
Aku segera berlari menuju ruangan dimana Ami di rawat.
Namun, dokter menyuruhku untuk berdiam diri di luar ruangan.
Aku yang menyaksikan Ami di luar sembari mengintip di balik jendela. Seperti mengalami kejang-kejang.
Dokter menyuntikan obat pada infusan istriku, hingga istriku berhenti dari kejang-kejangnya.
Tak sanggup lagi melihat penderitaanmu Ami, biarkan aku yang menggantikan rasa sakit dalam badan dan otakmu.
Aku rela, kalau pun aku yang meraskan sakit.
Asalkan jangan kamu dan Dodi karna kalian adalah belahan jiwa ku.
"Rudi," ucap sosok seorang wanita tua menghampiriku. Ternyata ibu datang ke rumah sakit.
"Ibu, sejak kapan ibu ada di sini?" tanyaku sembari melirik wajahnya.
Dengan repleks aku memeluk ibu, menagis sejadi-jadinya.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya ibu membuat aku melepaskan pelukanku.
"Ami, sakit bu." ku tatap raut wajah ibu.
"Sakit, sejak kapan, sakit apa? kenapa ibu baru tau." ucap ibu, tersentak kaget.
"Ami sakit Tumor Otak setadium akhir, bu."
"Astaga, yang sabar ya nak."
Aku, ibu dan juga Om Hendra menunggu keadaan Ami istriku.
**********************
Pov Ibu mertua
Aku tidak menyukai wanita yang bernama Ami itu, terlihat sekali wanita yang kumuh dan sederhana tidak terlihat seperti orang kaya pada umumnya.
Aku menentang pernikahan Ami dan anakku Rudi, karna aku tak suka bahwa Ami bukan anak orang kaya melainkan anak yatim piatu, yang di tinggalkan kedua orang tuanya karna kecelakaan mobil.
Sial sekali, anakku mendapatkan wanita yang kurang menarik, menurutku, dari sana lah aku sebagai ibu mertua sering memarahi, mecaci, dan mengancam dia, suruh siapa nikah sama anakku, baru tau rasa sama ibunya ini.
Entah kenapa dengan Rudi, dia begitu mencintai Ami, hingga dia rela melawan ibunya sendiri, gara-gara gadis itu, aku dan Rudi menjadi jauh.
Memang dulu Rudi bergantung hidup dengan Ami, karna Rudi belum mempunyai pekerjaan, tapi sekarang Rudi yang bekerja, jadi aku sebagai ibu wajib memakai uang yang Rudi kasih pada Ami.
Aku sering mengambil meminta jatah bulanan pada Ami menantuku, toh aku ibunya berhak mendapatkan uang bulanan lebih besar dari pada Ami, hanya sekedar istri.
Harusnya Ami berhutang budi padaku, karna secara, dia menikah dengan anakku, Ami bergantung baget sama Rudi.
Yah mau tidak mau, harus terima uangnya aku ambil.
Dan sekarang Ami masuk rumah sakit, senangnya hatiku, bentar lagi menantu bodoh itu akan mati.
Dan Rudi bisa menikah lagi dengan wanita yang kaya raya, dari pada si Ami penyakitan itu.
Siapa suruh penyakitan, jadinya gak bergunakan.
Kalau udah begini kan Rudi lama-lama bakal bosen sama menantuku itu, sudah kumel, penyakitan lagi, baru tau rasa.
Saat di rumah sakit, aku melihat sosok seorang putri yang seksi anggun dan menarik, aku menyukai dia, pasti dia orang kaya.
__ADS_1
"Mas gimana keadaan Ami?" Tanya wanita berbaju merah itu mendekati Anakku Rudi.
"Ini siapa, Rud?" Tanyaku pada Rudi, sembari melirik, tas yang ia pakai, pasti barang mahal dan brendet.
"Ini, Sisi, teman Ami, kebetulan dia baru berduka, atas meninggalnya suaminya." ucap Anakku Rudi, memperkenalkan wanita itu kepadaku
"Maaf, bu, kenalin namaku Sisi, teman Ami dan Mas Rudi."
Aku berjabat tangan dengan wanita cantik itu, terasa tangan yang lembut, tak seperti menantuku tanggannya kasar sekali, beda dengan wanita ini.
"Oh, kamu janda berarti." ucapku kepada wanita itu, dia hanya tersipu malu dikala aku mengatakan bahwa dia adalah seorang janda.
"Iyah bu?" Jawabnya terseyum manis kepadaku, sopan sekali dia, ramah, aku suka wanita bernamakan Sisi ini.
"Berarti cocok dong kalian berdua." ucapku membuat Rudi tertohok mendengar perkataan ku.
"Maksud ibu apa, ngomong begitu, tau sendiri Ami di dalam sedang bertaruh nyawa." hardik Rudi memarahiku.
"Mas, jangan marah sama ibu, bagaimana pun dia ibumu, harus kamu hormati, mungkin ibu salah ngomong." wanita itu membelaku di depan anakku, memang aku tak salah pilih dia adalah wanita luar biasa.
"Tuh dengerin kata temen kamu, harusnya kamu lebih berbakti ke ibu dari pada si Ami penyakitan itu." ucapku sembari berlalu pergi meningalkan Anakku.
Tiba-tiba Sisi mengampiriku, entah apa yang akan dia bicarakan kepadaku.
Pov ibu mertua Ami
"Bu, tunggu." ucap seseorang memanggil namaku dan berlari tergesa-gesa.
"Loh, ada apa Sisi panggil ibu?" Tanyaku pada gadis bermuka cambi itu.
"Ibu, marah sama Mas Rudi, maafin Mas Rudi yah bu, emang dia mah gitu ketus." ucap Sisi sembari memegang kedua tangganku dan meminta maaf.
"Sisi, sudah biasa ibu di gini-in sama anak ibu, semenjak dia menikah dengan cewek kumel itu." ucapku terseyum bahagia melihat wanita sebaik dia.
"Ibu gak suka sama dia sejak dulu sampai sekarang, ibu lebih suka kalau Rudi bersama kamu Sisi kamu cantik, baik, anggun lagi!" jawabku membuat gadis itu terseyum.
"Ou, ibu bisa ajah, sebenarnya aku sudah lama suka sama Mas Rudi, tapi Mas Rudi ketus baget bu sama aku, padahal kalau aku jadi istri keduanya juga gak papa."
Kesempatan bagus untuk menjauhkan Ami dari kehidupan Rudi, dan Sisi bisa bersama Rudi.
"Ibu ada ide!"
Aku mebisikan ketelinga Sisi yang sebentar lagi akan menjadi calon istri anakku Rudi.
"Apa kah akan berhasil bu, aku gak yakin bu." ucap Sisi sedikit ragu, aku terus menyakinkan janda ditingal mati suaminya itu.
"Yakin Si, tenang ajah."
"Baiklah, bu."
"Bagus."
"Ya sudah ibu pamit pulang, semoga berhasil, ibu akan selalu dukung kamu Sisi."
"Oke, bu, hati-hati di jalan."
Ternyata Sisi, mau menjalankan ideku, tak susah aku harus menyingkirkan Ami dan Rudi saat ini juga.
Ami, maafkan ibu, bukan ibu tak bisa menerimamu, karna ibu tak suka mempunyai menantu miskin seperti kamu.
Sesaat tiba di rumah.
__ADS_1
Aku melihat poto suamiku yang terpapang di dingding.
Akang, akang taukan sekarang istrinya si Rudi akan mati, dan sebentar lagi Rudi akan menjadi duda, Amih sudah jodohkan Rudi dengan wanita cantik dan kaya raya, semua cita-cita Akang terlaksana, melihat Anak kita kaya raya.
Coba Akang masih hidup, kita akan melihat Rudi bahagia dengan menjadi orang kaya dan tidak menderita.
Tak terasa bulir bening berjatuhan di kala melihat poto sang suami yang sudah ada di liang lahan, ayah Rudi sudah meninggal di kala Rudi masih kecil.
Ayahnya bercita-cita ingin melihat Rudi menjadi orang sukses dan kaya raya. Itulah perkataan dari sang ayah untuk anaknya Rudi.
Dari sini lah aku harus cepat-cepat menyingkirkan, menantu sialan itu.
Kalau aku tak menyingkirkannya, Rudi akan di bebankan oleh wanita tak tau diri itu.
Andai saja kamu tau Ami, kalau dulu kamu mendengar perkataan aku, mungkin kamu tak akan di buat menderita olehku.
Jam sudah menunjukan pukul 10:00 malam.
Tok ... Tok ...
Siapa itu ... Sudah malam ada yang bertamu ke sini.
"Loh, Rudi kamu kapan datang nak?" ucap ku sesudah membukakan pintu.
"Bu, aku mau tanya sama ibu?" Rudi langsung masuk dan memarahiku.
"Maksud kamu apa, Rud? Ibu gak ngerti".
Aku meraih tangan anakku agar duduk dan menenangkan diri.
"Alah, ibu, jangan sok perhatian sama Rudi, apa benar selama ini ibu sering meminta uang pada Ami?" Tanya Rudi seketika membuat bibirku keluh.
"Kamu, fitnah ibu, kata siapa? Apa gadis itu yang bilang, kurang ajar emang keterlaluan gadis penyakitan itu."
Aku sungguh marah dibuat anakku malam ini.
"Ami tidak pernah mengadu dan bilang bahwa ibu suka meminta uang jatah Ami yang aku berikan." teriak anakku yang sudah menahan emosi yang menggebu.
"Terus apa kamu punya bukti Rudi." aku menjawab dengan nafas tersegal menahan gemuruh di dada yang kian kesal.
"Ini coba ibu dengar dan lihat."
Anakku menyodorkan rekaman percakapan dan vidio cctv.
Sejak kapan di rumah Rudi ada hal-hal semacam ini.
"Kenapa, kenapa ibu diam, sekarang bukti sudah terlihat, ibu kaget siapa yang melakukan ini, ibu mau tau."
Rudi menatap raut wajah ibunya ini dengan berkata," Aku yang melakukan semua ini, jadi kalau istriku kenapa-napa ibu yang bertanggung jawab."
Kurang Ajar, Rudi mengancam aku, ibunya. Keterlaluan.
"Rudi, pamit pergi, Rudi harap ibu merenungi keslahan ibu sendiri."
"Nak tunggu ibu, jelaskan dulu."
"Tidak ada yang harus ibu jelaskan, semua sudah terbukti."
Anakku Rudi berlalu pergi meninggalkan aku yang di rendungi kesedihan.
Semua gara-gara menantu sialan itu.
__ADS_1
Awas kou yah Ami, kamu akan mati di tangganku.