sudah bersiap-siap, memukul sang ibu tiri yang akan masuk ke kamar Sarah.
__ADS_1
Saat lampu rumah mati, Meri tetap menjalankan aksinya. Ia mengambil senter untuk masuk ke kamar Sarah secara diam-diam.
Namun bertapa kagetnya.
“ Ahkkk .... Naina.”
Ibunda Tama yang memakai masker wajah berwarna putih membuat Meri sanggatlah kaget, sedangkan Naina menutup mulut Meri.
“Ini aku Naina,” ucap Naina.
Meri menyingkirkan mulut Naina yang menempel pada mulutnya dan berkata,” kamu ngapain di saat gelap seperti ini memakai masker, aku kira kamu sudah tidur.”
Beberapa kali Naina, menguap. Ia menggaruk belakang kepalanya, seraya menjawab.” Aku hanya ingin mengambil air minum saja. Terus kamu ngapain?”
Pertanyaan Naina membuat Meri sedikit bingung, saat itulah Meri mencari alasan bahwa dirinya juga ingin minum air putih.
Naina yang tak mau banyak berbicara basa-basi, ia mulai melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari hadapan Meri.
Sedangkan Meri, mulai mengurungkan niatnya untuk ke dalam kamar Sarah. Karna lampu yang gelap, di tambah lagi. ia takut Naina mengetahui apa yang ia rencanakan.
pada saat itulah Meri mulai masuk ke dalam kamar, ia mulai mengunci, melanjutkan aksinya besok. karena malam ini perasaan Meri seakan tak karuan.
"Besok saja lah, aku jadi malas gara-gara si Naina."
sedangkan Naina yang berjalan, melewati kamar Sarah. Sedikit penasaran karna tadi siang ia sudah membuat hati Sarah sedikit terluka karna perkataanya.
"Aku cek aja ke kamar si Sarah itu, takutnya si Sarah nangis semalaman karena ucapanku." Gumam hati Naina.
kalau sifatnya yang sangat egois dan pemarah, Naina masih peduli dengan orang yang selalu ia peringati.
di dalam kegelapan tanpa penerangan lampu di dalam rumah, kini Naina hanya mengandalkan penerang dari ponselnya. untuk masuk ke dalam kamar Sarah.
awalnya Naina, ingin mengetuk pintu kamar. Tapi Karena rasa Tak Tega nya, ia mengurungkan niat masuk tanpa mengetuk pintu kamar Sarah.
saat pintu kamar dibuka, Satu hantaman pukulan mengenai kepala Naina, dimana pukulan itu dilayangkan oleh Tama, Tama yang berdiam diri dalam kegelapan tak menyadari bahwa yang ia pukul adalah ibunya sendiri.
Sarah yang masih tertidur begitu pulas, membuat Iya bangun secara tiba-tiba. mendengar satu pukulan yang begitu keras. suasana kamar Sarah begitu gelap, membuat ia tak bisa melihat apa yang sudah terjadi di dalam kamar.
Naina kini tergeletak di atas lantai kamar Sarah, sedangkan Tama yang berpikir bahwa itu Ibu tirinya sendiri, hanya tersenyum kecil dan berkata," rencana sudah berhasil."
__ADS_1