
Lelaki tua itu melamun memikirkan apa yang dikatakan Tama sang anak. Iya mulai berdiri mendekat kearah Tama, memegang bahu sang anak dan berkata,” Di luar sana masih banyak wanita yang bisa kamu jadikan kekasih Tama, ayah sudah berniat memperkerjakan Sarah di tempat ayah. Karena Sarah itu begitu unik dan menarik, apalagi Sarah bisa membuat perusahaan Ayah menjadi semakin maju.”
“ Tapi Tama tidak setuju yah,” bentak Tama, wajahnya memerah menahan amarah. Ucapan lelaki tua yang di hadapannya.
“ itu terserah kamu saja, setuju atau tidak Ayah tak perduli. Karena Ayah sudah mempunyai hak di kantor, “
Balasan ayah membuat rasa kecewa pada hati Tama.
“ Ayah jangan lah egois, Apa kamu tidak cukup mempunyai tiga istri,” balas Tama yang tak mau kalah dengan ucapan sang ayah.
“ Menurut kamu Tama?” tanya sang Ayah.
Tama mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan, Iya bingung harus menjawab apa lagi kepada sang ayah, karena sang ayah yang pintar dalam membalas ucapan. Membuat Tama tak bisa melawan apa yang diinginkan sang ayah.
“Ayolah yah, mengalah lah demi anakmu ini,” ucap Tama dengan memohon kepada sang ayah, agar mau menuruti permintaan anaknya.
Sang ayah kini berjalan melihat ke jendela luar, kembali berucap, “ apa kamu yakin kamu itu anakku?”
Pertanyaan sang ayah membuat Tama semakin bingung, Tama kini menghampiri sang ayah yang tengah berdiri melihat ke arah jendela luar.
“Maksud perkataan ayah?” tanya Tama mengerutkan dahinya.
Sang ayah kini tersenyum. Iya tak sanggup melihat Tama pada saat itu.
“Coba ayah jelaskan apa maksud dari perkataan ayah tadi?” tegas Tama.
“ kamu harus tahu Tama, aku menikahi ibumu saat ibumu Tengah hamil. Jadi anak yang dikandung ibumu saat itu belum tentu anakku,” ucap sang ayah.
Membuat hati Tama bertanya-tanya.
“Ayah, maksud ayah aku anak haram. Tapi bukannya ayah yang menghamili ibu?” tanya Tama.
“ Dulu Memang aku sempat mencicipi ibumu, tapi ternyata ibumu Bukan Perawan. Karena rasa kasihan ku melihat ibumu terus memohon-mohon agar aku nikahi. Pada saat itulah dengan rasa terpaksa aku menikahi ibumu. Dan kamu lahir, aku terpaksa menganggapmu sebagai anakku.”
Penjelasan sang ayah membuat hati Tama sedikit sakit, iya tak percaya dengan ucapan sang ayah.
“Aku akan bertanya pada ibu.”
“Ya sudah silakan.”
Pada saat itulah Tama mulai bergegas pulang menanyakan kepada sang ibu, Apa benar yang diceritakan sang ayah. Jika sang Ibu dinikahi Saat tengah hamil.
__ADS_1
@@@@
Setelah ke pulangan Tama, sang ayah masih memikirkan wanita yang telah ia ambil dengan cara licik dari perusahaan Pak Hendra, ia ingin melihat ke sungguhan wanita itu. Dalam bekerja di perusahaannya.
Namun baru saja memikirkan wanita itu, tanpa di sadari wanita itu datang, mengetuk pintu. Membuat Pak Anton menyuruh wanita itu masuk ke dalam ruangannya.
“Maaf pak, saya terlambat,” ucap Sarah dengan nada sopannya.
Jelas Pak Anton tak memarahi wanita bernama Sarah itu, dia senang dengan kedatangannya Sarah yang terbilang cepat dari janjinya.
“Hebat sekali kamu Sarah, datang dengan sigap,” ucap Pak Anton memuji Sarah.
Sarah hanya tersenyum dan menjawab,” saya melakukan ini karna ingin bersungguh-sungguh kerja di sini pak.”
“Bagus, mana surat lamaranmu?” tanya Pak Anton.
Saat itulah Sarah mulai memberikan surat lamaran kepada Pak Anton, lelaki tua itu tak membaca surat lamaran yang diberikan secara. Yang membolak-balikkan lembaran surat itu, Seraya perlahan mencuri pandang pada wajah wanita yang duduk di hadapannya.
“Sarah ini cantik, hanya saja wajahnya. Tak terurus,” gumam hati Pak Anton.
Pak Anton kini meletakkan surat lamaran Sarah, tanpa berbasa-basi Pak Anton langsung, menerima Sarah di perusahaannya.
“ sesuai janji di kantor Pak Hendra kemarin, kamu langsung bekerja besok di kantor ini.”
Sarah sudah bertekad ingin merubah dirinya, merubah penampilannya menjadi lebih baik lagi. Membalas orang-orang yang telah menyakitinya dengan merubah diri secara perlahan.
“Yes, akhirnya aku ke terima. Sesuai janji Pak Anton. Lihat saja Ami apa yang akan aku lakukan setelah aku punya segalanya.”
@@@@
Di tengah-tengah rasa senang Sarah.
Tama kini menghampiri sang ibu yang tengah sibuk mempercantik diri.
Tama mengedor pintu kamar sang ibu, membuat wanita itu kaget dan menaruh sisir yang tengah ia pakai di meja riasnya.
“Kenapa ini Tama, pulang pake acara gedor-gedor pintu begitu keras.” Gerutu wanita itu, berjalan membuka pintu kamarnya.
“Tama, ada apa?”
Sang ibu menutup mulut, kaget dengan tampilan Tama yang cupu. Tidak biasanya Tama berpenampilan seperti lelaki miskin dan juga udik.
__ADS_1
“Tama kenapa dengan penampilan kamu?”
Tama langsung bertanya dengan lancangnya, pada sang ibu.
“Bu, sekarang ibu jawab pertanyaan Tama dengan jujur.”
Sang Ibu begitu heran kenapa anaknya tiba-tiba bertanya seperti itu,” tanya apa, nak.”
“Apa benar Tama ini bukan anak ayah.”
Deg .... Seketika jantung sang ibu serasa berdetak lebih cepat dari sebelumnya ketika sang anak bertanya seperti itu.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu, nak?”
“Sudahlah, bu. Cepat jawab, jangan bertele-tela.”
“Tama, sebenarnya.”
Sang ibu menatap ke sana ke mari, seakan obrolannya tak ingin didengar orang yang berada di rumah. apalagi jika ucapannya terdengar oleh istri pertama dan juga istri kedua Pak Anton.
"Ayo kamu masuk dulu, biar ibu ceritakan semuanya."
saat itulah Tama mulai menurut, sang Ibu menarik tangannya masuk ke dalam kamar menutup pintu kamar secara perlahan. sang Ibu seakan ketakutan jika ceritanya tersebar luas oleh orang-orang di rumah.
Tama kini duduk di ujung kasur sedangkan sang ibu berdiri menjelaskan kebohongan yang sudah di tutupi selama ini.
"Kamu tahu dari mana, jika kamu bukan anak ayah?"
tanya sang ibu kepada anaknya.
Tama mulai bercerita, Kenapa dia bisa tahu bahwa dirinya bukan lah anak dari Pak Anton.
"Ayah yang bercerita semuanya."
"Anton, kenapa dia bisa berkata jujur seperti itu. Harusnya dia menutupi semua aibku sampai saat ini." Gerutu sang ibu dalam hati.
Tama yang tak sabar ingin mendengarkan cerita sang ibu, kini bertanya kembali." Bu, kenapa ibu malah bulak balik ke sana ke mari. Tama ingin mendengar semuanya dari mulut ibu. Jika memang benar Tama ini bukan anak kandung dari ayah."
Sang Ibu mulai duduk di samping kiri sang anak," Tama, kamu jangan sedih ya. Di sini masih ada ibu. kok. Sebanarnya apa yang di katakan ayahmu sangalah benar."
Tama kini berdiri dari tempat duduknya, hatinya benar-benar remuk redam. Sudah tersakiti untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
.