Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 151


__ADS_3

"Dodi, sudah bercandanya enggak lucu. Nenek ini sudah tua," ucap Bu Sumyati.


"Sudahlah nek, terima saja lamaran dari pak dokter. Kalau nenek tak terima. Dodi akan sedih di sini, dan enggak mau ketemu nenek lagi," balas Dodi. Mengancam sang nenek.


"Astaga Dodi, kamu ko bisa-bisanya ngomong kaya gitu. Ini tuh nenek kamu," ucap Bu Sumyati.


Pak Gunandi jelas tertawa, dari arah belakang melayangkan satu jempolnya dan terseyum senang.


"Sudah bercandanya enggak lucu," cetus sang nenek.


"Ish, nenek enggak seru ya. Nenek juga bisa kaya abg cinta-cintaan," sindir Dodi.


"Dodi," bentak sang nenek.


"Nek, sudah dulu ya. Dodi mau belajar dulu," pamit Dodi dalam video Call, sembari melambaikan tangan kirinya.


"Iya, nak baik- baik di sana. Salam rindu dari nenek di sini," ucap Bu Sumyati. Melambaikan tangan penuh rasa rindu yang menggebu.


Video Call pun telah usai.


Bu Sumyati mulai membalikan badannya menatap ke arah belakang, ternyata Pak Gunandi langsung menyodorkan sebuah cincin berlian.


"Pak Gunandi." Kedua mata wanita tua itu membulat, melihat Pak Gunandi menyodorkan sebuah cincin berlian.


"Apa, Bu Sumyati mau menjadi istriku?"


Pak Gunandi mengatakannya begitu lancar, membuat wanita tua itu sedikit malu-malu.


"Tapi," Perkataan Bu Sumyati langsung terpotong oleh Pak Gunandi," inget pesan dari Dodi."


Dengan mengelap nafas, Bu Sumyati akhirnya menerima Pak Gunandi. Lelaki tua itu langsung berjingkat-jingkat senang dengan jawaban Bu Sumyati.


"Terima kasih sudah mau merimaku Bu Sumyati," ucap Pak Gunandi.


Seketika ia ingin memeluk Bu Sumyati, namun tertahan karna bisikan hati," eh. Lupa. Belum murhim."


"Apa murhim pak Gunandi?" tanya Bu Sumyati tampak aneh.


"Astaga emang benarkan, wanita kalau berpelukan dengan lawan jenis belum menikah di sebut muhrim kan," jelas Pak Gunandi. Membuat Bu Sumyati tertawa geli.


"Ngomong apa bapak ini, mahram pak dokter," ucap Bu Sumyati membenarkan perkataan Pak Gunandi.


"Oh, ya. Sejak kapan di ganti?" tanya Pak Gunandi.

__ADS_1


"Ih bapak ini. Melawak," ucap Bu Sumyati tertawa, sembari mengelus jidatnya.


Bu Sumyati langsung pergi ke dapur, ia berniat menganbilkan air minum untuk tamunya.


Sembari tertawa, menahan rasa sakit pada perutnya. Karna tak henti tertawa.


Di tengah kebahagian Bu Sumyati bersama Pak Gunandi. Dodi melamun melihat pada langit yang terang, hanya awan saja yang ia lihat tidak ada bintang.


"Kenapa begitu lama, menunggu malam, untuk bisa melihat bintang bersinar. Merangkai wajah mama, Dodi selalu menantikan wajah mama setiap malam. Dodi Rindu ma." Tangan mungil itu memegang dada, menahan rasa sakit. Air mata Dodi menetes pada lembar buku belajar miliknya.


Delia yang sudah bersiap menemui Dodi dengan membawakan sarapan, kini tertohok kaget. Dodi tengah menangis. Saat itulah ia datang dengan memanggil nama Dodi berpura-pura tidak tahu, rasa sedihnya. Delia takut jika ia mengetahui kesedihan Dodi, Dodi malah terpuruk.


Tok ..., tok ....


Pintu kamar Dodi di ketuk, dengan sigap Dodi mengusap pelan air matanya yang mengalir. Hatinya sesak. Tapi ia terus berusaha untuk tegar, menyembunyikan kesedihannya demi kebahagian sang mama dan nenek.


"Hey, Dodi belum sarapannya. Tadi tante sama om panggil-panggil Dodi, tapi enggak ada jawaban. Nih tante bawain sarapan, nasi goreng untuk Dodi," ucap Delia. Ia menyadari bahwa buku belajar Dodi terlihat basah oleh air mata.


"Terima kasih, tante," balas Dodi.


Delia terseyum mengusap pelan rambut Dodi dan berkata," jika ada masalah yang menganggu pada hati kamu, bicara sama tante ya."


Dodi hanya menampilkan seyuman kecilnya, seraya menjawab," tidak ada masalah apapun, ko tante."


"Iya."


Dodi menundukan pandangan mulai menyantap makanan yang di sediakan Delia saat itu.


Delia mulai meninggalkan Dodi, karna ia tahu Dodi butuh waktu untuk sendiri.


Alan menunggu di abang pintu dan bertanya," gimana dengan Dodi."


Delia menarik lengan tangan suaminya, membawa ke ruanga tamu. " Dodi masih terpuruk, memikirkan Ami. Aku bingung harus melakukan apa lagi. Supaya Dodi tidak larut dalam kesedihan."


Alan memeluk Delia dan berkata," aku yakin kamu bisa."


"Iya, sayang."


"Aku percaya sama kamu."


**********


Di tengah- tengah kesedihan Dodi, Ami dan Rudi malah saling berdebat karna perkataan yang selalu Ami curigai.

__ADS_1


Di dalam taksi, Ami mulai membuka tas besarnya. Iya melihat akte kelahiran Dodi, rasa penasarannya semakin menggebu.


Panggilan telepon dari Rudi pun Ami abaikan, ia hanya fokus dengan akte kelahiran Dodi," aku harus tahu, sebenarnya apa hubungan anak itu dengan Mas Rudi."


Pikiran Ami mulai negatif, ia berpikir akan Rudi yang berselingkuh dan mempunyai anak bernama Dodi itu.


Perlahan ia membuka lembar akte kelahiran Dodi. Terpapang nama ibu kandung dan juga ayah kandung. yang tak lain nama dirinya dan Rudi.


"Aku ibu kandung anak itu? Mana mungkin? Tapi kenapa aku tidak mengigat apapun."


Ami mulai menyimpan lagi surat itu, seketika kepalanya merasakan rasa sakit yang tak tertahankan. Ia melihat bayangan anak kecil memanggil namanya dengan sebutan mama.


"Kepalaku."


Ami terus menahan rasa sakit pada kepalanya, berusaha untuk tetap tenang. Setelah sampai di rumah ia ingin menanyakan semuanya pada Rudi. Suaminya sendiri.


Setelah sampai di depan rumah, ternyata Rudi sudah sampai. Ia tengah berdiri di abang pintu menunggu kedatangan Ami


"Mas Rudi."


Ami turun dari dalam mobil, mendekat kearah suaminya, ia langsung melemparkan akte kelahiran Dodi kepada Rudi.


" Ini apa, Mas. Apa maksud dari surat ini?"


Rudi mulai meraih Akte Kelahiran anaknya membuka perlahan," Dari mana kamu mendapatkan ini."


"Aku menemukannya di rumah Bu Sumyati, asal kamu tahu, aku sudah mencurigai setiap perkataan kamu yang selalu tidak masuk akal."


"Tolong dengarkan aku dulu, Ami."


"Dengarkan apalagi, mas, banyak sekali kebohongan yang kamu tutup. Aku tidak suka itu, harusnya kamu jujur, aku ini istrimu bagaimanapun itu. Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa mengingat semua masa lalu yang berada dalam ingatanku, kalaupun memang Dodi anakku. kenapa aku tidak ingat sama sekali."


Rudi langsung memeluk Ami begitu erat, menenangkan sang istri. Seraya berkata.".Jika kamu mengingat semuanya. Dodi akan merasa sedih."


Ami menghempaskan pelukan Rudi." Aku benar-benar tidak mengerti, apa yang kamu katakan. Mas. Kenapa kamu tidak menceritakan secara detail, tidak harus berbasa-basi seperti ini."


"Mas, tidak sanggup menceritakan semuanya. Mas takut jika kamu merasakan rasa sakit di kepalamu lagi."


"Memangnya aku sakit apa Mas?"


"Mas tidak sanggup menceritakannya, mas tidak mau membuat kamu merasakan sakit lagi yang kedua kali."


Ami semakin kesal, ia mendorong tubuh suaminya berlalu pergi, masuk ke dalam rumah. Rudi menatap sayu dan berkata," jika waktu sudah tiba, akan aku ceritakan semuanya. Tapi sekarang aku tidak sanggup kehilangan kamu. Ami."

__ADS_1


__ADS_2