Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 243 Egoisnya Dina


__ADS_3

Ternyata wanita yang memanggil-manggil Dina itu, ialah Riri. Yang menempelkan wajahnya pada jendela, membuat wajah Riri terlihat melebar begitupun dengan bibirnya.


Dina yang melihat wajah Riri seperti itu, seketika tertawa. Ia tak bisa menahan rasa ingin tertawanya lagi. Membuat Sarah membulatkan kedua mata dan berkata,” Kenapa?”


Pada saat itulah Dina langsung menutup mulutnya, sedangkan Sarah terus bertanya kenapa Dina tiba-tiba saja tertawa?


“Apa yang kamu lihat?”


Saat itulah Sarah mulai melihat ke arah jendela, dimana di jendela itu tidak ada siapa-siapa. Membuat Sarah semakin penasaran dan mendekat kearah jendela itu, Dina sedikit kuatir. Takut jika Riri ketahuan oleh Sarah.


Saat itulah kesempatan Riri untuk masuk ke dalam rumah, di mana Sarah keluar melihat jendela yang membuat Dina tertawa.


Setelah sampai di luar jendela, Sarah melihat apapun yang berada di luar sana. Hati Sarah benar-benar diliputi dengan kekesalan, Bagaimana tidak dari pembantu nya juga yang membuat kepanikan dan juga Dina yang tiba-tiba tertawa.


Sarah sempat ingat dengan Arpan, setelah kedatangan polisi ia belum mengecek lagi keadaan Arpan.


Kini Sarah menyuruh suruhannya untuk ikut mengecek keadaan Arpan bersama dirinya.


Sedangkan Dina menunggu di luar, Sarah tak mau jika Dina, melihat Sarah memukul-mukul Arpan. Jika Dina melihat dirinya memukul-mukul Arpan, pastinya Dina tidak akan bekerja sama lagi dengan dirinya.


“Dina, kamu tunggu saja di luar.”


“Baik nyonya.”


Disaat Sarah mengecek keadaan Arpan, di sanalah Riri mulai beraksi. Gadis itu mencari sebuah kunci mobil, untuk cepat-cepat pergi dari rumah itu, membawa Dina pergi dari rumah neraka itu.


Namun saat Riri mencari kunci di dalam lemari khusus penyimpanan, salah satu suruhan Sarah bertanya kepada dirinya.


“Sedang apa kamu di sini?”


Pertanyaan lelaki berotot itu, membuat Riri sedikit gugup. Ia takut jika penyamarannya terungkap, pada saat itulah ia berusaha tetap tenang.


“Nyonya menyuruh saya untuk pergi ke rumah sakit, mengecek keadaan Bobby dan juga sandi. Yang akan dimakamkan segera mungkin.”


“Ini.”


Suruhan secara langsung memberikan kunci mobil yang akan dipakai oleh Riri, Untung saja Riri bisa beralasan dengan kuat. Tak sia-sia Riri mendengarkan info dari semua suruhan Sarah.


“Terima Kasih.”


Pada saat itulah Riri Mulai mengambil kunci itu, ia sangat senang bisa segera mungkin ke luar dari rumah Sarah.

__ADS_1


Sebelum menyalahkan mobil, Riri berusaha melihat situasi di mana para penjaga tengah lengah. Dan ia bisa leluasa membawa Dina.


Dan situasi itu, mampu Riri dapatkan. Di mana Dina tengah berdiri sendiri tanpa suruhan yang menami dirinya saat itu.


Riri mulai menarik lengan Dina, tapi Dina malah menepis tarikan lengan Riri.


“Lepaskan,” pekik Dina.


“Heh, bodoh. Ayo kita pergi dari rumah ini,” ucap Riri. Berusaha bersikap tenang menghadapi Dina, ciri takut jika suruhan mendengar amarahnya pada saat


“Aku tidak mau, jika kamu mau pergi. Pergi saja sendiri,” cetus Dina.


Riri yang berusaha tinggal di rumah Sarah dengan berpura-pura menjadi suruhannya, begitu kesal mendengar penolakan Dina. Padahal susah payah Riri dan Alan masuk ke rumah itu.


“Heh, aku ingatkan kamu ya. Aku ke sini bersama Alan, bela-belain kamu tahu,” ucap Riri menunjuk batang hidung Dina.


Dina menepis tangan Riri dan berkata,” siapa suruh kalian datang ke sini. Aku tidak butuh bantuan kalian,” balas Dina melipatkan kedua tangannya.


Pada saat itu Riri benar-benar kesal dibuat sahabatnya itu, dia mengepalkan kedua tangannya ingin sekali meninju mulut Dina.


“Kalau saja aku tak menghargai persahabatan kita, mungkin aku tak akan mengajak kamu pergi dari rumah ini,” gerutu Riri dalam hati.


“ Si Cungkring ini kenapa tidak pergi jauh-jauh sudah aku ingatkan. Tak ingin pergi dari rumah Sarah,” gumam hati Dina.


Riri benar-benar tak punya banyak waktu, ia harus segera mungkin pergi membawa Dina dari rumah Sarah. Jika Riri tidak membawa Dina keluar dari rumah itu, mungkin Alan akan marah kepadanya. Dan menganggap Riri egois tak mempedulikan sahabatnya sendiri.


“Ayolah Dina, cepat ikut pergi denganku,” rayu Riri mencoba berbaik hati pada sahabatnya itu. Padahal hatinya benar-benar jijik dan kesal.


Dina berusaha mengacurkan rayuan Riri pada saat itu, ia tak peduli dengan apa yang Riri katakan. Karna Dina sudah terikat janji dengan Sarah.


Karena rasa kesal yang menyelimuti Hati Riri pada saat itu, Riri mulai mencari sebuah ide agar dirinya bisa membawa Dina ke luar dari rumah Sarah.


Menatap ke sana ke mari, akhirnya ia menemukan kayu yang bisa ia pakai untuk memukul Dina.


Dina yang membelakangi Riri, membuat Riri langsung mengambil kayu dan memukulkannya pada kepala Dina. Membuat Dina jatuh pingsan.


“Ah, pingsan juga akhirnya.”


Dengan kekuatan yang Riri punya, ya langsung menyeret Dina masuk ke dalam mobil.


Namun, tiba-tiba sekali teriakan Sarah membuat para penjaga berlarian ke arah sang nyonya.

__ADS_1


Membuat Riri terpaksa menutupi tubuh Dina dengan kain yang menggantung di balik tembok, saat itulah orang-orang mulai berlarian melewati Riri yang berdiri.


Setelah orang-orang itu pergi menghampiri sang nyonya, saat itulah Riri mulai bergegas cepat menyerap tubuh Dina.


setelah sampai di samping mobil, Riri dengan bergegas membuka pintu mobil itu. badannya yang kecil berusaha membopong tubuh Dina yang sangatlah besar.


awalnya Riri kewalahan membopong Dina masuk ke dalam mobil, tapi ia berusaha dengan keras. Tak ingin perjuangannya sia-sia begitu saja.


"Dasar si nenek lampir ini menyusahkan sekali." Gerutu Riri.


tak butuh beberapa lama, pada akhirnya Riri bisa memasukkan Dina ke dalam mobil.


Iya bergegas masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil itu dengan cepat.


"Akhirnya aku selamat."


Namun dalam setengah perjalanan Dina terbangun dengan memegang kepalanya yang terasa berdenyut, ia melihat dirinya sudah berada di dalam mobil.


"Di mana aku?"


Dina duduk di kursi belakang mobil, melihat Riri tengah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Jadi aku ke luar dari rumah Sarah," ucap pelan Dina.


Saat itulah Riri mulai berucap dengan memegang stir mobil," kamu sudah bangun Din."


"Riri, kenapa kamu bawa aku pergi?"


"Ya elah aku kan kasian sama kamu, jadi aku bawa kamu dengan caraku sendiri."


"Aku kan sudah bilang, aku tak mau ikut dengan kamu. Aku ingin berada di rumah itu."


Sifat keras kepala Dina membuat Riri kesal, saat itulah ia berucap," kamu harusnya bersyukur bisa bebas dari rumah itu. ini malah ingin tinggal di rumah nereka itu."


Tiba-tiba saja Dina mengoyangkan tubuh Riri, membuat keseimbangan Riri terganggu saat mengendarai mobil.


mobil itu hilang kendali, membuat Riri tak bisa mengontrol mobil.


Ahkkkk ....


APA YANG TERJADI APA MEREKA BAIK-BAIK SAJA?

__ADS_1


__ADS_2