
#Istriku Kumel
Bab 9
#Rahasia di balik istriku yang kumel
Ternyata istriku menjatuhkan gelas minum, segera ku hampiri dia.
"Mah, kenapa?" tanyaku memegang kedua tanganya yang bergetar.
"Maaf pah, mamah cuman mau minum obat, malah jatuh gelasnya." ucapnya sembari menunduk seperti tak kuat menahan sakit. Tanganya memegang-megang kepala.
"Mana obatnya? Biar papah ambilkan lagi yang baru!" Tanyaku sembari menggandeng tangannya.
Istriku menujuk obatnya, segera ku ambil, tapi kenapa lebel obatnya tidak ada, apa istriku membuka semua lebel itu supanya aku tidak mengetahui apa yang ia keluhkan selama ini. Bagaimana hati ini kesal.
Tetap saja tidak tega ketika ia meringis kesakitan.
"Ini mah." ucapku sembari menyodorkan beberapa obat yang ia minum.
Karna rasa penasaran.
"Mamah, sakit apa? Ko papah baru tau, mamah mengkosumsi obat.
"Oh ini, hanya sekedar obat sakit kepala biasa ko pah!" jawab istriku setelah meminum obat itu.
"Mah, jangan bohong sama papah, jujur saja mamah sakit apa." ucapku mengelus hijab yang ia kenakan. hijab berwarna merah membuat wajahnya semakin merona.
"Sudah pah, jangan nanya lagi, mamah kenapa?" Jawab istriku membulatkan kedua bola matanya. Saakan tak mau bila ku tanya.
Aku tercengang kaget dibuatnya, kenapa ia menjadi agresip seperti itu. Apa aku salah dalam berbicara.
"Oke, papah gak bakal nanya lagi, sekarang kita makan yuk, papah udah siapin makanan kesukaan mamah." ajakku sembari memengang tangannya.
"Gak pah, mamah engga nafsu, mamah mau tidur saja." ucapnya berlalu pergi. Menghempaskan tangan ini.
Aku masih memikirkan lelaki yang bernama Alan, itu sebenarnya siapa?
Saat itupun aku hanya makan sendiri, di meja makan tanpa Ami, wanita yang selalu mendampingi hidupku, sampai saat aku menjadi sukses salama ini.
Dia tidak pernah lelah, membantuku, ketika dimana masa aku menjadi penganguran, dia yang menjadi tulang punggung. Bergantung sekali diriku, terhadap Ami.
Namun, kini berbeda balik, keadaan ku berubah, semenjak Ami memasukan aku ke tempat saudaranya yang bernama Bos Hendra.
Ami anak yatim piatu yang tidak punya orang tua, yang dia punya hanyalah Om Hendra yang selalu mengurus dia di waktu kecil.
Ami istri yang tidak pernah mengeluh, dia tidak cerewed, ada masalah apapun dia selalu mengalah, dia hobi sekali berdandan, memanjakan tubuhnya dari waktu ke waktu, tapi semenjak Ami melahirkan Dodi, ada kejanggalan dalam dirinya. Wanita berkulit putih itu berubah derastis, dia lebih cenderung lupa, dan linglung , ditambah lagi dia menjadi pemalas, tak mau mengurus wajahnya seperti dulu.
__ADS_1
Kemana istriku dulu, Aku rindu sosok yang selalu memperhatikanku, dan memanjakan diri ini.
Oh yah, aku baru ingat sekarang, amplop yang aku temukan tadi siang.
Segera aku bergegas membereskan sisa-sisa makanan, yang ada di meja.
Aku tidak mau Ami, mengetahui bahwa amplop berisikan surat itu ada di tanganku.
Rasanya ingin segera terungkap semua rahasia istriku saat ini, aku segera bergegas ke luar rumah untuk melihat isi surat itu.
Setelah ku baca, aku dikagetkan dengan isi dari amplop ini.
Aku menangis menepuk kedua dadaku, sesak rasanya, kenapa? Ami harus mengalami semua ini.
Sejak kapan wanita yang aku cintai mengalami derita ini, maafkan kelalayan suamimu ini, aku bodoh kenapa selama ini baru aku tau, Ami mengalami penyakit Tumor Otak setadium akhir.
ku remas kertas bertuliskan penyakit istriku ini, hancur sungguh hancur yang saat ini aku rasa.
Aku gagal menjadi suami, lupa membahagiakan istri, yang aku sibukan hanya bekerja, dan menyalahkannya.
Ami kenapa kamu tidak jujur masalah ini, apa kamu takut membebankanku.
Di surat itu bertulisakan nama Dokter Alan, jadi Alan itu adalah seorang dokter yang menangani istriku.
Bodoh, aku terlalu mengandalkan emosi dari pada pikiranku.
Begitu kuat kamu menahan semua rasa sakit di tubuhmu ini. Hingga suami mu ini tidak tahu masalah yang tengah kamu hadapi saat ini.
Aku memberanikan diri membuka hijab yang melingkar di kepala wanita yang tengah tertidur lelap ini. Dengan secara perlahan.
Ya Tuhan, air mata ini luruh saat ku buka hijab istriku, rambut yang panjang nan indah kini mulai berjatuhan dan tidak menumbuh lagi.
Ku cium kening istriku ini, dengan lembut, hingga ia membuka mata, kaget melihat wajahku, yang sudah berumuran air mata.
"Pah," ucapnya sedikit menjauh dari hadapanku.
Ku lihat dia buru-buru menutup hijab yang telah aku buka.
"Mah, kenapa mamah tak jujur." ucapku tak terasa air mata terus saja mengalir.
Ku lihat dia terdiam, menatapku dengan air mata, yang tiada henti mengalir.
Tanpa dia berucap ku peluk erat tubuhnya, menagis sejadi-jadinya.
"Kenapa? Mamah siksa papah seperti ini!" ucapku terus memeluk erat tubuh lemah istriku.
"Pah, Maaf."
__ADS_1
"Diam, berikan waktu papah, untuk memeluk mamah, semalaman ini, papah mohon."
Hatiku terus saja, berucap.
Tuhan, jangan kau ambil istriku dengan waktu sedekat ini kumohon, aku tidak sanggup kehilangan dia.
***********
Malam yang gelap di terangi cahaya bulan, aku menagis memeluk sang istri. Yang tegar melawan segala sesuatu sendiri.
Tanpa memberitahu penyakitnya ini kepadaku.
Aku begitu bodoh terlalu mengandalkan emosi dari pada mencari tahu.
"Harusnya mamah bicara soal ini sama papah?" tangisanku semakin pecah, deraian air mata terus berlinang membasahi seluruh pipi.
Seakan malam ini hanya ada aku dan istriku.
Jangan ada orang lain yang menggangu.
Tapi aku masih curiga dengan Dokter itu kenapa dia dengan baiknya mau membantu istriku.
Siapa Dokter Alan itu, aku ingin tahu semuanya. Terlebih lagi ibu kenapa tega begitu pada Ami.
"Mamah sekarang istirahat dulu yah," ucapku kepada Ami, aku melepaskan pelukan ku pada istriku.
Bagaimana pun keadaanmu istriku tidak ada yang bisa menggantikan dirimu di hatiku sampai kapan pun.
Masih banyak yang tersimpan di cerita ini, terus ikuti ceritanya yah, tentunya makin seru dan menarik.
Masih ada
Pov Ami
Pov Sisi
Pov Ibu mertua
Pov Alan
pov Luky
pov Pak Hendra
Jangan lupa Like komen dan ikutu ceritanya.
Rahasia Ami semakin kesini semakin menarik.
__ADS_1