
Dan benar saja Pak Tejo melihat cucunya pingsan digendong oleh lelaki yang seakan ya kenal, sedangkan Dodi terus meronta-ronta tak mau dimasukkan ke dalam mobil.
Pak Tejo kini berlari menghampiri Kedua lelaki itu,
“Hey, kalian mau ke mana. Lepaskan cucuku.”
Mereka tertawa menjawab perkataan Pak Tejo,” Diam kau lelaki tua. Kami akan membawa kedua anak ini ke nyonya kami.”
Petunjuk ini mendekat ke arah Kedua lelaki itu, tangannya mulai memukul mereka berdua. Namun pukulan Pak Tejo berhasil ditangkis oleh kedua lelaki itu, mereka mendorong tubuh Pak Tejo yang lemah.
Memukul wajahnya beberapa kali, sang cucu yang sadar akan pingsannya kini bangun. Dan berteriak.” Kakek.”
Kedua pria itu langsung menghentikan pukulan mereka, menyeret paksa pak Tejo. Memasukkannya ke bagasi mobil.
Kedua lelaki itu membulatkan kedua matanya ke arah mereka, membuat Dodi kini ketakutan.
“Kalian mau aku bikin kakek kalian mati.”
Kedua anak itu menggelengkan kepala dan berkata,” jangan.”
“Makanya menurut pada kami.”
Rudi dan Sisi kini bergegas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, tapi di tengah perjalanan. Mereka melihat kedua anak kecil di marahi habis-habisan, membuat Rudi ingin turun dari dalam mobil.
“Kenapa Rudi?” Tanya Sisi.
Rudi tak menjawab pertanyaan Sisi, ia malah menghentikan sopir taksi agar segera berhenti. Pada saat itulah Rudi turun dari mobil taksi, melihat kedua anak-anak itu.
“ Ada apa ini?” tanya Rudi.
Saat Dodi membalikkan wajah kearah Rudi, betapa kagetnya Dodi saat itu.
“Papah.”
Rudi mendengar suara itu, menyingkirkan kedua badan lelaki itu. Hingga mereka terjatuh ke atas jalanan.
“Dodi. Kamu nak.”
Kedua lelaki itu saling bertatap mata, berencana memukul punggung Rudi. Mereka bangkit membawa kayu.
“Papah, awas.”
Dengan Sigap Rudi langsung menyingkirkan kayu-kayu itu, menghajar mereka penuh dengan rasa kesal.
“Kalian, kurang ajar.”
__ADS_1
Rudi mengambil pistol pada saku celananya, menembakkan beberapa kali pada dada mereka berdua. Untung saja Rudi sempat mengambil pistol polisi tanpa sepengetahuan polisi, karna ia tahu menyelidiki seseorang tanpa bukti sanggatlah sulit, apalagi melibatkan polisi.
Kedua lelaki itu langsung mati ditempat, membuat Rudi dengan sigap mengambil Dodi dan cucu pak Tejo.
Namun, saat Rudi menyuruh kedua anak lelaki itu masuk ke dalam taksi, Dodi menunjuk-nunjuk bagasi mobil.
"Kenapa Dodi?" tanya Rudi.
"Di dalam sana ada seseorang lagi, ia kake dari anak ini!" jawab Dodi.
Mau tidak mau Rudi harus menyelamatkan lelaki yang di tunjuk Dodi, yang berada pada bagasi mobil. saat itu Rudi mulai mencari keberadaan kunci mobil. membuat ia langsung menggeledah baju Kedua lelaki itu.
Saat tangannyan memegang saku celana, lelaki itu bangun dan memegang tangan Rudi.
dengan Sigap Rudi langsung memukul wajah lelaki yang bangun itu.
Brug ....
Kunci ketemu dan Rudi berdiri, Rudi membuka bagasi mobil itu. saat pintu bagasi mobil terbuka, Pak Tejo terkulai lemah dengan wajah yang begitu bengkak.
Saat itu Rudi berusaha membopong tubuh lelaki tua itu, memasukkan lelaki tua itu ke dalam taksi.
Dodi dan sang cucu sangatlah senang melihat Pak Tejo terselamatkan.
Saat itulah Rudi langsung membawa mereka ke rumah, rasa tenang mulai menyelimuti hati Rudi. Ia bisa mempertemukan Dodi dengan Ami.
"Kamu kenapa Dodi?" tanya Rudi pada anaknya.
"Om Alan, masih ada di rumah itu!" jawab Dodi.
"Jadi Om Alan masuk ke rumah Sarah?" ucap Rudi dalam hati.
Saat itulah Rudi mulai bertanya kembali pada Dodi.
"Untuk apa Om kamu masuk ke rumah itu?" tanya Rudi kepada Dodi.
"Om Alan masuk ke rumah itu untuk menyelamatkan Tante Dina, dan kami berdua di suruh menunggu di dalam mobil!" jawab Dodi.
Kini Rudi mulai mengusap pelan rambut anaknya, sudah lama sekali ia tak melihat Dodi. Wajahnya begitu putih bersih seperti Ami.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang mobil, yang Rudi lihat ternyata lelaki tua itu bangun. Memanggil-manggil nama cucunya dan juga Dodi.
Rudi menyuruh sopir untuk berhenti, agar Rudi bisa pindah ke kursi belakang, saat itu Rudi membantu lelaki tua yang tak lain ialah Pak Tejo untuk duduk.
"Cepat minum ini, pak." Ucap Rudi menyodorkan air minum pada Pak Tejo.
__ADS_1
Pada saat itulah Pak Tejo langsung meminum air minum yang berada pada botol Aqua. dengan habis.
"Ke mana kedua cucuku."
Pak Tejo seakan tak sadarkan diri, ia mencari keberadaan kedua cucunya.
pada saat itulah Dodi dan cucunya langsung memegang tangan Pak Tejo, agar tetap tenang." ini cucumu ke."
Pak Tejo menangis terisak-isak, melihat sang cucu dan Dodi selamat.
"Untung saja kalian selamat, kakek sangatlah kuatir."
Sisi menyuruh Taksi untuk berhenti di suatu tempat makan.
"Ayo kalian sekarang turun, kita makan dulu. Pasti kalian lapar."
Begitu pun dengan Pak Tejo, Rudi berusaha membantu lelaki tua itu untuk ke luar dari dalam mobil.
"Bapak kuat tidak, kalau bapak tidak kuat biar Rudi yang antarkan bapak ke rumah sakit dulu."
"Tidak usah nak, bapak baik-baik saja. Ini hanya luka kecil."
Mereka kini makan di sebuah restoran kecil. Rudi langsung memesan makanan kesukaan anaknya pada saat itu juga.
beberapa menit makanan datang, Dodi dan juga cucuk pak Tejo begitu senang, sudah seharian ini mereka baru menemukan makanan.
Dengan lahapnya mereka memakan makanan di restoran itu, tidak ada kata kelaparan. Begitu pun dengan Dodi, Rudi menatap sang anak yang seakan menderita menahan lapar kini bisa terasenyum bahagia menyantap hidangan yang sengaja ia pesan dengan begitu banyaknya.
Pak Tejo yang masih merasakan rasa sakit pada wajahnya, dengan perlahan menyuapkan makanan pada mulutnya.
Sisi yang melihat Pak Tejo kesusahan, kini mulai membantu lelaki tua itu, menyuapinya dengan perlahan.
"Tak usah repot-repot, bapak bisa kok sendiri."
"Sudah pak, biar aku bantu."
Dengan pasrahnya Pak Tejo menuruti apa perkataan Sisi, ada rasa senang pada hati Pak Tejo karna bisa di suapi oleh wanita cantik berbadan seksi seperti Sisi.
Walau Sisi memakai baju tertutup, tapi lekuk tubuhnya masih terlihat seksi.
"Pak ..., pak." Sisi terus memanggil-manggil nama lelaki tua itu, karna saat di suapi Pak Tejo, lelaki tua itu terus menatap kedua gunung ke punyaan Sisi.
Sisi melambai lambaikan tangan ke arah muka Pak Tejo, membuat Lamunan Pak Tejo seketika membuyar.
"Kenapa neng?"
__ADS_1
tanya Pak Tejo yang sedikit kaget, Dodi yang melihat Pak Tejo merasa tak heran dengan sikapnya yang seperti itu. karena jika Pak Tejo melihat wanita cantik pasti dia akan melamun seperti itu.
"Dasar kakek tua." Ucap Pak Tejo.