
Pagi Hari ....
Rencana Di mulai.
Deni mulai melakukan aksinya, ia datang pagi sekali ke ruangan Delia. Nafsunya kini mulai tak terkendali, ia rindu akan menyentuh Delia dengan membayangkan wajah Ane.
“Jam pagi, waktunya merasakan sensasi yang berbeda.”
Tersenyum penuh dengan gairah tak terkendali, Deni berjalan lebih cepat dari biasanya. Rumah sakit begitu kosong. Tak ada suster atau pun pengawas yang bertugas.
“Ke mana para petugas goblok itu, biasanya mereka bertugas.”
Tawa terasa pada diri Deni, ia tak sabar ingin cepat sampai ke ruangan Delia. Dengan hati di penuhi rasa keinginan yang kuat.
Kedua mata Deni mulai mengintip pada jendela kamar pasien Delia, wanita bermata sipit itu tengah terbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya di tutupi dengan selimut tipis, Deni berjalan pelan mulai membuka pintu ruangan Delia.
Jalannya kini melambat seperti tak ingin membangunkan, wanita yang menjadi pemuas nafsunya. Selama sebulan ini.
Delia tertidur lelap, hingga setiap langkah Deni tak terdengar olehnya. Padahal langkah Deni yang pelan masih terdengar suara sepatu.
“Delia apa kabar sayang, kamu ternyata tengah tertidur.”
Deni mulai menyentuh dagu Delia dengan lembut, ia menatap tajam pada wajah Delia.
Kini kedua mata Delia mulai terbuka perlahan, membuat Delia sedikit terkejut.
“Kamu kenapa pagi buta sekali kamu sudah datang ke sini?”
Deni, lupa jika ia belum menyuntikan obat perangsang pada infusan Delia. Sehingga wanita itu marah ketika di sentuh sedikit saja.
Deni tersenyum senang, ia suka dengan tingkah agresif wanita yang berada di hadapnya.
“Kamu tenang saja, aku hanya ingin memeriksa keadaan kamu saja.”
Delia menatap tajam ke arah Deni, menggigit sedikit bibir tipisnya. Kesal dengan wajah Deni yang sok baik itu
Deni mulai mendekat ke arah cctv, di mana cctv itu tak jauh dari Delia.
Lelaki itu dengan sigap merusak cctv yang terpasang di ruangan Delia, tanpa Deni sadari ada cctv baru terpasang di daerah yang tak terlihat orang.
“Beres.”
Delia melihat sekilas ke arah Deni. Tapi ia berusaha mengacuhkan gerak gerik Deni.
“Oh ya, sekarang waktunya kamu mendapatkan suntikan vitamin.”
Delia hanya menurut dengan apa yang di katakan Deni, karna dirinya sungguh tak berdaya. Badannya terlihat lemas. Wajahnya begitu pucat.
Deni tak peduli dengan wajah Delia yang terlihat pucat dan badannya yang lesu, ia hanya mementingkan egonya dan juga nafsu yang seakan tak terkendali.
__ADS_1
Maklum saja jika Delia hamil, karna dalam perutnya ada anak Deni yang sudah ia kandung selama 2 minggu.
Suntikan perangsang itu kini Deni layangkan untuk Delia, Delia yang hanya pasrah kini. Terduduk lesu.
“Bagaimana sudah terasa bugar.”
Delia hanya terdiam, obat yang di berikan Deni belum sepenuhnya masuk pada tubuh Delia.
Belum ada tanda-tanda rangsangan itu terjadi.
Namun Deni yang tak bisa menahan hasratnya lagi, ia mulai memegang lembut rambut pendek Delia.
Dengan sigap Delia menepis tangan Deni.
“Jangan berani menyentuhku.”
Deni tersenyum senang dengan tingkah Delia yang menolak sentuhnya, begitu percis dengan Ane jika Deni menyentuhnya.
Kini Deni mulai meraba ke setiap yang ia inginkan, membuat Delia tak sanggup menolak. Karna obat itu sudah mulai bekerja pada tubuh Delia.
“Bagaimana menyenangkan.”
Delia tak tahu dirinya kenapa, tapi dia begitu ingin memberontak. Tapi kenapa tubuhnya merespons setiap apa yang di lakukan Deni.
“Nikmati saja Delia.”
Deni tersenyum senang, nafsu yang memuncak mulai tersalurkan, ia mencium bibir Delia beberapa kali. Delia hanya bisa pasrah dan menikmati semuanya.
Setelah semua di lakukan Deni sudah bersiap membuka bajunya sendiri.
“Mengasihkan sekali.”
“Deni, stop.”
Sepertinya Delia sadar, akan Deni yang melakukan hal yang tidak pantas.
“Sudahlah Delia jangan menolak, nikmatilah selagi kamu merasakannya.”
“Tapi.”
Sungguh bejad kelakuan Deni, akankah Ane menggagalkan semuanya.
@@@@@
Sedangkan di ruangan pengawas, kedua pengawas itu lupa akan perintah Ane. Mereka tertidur dengan lelapnya.
Hingga Ane menelepon beberapa kali, tak ada jawaban saat itu.
“Kenapa para pengawas itu tidak mengangkat panggilan telepon ku.”
__ADS_1
Ane dengan sigap menaiki mobil, membawa mobil dengan kecepatan tinggi, ia kesal dengan kerja pengawas yang berada di rumah sakit.
Tidak butuh berapa lama untuk sampai di rumah sakit, kini Ane mulai turun dari dalam mobil. Melihat ke ruangan pengawas.
Rumah sakit saat itu benar-benar sepi, Ane tak tahu ke mana para suster dan penjaga, seharunya mereka bekerja. Karna di rumah sakit sudah ada jam sip kerja, yang secara sistem bergantian.
“Ke mana para suster dan pengawas.”
Ane benar-benar kesal dengan pekerjaan Suster yang tak sigap, saat itulah mereka masuk ke ruangan suster.
Saat melihat di jendela ruangan suster, ternyata suster tengah mengobrol. Membuat Ane mempoto mereka dari kejauhan.
“Pantas saja hanya Ita yang memegroki Deni melakukan aksi bejadnya. Semua suster di sini menyepelekan pekerjaan.”
Ane mulai masuk ke dalam ruangan pengawas, mengedor pintu yang sudah terbuka. Mereka bukan mengawasi cctv malah tertidur dengan lelapnya
Beberapa gedoran Ane layangkan, tapi mereka tetap saja mengacuhkan gedoran pintu itu. Tertidur dengan santainya.
Saat itulan Ane mulai mendekat ke arah cctv, yang terlihat di sana Deni tengah melakukan aksinya.
"Deni."
Dengan terpaksa Ane mulai memukul wajah para pengawas itu, untuk bangun dari tidurnya.
Para pengawas itu terkejut dan bangun, dengan wajah yang begitu kaget. Karna sang dokter sudah berada di depan mata.
Kedua mata Ane menatap tajam ke arah para pengawas, mereka ketakutan.
"Saya tidak menyangka pekerjaan kalian seperti ini."
Ane marah besar pada saat itulah, Ane mulai melangkah untuk segera datang ke ruangan Delia. Membuat Deni kaget dan kapok.
Ruangan Delia cukup jauh, membuat Ane berlari. Ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk membuat Deni menyesal.
Setelah sampai, dengan wajah penuh ke ringatan dan napas teengah-engah.
Ane mendengar sebuah suara dari kamar Delia, suara ******* yang tak seharusnya Ane dengar.
Dengan sigap Ane mendobrak pintu ruangan Delia, saat itulah tampilam yang tak menyenangkan terlihat di depan mata Ane.
Deni tengah merasakan napsu yang sungguh luar biasa, ia tak mempedulikan ke datangan Ane.
Sedangkan Delia, meringis menatap ke arah Ane. Dengan wajah sedihnya. Ia tak bisa apa-apa tubuhnya lemas.
"Deni, kurang ajar kamu."
Ane datang mengambil sebuah gunting tajam pada tasnya segera mungkin dia ingin menacabkan gunting itu pada punggung Deni.
Namun dengan kekuatan Deni gunting itu berhasil di tangkis dan jatuh ke lantai.
__ADS_1
Deni hanya berucap," jangan ganggu aku dengan Delia. Jika kamu ingin marilah ke sini."