
Sesudah selesai sarapan mereka melanjutkan obrolan, bercanda bergurau, seakan tidak ada beban menyelimuti pikiran mereka, semua masalah selalu teratasi. Alan melihat Ami begitu ceria, ia seakan bahagia dengan Ami yang sekarang, tatapan matanya tak lepas dari pandangan sosok Ami saat itu.
Rudi, melirik Alan yang begitu fokus menatap Ami istrinya. Tiba-tiba Rudi berpura-pura batuk, Ami langsung terperajat kaget, dengan sigap mengusap pelan punggung suaminya.
Tangan wanita berwajah tirus itu langsung mengambil teko menuangkan air putih pada gelas, menyodorkan pada suaminya.
"Papah kenapa? Ko tiba-tiba batuk. Tumben?" tanya Ami dengan begitu perhatian. Alan yang awalnya fokus menundukan pandangan. Malu karna Rudi menyadari dirinya yang fokus menatap Ami.
Sial, kenapa aku masih terus memandang Ami. Ayolah hati usahakan agar tetap mencintai Delia sepenuhnya, gumam hati Alan.
Rudi merangkul istrinya, seraya berkata," Bali ko dingin ya."
Ami tertawa memukul pundak suaminya. Seraya berkata, " dasar gombal, cuaca di luar panas gitu. Di bilang dingin."
"Mas Rudi, kedinginan karna ace mungkin," timpal Alan. Sedikit mendelik kesal, membuat suasana agar tak terlalu tegang.
"Oh ya, ya." jawab Rudi mengangguk kan kepala.
Di sisi lain Delia seakan curiga dengan pandangan mata Alan terhadap Ami. Gumam hati Delia, mata Alan begitu berbinar saat menatap mbanya, seakan Alan tidak mengganggap Ami itu saudarnya. Melainkan orang lain yang ia sukai. Ada apa sebenarnya di antara mereka, kenapa suamiku tidak menceritakan semuanya. Apa ada rahasia diantar mereka.
"Delia, ko kamu melamun?" tanya Ami. Terseyum manis.
"Oh engga ko!" jawab Delia. Terseyum balik.
Hati Delia terus bergumam. Aku penasaran dengan Alan dan Ami, apa aku harus menayakannya langsung pada Alan? Tapi mana mungkin Alan kadang suka mengelak dia seakan tidak mau urusanya di ketahui orang. Apalagi soal rahasia! Aku harus menanyakan pada Ami, ya pada Ami. Itu salah satu cara agar rasa penasaranku semua terjawab sudah.
"Gimana dua bulan pernikahan kalian apa sudah ada tanda-tanda seorang anak?" tanya Rudi membuat Alan seakan gugup dengan pertanyaan yang harus ia jawab.
Alan dan Delia saling pandang satu sama lain.
Hati Alan berbisik, pertayaan macam apa Rudi ini. Untuk momen malam pertama pun susah aku dapatakan. Otomatis bikin anak pun engga bakal terjadi.
"Loh, kalian ko diem?" tanya Ami. Membuat pipi Delia memerah.
Delia yang ingin menjawab pertanyaan Rudi seakan gugup.
"Sepertinya belum waktunya di kasih keturuanan Am!" jawab Delia, menarik nafas pelan.
"Oh, gitu." Rudi hanya mengangguk kan kepala mengerti apa yang di bicarakan Delia.
Saat itu tangan Rudi memegang erat tangan Ami.
"Kebetulan kami rencana mau tambah momongan lagi, buat temennya Dodi," ucap Rudi. Membuat hati Alan memanas. Rasanya tak sanggup mendengar perkataan Rudi yang seakan menjebak hati Alan. Agar segera menyelesaikan misi malam pertamanya.
__ADS_1
Dengan perasaan yakin, Alan memegang erat tangan Delia dan berkata," jelas kita juga selalu berusaha buat cepat-cepat punya momongan."
Ami dan Rudi bertepuk tangan, wah hebat.
**************
Di tengah kebahagian mereka. Sisi berjuang antara hidup dan mati. Pak Hendra yang setia menjaga Sisi, terus berdoa untuk keselamatanya.
Di tengah-tengah oprasi itu berjalan.
Sisi seakan bangun, ia melihat sosok dirinya terbaring di rajang rumah sakit. Dengan beberapa suster dan dokter yang menanganinya
Berjalan melewati semua pintu rumah sakit dengan tubuhnya tanpa membuka dengan tangan.
"Apa yang terjadi apa aku sudah mati, rohku," ucap Sisi menatap tanganya.
Tiba-tiba seseorang menarik paksa dirinya, orang itu tak nampak hujudnya hanya hitam seperti asap.
"Jangan tarik aku, lepaskan."
Sisi di giring paksa memasuki ruangan putih, seakan tidak ada pintu. Hanya ada cahaya putih saja. Ia melihat ke arah depan sosok lelaki itu membelakangi tubuhnya. Tiba-tiba sosok itu berbalik arah menatap wajahnya.
Melihat penampakan wajah itu membuat kepalanya sedikit pusing," siapa kamu?"
Ucapan membunuh terus terlontar dari lelaki yang mencekik leher Sisi saat itu.
Sisi meronta-ronta kesakitan di kala lehernya tercekik oleh sosok lelaki itu. Melawan sekuat tenaga, mendorong tubuhnya.
Hingga sosok itu hilang.
"Sisi," panggilan dari sosok seorang ibu tua. Memanggil namanya dengan jelas.
Sisi tidak berani menghampiri sosok itu. Ia malah menjauhi, dengan melangkah mundur. Tapi sosok wanita tua itu seakan mendekat.
"Kemarilah Sisi, apa kamu ingat aku?" tanya wanita tua. Melangkah maju mendekat kearah Sisi.
"Jangan mendekat!" Sisi berteriak meminta tolong.
"Jangan takut sayang. Aku hanya ingin, kamu ingat kepadaku, tentang apa yang telah kau perbuat pada hidupku."
Tangan wanita tua itu meraba pada wajah Sisi, membuat Sisi bergidig ngeri. Sentuhan tangan wanita tua itu begitu dingin seperti orang yang sudah mati.
"Pergi dari sini kumohon," ucap Sisi. Berlari menjauh pada wanita tua itu. Sisi terus berlari seakan semua nampak putih kosong untuk berlari pun ia nampak bingung harus pergi kemana.
__ADS_1
Berteriak meminta tolong, membuat ruangan putih itu menjadi berwarna gelap.
Bayangan lelaki itu datang lagi. Seakan ingin menekram Sisi dengan tanganya.
Jangan .... Mata Sisi terbuka, ia seakan menatap ruangan semua nampak kosong. Ia sadar ternyata itu hanya sebuah mimpi.
"Sisi, dokter ... dokter."
Sisi mendengar suara lelaki tua di sebelahnya, meminta pertolongan dokter. Bibirnya seakan susah untuk berucap, untuk melihat pun seakan ruangan menjadi gelap.
Kemana orang-orang di sini. Kenapa aku tidak melihat, gumam hati Sisi.
Untuk mengucap sepatah kata pun seakan rasanya susah sekali.
Dokter langsung menangani pasien dengan sigap. Pak Hendra yang menunggu seakan panik.
Ia menelpon Alan pada saat itu.
Tut ... tut ... sambungan telepon pun akhirnya tersambung.
"Hallo."
"Hallo, Alan kamu dimana?" tanya Pak Hendra dalam sambungan telepon.
"Di vila pah, ada apa? Ko papah panik gitu!" jawab Alan.
"Segera datang ke sini! Sisi sudah sadarkan diri," ucap Pak Hendra dalam sambungan telepon.
"Baiklah pah!" jawab Alan. Menutup panggilan telepon, bergegas memberi tahu pada Delia, dan juga Ami.
"Ada apa Al?" tanya Ami. Alan memberitahu semuanya, saat itu Ami dan Rudi bergegas pergi ke rumah sakit.
Dengan mengendarai kecepatan penuh mereka segera menghampiri Sisi dan Pak Hendra.
Setelah sampai, Rudi, Ami dan Delia. Melihat Sisi meronta-ronta menagis menjerit, mereka bingung dengan keadaa Sisi waktu itu. Sampai menanyakan.
"Ada apa dengan Sisi pah?" tanya Alan. Menghampiri Pak Hendra yang tengah menahan tubuh Sisi yang meronta-ronta.
"Ahk."
jeritan itu terdengar keras dari mulut Sisi.
Apa yang terjadi dengan Sisi?
__ADS_1