
Rudi mendengar teriakan dan jeritan itu, kini berlari ke ruangan yang terbilang pengap.
Ia melihat Dina dan Riri tengah di telanjangi oleh beberapa Suruhan Sarah, membuat Rudi tak segan-segan memukul mereka dengan tongkat kayu hingga para lelaki itu terkulai lemah di atas lantai.
Urat tangan terlihat, begitu pun dengan urat leher terlihat sekali menonjol. Di mana amarah Rudi tak terbendung lagi.
Kesal melihat kelakuan Suruhan Sarah yang membuat Dina dan Riri menangis ketakutan. Rudi terus melayangkan pukulan demi pukulan, hingga kedua mata mereka menutup perlahan.
Pada saat itulah Rudi mendekat ke arah Riri dan Dina, membuat Dina saling memeluk satu sama lain, sepertinya mereka begitu ketakutan.
“Dina, Riri. Sadarlah, kalian jangan takut. Ini aku Rudi.”
Ucapan Rudi terlontar, pada saat itulah Riri dan Dina perlahan mendekat ke arah Rudi. Dengan tangan gemetar dan baju yang sudah sobek bekas para Suruhan Sarah.
“Kalian tenang, ya.”
Rudi mulai membantu mereka berdiri, menutupi tubuh mereka dengan kain, saat itulah Rudi bisa membawa pergi Riri dan Dina.
Berjalan dengan merangkul tangan Riri dan Dina, sedikit membuat Rudi kewalahan.
Tubuh Dina terlihat melemah, membuat ia terjatuh.
“Dina, kamu kenapa?” tanya Rudi.
“Aku tak kuat berjalan!” jawab Dina.
Sisi yang sudah bersiap masuk ke dalam rumah Sarah dengan beberapa polisi kini menyergap para suruhan Sarah yang berada di dalam rumah. Menangkap mereka satu persatu.
Para Suruhan mengangkat tangan mereka, meletakan pistol dan beberapa barang lain di bawa lantai.
Sisi mulai berjalan perlahan, mencari keberadaan Rudi. Hingga di mana Sisi mendengar suara yang memanggil namanya. Saat ia menatap ke arah belakang, benar saja. Rudi tengah membantu Dina dan Riri berjalan.
“Sisi.” Panggil Rudi dengan membawa Riri dan Dina yang terlihat melemas.
“Rudi.”
Sisi menghampiri Dina dan Riri membantu mereka untuk berjalan pelan, membawa mereka masuk ke dalam mobil.
“Aku akan membawa mereka ke rumah sakit, kamu tenang saja. Rudi,” ucap Sisi.
“Terima kasih, Si,” balas Rudi.
Saat Rudi melihat Sisi membawa para polisi. Pada saat itulah Rudi mulai memberitahu ruangan rahasia Sarah yang terdapat di dalamnya ada mayat dan tengkorak-tengkorak yang sudah lama mengantung.
Polisi segera mungkin masuk ke ruangan yang di tunjukan Rudi.
Mereka bergegas pergi ke kamar Sarah, untuk mengecek ruangan rahasia yang di maksud Rudi.
@@@@@@
sampai di mana Sarah yang masih berada di ranjang tempat tidur, terbangun dengan kepala yang begitu terasa sakit. Ia melirik ke sana ke mari mencari keberadaan Rudi,” ke mana Rudi.”
__ADS_1
Meraba pada ranjang tempat tidur, Sarah mulai bangkit dan turun dari ranjang tempat tidurnya.
“Aw, kepalaku.”
Memegang kepala yang benar- benar terasa berat, membuat Sarah susah untuk berdiri.
Sarah memaksakan diri, membuka kedua matanya. betapa kagetnya Sarah saat itu, kamarnya sudah di kepung oleh polisi. Membuat dia panik dan melihat tubuhnya sudah di baluri selimut. Ia kembali duduk di ranjang tempat tidur. Melihat Rudi ada pada segerombolan polisi yang mengepung dirinya.
Sarah menatap tajam ke arah Rudi, mengepal kedua tangannya pada selimut yang melingkari tubuhnya,” kurang ajar aku terjebak.”
Kini Sarah hanya bisa pasrah dengan keadaan, di mana dirinya dan para suruhannya tertangkap polisi.
@@@@@
Sedangkan Sisi yang sudah ada di dalam mobil bersama Riri dan Dina, mulai mengambilkan air minum untuk mereka berdua, membantu Dina dan Riri untuk menuangkan botol minum ke mulut mereka, agar tenaga mereka segera pulih seperti semula. Sisi benar- benar tak tega melihat tangan kedua gadis itu bergetar hebat karna rasa takut.
“ Ayo kalian minum dulu air putih ini.” Ucap Sisi.
Mereka berdua meminum air putih itu, tegukan demi tegukan. Membuat rasa haus hilang.
"Sarah benar- benar keterlaluan, membuat Riri dan Dina kehausan dan kelaparan," gerutu Sisi.
Sisi kini mulai mengendarai mobil dengan berkata," kalian harus kuat ya. Aku akan bawa kalian ke rumah sakit."
Tubuh Riri dan Dina benar-benar terlihat begitu lemas membuat Sisi yang melihatnya tak tega. Seketika ia menitihkan air mata, teringat dengan Arpan yang juga di perlakukan oleh Sarah begitu kejam
Sisi mulai menjalankan mobil untuk membawa mereka ke rumah sakit, menenangkan rasa trauma pada hati dan pikiran kedua wanita itu.
@@@@@
Membuat Alan bertanya kepada sang istri,” Apa yang tengah kamu pikirkan Delia, kenapa kamu melamun.”
“Alan, kamu sudah pulang,” ucap Delia menyadari kehadiran Alan saat itu.
“Kamu kenapa? Apa yang tengah kamu pikirkan saat ini?” tanya Alan.
Delia memijit kepalanya yang terasa berdenyut memikirkan perkataan Ane.
“oh ya, ke mana Dokter itu?” tanya Alan.
“Dokter Ane sudah pergi di bawa oleh suaminya!” jawab Delia.
“Bagus dong kalau begitu, terus kenapa kamu malah melamun di sini. Apa karna Ane?” tanya Alan. Memegang bahu sang istri.
Delia menarik napasnya pelan dan menjawab,” iya karna perkataan Ane. Dimana ia memohon kepadaku untuk membujukmu, Alan!”
“ Berarti benar dugaanku saat ini. Sudahlah jangan memikirkan Ane lagi, dia itu hanya mementingkan diri sendiri,” tegas Alan.
Hingga di mana ponsel Alan berdering, membuat ia menatap pada layar ponselnya.
Panggilan dari Sisi.
__ADS_1
Alan dengan sigap mengangkat panggilan dari Sisi. Di depan sang istri. Yang tengah duduk menatap wajahnya.
“Halo, si ada apa?” tanya Alan. Dalam situasi di mana hatinya tak karuan. karna sudah membahas Ane.
“Aku sudah menemukan Riri dan Dina!” jawab Sisi.
Alan tersenyum senang, akhirnya Riri dan Dina di temukan juga. Kini hati dan pikirannya sanggatlah terasa lega,” terus bagaimana dengan, Si Sarah?” tanya Alan.
“Sarah sudah aman, aku bawa dia ke kantor polisi!" jawab Sisi sembari mengendari mobil.
“Syukurlah kalau begitu," ucap Alan.
Panggilan pun terputus sebelah pihak, di mana Sisi masih fokus mengendarai mobil. Entah apa yang terjadi dengan Sisi saat itu.
@@@@
“Kenapa, Alan?” tanya Delia.
Alan memegang kedua pipi Delia dan berkata,” Dina dan Riri sudah di temukan.”
Delia mengerutkan kedua dahinya, ia tak mengenal dengan wanita yang di sebutkan suaminya.
“Dina dan Riri?”
“Ya, kedua wanita itu adalah sahabatku saat terjebak di dalam hutan. Karna kecelakaan pesawat!”
Delia melipatkan kedua tangannya, ada rasa cemburu yang ia rasakan saat melihat reaksi suaminya yang begitu senang.
Saat itulah Alan mulai menatap ke arah sang istri dan bertanya,” Kamu kenapa. Wajahmu kenapa cemberut seperti itu?”
“Enggak, aku mau tidur sudah malam!” jawab Delia. Melangkah ke arah belakang untuk berjalan ke kamar tidur.
Alan mengikuti langkah kaki istrinya, hingga di mana ia memeluk Delia dari arah belakang.
“kamu cemburu?” tanya Alan.
Bibir Delia mengkerut ia menjawab!” siapa yang cemburu.”
Alan melepaskan pelukannya, ia membalikkan tubuh Delia hingga kedua mata mereka saling bertatapan.
“Kamu harus tahu, aku sangat menyayangimu.”
Kedua pipi Delia memerah, ia malu dengan rayuan Alan.
“Pipimu memerah?”
Alan memeluk erat sang istri, membopong tubuh Delia dan membawanya masuk ke dalam kamar tidur.
“Kita tidur yuk.”
Delia tersenyum kecil, senang dengan perlakuan Alan yang tak pernah berubah. Walau sebenarnya hatinya sedikit ragu akan hadirnya anak yang bukan anak kadung Alan.
__ADS_1
Delia selalu bertanya-tanya pada hatinya,” apa Alan akan menerima dan tetap dengan sifatnya yang selalu memanjakan Delia.”