
Di tengah kebahagiaan Ane, ia melupakan Delia yang berada di rumah sakit. Ane tak menyadari Delia sekarang tengah dalam bahaya.
Deni masuk ke dalam ruangan Delia, di mana wanita bermata sipit itu tengah tertidur pulas.
Ia melihat jam di dinding, masih pagi sekali. Tak ada tanda-tanda Ane datang ke rumah sakit, Deni sudah melihat ke ruangan Ane, tak ada dia di sana.
“Harusnya Ane datang pagi sekali, karna dia sudah mengingkari janji semalam denganku.” Gerutu Deni.
Berdecap kesal, bibirnya seakan ingin menggigit sesuatu. Ia mulai duduk di kursi ruangan Delia, menatap Delia dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Wanita ini lumayan juga.”
Deni mulai berjalan ke arah pintu, melihat situasi di luar. Tak ada tanda-tanda orang yang melintas.
Deni tersenyum kecut, walau semalam ia tidak bisa melampiaskan hasratnya. Tapi pagi hari dia ingin menunaikan semua hasrat yang terpendam.
Deni mulai menutup pintu ruangan Delia, mengunci pintu secara perlahan.
“Dan berhasil.”
Tangan kekar Deni mulai mengusap betis Delia yang tertidur, membuat Delia merasakan rasa tak biasa. Akhirnya Delia terbangun. Menatap ke arah Deni.
“ Kamu, apa yang mau kamu lakukan?”
Deni mulai menenangkan ketakutan Delia, ia berusaha membisikan hal yang lembut kepada Delia. Entah kenapa Delia hanya bisa terdiam, seakan pikirannya sudah terkendali oleh Deni.
“Kamu menurut sekarang padaku. Aku akan beri kamu kenikmatan yang luar biasa.”
Delia mulai menatap tajam ke arah Deni.
“Menyingkir.”
Deni mulai menyuntikan cairan pada infus Delia, berharap Delia bisa tenang dengan sendirinya. Agar Deni bisa menikmati apa yang ia ingin lakukan pada Delia.
Delia mulai tenang, saat itulah Deni mulai melepaskan ikatan yang melingkar pada tangan dan juga kaki. Agar ia leluasa mengerakkan tubuh Delia, sesuka yang ia inginkan.
Deni, membawa beberapa butir pil, di mana pil itu berwarna putih. Ia langsung memberikannya pada mulut Delia.
Membuat Delia hanya bisa pasrah karna obat yang diberikan Deni.
“Kamu akan menikmati semuanya, Delia.”
Deni mulai melakukan aksinya, nafsu yang semakin tinggi membuat ia hilang kendali. Wajah yang ia bayangkan hannyalah wajah Ane, Keringat begitu berhamburan membuat ia begitu menikmati apa yang ia lakukan.
Tidak butuh waktu lama, Deni langsung menutup semua tubuh Delia. Menyembunyikan barang bukti dengan begitu teliti.
__ADS_1
CCTV yang menyala sudah ia tutupi dari awal permainan yang ia lakukan.
“Huh, ternyata wanita ini lumayan juga. Ya.”
Delia tak sadarkan diri, ia hanya terkulai lemah di ranjang tempat tidur.
Deni tak sadar akan gorden yang terbuka sedikit, ia tak menyadari jika di balik jendela itu ada suster yang mengintip dan merekamnya.
Suster itu langsung menaruh ponsel dengan sigap, ia berpura-pura membuka pintu dengan perasaan berusaha tenang.
Suster itu sedikit merasa bersalah, karna ia hanya bisa merekam saat Deni sudah melakukan aksinya. Ia bingung harus berkata apa pada Ane nanti. Jika Dokter kepercayaannya sudah melakukan aksi tak senonoh.
Tok .... Tok ....
Deni sempat kaget, karna ketukan pintu yang beberapa kali. Membuat ia terburu-buru memakai baju, setelah selesai memakai baju. Deni membuka pintu ruangan Delia.
“Dokter Deni?”
Deni yang sedikit ketakutan langsung menarik tangan sang suster. Mengancam dengan ancaman yang menakutkan, “Awas kalau kamu bicara yang tidak-tidak pada orang lain.”
Sang suster mulai ketakutan, ia hanya menganggukkan kepala dengan bibir bergetar. Menjawab kata, “iya.”
“Bagus, tolong kamu pakaikan pasien itu baju. Bersihkan badannya,” pinta Deni menyelipkan beberapa lembar uang pada tangan sang suster.”
Suster itu dengan sigap menuruti perkataan Deni, karna ancaman yang begitu menyeramkan. Membuat dirinya hanya bisa menurut tanpa melawan.
“Ha, Ane. Kamu berani membohongiku, aku akan membuat orang-orang yang kamu jaga menderita.”
Sang suster dengan sigap mengelap tubuh Delia, yang penuh dengan keringat. Delia sedikit terdengar meringis kesakitan, pengaruh obat perlahan mulai menghilang. Kini Delia membuka mata dan menatap ke arah sang suster.
Ternyata suster tengah memakaikan baju pada tubuh Delia. Karna baju yang di pasang Deni tak rapi dan tak beraturan.
“Kenapa kepalaku pusing sekali.”
Delia mulai menyuruh suster untuk membantunya duduk, tapi Delia seakan merasakan rasa sakit pada daerah kewanitaannya.
“Akh.”
“Sebaiknya kamu tidur dulu.”
Delia hanya bisa menurut saja, karna rasa pusing yang begitu menyakitkan membuat kepala Delia seakan berat.
Sang suster menggelengkan kepala berbisik pada hati,” bejat sekali kelakuan Dokter Deni.”
“Kenapa kepalaku pusing sekali ya, sus.”
__ADS_1
Sang suster hanya terdiam, ia tak berani mengungkapkan apa yang terjadi pada Delia.
Apa jadinya jika Delia tahu bahwa dirinya sudah di perkosa oleh Dokter Deni.
@@@@
Ane mulai berangkat ke rumah sakit pukul 10:00 karna harus mengurus kedua anak-anaknya yang ingin bermain dengannya.
Ia lupa akan Delia, di mana Delia sudah ternoda’i oleh Deni. Lelaki tidak tahu diri itu.
Setelah sampai di rumah sakit. Ane melihat Deni tengah duduk di luar rumah sakit, ia tengah memainkan ponselnya.
“Deni. Kenapa dengan wajahnya seakan dia senang sekali?” ucap Ane.
Ane mulai melangkah menuju rumah sakit, sedangkan Deni hanya menatapnya dari kejauhan. Biasnya ia merayu Ane, tapi ternyata tidak.
Ane mulai menenangkan diri, ia mulai menghampiri Delia. Melihat keadaan Delia yang sekarang.
“Sus, kenapa dengan Delia. Wajahnya kok pucat sekali?” tanya Ane pada suster.
Sang suster bingung harus menjelaskan apa, ia menatap ke arah cermin melihat Deni tengah mengawasinya.
Kedua tangan suster itu mengepal. Ia hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Ane.
“Sus, kenapa diam?” tanya Ane.
“Anu dok!”
Ane mengerutkan dahinya, melihat sang suster yang tak biasa terlihat gugup saat ia tanya, ane mulai mengecek keadaan Delia.
terlihat sekali Delia seakan kelelahan membuat Ane merasa heran.
"Kenapa dengan Delia? Kenapa tubuhnya berkeringat sekali?"
Tanya Ane. sang suster hanya menjawab dengan jawaban berbohong kepada Ane.
"Sepertinya pasien Delia, tadi bermimpi buruk sampai keringat keluar begitu banyak."
Jawab sang suster dengan wajah gugup.
Ane langsung percaya begitu saja dengan ucapan sang suster, saat itulah wah Ane mulai berjalan meninggalkan Delia bersama suster di dalam ruangan.
sang suster bergumam dalam hati, Iya seharusnya berkata jujur tapi, karena melihat penampakan Deni dibalik kaca membuat ia sangat ketakutan.
saat itulah sang suster dengan terpaksa mengatakan kebohongan.
__ADS_1
Deni yang berada di luar mulai berucap pelan," bodoh juga si Ane itu. hanya mengecek suhu tubuh Delia. Jadi aku aman sekarang."