Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 33


__ADS_3

"Apa, mamah bahagia?" tanya Rudi saat mengendarai mobil.


Ami terseyum, bibirnya merekah. Melihat ke kaca mobil. Lagit begitu indah dan cerah.


"Ya, mamah bahagia,"ucap Ami melirik sekilas sang suami.


"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Rudi, lelaki berbadan kekar itu seakan mengetahui semua yang di lakukan Ami. Termasuk menghancurkan Sisi dan ibu mertuanya sendiri.


"Maksud, papah?"


dahi Ami mengkerut, mepertanyakan


apa yang suaminya katakan.


Rudi terseyum lebar. Seraya berkata." Papah tau Sisi dan ibu punya rencana jahat padamu."


"Sejak kapan papah tau, rencana jahat ibu dan Sisi? dan apa yang mamah lakukan terhadap Sisi dan ibu?"


"Saat malam tadi, saat melihat berkas yang mamah lipat menjadi gulungan. Di sana papah tau, mereka ingin menghancurkan kita. Belum lagi Bi Lasmi memberi tahu bahwa mereka selalu berbuat seperti jahat kepada mamah."


Hati Ami begitu lega akhinya Rudi tahu kebusukan Sisi dan ibunya sendiri.


Dan Ami belum yakin juga, kenapa Ibu Mertua sejahat itu. Ada apa sebenarnya.


Mereka menyusun rencana untuk mengerjai ibu, ya harus bagaimana lagi biar wanita tua yang menjadi ibu Rudi selama ini sadar bahwa kelakuanya. Bukanya membuat dirinya bahagia, melainkan membuat dirinya sengsara.


Setelah sampai di rumah, Ami dan Rudi melihat ibu yang sedang berkacak pinggang memarahi Bi Lasmi. Pembantu Ami.


"Ada apa ini?" tanya Rudi. Ia menghampiri ibu dan juga Bi Lasmi. Ternyata ibu mertua Ami lebih pintar, ia mengandalkan tangisanya untuk meluruhkan hati Rudi. Rudi yang melihatnya bukan merasa kasian melainkan sudah tidak suka.


"Rudi kenapa kamu tidak pecat pembantu ini, dia sudah kurang ajar sama ibu," ucap wanita tua itu memegang lengan kekar Rudi. Meperlihatkan kesedihanya.


"Kalau Rudi pecat Bi Lasmi, Ami di urus siapa?"


Hening tidak ada sahutan, dan pada akhinya wanita tua itu angkat bicara.


"Biar ibu saja yang ngurus!"


Rudi menelan ludah melirik sebentar kearah istrinya. Ada rasa bingung.


Namun, Ami dari belakang menganguk setuju apa yang di ucapkan ibu mertua.


"Ya sudah, Bi Lasmi istirahat dulu yah. Kalau kita butuh bibi nanti. Bisa kita panggil lagi di sini."


Bi Lasmi mengangguk meng iyakan ucapan Rudi.


Ami mengedipkan sebelah matanya, memasang satu jempol di belakang punggungnya. Bi Lasmi yang melirik semua itu terseyum.


Rencana di mulai.

__ADS_1


Saat di rumah, seperti biasa. Ami berpura-pura buta. Ia mengacak semua lemari pakaiannya agar wanita tua itu membereskan pakaian yang sudah di acak-acak oleh Ami.


Terseyum geli. "Rasain." ucap Ami pelan.


"Bu, bu ...?" teriak Ami membuat wanita itu menghapiri sembari berlari tergopoh-gopoh.


Nafas wanita tua itu terengah-engah memegang dada. Karna badannya yang bulat membuat keringat bercucuran.


"Ada apa, Nak!"


"Ibu liat, Ami kan gak bisa liat. Mau ambil baju susah? Tolong dong."


Mata wanita tua itu seketika melebar melihat pemandangan yang tidak menyenangkan . Semua pakaian di dalam lemari berserakan di luar.


"Am, apa yang kamu lakukan. Nak?" pertanyaan ibu membuat Ami ingin tertawa terbahak-bahak, tapi apa boleh buat harus Ami sebisa mungkin menahan rasa ingin tertawanya.


"Ami engga tau kalau milih baju, kan mata Ami engga bisa melihat!" jawab Ami, matanya masih melirik pada raut wajah sang mertua yang menahan amarah.


Ibu mertua Ami belum tahu, bahwa menatunya itu berpura-pura buta.


"Ibu, bisa tolongin Ami, kan ibu tau sendiri Bi Lasmi sudah Mas Rudi pecat."


Mendengar perkataan sang menantu ibu mertua mengepal kedua tanganya, rahangnya seketika mengeras.


Ia melihat tumpukan baju itu lalu mengobrak abrik dan meremas pakain menantunya itu, yang berserakan.


"Ibu, kenapa? Ibu, marah ya," ucap Ami raut wajahnya memperlihatkan kesedihan.


"Oh engga lah, Nak. Mana mungkin ibu marah, ibu kan sayang sama kamu Am,"


Saat itu juga sang mertua melipat semua pakaian. Ami berjalan pelan menghampiri sang mertua yang duduk di atas teras. Ia berpura-pura mengambil baju untuk di pakai.


"Ami, ini sudah ibu lipat kenapa kamu obrak abrik lagi?


"Maaf, bu. Ami mau cari baju!"


Ibu mertua Ami langsung menyodorkan satu helai baju."Nih, pake yang ini."


Saat itu Ami menerima baju yang ibu sodorkan, dengan ide yang cemerlang.


"Aduh, bu. ini baju apa ya, ko kasar."


"Ya, mana ibu tau? Kamu yang beli baju, nanya ke ibu!"


"Ganti yang lain bu."


Mata wanita tua itu Membulat. Melihat ke arah Ami yang menyuruhnya.


Wanita berwajah tirus itu seakan sudah tidak kuat menahan tawa.

__ADS_1


Sudah beberapa kali Ami menyuruh wanita tua itu, terus-terusan mengganti baju. Yang di inginkan menantunya itu.


Sampai satu jam berlalu baru Ami setuju dengan apa yang di pilih oleh ibunya.


"Gila aku bisa-bisa, Ami bikin aku naik darah. Bisa-bisanya dia milih baju sampe satu jam lebih. Mana harus di bereskan lagi ini baju." gurutu hati wanita tua itu.


Ami memakai baju yang ketiaknya sudah bolong. Padahal wanita tua itu tau baju yang Ami kenakan sudah tidak layak dipakai.


"Rasain, aku kerjain kamu biar terlihat kaya gembel," gumam wanita tua itu terkekeh tertawa.


"Bajunya nyaman bu. Maksih ya, bu,"ucap Ami, Ia melihat ibu mertuanya seakan puas dengan penampilannya.


Ami berucap dalam hati." Memangnya aku wanita bodoh. Tau Rasa nanti kalau Mas Rudi pulang."


Ami langsung membaringkan tubuhnya di kasur, sembari menonton ibu mertua yang sedang membereskan bajunya ke dalam lemari.


Ami mengeleng-geleng kepala, karna wanita tua itu tidak merapihkan baju Ami.


Lelah, penat yang di rasakan wanita tua itu. Dari mencuci pakaian, mengerjakan pekerjaan rumah, seperti halnya pembantu.


Begitu berisik apa yang ia kerjakan. Sampai Ami mau tidur pun terganggu.


*********


Berbada dengan Rudi yang sedang di kantor, melihat pemandangan di layar leptot yang terhubung dengan cctv di rumah.


Rudi tertawa terbahak-bahak. Melihat Ami yang mengerjai mertuanya.


Rudi merasa kasian melihat ibunya sendiri di perlakukan seperti itu. Tapi apa boleh buat, demi ibu bisa berubah.


Rudi harus tega melihat ibu menderita dulu, kalau tidak ibu tidak akan sadar-sadar. Dia akan menjadi wanita jahat, yang selalu di hasut oleh Sisi.


Saat tengah asik. Tiba-tiba, Sisi menghampiri Rudi, ia datang tanpa mengetuk pintu.


Rudi langsung tehentak kaget, dan buru-buru menutup layar leptotnya.


"Maaf, Pak Rudi. Ini berkas yang harus di tanda tangani."


Sisi menyodorkan lembaran kertas. Saat itu juga Rudi menandatagani, berkas-berkas itu.


"Tolong bawa kertas ini pada Ami, karna di kertas ini harus ada persetujuan dan tanda tangan Ami," ucap Sisi.


"Bukanya yang bekerja di sini saya, kenapa harus tanda tangan Ami?"


"Ini atas perintah Pak Hendra."


"Ya, sudah nanti saya bawa berkas ini."


Sisi pergi begitu saja, biasanya ia mengoda Rudi. Apa dia sudah berubah?

__ADS_1


__ADS_2