Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 138 Sakit hati.


__ADS_3

Pak Gunandi datang menjemput Bu Sumyati di depan rumah, dengan turun dari dalam mobil. Pak Gunandi membukakan pintu mobil untuk Ibu Sumyati, melihat penampilan wanita tua itu, Pak Gunandi merasa gugup.


"Bu Sumyati begitu terlihat cantik," gumam hati Pak Gunandi.


Wanita tua itu hanya tersenyum saat Pak Gunandi membukakan pintu mobilnya, hati seakan berdebar-debar tak karuan mereka melanjutkan perjalanan ke restoran yang akan mereka tuju. Dimana restoran itu ialah restoran bintang.


Di dalam mobil, tidak ada obrolan sama sekali. Kedua Insan itu merasa gugup satu sama lain, Bu Sumyati ingin mengawali percakapan begitupun dengan Pak Gunandi, mereka langsung bertatap muka menjadi gugup dan seakan ragu.


Bu Sumyati memalingkan wajah ke arah jendela, ia seakan malu dengan tatapan Pak Gunandi walau sekilas menatap dirinya.


"Pak ... "/ "Bu ...."


Baru mengawali percakapan, perkataan mereka beradu.


Mobil pun berhenti di mana restoran bintang itu terlihat begitu jelas, restoran yang biasa digandrungi oleh semua kaum remaja.


"Apa kita tidak salah datang ke sini, pak? Ini kan untuk anak muda?"tanya Bu Sumyati menatap ke arah kaca mobil melihat restoran bintang itu.


"Kenapa begitu, kita kan anak muda. Anak muda udah tua!" jawban Pak Gunandi membuat Bu Sumyati tertawa sembari menutup mulutnya.


" Pak gunandi ini, ada-ada aja," ucap Bu Sumyati.


Lelaki tua itu langsung membuka pintu mobilnya nya, tak lupa dengan pintu mobil Bu Sumyati.


Lelaki tua itu langsung memperlihatkan tangannya yang berkacak pingang sebelah, memberi kode agar Bu Sumyati memegang tangannya.


Memperlihatkan kepada semua orang bahwa mereka adalah sepasang kekasih, dengan senangnya Bu sumyati langsung meraih lengan tangan lelaki tua itu, berjalan menuju restoran bintang.


Mereka duduk berhadapan, saling menundukkan pandangan. Sampai seorang pelayan datang menghampiri mereka berdua, menyodorkan menu makanan di restoran itu.


" Silakan dipilih, pak, bu. menunya disini ada menu spesial untuk sepasang kekasih. Bapak bisa pilih menu itu." Ucap pelayang restoran, terseyum ramah. Menawarkan sebuah menu untuk sepasang sejoli yang baru jatuh cinta.


Bu Sumyati terdiam malu, Hanya Pak Gunandi yang menjawab," boleh kalau begitu."


"Baik saya akan ambilkan menu spesial di sini, untuk sepasang pasang kekasih untuk ibu dan bapak."


Pelayan wanita muda itu, berlalu pergi untuk segera menyiapkan menu makanan spesial yang dipesan oleh Pak Gunadi, dimana suasana restoran itu begitu ramah tenang, nyaman dan membuatmu Bu Sumyati merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan. r


Rasa cinta yang dulu hilang, kini kembali datang. Walau mungkin rasa cinta itu datang lagi di hari tua di mana Bu Sumyati sudah berumur dan memiliki seorang cucu.


Semenjak meninggalnya sang suami, banyak rintangan yang dihadapi Bu Sumyati dari penderitaan yang bertubi-tubi di mana dulu seorang wanita yang pernah menghancurkan rumah tangganya. Walau begitu Bu Sumyati bersyukur karena dalam penderitaan itu ada kebahagiaan, walaupun terlambat datangnya Bu Sumyati yakin kebahagiaan itu selalu akan datang dan penderitaan itu akan selalu berakhir.

__ADS_1


Pak Gunandi mulai melirik Bu Sumiati yang melihat-lihat ke arah kanan dan kiri, menatap restoran yang begitu mewah. Dagu pak tua itu mulai menyandarkan pada telapak tangan, Pak gunandi begitu fokus menatap wanita yang berada di hadapannya, membuat kedua mata Bu Sumyati langsung menatap kearah Pak Gunandi.


"Bapak kenapa?" tanya Bu Sumyati yang malu-malu,


"Entahlah, baru pertama kali ini. Bapak melihat wanita secantik ibu," ungkap Pak Gunandi.


Bu Sumyati terkekeh tertawa seraya berkat," gombal. u


Pelayan restoran pun datang, membuat tatapan Pak Gunadi buyar.


"Silakan Pak ,menu makanannya sudah siap."


Bu Sumyati yang melihat menu makanan itu, tercengang kaget. Begitu terlihat lezatnya makanan itu, sampai membuat Bu Sumyati ingin merasakannya.


"Apakah ini tidak berlebihan, pak?"


"Tidak apa-apa, ini spesial untuk wanita yang mendampingi saya saat ini, Ayo dimakan.


Mereka langsung melanjutkan makanan yang dihidangkan para pelayan, di sisi kiri lain para perawat tengah mengawasi Pak Gunandi.


Mereka yang membantu Pak Gunandi untuk berbicara, agar tidak gugup.


"Gimana makanannya enak?" tanya Pak Gunandi. Sesekali menyuapkan makanan pada mulutnya.


Bu Sumyati hanya terseyum seraya menikmati makanan pada, piringnya.


********


Di dalam kebahagian yang di rasakan Bu Sumyati, ada rasa sedih menyelimuti Dodi.


Dimana Ami terbangun, menatap ke arah Dodi.


"Mas, kenapa anak ini ada di sini?" tanya Arumi, ketakutan.


"Kamu harus tenang, dia hanya ingin menemanimu, sayang!" jawab Rudi. Mencoba menenangkan Ami.


Ami kian ketakutan, karna setiap kali menyentuh Dodi kepalanya selalu sakit tak tertahankan. Membuat badannya lemas menahan sakit, bayangkan yang tidak ingin Ami ingat selalu muncul saat sentuhan tangan Dodi memyentuh tangan Ami.


Dodi hanya terseyum dan berkata.


"Tidak apa-apa ko, Dodi mau pulang bersama sang supir." Ucap Dodi.

__ADS_1


Ami menjawab perkataan Dodi," Ya sebaiknya kamu pulang. Tante bukan enggak suka sama kamu, tapi ke hadiran dan sentuhan tangan tante membuat rasa sakit bagi tante."


Deg ....


Rudi sedikit membentak Ami." Kenapa kamu berbicara seperti itu Ami, Dodi ini an ...."


Rudi hampir saja mengungkapkan semuanya ia lupa kalau Ami, akan sakit kepala jika perkataan yang mengigatkan Ami pada Dodi.


"Dodi pulang dulu ya."


Anak kecil itu pulang dengan raut wajah muramnya, ia melihat sang supir tengah menunggu dirinya di luar rumah sakit.


"Den."


Pak Supir heran karna Dodi yang muram, tak menjawab perkataannya.


Dodi lantas masuk ke dalam mobil tanpa berkata satu patah katapun kesopirnya itu.


Di dalam mobil Dodi melamun memikirkan hal yang telah terjadi di rumah sakit, kenapa Ibu Ami bersikap seperti itu padaku.


Dodi yang sejak tadi melamun dikagetkan oleh suara sang supir yang berkata.


"Den kenapa, kok melamun saja nggak kayak biasanya?" tanya sang sopir.


Dodi pun kaget dan menjawab!" tidak, Pak Saya tidak apa-apa!"


Dodi menyuruh sopirnya pergi ke taman dulu


"Pak, kita ke taman dulu ya jangan langsung pulang."


sopir pun mengiyakan perkataan Dodi dan langsung pergi ke taman


Sesampainya di taman Dodi langsung mencari tempat untuk menyendiri tak lupa berkata kepada sopir untuk menunggunya sebentar


sopir menjawab," iya Den.


Dodi berlalu pergi ke dalam taman iya berkeliling taman lepaskan pikiran negatif tentang ibu Ami yang sempat tadi dia pikirkan


Sopir yang dari tadi menunggu, Dodi belum kembali juga dan langsung mencarinya di dalam taman.


Dimana malam semakin gelap, membuat rasa khuatir pada hati sang supir.

__ADS_1


__ADS_2