
Beberapa menit kemudian saat Delia selesai menelepon suami Ane, pada saat itulah Ane bangun dari pingsannya.
Delia langsung menyuruh Ane duduk, dan memberikan air minum untuk segera Ane minum.
“Ayo minum ini dulu,” ucap Delia.
Saat itulah Ane mulai meminum air putih yang di berikan Delia.
“Terima kasih, Delia,” balas Ane. Tangan kanan Ane mulai memegang kepalanya yang terasa berdenyut tak karuan.
“Kenapa?” tanya Delia sedikit kuatir dengan keadaan Ane.
“Tidak apa-apa. Oh ya, Alan ke mana!?” jawab Ane dengan bertanya keberadaan Alan.
“Suamiku sudah berangkat bekerja,” ucap Delia.
Saat itulah ketukan pintu terdengar, di mana Delia mulai berjalan melangkah menuju ke depan pintu. Saat pintu terbuka, seorang lelaki tinggi dengan wajah gusarnya langsung menanyakan Ane.
“Ke mana istriku?” tanya lelaki itu.
Padahal baru tadi Delia menelepon suaminya Ane, dan sekarang suami Ane sudah datang secepat kilat.
“Apakah Anda suaminya Dokter Ane?” tanya Delia.
“Iya!” balas Putra. Yang tak sabar ingin bertemu dengan sang istri.
“Ayo masuk,” ucap Delia mempersilahkan Putra untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kini Putra berjalan ke arah kamar tamu, yang di mana Ane tengah duduk.
“Ane, kamu ada di sini?” tanya Putra. Wajahnya begitu kuatir, akan keadaan sang istri.
“Putra, kenapa kamu ada di sini!?” jawab Ane. Tak menyangka jika Putra menyusulnya sampai ke rumah Alan.
“Aku kuatir dengan keadaan kamu, ayo kita pulang,” ucap Putra mengajak Ane untuk pergi dari rumah Alan.
Namun, Ane bersikukuh ingin tetap berada di rumah Alan.
Delia menatap ke arah Ane dan Putra,” sudahlah Ane. Sebaiknya kamu pulang saja. Sia-sia menunggu Alan, suamiku akan tetap pada tujuannya.”
Ane mulai mendekat ke arah Delia, memegang tangan Delia,” Delia apa bisa membujuk Alan, agar mau menuruti apa kemauanku.”
Delia mengibaskan tangan Ane begitu saja, dan berkata,” maaf Ane. Aku tidak bisa.”
Ane terduduk, ia sudah bersusah payah memohon-mohon tapi hasilnya malah mengecewakan. Pada saat itulah Putra mulai menyuruh sang istri untuk berdiri dan segera pergi dari rumah Alan.
Namun, Ane malah memarahi Putra di depan Delia, membuat Delia tak menyangka jika Ane seberani itu terhadap sang suami. Seharusnya Ane sebagai istri menghargai sang suami.
“Lepaskan aku, Putra. Aku ingin tetap berada di sini, “ bentak Ane.
__ADS_1
“Ane, apa kamu tidak sadar apa yang sudah kamu lakukan. Asal kamu tahu Alan sudah tidak menganggapmu sebagai sahabat lagi,” cetus Delia. Kesal melihat Ane tak mau pergi dari rumahnya.
Deg ....
Ane terdiam saat Delia berkata sedemikian, hatinya rapuh. Mana bisa seperti itu.
“Delia, kamu jangan bercanda?” tanya Ane.
“Untuk apa aku bercanda, memang kenyataan seperti itu Ane. Kalau Alan masih menganggapmu sebagai seorang sahabat, pastinya dia akan membantumu, tapi kenyataannya tidak kan!” jawab Delia.
Ane menundukkan pandangan, kedua matanya mengeluarkan air mata.
“Ayo sebaiknya kita pergi dari sini,” ucap Putra.
Saat itulah Ane mulai berjalan pelan, saat Putra merangkul bahunya untuk segera pulang.” Ayo kita pulang.”
Pada saat itulah mereka pulang, Delia sedikit bernapas lega.
@@@@@
Di dalam mobil, Putra mulai menenangkan sang istri yang berada di sampingnya.
“Kamu harus tenang, aku akan membantumu. Ane,” ucap Putra.
Ane menatap ke arah Putra dengan linangan air mata,” percuma, Putra. Kamu membantuku, semua akan sia-sia. Papah sangat marah padaku.”
“Kamu tenang, ya. Aku akan cari cara lain,” balas Putra.
Saat itulah Putra mengajak Ane ke restoran, karna ia tahu istrinya belum makan dari tadi pagi.
“Ayo kita makan dulu, aku tahu kamu pasti lapar,” ucap Putra.
Mereka turun dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam restoran. Putra mulai memesan beberapa makanan kesukaan sang istri.
Hingga beberapa menit kemudian, pesanan pun datang. Ane masih terdiam, ia belum menyantap makanannya dari tadi.
“Kamu kenapa diam terus, ayo cepat makan,” ucap Putra.
“Aku tidak nafsu sama sekali, Putra,” balas Ane.
“Satu suap saja, ya. Aku takut nanti perutmu sakit,” ucap Putra. Tangannya mulai menyuapkan beberapa makanan ke mulut Ane, sampai di mana Ane berusaha membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu.
Saat itulah Ane mulai memakan makanannya yang tersedia di atas meja, membuat hati Putra sedikit tenang melihat sang istri menyantap makanannya.
“Setelah makan kita datangi, Deni terlebih dahulu di penjara,” ucap Putra.
Ane yang tengah mengunyah makanan seketika batuk begitu saja, membuat Putra dengan sigap mengambilkan air minum untuknya.
“Ini minum dulu,” ucap Putra.
__ADS_1
Dengan sigap Ane langsung meminum air putih yang di sodorkan suaminya.
“Untuk apa kita datang ke penjara?” Tanya Ane.
“Kamu nanti akan tahu sendiri!” jawab Putra.
Pada saat itulah Putra mulai mengajak istrinya menemui Deni di dalam penjara, walau sebenarnya hati Putra sedikit ragu. Tapi semua dia lakukan demi kebaikan istrinya.
“Putra sebaik ....”
Belum perkataan Ane terlontar semuanya, Putra mulai meyakini hati Ane pada saat itu. “ Sudah, percayalah padaku.”
“ Baiklah kalau begitu.”
Setelah sampai di dalam penjara, Putra dan Anna dikagetkan dengan seorang lelaki tua yang tak asing bagi mereka.
“Putra, tunggu.”
Ucap Ane memberhentikan langkah kakinya,” lihat. Itu seperti papah, untuk apa dia ada di penjara ini?”
“Iya, itu papah!” jawab Putra.
Mereka mengintip di balik tembok, dimana ternyata sang Papa setengah menemui Deni. Membuat kedua bola mata Ane membulat,” untuk apa papah menemui Deni, bukanya ...,”
Ane tidak mau asal menebak ia takut, jika perkiraannya salah. Karna jika ia asal menebak pastinya dirinya akan tersalahkan.
Saat itulah Putra diam-diam mereka lelaki tua yang menjadi ayah angkat Ane.
“Apa yang kamu lakukan, Putra?” Tanya Ane.
“Kamu diam saja!” Jawab Putra. Dengan fokus mengambil gambar lelaki tua itu dengan Deni.
Sebenarnya Ane sangatlah penasaran, apa yang tengah di obrolkan sang papah dengan Deni. Membuat ia ingin sekali menghampiri mereka berdua.
Kini Ane yang tak bisa menahan diri melangkah kan kaki ingin mendekat pada sang papah dan Deni, tapi Putra menahan tangan Ane saat itu.
“Jangan dulu gegabah. Aku takut nanti kamu akan tersalahkan lagi,” ucap Putra.
“Tapi,” balas Ane.
“Sudah, sebaiknya kita pergi dari sini dulu,” ucap Putra menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam mobil.
“Kenapa kamu malah menahanku, Putra. Ini kesempatanku untuk mengetahui semuanya,” ucap Ane
“Itu bukan salah satu waktu yang tepat, Ane. Sepertinya papah kamu dan Deni diam-diam merencanakan sesuatu,” balas Putra.
“Merencanakan apa, jelas-jelas papah marah padaku karna ulah Deni yang mengadu,” pekik Ane.
“Aku mau tanya padamu, sebenarnya Deni dengan papahmu ada hubungan apa?” tanya Putra.
__ADS_1
Ane terdiam, ia seakan resah menjawab pertanyaan suaminya.
“Sebenarnya ....”