Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 43


__ADS_3

Bu Nunik bingung harus pergi kemana, ia sudah tidak punya tempat tinggal. Hanya itu tempat tinggal yang diberikan Rudi. Ketika tinggal di kota ini.


"Apa aku harus meminta belas kasihan pada Rudi? Tapi mana mungkin, dia sudah kecewa padaku!" ucap Bu Nunik berjalan sambil menangis.


"Sisi, kemana dia? Sudah jam 5 sore aku tak melihat wanita itu, harusnya dia melihat rentenir yang sudah menggambil alih rumah ku! Sial, aku terlalu terpengaruh oleh wanita itu." Gumam Bu Nunik, ia berjalan gontai. Tak terasa malam sudah mulai berganti.


Bu Nunik belum mendapatkan tempat tinggal. Dengan cacing-cacing di perut yang meronta-ronta, ia melihat semua pengemis tengah tertidur di pingir jalan.


Dengan terpaksa Bu Nunik mengambil kardus berkas yang tergeletak di tempat pengungsian itu. Wanita tua itu membaringkan kardus yang sudah ia sobek menjadi beberapa bagian.


Tidur di pinggir jalan dengan beralas kardus membuat hatinya menagis.


"Apa ini yang disebut karma, ah mana mungkin?" gurutunya membuat pengemis disebelahnya bangun.


"Eh, bu jangan berisik. Cepat tidur," hardik pengemis itu memarahi Bu Nunik.


Setelah menjelang pagi, Bu Nunik kaget dengan koper yang ia bawa, tiba-tiba hilang. Menagis meronta-ronta semua baju ada di koper itu.


Bu Nunik melihat semua pengemis di sana tengah meminta-minta pada pengendara mobil dan juga motor. Dia seakan engan melakukan semua itu.


Karna cacing dalam perut terus meronta-ronta, dengan berat hati Bu Nunik melakukan apa yang dilakukan pengemis itu.


Sungguh miris hidup Bu Nunik menjadi gelandangan.


Sisi hanya mengandalkan Apartemen yang diberikan Pak Arka, ialah pengusaha sukses yang ia gait selama ini.


Dengan terpaksa dia harus mencari puing-puing uang untuk mencukupi gaya hidupnya.


"Makasih ya om," ucap Sisi mengambil kunci apartemen dari Pak Arka.


"Oke." Lelaki tua itu langsung pergi setelah memberikan kunci itu.


"Sekarang kamu sudah menjadi wanita simpanan om-om ya," ujar seseorang yang baru datang. Tak lain ialah Pak Hendra.


Sisi tertawa wajahnya meperlihatkan ketidak sukaannya.


"Apa aku salah, dia berduit."


"Sisi, Sisi. kamu ini tidak berubah ya. Kamu ngejar-ngejar Rudi hanya untuk hartanya kan."


"Om, jangan asal nuduh. Aku hanya ingin Rudi menjadi suami terbaikku. Melihat Ami yang bahagia mendapatkan Rudi, begitupun aku juga ingin bahagia memiliki Rudi."


"Apa kamu yakin?"


"Aku yakin om, karna setelah Ami meninggal aku lah penggantinya."


"Benar-benar wanita yang tak punya malu."


"Sudah lah om, jangan terlalu. Kita sama-sama pendosa. Tapi beda cara memilih dosa."


"Laknat kamu Sisi."


Sisi langsung menggunci apartemen ya, dan membiarkan Pak Hendra di luar marah-marah sendirian.


Hari minggu telah tiba, dimana Sisi sudah berjanji menggantar Luky dan Sinta.


Dia bergegas siap-siap untuk pergi ke klinik ilegal.


Delia yang menguntil, karna koneksi Hp Sisi tersambung pada Delia.

__ADS_1


Dengan sigap ia mengikuti Sisi.


Dari sana lah, Delia menelpon Rudi memberitahu bahwa Sisi sedang dalam perjalanan.


Rudi langsung bergegas menelpon kantor polisi, dimana ia memberitahu klinik ilegal itu.


Tanpa sadar Sisi tidak tahu bahwa mobilnya di ikuti oleh Delia.


Setelah sampai di klinik yang di tuju, dimana pasien sedang menunggu.


Disanalah, polisi mengepung semua klinik itu.


Sinta dan Luky tertohok kaget, saat polisi datang. Polisi menangkap semua orang di sana untuk meminta penjelesan.


"Sial, sepertinya ada yang mengikuti kita," ucap Sisi di dalam mobil tahanan.


Tangan Sinta bergetar hebat, ada rasa takut menghantui diri Sinta dan Luky.


Rudi dan Delia yang melihat keadaan itu langsung terseyum.


"Apa rencana kita selanjutnya Pak Hendra?" tanya Delia.


"Aku masih memikirkannya, mungkin membuat wanita itu menderita."


"Baiklah."


Sesaat Rudi berhasil menyusun rencana memasukan Sisi kedalam penjara, ia melihat wanita tua tertutup dengan topi.


sedang terduduk dengan pakaian lusuh mengemis-ngemis ke semua orang-orang yang sedang berkendara.


"Bukannya itu ibu, apa aku salah lihat?"


"Maafkan aku bu, ini mungkin yang terbaik buat ibu. Agar ibu sadar." Air mata Rudi jatuh. Melihat Bu Nunik menjadi gelandangan.


Hatinya sudah remuk karna pelakuan Ibu Nunik yang hampir membuat rumah tangga Rudi dan Ami hancur.


"Andai ibu tahu, indahnya mempunyai keluarga utuh dan bahagia. Dari pada mempunyai harta tapi membuat sengsara dan kesepian. Tapi apalah daya ibu sudah di tutupi dengan rasa ke egoisan, sehingga membuat diri ibu menjadi orang yang sangat serakah. Hingga ibu rela mengorbankan kebahagian ibu sendiri hanya untuk harta dunia yang hanya sesaat dan tidak akan di bawa mati." ucap Rudi sembari mengendarai mobilnya.


Rudi langsung menghampiri Luky, Sisi dan Sinta. yang tengah di tahan oleh polisi.


Baru beberapa langkah Rudi menabrak seseorang yang tegesa-gesa.


"Maaf pak."


"Ya, tak apa-apa. loh, Aldo suaminya Sinta kan. Apa kabar?" tanya Rudi menjabat tangan Aldo.


"Iya, baik Rud. Gimana kabar kamu!? " tanya Aldo dengan raut wajah resah.


"Kenapa?" tanya Rudi.


"Sinta di tahan di kantor polisi, kasus klinik ilegal. Untuk apa dia datang kesana?"


"Oh, ya sudah. Mari kita masuk bersama. Soalnya saya juga mau menengok Luky, yang katanya juga di tahan."


Rudi dan Aldo beriringan berjalan menengok karyawan Rudi semua.


Polisi menjelaskan kepada Aldo. Hingga Aldo mengepal kedua tangannya, ia tak percaya istrinya tercatat sebagai pasien abo*si.


Matanya berkaca-kaca menahan amarah yang mengebu, Aldo bekerja banting tulang untuk membahagiakan istrinya Sinta. Ia malah berkhianat selingkuh dengan lelaki yang sudah beristri.

__ADS_1


Sesaat pertemuan, Aldo menatap wajah wanita yang menjadi istrinya selama 2 tahun lebih.


Mengusap kasar wajahnya.


"Selama ini, aku bersabar dengan sikapmu yang dingin Sinta. Aku ingin bertanya kurang apa diriku padamu Sinta?" teriak Aldo memarahi istrinya itu.


Tangan Sinta bergetar, ia ketakutan.


Bibirnya keluh.


"Asal kamu tahu Aldo, aku kesepian. Yang kamu pentingkan adalah pekerjaan dan pekerjaan, tidak ada waktu untuk aku!" jawab Sinta mengelak.


"Kamu yang harusnya sadar diri Sinta selama ini aku sering menyuruh kamu untuk diam di rumah, menunggu aku pulang dan ikut denganku ke luar kota. Tapi kamu banyak alasan sering menolak, dan baru aku tahu ternyata kamu selingkuh dan mempunyai anak dari lelaki lain," hardik Aldo pipinya memerah. Melihat istrinya menagis.


"Maafkan aku Aldo,"ucap sinta menundukan pandangan


"Setelah anakmu lahir, Aku talak kamu."


"Aldo, jangan,"tangisan Sinta pecah dikala melihat punggung lelakinya itu.


Melihat Aldo yang pergi begitu saja membuat Rudi, hanya bisa menatap Sinta yang menangis.


"Begitulah, kehidupan. Kadang kita di uji dari istri, suami. Mertua, atau orang lain di samping kita. Apa kita bisa menghadapi semua itu dengan bijak. Dan tidak tergoda dengan nafsu sesaat.


Sinta yang telalu egois hingga ia lupa harga dirinya sebagai seorang istri begitu mudah terayu oleh cinta sesaat yang mampu menjerumuskan dalam kubangan dosa dan kesengsaraan. Ia lupa cara melawan hawa nafsu itu. Lupa pada suaminya yang telah rela bekerja keras dan setia, jenuh atau karna kurang perhatian bukan alasan yang sesungguhnya. Kalau pun kejenuhan dan pikiran negatip itu menyerang kita, tetap lawan dengan pikiran positif dan perbaiki. Apa yang salah pada diri kita dan pasangan kita sendiri maka kita berusaha untuk memperbaiki."


*****************


Bagaimana dengan ke adaan Sisi?


Jangan lupa like komen ikuti ceritanya terus sampe tamat.


Masih banyak dan masih panjang ceritanya.


Setiap bab akan terselip sebuah motivasi dalam cerita ini. Dari setiap pemeran.


Bagaimana dengan Alan?


Ami?


Sisi?


Rudi?


Delia?


Bu Sumyati?


Pak Hendra?


Bu Nunik?


Luky?


Motivasi apa yang ada dalam diri mereka.


yang akan saya sampaikan.


Jangan lupa like komen, karna saya penulis tidak bisa apa-apa karna pembaca.

__ADS_1


__ADS_2