
Saat itulah Rudi berhenti mengetuk pintu dan juga berteriak, ia mulai pergi dari pintu kamar sang istri yang masih tertutup. Dengan berjalan pelan menjauh dari kamar itu, berharap saat ia pergi Ami membuka pintu kamarnya.
Namun ternyata itu hanyalah harapan kosong saja, Rudi mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia merasakan tubuhnya terasa pegal, karena seharian ini menyetir mobil tanpa beristirahat.
membuat dirinya merasakan rasa lelah yang teramat sangat menyakitkan badan. kedua matanya langsung menutup dan akhirnya ia tertidur pulas.
sedangkan Ami yang masih berada di dalam kamar, Tak Mendengar lagi suara teriakan dan rayuan suaminya di balik pintu. Ami bangun dari ranjang tempat tidurnya, ia menempelkan telinganya. takut jika Rudi masih berada di balik pintu kamarnya. Hening, sepi. Ami berpikir jika Rudi tak menunggunya lagi di balik pintu kamar.
Ami mulai membuka pintu kamarnya, setelah membuka pintu kamarnya, benar saja Rudi sudah tidak ada di balik pintu.
"Sepertinya Mas Rudi sudah lelah mengetuk pintu dan berteriak teriak."
pada saat itulah Ami mulai mencari keberadaan sang suami, yang ternyata Rudi sudah tertidur pulas di atas sofa ruang tamu.
Ami Mulai mengambil selimut menutupi tubuh suami," maafkan aku pah, ini hukuman untuk kamu yang sok membantu orang jahat."
tiba-tiba saja Ami merasakan rasa haus pada tenggorokannya, membuat ia terburu buru pergi ke dapur. untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Hah, ada ada saja tengorokanku ini malam begini merasa haus tak tertaha."
saat Ami sampai di dapur, yang di mana ruangan dapur masih gelap. Membuat Ami menekan tombol lampu agar menyala.
saat mencari tombol lampu itu. Ami melihat sosok seseorang memegang pisau, seseorang itu mulai menghampiri Ami membuat kami ketakutan.
Iya dengan Sigap mencari tombol lampu, yang pada akhirnya tombol lampu itu ketemu.
Lampu pun menyala, betapa kagetnya Ami, Setelah lampu menyala. sosok orang yang tengah memegang pisau ialah Tama.
"Kamu Tama." Ucap Ami masih dengan hati berdebar ketakutan.
"Mba. Tunggu," balas Tama masih memegang pisau.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Ami dengan penuh kebencian.
"Mba maaf, aku akan jelaskan semuanya!" jawab Tama.
"Sudah cukup ya. Akan aku laporkan kamu ke polisi," ancam Ami.
__ADS_1
"Mba maaf ...."
Belum pertanyaan Tama terlontar semuanya, Ami menuduh lelaki itu." cukup jangan katakan lagi kata maaf, aku tahu. kamu masuk ke rumahku untuk mencelakai keluargaku lagi."
tidak ada kesempatan Tama berucap pada saat itu, untuk menjelaskan. Ami tak memberikan ruang untuk Tama berbicara
Ami menunjuk nunjuk wajah Tama, dengan amarah yang menggebu," aku tahu orang jahat sepertimu tidak akan berubah."
"Mba, saya mohon berikan saya waktu untuk menjelaskan semuanya." Ucap Tama pada Ami yang terus berucap tiada henti.
"Mba Ami, saya mohon. Beri saya kesempatan untuk berbicara." ucap lagi Tama.
"Alah, jangan banyak alasan kamu. Aku tahu niat busuk kamu." Cetus Ami. Tama hanya bisa terdiam mendengarkan semua ocehan yang terlontar dari mulut Ami yang menuduh dirinya akan berbuat jahat pada Rudi dan keluarganya.
Rudi yang tengah tertidur pulas, kini bangun karena mendengar suara perdebatan yang terdengar begitu mengganggu. "Kenapa berisik sekali. Ada apa malam malam begini?" gumam hati Rudi.
Rudi dengan terpaksa bangkit untuk berdiri, berjalan mencari suara perdebatan dan keributan yang terdengar oleh kedua telinganya.
rudi yang terus berjalan menelusuri setiap ruangan, dan juga melewati ruangan di rumahnya. Kini berhenti di dapur, di mana suara perdebatan itu begitu jelas terdengar di dapur.
"Sedang apa mereka malam malam begini?"
Rudi langsung menghampiri sang istri di dalam dapur, yang di mana Ami tengah mengoceh terus menerus. Membuat gendang telinga Rudi sakit.
" Ada apa ini?"
Saat Rudi datang, Ami mulai mendekat ke arah suaminya. Berucap dengan nada kesal," papah lihat lelaki ini. Asal papah tahu mamah menemukan dia di dapur tengah memegang pisau. lelaki ini mau mencelakai keluarga kita, pah."
Rudi membulatkan kedua matanya saat mendengar penjelasan dari sang istri, ia menatap tajam kearah Tama dan bertanya." Tama. Apa benar yang di ucapkan istriku?"
Tama yang gugup langsung menjatuhkan pisaunya," Rudi. Sebenarnya. Tidak seperti itu." jelas Tama.
Ami yang sudah kesal dengan Tama langsung mengelak ucapan Tama dengan berkata," bohong pah. Jangan langsung percaya dengan lelaki ini, lihat saja wajahnya ketakutan."
"Mba, saya tidak ada niat sedikit pun mencelakai keluarga kalian. Saya hanya ...."
__ADS_1
Belum perkataan Tama terlontar semuanya Ami mencoba memotong penjelasan Tama." Sudahlah, sebaiknya kamu cepat pergi dari rumah ini."
"Tapi .... Mba."
saat itulah tanpa sengaja Rudi mencium bau gosong di ruangan dapur, membuat Ia berlari ke arah kompor. dan benar saja, ikan yang berada di dalam kapal kini mulai gosong. Dan mengeluarkan asap, membuat Rudi dengan sigap mematikan kompornya.
Ami dan Tama menghampiri Rudi, membuat mereka batuk karna mencium bau gosong dan terkena asap.
Rudi mulai bertanya pada sang istri," mamah, goreng ikan jam segini?"
Ami langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Rudi." Tidak pah."
Tama yang menundukkan pandangan kini berucap," sebenarnya yang menggoreng ikan itu, Aku Rudi. Kebetulan sekali perutku lapar karena seharian belum menemukan makanan."
Ami dan Rudi saling menatap satu sama lain.
Rudi lupa jika Tama kabur dari dalam penjara, ia lupa memberi makan Tama karna fokus pada sang istri yang marah marah saat Tama datang ke rumahnya.
Ami mulai berucap dengan nada sedikit meninggi," Alasan kamu saja. Di sini banyak pembantu. Kamu tinggal bilang saja, mereka akan mengambilkan kamu makanan."
"Tama menjawab ucapan Ami," Saya tak berani menyuruh para pembantu di sini, untuk menyediakan makanan untuk saya. Maka dari itu saya hanya bertanya saja pada pembantu di sini. Di mana letak sayuran dan ikan. Biar saya yang mengoreng dan memasakan di sini."
"Ahhk, sudahlah Tama. Jangan mengelak lagi, mengaku saja. kamu berencana jahat pada keluarga kami," cetus Ami.
"Tidak, mba Ami. Saya tidak ada niat seperti itu, tolong percaya pada saya," balas Tama.
Ami langsung memanggil pembantu di rumahnya, yang di mana Lala datang dengan wajah yang berantakan. Karna terbangun oleh teriakan Ami.
"Ada apa Nona Ami?" tanya Lala. Menundukkan pandangan.
"Apa benar lelaki ini bertanya padamu, di mana letak sayuran dan juga ikan!" jawab Ami bertanya pada pembantunya.
Lala menatap ke arah Tama sekilas dan menjelaskan pada Ami," sebenarnya ....."
Apa jawaban pembantu itu?
__ADS_1