Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 223


__ADS_3

Ami dan Alan masih menunggu jawaban dari Sisi.


“Pah, Bagaimana dengan Sisi? Apakah sudah ada info dari dia?” Tanya Ami yang sangat kuatir, pada keadaan anaknya Dodi. Baru saja tadi pagi ia melihat berita, korban pesawat ada yang selamat. di dalam daftar korban itu ada nama Dodi.


Namun sampai sekarang, tidak ada lagi kabar keberadaan korban yang selamat saat ini. Ami seakan bingung, Kenapa Dodi belum juga sampai pulang. Padahal jika korban sudah selamat mungkin pada hari itu juga korban akan dipulangkan ke rumah.


Rudi hanya mengusap kasar rambut kepalanya, beberapa kali ia menelpon Sisi dan juga mengirim pesan pada Sisi. Tak Ada Jawaban sedikitpun, membuat Rudi semakin kesal.


“Belum ada, mah.”


Rudi mulai berucap dalam hati,” ke mana kamu Sisi?”


@@@@@


Sisi yang benar-benar kuatir dengan sang suami, kini mulai mencari alamat yang dikirim oleh wanita yang entah dia tahu wanita itu siapa.


Hatinya benar-benar tak karuan, Iya sangat khawatir dengan keadaan sang suami. Takut jika Arpan dalam bahaya.


Baru saja Sisi berangkat untuk mencari alamat yang dikirim oleh wanita itu, tiba-tiba saja Rudi datang.


Lelaki berbadan kekar itu langsung mengetuk-ngetuk pintu rumah Sisi begitu keras, membuat Sisi yang berjalan menuju pintu depan rumahnya.


Dengan tergesa-gesa langsung membuka pintu depan rumahnya. Ia melihat Rudi berdiri dengan kedua mata yang melotot, kedua tangannya mengepal erat. Memendam semua kekesalan pada sisi.


“Rudi.”


Kini Sisi melangkahkan kakinya ke arah belakang, berusaha menghindari amarah Rudi pada saat itu.


Namun ternyata Rudi semakin mendekat ke arah Sisi, membuat kedua kaki Sisi gemetar.


“kenapa kamu tidak mengangkat panggilan teleponku.”


“Rudi tenang dulu.”


Tangan Sisi kini mulai merogok tas sedang yang ia bawa, ia melihat panggilan tak terjawab dari Rudi, dan pesan yang begitu banyak terpampang pada layar ponselnya.


“Eh, Rudi. Maaf.”


Amarah Rudi semakin menggebu-gebu, tangan kanannya yang mengepal. Kini ia layangkan ke arah tembok, membuat tembok itu seketika retak.


Padahal baru saja Sisi datang ke Jakarta untuk menyelesaikan misteri tentang kecelakaan pesawat yang di tumpangi Alan dan Dodi.


Kini Sisi sudah di hadapkan dengan berbagai masalah, di mana suaminya tertangkap dan di mana Rudi datang mengamuk. Tanpa sebab.


“Rudi, tolong dengar dulu penjelasanku. Aku ini belum bisa memberitahu kamu, kalau aku sudah sampai di Jakarta. Karna ....”


Belum ucapan Sisi terlontar semuanya, Rudi tiba-tiba saja membentak Sisi dengan nada sedikit meninggi.


“Penjelasan apa lagi, Si. Sudah cukup kamu membuat Ami menderita. Dan terkena masalah.”


“Rudi, aku mohon kamu tenang dulu sebentar. Akan ku jelaskan semuanya oke.”


Kedua pipi Rudi terlihat memerah, lelaki berbadan kekar itu mencoba menahan setiap amarah yang ingin Ia lontarkan terhadap Sisi.

__ADS_1


Urat leher terlihat begitu menonjol, Rudi mengusap kasar wajahnya. Meredakan amarah.


“Arpan dalam bahaya.”


Rudi tersentak kaget saat mendengar, Arpan dalam bahaya, ia langsung menatap ke arah Sisi.


“Maksud kamu?”


Saat itulah Sisi mulai menjelaskan semuanya. Dimana Arpan sekarang di tahan oleh seorang wanita yang entah Sisi tidak tahu siapa wanita itu.


“Jadi apa sekarang rencana kamu, Sisi.”


Sisi mulai menjelaskan semua rencana yang ia buat, membuat Rudi mengerutkan kedua dahinya dan berkata,” ide yang bagus.”


Pada saat itulah, Sisi mulai menunjukkan foto yang dikirim oleh Arpan kepadanya.


“kamu lihat ini, apa wanita ini seperti Sarah. Aku membalas pesan suamiku dengan berkata kalau dia tidak sama seperti Sarah. Jauh berbeda.”


Rudi mulai memperbesar foto yang diperlihatkan oleh Sisi, ia melihat begitu detail wajah dari foto wanita itu.


“ Coba kamu lihat di bawah mata wanita ini.” Ucap Rudi, menunjuk sebuah tanda hitam kecil di bawah mata wanita itu.


“Iya, terus. Apa hubungannya dengan tanda hitam itu,” balas Sisi yang tak mengerti.


“Bukanya si Sarah juga punya tanda hitam di bawah matanya,” ucap Rudi.


Sisi mulai mengingat-ngingat wajah Sarah, ia sempat ingat bahwa dirinya mempunyai foto Sarah.


Sisi berjalan menuju kamarnya, kebetulan sekali ia menaruh foto jaman dulu. Dimana pada foto itu terdapat foto Sarah.


Kini Sisi menyamakan tanda hitam itu dengan wanita yang belum di ketahui identitasnya dengan Sarah.


Dan saat di cocokkan, Rudi dan Sisi berucap dengan bersamaan.


“Ini Sama.”


Sisi mulai menyelidiki semua wajah Sarah, dari hidung dan juga mata. Memang berbeda, tapi tanda hitam tetap ada.


“Berarti, Ini Sarah. Apa Sarah melakukan operasi plastik?” tanya Sisi pada Alan yang asal berucap.


.


“Sepertinya!” jawab Rudi.


@@@@@@


Saat mereka sudah menemukan sebuah pakta tentang wanita yang menyekap Arpan.


Pada saat itulah mereka bergegas untuk datang ke Alamat. Yang akan di tuju.


“Ayo, Rudi. Kita datang ke alamat ini.”


Sisi yang tak sabar, ingin sekali bertemu dengan Arpan. Kini bergegas ke luar. Untuk menaiki mobilnya, tapi Rudi tiba-tiba mencegah Sisi pada saat itu.

__ADS_1


“Tunggu," Cegah Rudi. Membuat Sisi membalikan badan ke arah Rudi.


“Kenapa lagi, Rud. Arpan pasti dalam bahaya, bagaimana jika Arpan kenapa-napa. Sarah pasti akan nekat," balas Sisi yang tak sabar ingin menemui sang suami. Yang di sekap oleh Sarah.


“Kamu tenang dulu, jangan gegabah," ucap Rudi menenangkan kekuatiran Sisi.


“Aku tidak bisa tenang, jika nanti Sarah," Belum perkataan Sisi terlontar semuanya. Pada saat itulah Rudi mulai menyebut nama.


“Sisi.”


Setelah Rudi membentak Sisi dengan kasar, pada saat itulah Sisi diam. Tanpa seribu kata, air mata Sisi mengalir deras menuju pipi.


“Aku kuatir dengan suamiku.”


“Aku mengerti apa yang kamu rasakan, tapi kamu harus tenang.”


Kini Sisi mulai menggelap kedua air matanya mengalir, dengan kedua punggung tangannya. Ia mulai berusaha tetap tenang.


“Kita bisa menyelamatkan Arpan. Hanya saja kita buat dulu sebuah rencana. Agar kita tidak terjebak begitu saja. Karna Sarah pasti sudah menyusun rencana.”


“Baiklah, aku akan menuruti apa perkataanmu. Rudi.”


Pada saat itulah Rudi mulai bergegas pergi bersama Sisi, mereka menaiki taksi. Untuk mengecohkan musuh.


Saat mereka menuju alamat yang di tuju, dan benar saja. Bukan sebuah rumah yang mereka lihat, melainkan sebuah gedung kosong.


Terdapat para penjaga di sana, Sisi mulai mencari keberadaan suaminya. Saat itu, Arpan tengah terikat dengan tali, dengan wajah yang tertutup.


“Rudi, itu Alan.”


Sistem mulai berusaha keluar dari dalam taksi, tapi dengan Sigap Rudi menahan tubuh Sisi.


“Kamu jangan dulu ke luar?”


“Tapi, Arpan!”


“Tunggulah sebentar, aku takut ini adalah jebakan.”


“Jebakan bagaimana? itu Arpan, suamiku.”


"Apa kamu yakin dia suamimu. Kamu lihat postur tubuhnya. apa dia sama dengan suamimu?"


pada saat itulah Sisi mulai menyelidiki, lelaki yang terikat oleh tali, yang juga wajah yang ditutupi. membuat sisi melihat orang itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Bagaimana apa dia seperti suamimu."


"Tunggu, ponstur tubuhnya beda sekali."


"Nah kan, sepertinya Sarah menje bak kita, agar terkecoh dengan rencana yang ia lakukan."


"Jadi apa re cana kita selanjutnya."


Rudi mulai membisikan re cananya pada Sisi, membuat Sisi tersenyum dan paham.

__ADS_1


__ADS_2