Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 29


__ADS_3

Sesaat Ami sudah sadarkan diri, Alan menghampiri dan berkata.


"Kemana suamimu mba?"


"Tadi Mas Rudi ijin ke toilet."


"Oh."


"Ada apa?"


"Maafkan aku mba, sebaiknya mba jangan telalu berpikir keras. Takut sel kanker itu tumbuh lagi. Walau pun sudah di oprasi. Dan mba sters takut memicu terjadinya peradangan."


"Jadi maksud kamu?"


"Alan, kuatir dengan mba."


Ami mengangukkan kepala, mengerti dari perkataan yang Alan lontarkan.


Semenjak berhadapan dengan Sisi dan ibu mertua membuat keadaan Ami melemah. Ia harus berpikir keras bagaimana cara menyingkirkan ke dua orang itu dengan cara yang halus tapi pasti.


"Mba, sampai kapan mba akan berpura-pura buta?" tanya Alan membuat Ami melirik wajahnya sekilas.


"Entahlah Al? Mungkin sampai hari ini. Setelah menyingkirkan ke dua wanita itu,"ucap Ami menahan amarah di dalam dada.


"Alan hanya mingigatkan, hati-hati dengan kedua wanita itu. Mereka sangat licik. Alan sangat khuatir dengan ke adaan mba," Alan memegang tangan Ami terduduk di sampingnya.


Rudi yang baru saja ke luar dari kamar mandi seketika diam, melihat pemandangan itu.


"Sejak kapan Dokter Alan berada di sini?" tanya Rudi yang tiba-tiba datang.


"Mas. Barusan, kata Alan aku boleh pulang," seyum Ami terpancar penuh dengan ke bahagiaan.


3 Hari di rawat Ami segera pulang dengan keadaan yang masih sama berpura-pura buta.


Mereka menunggu kedatangan Ami, Bi Lasmi dan ibu mertua.


"Sudah pulang sayang, gimana keadaanya?" ucap ibu mertua sok berpura-pura manis.


Ami terseyum dan berkata." Baik bu."


Bi Lasmi mengantarkan Ami ke tampat tidur, untuk segera beristirahat.


Gumam hati Ami dalam lamunan.


Apa sel kanker itu masih ada, bukankah sudah di oprasi dan di bersihkan.


"Nona, ko ngelamun?"


"Maaf Bi, oh yah gimana rencananya."


"Beres, sudah saya kerjakan. Menukar dokumen yang Nona Ami perintahkan."

__ADS_1


"Bagus. Kita lihat nanti setelah mata ku sudah bisa melihat."


********


Demi berpura-pura buta wanita berwajah tirus itu begitu banyak mencari informasi tentang kelicikan ibu mertua dan Sisi.


Ibu mertua sering menaru sesuatu kedalam minuman atau makanan, agar Ami tetap seperti itu. Penyakit yang tak kunjung sembuh.


Untung saja Ami berpura-pura buta terlihat ibu mertua melakukan aksinya terang-terangan.


Ibu kenapa kamu mampu aku tipu, benar-benar kelicikan harus di balas dengan kelicikan. Karna percuma di balas dengan ke baikan mereka bukanya sadar malah semakin menjadi-jadi.


Aku kasian kepada ibu, yang benar-benar gila karna harta. Ingin menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri karna ibu tak menyukaiku.


Apa ibu tak memikirkan perasaan orang lain. Apalagi Mas Rudi anaknya sendiri. Bisik hati Ami saat itu.


Saat kumpul arisan ibu mertua, Ami terpaksa ikut serta. Karna di adakan di rumah Ami. Ibu mertua menyuruh teman-temannya berkumpul di rumah manantunya tak lain Ami.


Sesaat ibu-ibu arisan berkumpul.


"Eh jeng, yang benar saja kamu punya menantu buta. Kumel lagi?" bisik ibu tua yang terduduk tak jauh dari tempat Ami.


Ami yang mendengar itu terseyum.


"Ya elah, memang menantuku ini kampungan. Penyakitan lagi,"ucap ibu mertua. Membuat aku menyodorkan hp dan merekam percakapan mereka.


"Mau aja si Raka, anakmu sama cewek kumel dan buta," wanita tua berambut coklat itu semakin menjadi-jadi. Membicarakan dan menghina Ami.


"Biasalah jeng. Nanti juga anakku Rudi bosen. Ninggalin dia deh," ucapan yang tak pantas di ucapkan oleh ibu mertua. Membuat Ami wanita anak satu itu, mengigit bibir bawah menahan kesal. Atas hinaan yang di dengar oleh Ami.


"Aduh jeng, kenapa ini?" Ibu mertua begitu panik dengan keadan saat itu. Lalu pergi mengambil obat.


"Sudah kalian hina, dan permalukan aku di rumahku sendiri. Apa kalian tak punya malu. Orang tua yang tidak punya adab. Berani menghina tuan rumah," ucapan yang terlontar dari mulut Ami. Mereka yang mendengar semua itu langsung pergi begitu saja.


Ibu mertua yang dari tadi pergi ke dapur, kaget semua ibu-ibu arisan sudah tidak ada di tempat. "Kemana mereka?"


"Mereka pergi bu, pamit ada urusan mendadak."


"Loh, bukanya mereka sakit perut."


"Katanya udah mendingan."


Ami tertawa kecil, berlalu pergi dengan kemenanganya.


***************


Ketika di rumah sakit.


"Sial kenapa? Luky mengusirku, sekarang aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi," ucap Sisi di atas ranjang rumah sakit.


"Aku harua cari cara agar aku bisa, menjalankan semua rencanaku. Kalau gagal bisa-bisa aku mati di tangan rentenir itu?"

__ADS_1


"Ada apa Sisi?" tanya ibu tua yang berjalan menghampiri Sisi.


"Anu bu, Sisi sementara ini tinggal di rumah ibu. Boleh kan?" ucap Sisi dengan wajah memelasnya.


"Baiklah, pasti ibu ijinkan," seyum wanita tua itu terpancar sembari mengelus rambut Sisi yang panjang.


"Maksih bu."


"Sejak kapan ibu ada di sini?" tanya Rudi yang baru saja datang untuk menjenguk Sisi.


"Rudi, baru saja ko!" jawab ibu dengan gelagap ragu.


"Biaya rumah sakit sudah aku tanggung semuanya. Asal kamu ingat Si, ini berkat Ami yang baik hati. Kalau bukan berkat istriku tak sudi aku membayarkan pengobatanmu," ucap Rudi dengan suara meninggi.


"Rudi, jaga ucapanmu. Bagaimana pun Sisi tak boleh kamu bentak."


"Siapa yang bentak dia bu? Kenapa Si ibu belain dia terus? Yang menantu ibu itu Ami bukan Sisi."


"Tapi ibu suka sama Sisi, dia cantik baik. dan sehat. Tidak seperti istri kamu penyakitan."


"Jaga ucapan ibu."


"Emang kenyataannya."


"Sudah bu, gak baik bertengkar. Bagaimana pun mba Ami wanita baik hati," timpal Sisi meperlihatkan ke luguannya.


"Sisi memang kamu anak baik nak,"ucap ibu mengelus kepala Sisi.


"Ibu gila apa, membela wanita gila ini," teriak Rudi menghardik Sisi di depan ibu.


Satu tamparan melayang pada pipi kiri Rudi.


"Jaga ucapanmu, Rudi," mata ibu membulat menujuk kearah anaknya.


Bodoh, kamu Rudi. Ibumu sudah terpengaruh oleh kata-kataku, mana mungkin dia tak membelaku.


"kalau ibu masih membela wanita itu, Yakinlah ibu akan menyesal."


Rudi berlalu pergi begitu saja.


"Bu, Mas Rudi marah sekali sama aku yah," tangisan Sisi mengema memeluk ibu tua itu.


"Maafkan kesalahan Rudi yah Si, memang dia anaknya begitu."


Yah mau gimana lagi, ibu mertua Ami kan matre. Yah pastinya mau ajah aku bohongin. Gumam Sisi dalam pelukan wanita tua itu.


Wah ternyata Sisi makin menjadi-jadi. Apa yang akan di rencanakannya ikuti terus ceritanya.


Apakah penyakit Ami kambuh lagi.


Kenapa Alan berbicara seperti itu?

__ADS_1


Ayo dukung Ami. Agar dia bisa membasmi 2 wanita yang akan menghancurkannya.


Jangan lupa like dan komen.


__ADS_2