
Pov Sisi
Sejak pertama, melihat pria bernamakan Rudi, membuat hati ini bergetar hebat, saakan menemukan sang pujaan hati.
Rudi pria bertubuh kekar, berdada bidan dan berkulit putih, hidungnya yang mancung membuat aku terpesona pada pandangan pertama, dia pria yang berbeda dari yang lain.
Ke tidak peduliannya terhadap wanita yang berbaju seksi, dan ketusnya yang membuat aku semakin penasaran di buat pria setampan dia.
Beruntung sekali temanku Ami mendapatkan sosok seorang lelaki yang tidak suka melihat wanita seksi, dan berdandan menor seperti diriku.
Aku suka menggoda dia, semenjak dia bekerja di perusahaan yang selama ini aku gandrungi sejak gadis bersama Ami istrinya.
Ami adalah sahabat karibku, dia segalanya bagiku, teman yang selalu ada, selalu mendengarkan kelah keluhku setelah aku menikah dengan lelaki berengsek bernama Aldi.
Semenjak Ami menikah, aku seperti kehilangan sosok seorang teman, hingga ia tidak pernah mengabari kabarnya kepada diriku.
Awalnya aku ingin mendekati Rudi sebagai teman saja, hanya untuk sekedar menanyakan keadaan Ami istrinya.
Namun, semakin aku mendekatinya semakin gemuruh di dada semakin berdetak kencang, rasa cinta yang tadinya ku tahan, malah semakin merajalela, merasa ingin mendapatkannya.
Sudah beberapa kali aku merayunya, mengajak dia bercanda tapi tidak mempan,
Dia seperti baja yang susah sekali di hancurkan kesetiannya.
Saat itu suamiku Aldi sakit-sakitan karna dia sering menggunakan obat-obatan terlarang, yang membuat aku tidak tahan, dari judi, dan minum-minuman berAkohol.
Membuat dia menjadi pria yang pemarah, dan agresip, ditambah dia suka menampar dan menyiksaku,
Aku tidak tahan di buat lelaki macam dia, hingga saat itu, aku berusaha mencari no Hp Ami, rasanya ingin mengadu kepadanya tentang apa yang aku alami saat ini.
Kenapa hidupku tidak seberuntung Ami, wanita yang lugu, cantik, dan sederhana.
Sesaat di rumah sakit, akhirnya aku bertemu dengan Ami, sahabatku, dia yang aku rindukan, akhirnya bertemu.
Namun, aku merasa iri melihat dia yang begitu banyak diperhatikan orang lain, pada saatnya, dimana aku sudah lelah dengan sikap suamiku hingga, aku terpaksa meracuni infusan suamiku yang sakit parah.
Dengan menyuruh seseorang berpura-pura menjadi perawat.
Dan rencanaku berhasil, suamiku mati di depan mataku, memperlihatkan mata yang melotot menghadap ke arahku, sembari menunjuk.
Dan saat itupun, Ami datang menghampiriku, ada rasa senang saat seorang sahabat memeluk dan menenangkanku.
Semenjak kematia Aldi, bukannya membuat hidup bahagia, malah menderita, ternyata Aldi meninggalkan hutang yang begitu banyak, hingga aku sebagai istrinya tidak sanggup membayarkan hutang-hutang yang mengundung.
Semua aset rumah, dan kendaraan di ambil oleh bank, tidak ada sisa sedikit pun.
Dari sana, aku binggung harus pergi kemana, saudara semua ada di kampung, tidak ada lagi yang menjadi sadaran kesepianku.
Hanya Ami.
Ya, yang aku ingat hanya Ami sahabat yang baik hati, pasti dia mau menerimaku di rumahnya.
Ya, secara, dia melihat Aldi yang sekarat di depan matanya.
__ADS_1
Dan benar saja, Ami menerimaku di rumahnya hanya untuk satu minggu, dengan berdalil, aku takut sendirian di rumah.
Padahal, semua rumah dan isinya sudah diambil alih oleh pihak bank.
Saat di rumah Ami, rasanya bahagia nyaman, melihat sang pujaan hati ia lah Rudi, bisa aku tatap setiap detik.
Maafkan aku Ami telah menyukai suamimu, padahal aku tidak ingin, tapi hati ini yang memaksa untuk menginginkannya.
Cuman yang aku sayangkan Rudi masih sama seperti dulu ketus terhadapku, tidak dengan istrinya selalu mesra.
Hingga suatu ketika aku berencana memakai pakaian seksi, untuk menggoda Suami Ami, tapi gagal oleh istrinya.
Oh, sudah lama semenjak kepergian Aldi aku belum merasakan cumbuan lelaki.
Akhir-akhir ini yang aku herankan, Ami selalu memakai hijab, tidur, ke kamar mandi, tidak lepas dari namanya hijab, dan lagi wajahnya tak ayu seperti dulu, pucat, tanpa baluran make-up sama sekali.
Baju yang lusuh kumel, membuat Ami terlihat seperti pembantu.
Pernah suatu ketika Ami bercerita, entah apa yang ingin ia ceritakan, aku tak mendengarkannya selama ini, malah sibuk dengan hendset yang menempel di kupingku.
Hingga aku tertidur, dan tidak menayakan lagi soal obrolan Ami semalam.
Aku berpikir, biarlah, nanti pas pulang kerja aku tanyakan, tapi sekarang malah Ami terkulai lemah di rumah sakit.
Saat pagi hari, aku dibuat Ami bahagia, dia menyuruhku, untuk berangkat pergi ke kantor bersama suaminya.
Beruntung aku bisa semobil dengan Rudi, pujaan hatiku yang hanya kusimpan dalam mimpi saja, mana mungkin Ami akan merelakan aku dengan Rudi.
Yang ada habis aku diusir oleh dia, dan Rudi tak mungkin pula bisa suka terhadapku, sampai bulan jadi 5 pun tak mungkin lah.
waktu itu ...
"Ngapai, liat-liat." ucapnya membuat pipiku memerah.
"Ya elah pak, ketus baget sih?" jawabku memalingkan pandangan dari kaca mobil.
"Harusnya kamu jadi wanita bisa jaga diri." ucapnya membuat aku kebingungan.
"Maks?" Belum selesai bibir ini berkata.
"Yah, liat penampilan kamu yang mencolok, lanyaknya seperti wanita penggoda, baju yang ketat membuat bodi kamu terlihat oleh laki-laki lain di luar sana, yang ditakutkan lelaki yang melihat tubuh kamu akan berbuat jahat kepada kamu, Apalagi setatus kamu sekarang menjadi janda, kamu tidak takut, lelaki mempermainkanmu." ucapnya yang membuat hati semakin terpana dan semakin tergoda.
Baru pertama kali aku berbincang dengan Rudi, pria yang selama ini aku suka.
Aku hanya terdiam terpaku di saat dia berbicara seperti itu.
Saat jam kantor sudah mulai, suara panggilan dari Hp-ku berbunyi terus menerus, segera ku ambil, terlihat di layar Hp, nama orang yang memanggil yaitu Debit kolektor.
Aku berusaha tak mengangkat panggilan telepon, dan sialnya kolektor itu mengirim pesan betuliskan mengancam akan datang ke tempat kerjaku, bagaimana ini membuat semua pikiranku kacau.
Kalau kolektor itu datang bisa-bisa berabe urusanya, kalau Bos Hendra tau aku bisa di pecat.
Aku berusaha untuk tenang dan berinisial untuk meminjam uang kepada Bos Hendra.
__ADS_1
Saat tengah menghampiri ruangan Bos Hendra, aku mendengar percakapan Bos Hendra dengan Rudi, mereka sedang berbicara serius.
Aku mendengar dari balik pintu, masalah tentang Ami, penyakit, apa Ami mempunyai penyakit, penyakit apa kenapa aku baru tau.
Apalagi aku mendengar bahwa perusahaan ini milik Ami, jadi sekarang Ami adalah pemegang perusahaan ini.
Dan otomatis yang menjadi bos adalah Rudi, Ami betapa beruntung dirimu, memiliki kekayaan yang berlimpah ruah. sedangkan aku hutang yang menumpuk karna suamiku tak berguna.
Setelah mendengar percakapan mereka aku langsung berlari menuju ruanganku sendiri.
Namun, telingaku mendengar bisik-bisik dari orang-orang di kantor bahwa Rudi berlari terburu-buru hingga tak melihat ada orang yang sampai terjatuh dibuatnya.
Pria bertubuh gendut itu menghampiriku yang tengah pokus mengutak atik leptop.
Dia duduk di sisi kiri, dan mentap raut wajahku, dengan tangan yang menahan dagu.
"Heh loe, Sis."
Aku menjawab dengan nada kesal.
"Apa sih?"
"Ish, ish, jutek amet janda bodong." ucapnya membuat bola mataku berputar mengarah ke wajahnya.
"Janda bodong, heh, gue jadim tau gak." sentakku sambil mendekulkan jidadnya dengan jari telunjuk.
Ku lihat dia menepuk jidad dengan tangannya sendiri, sambil tertawa.
"Oh, gue lupa, loe kan janda di tinggal mati, oh yah, Si?"
"Apa."
"Main yuk di kamar mandi." ajaknya sembari mengelus-ngelus tanganku.
"Idih, gak ah, yang ada gue bengek dibuat loe, biasanya loe sama si Sinta." ucapku membuat dia menghelap nafas.
"Yah kan gue pengen kali-kali ngerasaain jadim."
ucapnya membuat badan ini sepontan berdiri dan mengucap kata. "Keluar gak loe," ku usir pria bertubuh gendut itu.
"Ya iya gue keluar, lah pelit amet nyoba apem jadim." ucapnya sebari bergegas berdiri dari hadapanku dan membuka pintu keluar.
Dia membalikan badan menatap wajahku dari kejauhan sambil terseyum, dan mengisaratkan dari jari tangannya 1 kali saja nyoba.
Ku lepar buku yang ada dihadapanku, pada muka dia, untung langsung kena.
"Buset, galak." ku lihat di berlari tergopoh-gopoh.
Aku dengan emosi yang menggebu sepontan berucap, "Dasar gumpalan kentut."
"Ada apa Sisi?" Tanya Bos Hendra yang baru saja datang ke ruanganku, tanpa aku sadari.
"Eh bapak, maaf pak, tadi ada kecoa." ucapku menghampiri Bos Hendra.
__ADS_1
"Oh."
Bos Hendra mendekat pada tubuhku, dan semakin dekat dan dekat, apa yang sebenarnya ingin dia perbuat kepadaku.