Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 162 season 3 teragedi


__ADS_3

Rumah Sakit.


 


Ane melihat keadaan Delia, tangannya terpaksa diikat begitu pun dengan kedua kaki.


Menatap pada wajah Delia, kedua matanya menutup. Apa Delia tertidur begitu pulas, ia tak bangun-bangun.


Salah satu suster datang menjelaskan kenapa Delia tak bangun.


“Maaf, Dok. Kemarin kami menyuntikan obat bius pada pasien ini, karna dia mengamuk ingin bertemu dengan anaknya.”


 


“Ya sudah, tak apa. Jika hanya obat bius, saya hanya takut pasien ini kenapa-napa.”


 


Beberapa menit kemudian, kedua mata Delia terbuka. Ia  mengerakkan tubuhnya dengan spontan, ingin bebas dari ikatan tali yang melingkar tangan dan kakinya.


 


“Kamu bangun juga, Delia? Apa kabar?” tanya Ane, tersenyum kecil. Menatap penuh keramahan.


 


“Kamu, kenapa kamu bawa aku ke sini? Lepaskan ikatan ini dari tangan dan kakiku,” pinta Delia dengan tubuh meronta-ronta.


 


“Tidak akan, sebelum kamu sadar dari kesalahan kamu sendiri,” ucap Ane. Tegas.


 


“Apa urusannya denganmu. Ini semua masalahku, jadi kamu jangan ikut campur,” balas Delia. Sedikit membentak Ane.


 


“Aku ingin menyembuhkan kamu Delia,” ucap Ane. Mengusap pelan kepala Delia.


 


“Lepaskan tangan kotormu itu dari kepalaku. Asal kamu tahu aku ini tidak sakit,” teriak Delia.


 


“Kamu ini sedang sakit parah, Delia. Kamu harus cepat di obati. Kalau tidak penyakitmu ini bisa  membuat orang terluka dan rugi,” ucap Ane. Menasihati Delia dengan sabar.


 


“Kamu ini gila, ya. Memangnya aku penjahat membuat orang terluka,” balas Delia.


 


“Kamu ini bukan penjahat,  kamu ini hanya sakit  karna luka hati,” ucap Ane.


 


“Hah, hatiku baik-baik saja. Aku tidak sedang terluka.” Bantah Delia.


 


Ane memijit kepalanya sedikit, berbicara dengan Delia  tak akan kelar-kelar.


“Ya sudah kamu di sini dulu, ya. Delia,” ucap Ane. Mulai meninggalkan Delia sendirian di ruangan pasien.


 


Ane akan memanggil sahabatnya yang bisa menyembuhkan mental Delia. Dimana ia memanggil psikolog.


 


“Eh, dokter gadungan kamu mau ke mana? Lepaskan aku sekarang juga, atau kamu akan menyesal,” teriak Delia. Ane mengabaikan teriakan Delia, ia terus berjalan dan menutup ruangan pasien yang di tempati Delia.


 


@@@@


 


Setelah kepergian Ane, Delia malah tertawa sendirian. Ia seakan puas, karna bagaimana pun ia terjebak di rumah sakit. Hatinya yakin jika Dodi tidak akan mau bertemu Ami.


 


“Dodi, kamu akan jadi anakku sepenuhnya. Dan Rudi begitu pun Ami akan menyesal karna telah menyiayiakanmu.” Gerutu Delia.


 

__ADS_1


Suster yang bulak balik ke sana kemari, melihat ke arah jendela kamar pasien Delia. Mereka bergidik ngeri melihat Delia yang tertawa sendiri seperti orang gila.


“Liat pasien yang baru datang, dia teriak histeris kaya gitu. ngeri, ya.”


Ucap salah satu suster yang bertugas di ruangan Delia. Ia tak berani masuk ke ruangan Delia karna rasa takut akan Delia yang mengamuk.


“Hus, lebih baik diam. Kita pantau aja di luar, takut pasien itu melakukan tindakan yang berbahaya dan kita jadi korbannya.”


Kedua suster itu  hanya memantau dari kejauhan, tak dapat menemui Delia. Jika memeriksa Delia mereka berani datang ke ruangan bersama Dokter Ane saja.


 


Delia menatap pada jendela kamarnya, melihat kedua suster itu. Ia membulatkan kedua matanya, mengisyaratkan jangan macam-macam dengannya.


 


@@@


 


Setengah jam mengurung Dodi, kini Alan membuka pintu kamarnya. Berharap Dodi bisa berubah.


 


“Dodi.”


 


Setelah membuka pintu kamar, ternyata Dodi lari menuju jendela yang ia cungkil dengan sengaja. Alan tampak panik.


 


“Sepertinya anak itu belum pergi jauh.”


 


Alan mulai ke luar, mengambil mobil untuk segera mencari keberadaan Dodi.


 


Baru beberapa menit mencari keberadaan anak itu, ternyata Dodi tengah berlari. Anak itu tak menyadari mobil Alan mengikutinya.


 


“Dodi.”


 


 


“Dodi tunggu, nak.”


 


Dodi mengacuhkan teriakan sang om, ia melintas jalanan. Membuat Alan semakin panik, dengan sigap meraih tangan Dodi.


 


Dan Burkkk.


Apa yang terjadi?


@@@@


Rudi yang merasakan tak enak hati, terus menghubungi Alan. Namun ponsel lelaki itu tak aktif-aktif, membuat rasa kesal terus menggebu pada hatinya.


 


“Apa dugaanku benar, Alan sudah merasuki akal sehat Dodi. Kurang ajar sekali si Alan itu.”


 


Rudi, duduk menatap sang istri tercinta dengan selang oksigen yang terpasang, begitu pun jarum-jarum yang menusuk pada dada dan tangan Ami.


 


Ami masih tertidur pulas, setelah operasi ia belum sadarkan diri.


Tangan lembutnya kini Rudi genggam dan berucap,” cepat sadar Ami. Aku rindu padamu.”


 


  Dokter yang mengoperasi Ami menatap ke arah jendela kamar Ami.


Ia melihat seorang lelaki yang mengharapkan istrinya bangun dan menatap dirinya kembali.


 

__ADS_1


“Dok, apa kita beritahu. Bahwa pasien Ami,”


 


Belum ucapan suster terlontar semuanya, sang dokter memotong pembicaraan suster dengan tegas.


“Biarkan seperti itu, kita tunggu keajaiban setelah operasi.”


 


“Baik lah, dok.”


 


 "Oh, ya. Sus, anak yang selalu di panggil pasien Ami belum datang juga?" tanya sang Dokter, pada suster. Perasaan sang dokter seakan merasakan jika kesadaran pasien adanya sosok seorang yang di sebut namanya oleh Ami.


"Saat ini belum ada, dok!" jawab sang suster. Ada rasa kecewa pada hati sang dokter setelah mendengar jawaban susternya.


"Oh, ya. saya mau tanya siapa orang yang bernama Dodi itu, apa ada kaitannya dengan pasien?" tanya sang Dokter yang penasaran.


Suster yang memegan data pasien kini menjelaskan siapa orang yang selalu di sebut pasien Ami.


"Data di sini tidak di jelaskan dok," ucap suster.


kenapa bisa data Ami berbeda. Apa ada data yang di ubah?


"Ya, sudah biar nanti saya tanya pada suaminya di ruangan."


"Baik dok, saya permisi pergi dulu."


"Baik."


Setelah pamitnya, sang suster. Dokter yang mengoperasi Ami kini memberanikan diri masuk ke ruangan pasien.


Dengan masuk secara perlahan, membuat Rudi kaget dan mengusap pelan air matanya.


"Keadaan pasien sebenarnya ...."


Belum perkataan sang dokter terucap semuanya, Rudi mulai berucap," saya tahu. pasti istri saya keritis."


Deg ....


Tanpa di beri tahu sang suami bisa mengetahui keadaan istrinya.


"Padahal saya belum menjelaskan semuanya," ucap dokter.


"Tak perlu penjelasan lagi, dok. Semua salah saya yang teledor. Jika saya menuruti apa perkataan dokter wanita yang merawat istri saya, mungkin dia tidak akan kenapa-napa."


penyesalan kini diungkapkan oleh Rudi sendiri.


"Maafkan saya, saya tidak bermaksud membuat anda bersedih."


"Tidak apa-apa, dok."


"Oh ya. Anak dalam kandungan pasien tidak bisa saya selamatkan, maafkan saya."


Hati Rudi semakin tercambuk, semua bagaikan musibah yang terus menghantam keluarganya secara bertubi-tubi. seakan ujian tak henti-henti sampai detik ini.


"Mungkin kami belum di percaya lagi."


"Loh, maksud bapak. Apa bapak mempunyai seorang lagi."


"Iya, dia bernama Dodi."


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2