Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 152


__ADS_3

Rudi mulai mendekat ke arah istrinya," apa maksud kamu."


Ami malah melipatkan kedua tangannya dan menjawab," bahwa aku ini sakit parah dan kamu sudah selingkuh dengan wanita lain?"


Kedua tangan Rudi mengepal dan berkata," kenapa pikiran kamu bisa sejelek itu."


Ami membantah," ya, bisa saja mas. Dugaanku itu benar, karna kamu menyayangi anak itu dan mencantukan anak hasil selingkuhanmu dengan nama ibu kandungnya itu aku."


Rudi memijat keningnya, kenapa semua bisa menjadi prasangka buruk seperti ini, hati Rudi begumam.


"Mas, jawab," bentak Ami. Ia ingin mendengar jawaban Rudi suaminya.


Rudi semakin kesal tak bisa menahan amarah, hingga suara bernada tinggi ke luar dari mulutnya.


"Diam."


Tangan kekar Rudi mulai perlahan mengangkat, ia hampir tak sadarkan diri ingin menampar pipi istrinya.


"Kamu marah kan, mas?"


"Sudah cukup, Ami. Sudah, aku mau mandi dan membersihkan diri!"


Ami seakan tak puas dengan ucapan suaminya yang tak menjawab pertanyaannya sama sekali.


"Kenapa kamu pergi? Kamu takut mengakui semuanya."


Rudi membalikan badan dan berkata," aku bukan takut mengakui semuanya. Aku takut jika kelihalangan kamu karna kebodohanku."


Ami semakin tak mengerti apa yang di katakan suaminya, ia mulai terdiam dan tak ingin berucap lagi.


Mengelus nafas beratnya.


Rudi malah mendekat dan mencium pipi Ami, jika suatu saat, aku sudah ikhlas. Akan kuceritakan semuanya."


Rudi pergi lagi begitu saja, membuat sejuta penasaran pada lubuh hati Ami.


"Ah, apa yang di katakan suamiku sebenarnya. Kenapa dia berkata seperti itu?"


Ami terdiam pilu, bibinya benar-benar keluh.


********


Setelah mandi, kini Rudi mendekat ke arah sang istri dan berkata," kamu masih marah padaku?"


Pertanyaan Rudi membuat Ami, menghempaskan tangan suaminya yang tiba-tiba memeluk dirinya.

__ADS_1


"Aku akan marah, selama kamu tidak mau menceritakan semuanya."


Rudi menganggkat bahu dan berkata," terserah kamu, yang terpenting aku sudah mengatakan semua yang aku rasakan tanpa kebohongan sedikit pun."


Rudi memberingkan tubuhnya, menghadap ke samping. Membelakangi tubuh istrinya," Ami kenapa kamu penasaran sekali dengan apa yang terjadi. Padahal kamu tinggal menikmati hidup dan bahagia layaknya wanita di luar sana."


Tetesan air mata menetes pada kedua mata Rudi, ia mengelap pelahan dengan tangan kekarnya.


Sedangkan Ami masih dengan rasa egoisnya, ia mulai terlelap tidur untuk melupakan apa yang terjadi.


Di tengah mimpinya, Ami bertemu dengan Dodi, anak tampan itu terseyum dan berkata," apa kabar?"


Ami menampilkan wajah muramnya dan berkata," sebenarnya kamu itu siapa, Dodi. Kenapa suamiku sangat menyayangimu."


"Jangan takut, aku hanya bagian dari hatimu. Mah."


Ami membulatkan kedua matanya dan berkata," kamu panggil aku dengan sebutan, mah."


"Karna aku bagian dari hatimu."


Dodi tiba-tiba berjalan, mejauh dari hadapan Ami. Sedangkan Ami terus mengejar sosok anak itu, hingga akhirnya ia bangun dan ternyata sudah menjelang pagi.


Rudi tak ada di sampingnya, ia mulai berjalan mencari keberadaan suaminya." Kemana, Mas Rudi pagi begini sudah tidak ada."


Rudi menyelipkan satu lembar kertas bertulisakan," aku sayang kamu."


"Aku akan mencari sendiri rasa penasaranku."


Setelah sampai di rumah sakit, dokter yang menangani Ami kini bertemu lagi.


"Permisi dokter, bisa saya bicara dengan Bu Dokter?"


"Tentu saja."


Perlahan Ami mulai menceritakan semua yang terjadi pada dirinya, sang dokter hanya terdiam mendengarkan apa yang di ceritakan Ami. Hingga saatnya dokter itu berkata," kamu terlalu memikirkan hal-hal nengatip. Coba berpikirlah positif agar hidup kamu tidak di kelilingi rasa penasaran."


Jawaban dari dokter tak membuahkan hasil, membuat Ami menjadi heran.


Jelas dokter itu tak akan memberi tahu apa yang terjadi pada diri Ami, bagaimana pun itu karna dia sudah tahu kondisi pasiennya. Sampai sang dokter mengonfirmasi semua temannya. Karna ini berhubungan dengan nyawa.


"Apa dokter yakin, saya ini sehat dan tak ada penyakit apapun dari diri saya. Padahal saya sering mengalami rasa sakit pada kepala jika ingin mengigat sesuatu yang seakan hilang dari ingatanku."


Dokter wanita itu, menanggapi Ami dengan bijaksana menenangkan semua keresahan yang terjadi.


"Lupakan, apalagi sekarang Bu Ami tengah hamil muda. Kasian bayinya."

__ADS_1


"Ya, sudah kalau begitu saya pulang dulu, dok."


Ami benar-benar kecewa akan apa yang ia ingin tahu, dari rasa penasarannya. Semua malah berbuahkan hasil yang tak menyenangkan.


"Hah, sia-sia aku pergi ke dokter. Tapi tak ada yang membuat rasa penasaranku hilang."


Ami mulai berjalan tergesa-gesa menuju pintu mobil, untuk segera pulang ke rumah.


Namun ternyata, di rumah sakit yang sudah di kunjugi Ami. Terdapat Rudi yang mengintip pada sela tembok, lelaki itu mulai masuk ke ruangan sang dokter dan berkata." Apa tidak ada hal aneh dari pertanyaan istriku, dok."


"Tidak ada!"


"Syukurlah."


"Pak Rudi, saya tegaskan sekali lagi pada anda, kenapa Bu Ami bisa hamil. Saya sudah kasih tahu pada anda jangan sampai Bu Ami hamil, ini sangat beresiko."


Rudi semakin bingung dengan perkataan sang dokter, ia juga sudah mencoba mencegah istrinya untuk meminum obat. Tapi wanita yang menjadi istrinya itu sangat keras kepala sampai akhirnya. Berita kehamilan Ami datang.


"Saya sudah mencari cara supaya istri saya tidak hamil, tapi bagaimana lagi dok. Istri saya begitu susah di kasih tahu, kalau saya tidak mengatakan sesungguhnya tentang penyakitnya."


"Jelas saya heran dengan pasien istri bapak, bisa bertahan walau hilang ingatan. Cuman jika bapak mengigat masa lalunya akan semakin meperburuk ke adaan."


Rudi hanya terseyum dan berpamitan untuk pergi mengikuti gerak-gerik Ami yang akan pergi lagi entah kemana.


"Aku tidak menyangka jika Ami akan mencari tahu semuanya, jika Ami mengetahui semuanya, aku belum sanggup kehilangan istriku." Rudi terus meneteskan air mata dalam perjalanan mengikuti mobil istrinya.


"Ini terlalu berat untukku, Ami." Ucap Rudi.


**********


Di tengah kesedihan Rudi.


Ada kesediahan yang mengiri hati Bu Ira, ialah ibunda Arsyla.


Wanita berhidung macung itu kabur, ketika acara pernikahan selesai. Bu Ira yang sudah tua hanya bisa menangis terisak-isak.


"Arsyla kemana kamu, nak."


Mempelai lelaki berusaha untuk mencari Arsyla.


"Ibu jangan sedih lagi, aku akan cari Arsyla kemana pun ia pergi."


"Aku percaya pada kamu, nak. Tolong temukan anakku."


Sisi dan Arpan, dengan sigap mencari keberadaan Arsyla yang tiba-tiba saja kabur tampa ketahuan.

__ADS_1


Padahal rencana sudah di susun dengan rapih, tapi Arsyla bisa begitu hebat kabur dari acara pernikahan yang sudah di gelar meriah.


Kemana Arsyla?


__ADS_2