Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 26


__ADS_3

2 hari berlalu, sesuai rencana Ami telah memperkerjakan Bi Lasmi lagi.


Ami menyusun Rencana dengan pembantunya itu.


Membuat rencana untuk menyingkirkan wanita tua itu, sangatlah mudah bagi Ami.


Setelah semua sudah tersusun rapi, Ami meletakan satu kamera cctv yang sudah ia sambung pada Hp suaminya.


Dengan cepat, ia kerjakan sesaat Rudi tengah terlelap tidur.


Semua beres tinggal menunggu Bi Lasmi dan ibu. Kebetulan ibu ijin pulang dulu entah apa yang akan ibu lakukan, untuk menghancurkan menatunya itu.


Sesaat semua telah beres, Bi Lasmi akhirnya datang juga.


Ami sangat senang karna Bi Lasmi berpihak padanya.


"Gimana bi?"


"Beres Nona."


Tetap saja Ami menyembunyikan kebutaannya agar Bi Lasmi tak kaget.


Bi Lasmi menunjuk satu jempolnya menandakan setuju dengan rencana Ami.


Benar saja baru ibu mertua datang ke rumah dengan membawa Sisi.


Entahlah, kenapa ibu mertua sangat menyukai Sisi.


Ami yang mentapnya sungguh di buat geram.


"Ibu sudah pulang?" tanya Ami melangkah maju dengan tongkat yang ia gunakan.


Ami terseyum menatap wanita itu ada di sini.


"Ibu sendiri."


Ami terus saja berbicara, tapi sang mertua tak memperdulikan perkataanya.


Awasyah tak ku kerjain kalian. Gumam hati Ami.


"Lasmi ngapain kamu ke sini lagi?" tanya ibu tua itu dengan nada meninggi.


"Tuan yang nyuruh!" jawaban Lasmi dengan menunduk kepala.


"Bisa-bisanya Rudi menyuruh lagi Lasmi. kerja lagi di sini."


"Saya ke dapur dulu bu."


Aku menyuruh Bi Lasmi menumpahkan air minum untuk tamu besar ibu mertua yaitu Sisi.


Mereka duduk tanpa menghiroukan Ami yang tak bisa melihat.


"Heh, Ami ngapai kamu duduk?" tanya Ibu tua itu dengan mentap lekat raut wajah Ami.


"Kenapa? Bukanya ini rumah saya dari dulu." jawab Ami dengan berlagak sok polos.

__ADS_1


"Jangan sok ngaku kamu, semua ini milik Rudi. Yang ngelola perusahaan Rudi. Kamu hanya bikin susah. Dasar wanita penyakitan."


Ucapan yang sangat menyakitkan. Seorang ibu mertua, berkata seperti itu.


Ami mengepal kedua tanganya menahan segala kekesalan di jiwa.


Dan saat itu, Bi Lasmi mengantarkan dua minuman air hangat. Dengan pelan-pelan dan segaja menumpahkan ke kaki Sisi dan bajunya.


"Ah, panas." Teriak wanita berwajah bulat itu mebilas-bilas air yang menempel pada bajunya.


"Loh seperti ada suara wanita berteriak, siapa mah." Ami berdiri menghampiri setiap suara jeritan itu.


Segera Sisi menutup mulutnya dengan satu tangan, Ami terus menulusuri. Hingga hampir menyentuh baju Sisi. Wanita itu terus menghindar hingga kepalanya terbentur lemari hias.


Namun, segera ia tahan. Seperti ia tengah kesakitan. Ami sedikit tertawa melihat Sisi yang begitu kesakitan.


Ibu mertua langsung merangkul Ami.


"Ami sebaiknya kamu duduk saja, itu suara ibu."


"Loh bukanya ibu di sebelah Sisi kiri Ami. Masa suarnya bisa belah sisi kanan sih bu. Pasti ada orang lain yah bu."


Ami melihat Keringat sang mertua sudah bercucuran, antara takut. Kalau Ami tau Sisi ada di rumahnya bisa gagal rencana ibu.


Ibu segera memberi kode pada Sisi. dengan mengedipkan kedua matanya menyuruh ia untuk pergi.


"Apa ibu menyembunyikan sesuatu dari Ami." Ami menoleh raut wajah sang ibu mertua dengan tatapan kesal.


"Untuk apa menyebunyikan sesuatu, toh kamu juga akan tersingkir dari sini. Ami asal kamu tau, kamu itu udah penyakitan bikin repot ajah."


"Maafkan Ami bu."


"Ibu maafin kamu, ibu tak suka kamu sok ngatur lebih baik. Kamu nurut sama ibu saja."


Dia menunjuk ke arah Ami seakan semua atas kuasa dia.


"Ibu mau pergi mandi dan kamu, beresin rumah ini," ucap wanita tua itu, meninggalkan Ami.


Nemun saat langkah kaki wanita tua itu, dia berbalik arah dan berteriak.


"Ibu lupa Ami, kamu itu buta. Jadi kalau mau beresin ini percuma. Kan gak bisa ngeliat." tawanya begitu nyaring.


Sesaat ia tertawa ... Brung.


"Aw, Lasmi bisa gak kamu kerja. Yang bener ini lap lantai masa basah."


Ami tertawa kecil, melihat ibu mertuanya terjatuh kesakitan.


"Ibu kenapa?"


"Ibu jatoh non, gara-gara bibi."


"Loh ko bisa, bukanya ibu gak butakan. Masih bisa melihat?"


Ibu mertua langsung bergegas pergi. Pipinya memerah. Mungkin ia malu.

__ADS_1


Ami masih curiga entah berkas apa yang ibu tua itu buat.


***********


Sesaat di kantor.


"Hay bro, gimana? Enak banget loe sudah jadi Bos," ucap Luky. Lelaki bertubuh gendut itu. Mengajak bercanda Rudi agar dia terseyum. Akhir-akhir ini melihat wajah Rudi yang kurang segar di lihat.


"Gak lucu loe, Gue pusing Ky." Rudi mengelap kasar wajahnya. Banyak pikiran yang menumpuk di otaknya


"Pusing kenapa?" tanya Luky dengan seyum lembarnya. Sembari menguyah permen karet.


"Di rumah, masa istri gue pecat pembantu." Rudi menghelap nafas panjang.


"Loh ko bisa, bukanya Ami butuh pembantu yah?" Lelaki bertubuh gendut itu heran dengan perkataan sahabatnya itu.


"Yah, mana mungkin gue bohong. Kasian ibu gue kan harus ngurus dia. Tau sendiri Ibu kurang suka sama Ami."


"Lah jangan gitu. Bagaimana pun Ami itu istri loe. Yah kalau ibu mertua loe gak kebaratan yah, enjoy ajah."


"Jusru itu, semakin gue enjoy semakin gak tenang."


"Yah elo santai aja kali."


Rudi mengeleng-geleng kepala, takut kenapa-napa dengan Ami.


"Yang gue gak tenang ibu gue takut nyakitin Ami, istri gue."


"Yah loe ko berpikiran gitu sama ibu loe sendiri. Yah masa sih ibu loe tega, mempelukan Ami. Kan Ami buta."


"Asal loe tau, terlihat sekali ibu seakan tak ikhlas meminta maaf, raut wajahnya masih ada kekesalan pada istri gue. Dan membuat pikiran gue gak tenang sekarang."


"Lah, hidup loe. Banyakan pusing. Sudah lah, kalau nanti loe pulang. Tanya sama Ami ibu loe suka nyakitin dia gak."


"Mana mungkin, tau sendiri Ami wanita yang tidak suka mengadu."


"Gue pusing dengar cerita loe. Lebih baik gue pergi ke meja kerja gue." Luky melambaikan tanganya.


Mambuat Rudi bergidik ngeri. "Dasar sinting." Gumam Rudi dalam hati.


Di sisi lain Rudi sangat kuatir dengan ke adaan istrinya, yang tidak bisa melihat saat ini, gimana keadaan Ami sekarang yah. Pertanyaan itu yang selalu ada di benak Rudi.


************


Tring ... Tring ...


Ada vidio. Loh ini kan rekaman cctv di rumah. Ada apa yah? ucap Rudi dengan memencet layar Hp.


Sesaat di buka. Sisi datang menghampiri Rudi.


"Mas, Rudi. Sekarang kamu sudah sukses yah?" tanya Wanita berwajah bulat itu dengan mencuil dagu Rudi.


"Sisi, aku gak suka kamu begini, sebainya kamu pergi."


"Ayolah sekali ini."

__ADS_1


Rudi langsung mendorong Sisi ke luar kantor. Wanita berwajah bulat itu mengendus kesal.


__ADS_2