Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 181 keresahan Ane.


__ADS_3

Jam sudah menujukan pukul 19:05 di mana Ane, hampir saja telat untuk menemui Deni. Karna operasi yang sedikit menegangkan dan juga membuat pilu Ane.


Ane mulai berencana menaiki taksi, karna kebetulan mobilnya tiba-tiba mogok. Dengan rasa terpaksa malam ini ia sudah janji kepada Deni akan menemuinya di sebuah hotel.


“ Sial, ponselku mati lagi. Bagaimana menghubungi suamiku di rumah, hak tak usahlah dia juga pasti sibuk sama anak- anak. Dan enggak bakal curiga tentang aku yang pulang malam.”


Ane bergegas menunggu taksi yang lewat, baru beberapa menit ternyata taksi sudah datang.


Ane masuk dengan rasa tak enak hati, mau tidak mau dia harus menemui Deni. Orang yang membuat dirinya gila akhir-akhir ini.


Ane tak menyadari kepergiannya terlihat sang suami, ia pergi tanpa menengok ke sana ke mari.


Sang suami yang bernama, Putra kini mulai mengikuti mobil Ane istrinya. Ia sedikit curiga dengan Ane. Kenapa mobil taksi membawanya ke arah yang berbeda bukan arah pulang ke rumah.


Putra mulai mengambil ponselnya, di mana ia mulai menelepon sang istri. Tapi ternyata ponsel Ane tak aktif.


“ Ane, kenapa ponselmu tak aktif, kamu sengaja?” Gumam hati Putra.


Sedangkan di dalam mobil taksi, Ane mulai merasa tak enak hati. Tidak biasanya hatinya sedikit gundah. Entah ada apa?


Perjalanan menuju hotel, lumayan sangat jauh. Membuat Ane tertidur di dalam mobil.


Saat ia tertidur. Ane tiba-tiba bermimpi, di mana mimpi itu terlihat jelas Alan meminta bantuan padanya.


Namun, ternyata mimpi itu tak lama. Saat seorang sopir membangunkan tidurnya.


“ Maaf mbak, sudah sampai.”


“Oh. Maaf saya ketiduran.”


Ane langsung membayar taksi itu, ia mulai membuka pintu taksi. Namun entah kenapa wajahnya ingin menatap ke arah kaca mobil belakang.


Deg ....


“Mas Putra. Dia ada di sini.”


Seketika jantung Ane berdetak ketakutan, Putra mengikutinya hingga ke hotel. Tanpa ia sadari.


“ Gi mana Mbak, mau turun sekarang?” tanya sang sopir.


Mana mungkin Ane turun dari dalam taksi di depan hotel. Apa kata Putra nanti?


Ane mulai mencari ide agar dirinya tak di curigai sang suami. Saat itu sosok wanita datang untuk menaiki taksi yang ia tumpangi.

__ADS_1


“ Maaf mbak, saya ada penumpang baru. Apa mbak mau turun sekarang.”


Dengan terpaksa Ane mulai menarik tangan wanita yang akan menaiki taksi Ane.


Tangan wanita itu di tarik paksa ke dalam mobil, membuat wanita itu sedikit kesal.


“Mbak apa-apaan sih. Tarik tangan orang tiba-tiba, tak sopan sekali,” gerutu wanita berbaju seksi itu. Wanita itu menatap tajam ke arah Ane. Sedangkan Ane bersikap santai.


Ia mulai membisikan sesuatu pada wanita itu. Wajah wanita berbaju seksi itu tiba-tiba berubah seketika menjadi ceria, ia seakan senang dengan tawaran yang di tawarkan Ane.


“Bagaimana kamu setuju.”


Wanita itu tersenyum senang, ia langsung berucap,” aku setuju.”


Sopir taksi tampak bingung dengan penumpangnya yang mengabaikan ucapannya.


“ Jadinya gimana?”


Saat itulah, Ane langsung menyuruh sang sopir berkata,” jalan pak.”


Sang sopir hanya menurut saja dan menjalankan mobilnya.


Saat itulah Putra mulai mengikuti mobil taksi yang di tumpangi Ane. Entah Ane akan pergi ke mana membuat rasa kuatir pada hati Putra.


@@@@


Deni seakan tak sabar menantikan malam yang sangat indah bagi dirinya. Hatinya berbunga-bunga ia bisa menikmati malam bersama wanita pertama yang ia cinta.


“ Akhirnya aku bisa menaklukkan Ane. Tinggal menunggu ke datangnya. Akan kubuat Ane merasakan rasa kesenangan malam ini, agar dia tahu bahwa aku layak menjadi pendampingnya.”


Ponsel yang tergeletak tak jauh darinya, mulai ia raih. Deni mulai mengirim pesan pada Ane beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Pesan wahtsApp yang ia kirim hanya terlihat cek lis saja.


Tidak ada balas, sudah setengah jam menunggu.


Namun, Deni tak putus asa. Ia tetap menunggu dengan hati tenang dan berpikir,” Ane pasti sibuk.”


Menatap jam sudah pukul 21:00 tak ada tanda-tanda kedatangan Ane sama sekali, kini Deni mulai mengacak rambutnya. Kesal dengan Ane yang tak datang-datang.


“ Sialan, Ane ingkar janji. Awas saja kamu, Ane.”


Deni mulai menghancurkan apa yang ada di kamar itu, ia seakan hilang kendali. Hasratnya tak terpenuhi malam ini, membuat ia memecahkan gelas.


“ Aku tak habis pikir dengan wanita itu, kenapa dia mengingkari janjinya sendiri. Apa dia tidak takut dengan ancamanku.”

__ADS_1


Deni terus berucap dengan nada kesal, kini otaknya di penuhi rasa kesal dan benci.


@@@@


Ane mulai turun di rumah wanita berbaju seksi itu, ia berpura-pura menjemput wanita itu, hanya untuk sekedar menginap padahal itu hannyalah sebuah kebohongan semata. Agar suaminya tak mencurigai tentang dirinya dengan Deni.


Putra mulai memberhentikan mobilnya, menghampiri Ane dengan rasa kuatir.


“ Sayang, kenapa kamu ada di sini?” tanya Putra, menghampiri Ane yang berpura-pura mengobrol dengan wanita baru saja ia kenal.


“ Ayah, loh kok ada di sini?”


Ane tak menjawab ucapan suaminya, dia malah bertanya balik.


Wajah Putra begitu terlihat menghawatirkan sang istri. Ia takut sekali terjadi apa-apa dengan Ane.


“Ayah dari rumah sakit, rencananya mau jemput


Bunda di rumah sakit. Tapi lihat bunda naik taksi dan ayah telepon bunda beberapa kali, nomor bunda tak aktif.


Ane tersenyum penuh kebohongan, ia berusaha menyembunyikan apa yang terjadi pada dirinya. Dan apa yang akan ia lakukan malam ini dengan lelaki lain.


“ Maaf in bunda, ya. Yah. Ponsel Bunda tiba-tiba mati, tadinya bunda mau beri tahu ayah, bahwa bunda mau menginap di rumah Sisi sahabat lama bunda. Ini juga bunda mau pinjam ponsel Sisi.”


“ Kalau hanya itu, ayah sekarang enggak kuatir lagi. Ayah takut bunda kenapa-napa.”


Ane mulai mengusap pelan pipi suaminya dan berucap,” terima kasih sudah menghawatirkan bunda.”


Dengan kebohongan yang kini Ane perbuat, Ane berpura-pura tidak jadi menginap di rumah Sisi. Ia berpamitan pada Sisi akan pulang karna sang suami yang datang secara mendadak.


“ Si, maaf in aku ya. Suamiku datang, dengan terpaksa aku pulang dulu, ya.”


Dengan keahlian Sisi yang berbohong, Sisi langsung memeluk Ane. Saat itulah Ane menyisipkan beberapa lembar uang pada Sisi.


“ Ya, enggak papa An. Aku ngerti kok.”


Saat itulah, Ane menaiki mobil putra untuk segera pulang ke rumah.


Hati Ane seakan tak nyaman, karna janji pada Deni belum terpenuhi. Ada rasa takut menyelimuti hati Ane, jika Deni akan membeberkan tentang musibah yang terjadi pada Alan dan Dodi.


“ Bunda, kenapa? Kok kaya enggak tenang gitu.”


Ane mulai salah tingkah menjawab pertanyaan suaminya. Ia mulai memperlihatkan sikap tenangnya,” ah masa sih. Perasaan ayah kali, bunda enggak kenapa- napa. Kok.”

__ADS_1


“ Jangan bohong sama ayah. Kelihatan dari wajah Bunda seakan resah begitu, ada apa? Cerita sama ayah.”


Ane tampak bingung apa yang harus ia katakan pada suaminya? Apakah dia harus berkata jujur?


__ADS_2