Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 186 Mata merah menyala


__ADS_3

Pak Tejo, menatap wajah Alan yang begitu pucat. Tak biasanya Alan seperti itu. Dari semalam Alan tak mau berbicara dengan Pak Tejo.


“ Alan, kamu sakit?” Tanya Pak Tejo.


Alan masih saja diam, tak menjawab pertanyaan Pak Tejo. Lelaki tua itu malah memegang jidat Alan, namun tak ada tanda-tanda Alan demam sama sekali.


Kedua pramugari datang melihat keadaan Alan, mereka sedikit curiga pada perubahan Alan.


“Sepertinya, Alan seperti trauma,” ucap salah satu pramugari bernama Riri.


“ Trauma kenapa? Bukannya semalam baik-baik saja,” balas Pak Tejo.


@@@@


Dari lamunan ya sendiri, Alan seperti di bawa alam sadar. Alan masih tak percaya dengan kejadian semalam, di mana Iya menolong seorang lelaki tua yang berlumuran. Membawanya untuk segera di obati.


Namun ternyata lelaki tua itu malah berubah menjadi kayu secara tiba-tiba. Tanpa Alan sadari.


Alan tetap menatap kayu yang ia pegang.


“ Lan, sadar. Eling. Istigfar.”


Teriakan itu langsung membangunkan lamunan Alan, Entah berapa jam Alan melamun sampai dia tersadar saat Pak Tejo memukul pipinya.


“ Astagfirullah, pak.”


“Kamu kenapa dari tadi melamun terus?”


Alan mengusap kasar wajahnya. Semua orang mengelilingi dirinya, mereka bertanya. Apa yang tengah Alan pikirkan.


Alan mulai mengingat kata-kata lelaki tua yang bertemu dengan dirinya semalam, lelaki tua itu menyuruh Alan meneruskan perjalanan tanpa menolong orang yang berada di dalam pesawat.


Jika Alan menolong seseorang dalam pesawat dan menguburkan mereka sesuatu hal akan terjadi pada dirinya.


“Alan, kami tanya kamu malah bengong.”


“ Maaf.”


Saat itu Alan mulai bercerita apa yang sudah terjadi dengan dirinya semalam, Tapi saat Alan mulai bercerita kepada orang-orang yang berada di sana.


Seketika suara burung terdengar begitu menyeramkan, suara burung itu seakan membuat bulu Kuduk Mereka berdiri.


Alan mulai menatap langit-langit hutan. Tidak ada penampakan burung yang bersuara menyeramkan itu.


“ Pagi begini, kok suara burung menyeramkan sekali. Ya.”


Riri mulai mendekat ke arah sahabatnya. Setelah mendengar suara burung yang membuat, dirinya ketakutan.


“ Hus, ini kan hutan jadi wajar saja ada suara burung.”


“ Tapi suara burungnya, Din. Kaya mau ngajak mati saja.”


“ Hus kalau ngomong itu di jaga, ya.”

__ADS_1


Pak Tejo mulai bertanya kembali, ke pada Alan. Berharap Alan mengatakan apa yang ingin ia ceritakan saat kejadian semalam.


“ Alan, ayo cerita.”


Alan menelan ludah seakan ingin bercerita tak kuasa, ia takut kejadian aneh menimpa pada rombongannya.


“ Alan, kamu kok malah diam, ayo cerita?”


Pak Tejo terus menekan Alan agar bercerita, namun Alan tetap saja diam seakan tak ada apa-apa yang terjadi.


“Ayo, cepat kita pergi dari sini,” ucap Alan.


Deg ....


Mereka seakan heran dengan perkataan Alan yang tiba-tiba berkata seperti itu.


" Alan, kamu kenapa. Bukanya kita sepakat akan menguburkan jasad-jasad di dalam pesawat?" tanya Pak Tejo yang tak mengerti dengan perubahan Alan tiba-tiba.


"Pokonya hari ini kita langsung pergi dari sini!" jawab Alan tegas.


Mau tidak mau pak Tejo langsung menuruti perkataan Alan, ia mulai membereskan apa yang di perlukan untuk perjalanan pulang.


Sembari memberi tahu Riri dan Dini, untuk siapa melakukan perjalanan yang mungkin akan melelahkan.


Pikiran Alan masih binbang, antara penasaran dengan perkataan Lelaki tua yang ia bantu. apalagi dengan teriakan seseorang yang berada di dalam pesawat itu.


Setelah semua siap? Alan langsung membibing perjalanan menuju hutan.


Riri dan Dini masih ragu untuk berjalan. karna tubuh mereka yang masih lemas.


" Apa kalian sudah siap?" tanya Pak Tejo. Wajah mereka seakan ragu.


" Kami sebenarnya belum siap!" jawab Riri dan Dini.


Alan yang mendengar ucapan Riri dan Dini langsung menjawab," kalian harus siap. jika ada yang tak siap. Terpaksa akan tinggal di sini."


Deg ....


Riri dan Dina ketakutan, mereka langsung menjawab," kami pasti siap."


" Bagus."


Sebelum berangkat, Pak Tejo memberikan sarapan pada cucunya dan juga Riri dan Dina begitu pun Dodi.


Kebetulan lelaki tua itu berburu binatang yang bisa di makan di hutan, saat itulah Pak Tejo mulai membakar hewan itu dengan begitu terlihat lezat.


Mereka menikmati hidangan yang di buat Pak Tejo, membuat badan mereka sedikit bertega.


Sedangkan dengan Alan dia hanya memakan sedikit makanan yang di buat Pak Tejo. karna rasa kuatirnya yang berlebihan.


Di dalam hutan mereka tak tahu waktu. Hanya melihat dari terik matahari yang bersinar menyinari hutan.


Di tengah menyantap makanan, Dodi. Tiba-tiba melangkah pergi, ia seakan melihat seorang wanita bermata bulat melambaikan tangan ke arahnya. seakan mengajaknya untuk datang ke hadapannya.

__ADS_1


Untung saja Alan yang sigap, langsung meraih tangan Dodi, memeluk erat keponakannya itu.


"Mau ke mana, kamu Dodi?"


Kedua mata Dodi seakan tak berkedip, terlihat pikiran anak itu seakan di penuhi kekosongan.


Pak Tejo yang baru menyadari Dodi seperti itu, langsung mengusapkan air pada wajah anak itu.


Dodi tersadar, ia mulai bercerita ada seorang wanita yang melambaikan tangan ke arahnya. wanita itu tak jauh dengan bangkai pesawat. Mata wanita itu begitu bulat. membuat Dodi ingin sekali menghampirinya.


" Jangan berhalusinasi. kalian tetap fokus, pikiran jangan sampai kosong," Ucap Pak Tejo. memberi tahu semua orang yang berada di sana.


Setelah selesai menyantap makanan, mereka bergegas berjalan menelusuri hutan. Saat langkah setengah perjalanan.


Teriakan orang minta tolong terdengar jelas. Lolongan yang terdengar tak biasa. Terasa menyeramkan.


Riri dan Dina saling membisikan satu sama lain.


" Kamu dengar enggak."


"Iya dengar, jelas banget."


" Sudah ayo jalan aja. abaikan teriakan itu."


Alan berusaha menahan hasrat ingin menolong suara itu, ia mengigat apa yang di katakan lelaki tua semalam. Jika ada yang meminta tolong, abaikan saja.


Pak Tejo, menuntun sang cucu dan Dodi. Di depan, Riri dan Dina berada di tengah. sedangkan Alan berjaga-jaga dari belakang.


pepohonan dan dedaunan begitu lebat, menutupi jalan. Mereka hanya menginjak rerumputan seakan tak menemukan tanah.


" Tolong .... Tolong ....."


Teriakan itu terdengar lagi, padahal perjalanan mereka sudah terasa jauh. Teriakan seakan mendekat dan begitu jelas


" Alan apa kita lihat siapa yang meminta tolong?"


" Abaikan saja Pak!"


"Baik kalau begitu."


Tiba-tiba cucu Pak Tejo menangis menjerit, dikala melihat mata merah yang menyala. Sedangkan orang-orang tak melihat.


Pak Tejo dengan sigap mengendong sang cucu dan menenangkan teriakannya.


" Kamu kenapa, nak?"


" Takut, ke."


"Apa yang kamu lihat?"


Saat itu sang cucu mulai menunjuk dengan jari tangannya ke arah mata yang merah menyala itu.


" Jangan bergerak." Ucap Alan. Semua tampak panik.

__ADS_1


Dina seakan ingin berlari, namun tertahan oleh Alan.


__ADS_2