Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 79 Menerima Lamaran


__ADS_3

Pipi wanita berawajah bulat itu memerah, ia seakan malu dengan jawaban yang akan ia lontarkan di hadapan lelaki yang akan melamarnya. Lelaki yang baik hati dan selalu menolongnya.


"Ayo jawab Si," ucap Delia. Yang tak sabar ingin mendengar jawaban Sisi saat itu.


"Gimana ya, apa kamu mau menerima aku yang memang hanya seorang janda?" tanya Sisi menundukan pandangannya, lelaki yang berada di depannya terseyum begitu manis. Arpan begitu tampan, Sisi yang melihatnya kagum.


Hatinya seakan ragu.


"Aku menerima kamu apa adanya Sisi!" jawaban Arpan membuat Sisi benar-benar malu.


"Ehem, cie ... cie ... bentar lagi ada yang mau nikah ni," sindir Alan. Membuat Delia sedikit menahan tawa.


Melihat dua sejoli yang tengah dilanda jatuh cinta.


Tanpa berpikir panjang Sisi mengangguk mengiyakan lamaran Arpan saat itu, membuat lelaki berkulit sawo matang itu begitu bahagia.


Begitu pun Delia dan Alan, ia segera memberikan kabar bahagia ini kepada Ami dan juga Rudi.


***************


Tiga Minggu setelah Sisi pulih dengan benar, dari sana lah Arpan menyiapkan rencana pernikahan. Betapa senangnya dan betapa bahagianya Sisi dan Arpan saat itu bagai putri dan raja, duduk di atas pelaminan.


Saling menatap satu sama lain, merasakan indahnya rasa cinta. Sisi beruntung ternyata masih ada orang yang peduli dengannya dan juga cinta pada dirinya dengan apa adanya.


Tamu undangan bersorak bahagia melihat kebahagian sepasang pengantin yang tengah duduk di pelaminan. Begitu pun Ami dan Rudi.


Sisi yang melihat Ami langsung datang menghampiri sahabatnya itu.


"Am, kamu datang ke sini," ucap Sisi. Memeluk Ami begitu erat, tangisan luruh saat itu juga.


"Maafkan atas semua kesalahan ku Am." Permohonan maaf dari Sisi kepada Ami.


"Si, aku sudah memaafkan kesalahanmu," jawab Ami, membuat Sisi seakan bahagia. Rasanya tak percaya, hati Ami begitu baik.


"Semoga kamu bahagia ya Si," ucapan Ami kepada Sisi. Membuat bibir Sisi terseyum merekah seraya menjawab," terimakasih."


Baru bebeapa menit Sisi berbahagia, tiba- tiba seorang wanita datang mengamuk menghampiri Sisi saat itu.


"Dasar pelakor perusak rumah tangga orang," hardik seorang wanita bertubuh gendut.

__ADS_1


Ami angkat bicara seraya bertanya?" Anda siapa?"


"Saya istri dari Pak Dimas, saya ingin melabrak wanita ini. Karna dia adalah seorang pelakor. Sekarang suami saya tak pulang-pulang gara-gara dia," ucap wanita yang baru saja datang. Menunjuk-nujuk pada Sisi.


"Si, apa kamu ingat nama Dimas?" tanya Ami.


Sisi mengigat nama Dimas di pikirannya, sebenarnya dulu dia sering berganti pasangan hanya untuk memoroti uang- uang lelaki yang menjadi kekasih sementaranya itu.


Sisi seakan malu jika ia harus mengaku bahwa pernah ada hubungan bersama orang yang bernama Dimas itu?


"Si, apa kamu ingat?" tanya Ami sekali lagi.


"Maaf aku enggak tahu?" jawaban Sisi membuat wanita yang memarahi Sisi semakin kesal.


"Dasar pelakor tak mau mengaku kamu, aku jauh-jauh datang ke sini untuk mencari suamiku," teriak wanita yang bernama ira itu.


"Tenang mba, liat di sini. kita lagi mengadakan pernikahan. Mana mungkin pengantin wanita menyebunyikan suami mba," ucap Ami menenangkan wanita yang tengah marah-marah itu.


Arpan meraih bahu Sisi, seraya berkata pada wanita yang tengah marah-marah itu," iya sebaiknya mba pergi dari sini. Mana mungkin calon istri saya menjadi pelakor. Harusnya mba cari informasi yang benar sebelum menuduh calon istriku."


"Oh, jadi kalian mau bukti," ucap wanita itu menujuk ponsel yang tertera gambar Sisi dan lelaki itu.


"Apa kurang jelas bukti ini, apa mau bukti yang nyata." Wanita itu memperlihatkan poto adengan mesra suaminya dan juga Sisi di dalam poto itu.


Semua tamu undang mulai berbisik satu sama lain, mereka seakan kesal dengan calon pengantin wanitanya.


"Kenapa kamu diam," ucap wanita bernama ira itu.


Sisi benar-benar malu saat itu, momen bahagia yang seharusnya di rasakan menjadi momen menyedihkan.


"Tolong sebaiknya anda pergi dari sini," hardik Arpan. Memarahi wanita itu.


Wanita itu seakan tak puas, ia langsung menjambak rambut Sisi, yang indah rapi menjadi kusut berantakan. Ami dan Delia mencoba melepaskan jambakan itu.


"Apa mba gila," teriak Ami. Memarahi wanita itu.


"Cepat pergi dari sini, atau akan aku panggilkan penjaga untuk mengusir mba dari sini," hardik Delia menarik paksa wanita itu.


"Awas ya, aku harap kamu tidak akan bahagia. Karna kamu suamiku meninggalkan aku begitu saja," acam wanita itu berlalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Ami membawa Sisi ke dalam rumah agar menenangkan diri, Arpan melihat calon istrinya menagis terisak- isak hatinya begitu sakit.


"Si, kamu tenangkan dirimu di sini ya," ucap Arpan memeluk Sisi.


Mulut Sisi masih terdiam, bibirnya keluh. Ia masih syok dengan kejadian tadi.


"Kamu jangan takut dan berpikir aneh-aneh. Aku di sini akan selalu percaya padamu," ucap Arpan menenangkan calon istrinya.


Satu jam Sisi menenangkan diri, berasa tak sanggup untuk meneruskan pernikahannya dengan Arpan.


Pikirannya tertuju pada lelaki yang akan menjadi suaminya. Karna ia takut jika kejadian itu terulang lagi. Takut jika Arpan kecewa.


"Kenapa melamun, sebentar lagi ijab kobul di mulai. Hapus air matanya," ucap Arpan saat itu.


Ia bergegas pergi, menemui penghulu. Sementara Sisi di temani Ami. Wanita berwajah bulat itu, merapihkan diri dari mak-up dan juga rambut.


Dibantu dengan Ami.


"Nah, kamu udah cantik si. Yuk Arpan nunggu kamu," ucap Ami memegang pundak Sisi saat itu.


Sisi masih bingung dengan pikirannya.


"Jangan pikirkan lagi kejadian tadi. Sekarang pikirkan kebahagiaan mu, karna ini momen terindahmu Si." Ami menyemangati Sisi saat itu.


Menarik nafas secara perlahan, lalu mengeluarkan dengan hati percaya diri. Sisi menyiapkan semuanya.


Langkah kaki mulai melangkah keluar menuju pelaminan, terlihat orang-orang menatap tajam pada Sisi. Mereka seakan tidak suka dengan Sisi.


Keringat dingin mulai keluar dari badan Sisi saat itu. Ia Merasa orang-orang benci terhadap dia karna hinaan wanita yang marah-marah padanya dan mengejek dia sebagai pelakor.


Bisik Ami," jangan dengarkan orang-orang berbicara tentang kejelekan kamu, pokus ke depan liat Arpan terduduk seyum menunggu kamu untuk datang dan duduk di sampingnya."


"Aku tak kuat Am, ucapan mereka sangat menyakitkan." Menundukan pandangan melihat ke arah jalan. Tubuhnya seakan lemas, benar-benar tak kuasa untuk berjalan menuju tempat duduk di samping Arpan saat itu.


"Kamu kuat Si, pasti kuat." Ami terus menguatkan sang sahabat. Membuat Sisi ingin sekali menagis, dia sadar dulu kelakuannya begitu jahat pada Ami. Tapi Ami begitu baik dia selalu membuat Sisi tegar dalam menghadapi setiap masalah yang menimpanya.


langkah kaki terhenti, Sisi medudukan tubuhnya di atas kursi di samping Arpan.


"Apa Kalian sudah siap?" Tanya pak penghulu.

__ADS_1


Apa Sisi akan melanjutkan pernikahanya?


__ADS_2