
Luky terlihat bingung siapa orang yang mengetuk jeruji besi penjara. Kedua bola mata berwarna coklat pekat itu, terus menatap lekat pada sosok seorang lelaki tua berdiri di hadapanya. Matanya seakan di penuhi dengan kebencian, Luky yang masih bingung dengan sosok orang itu, memberanikan diri untuk bertanya?
"Anda siapa?" berdiri melihat sosok lelaki tua itu.
"Saya adalah ayah dari pria muda yang telah kamu bunuh!" jawaban lelaki tua di hadapanya. Sontak membuat Luky ketakutan, tangannya bergetar hebat.
Hatinya terus bertanya-tanya. Ada apa dia datang dengan keadaan marah seperti itu? Apa dia mau memberatkan hukuman kepadaku?
"Kamu ketakutan?" pertanyaan itu mulai terlontar dari lelaki tua yang tak lain adalah ayah Fairus.
"Kenapa? Kamu diam!" satu pertanyaan lagi terlontar. Luky yang membekam di penjara bingung dengan pertanyaan sang ayah Fairus.
"Ayo bicara," teriak sosok lelaki tua itu. Membuat kepala Luky menunduk, pandangannya melihat kearah bawah. Seakan tak sanggup harus menatap dan menjawab pertanyaan Pak Husen.
Mulut lelaki bertubuh gendut itu, memberanikan untuk berbicara walau hanya satu atau dua kata saja. Yang terpenting bagi diri Luky. Adalah sebuah jawaban dari mulut dirinya.
"Maafkan saya, tuan!" Mendengar tutur kata maaf dari Luky, Lelaki tua itu semakin marah dan murka. Kedua tanganya mengepal erat.
"Apa dengan kata maaf bisa menghidupkan lagi anakku, yang telah mati," ucap Pak Husen. Lelaki tua itu memegang erat jeruji besi, menatap penuh kebencian pada Luky yang tertunduk kesal.
Lelaki bertubuh gendut itu seakan pasrah dengan keadaannya selama ini, kalau pun Pak Husen menyuruh untuk menghukum lebih berat lagi. Luky seakan sanggup menerima semuanya. Tutur kata dalam hati Luky.
Debaran jantungnya kini kian resah, ketidak pedulian hidupnya kini telah sirna, untuk apa hidup kalau sudah menjadi hina seperti ini. Perkataan itu kian terlontarkan lagi dalam hati kecil Luky.
"Kenapa diam?" tanya Pak Husen. Matanya merah itu terlihat oleh Luky, Pak Husen menangis seharian meratapi kepergian anaknya.
"Ayo jawab?" Getaran jeruji besi yang Pak Husen genggam. Membuat nyali Luky seakan menciut.
Lelaki bertubuh gendut itu, meneteskan air mata dari pelipih matanya, hingga air mata itu jatuh. Pada kue yang ada di hadapannya.
"Semoga kamu membusuk di penjara. Lelaki pembunuh!" Pak Husen pergi dengan amarah yang mengebu-gebu. Luky yang mendengar tutur kata lelaki tua yang pergi dengan raut wajah kebencian. Segera memeluk bingkisan kue dia bawah lantai seraya berkata," maafkan ayah yang tidak akan pulang-pulang ke rumah menengok kalian anak-anakku."
Tangisan Luky pecah, seketika ia sadar kejahatan tidak akan selamanya abadi. Begitu pun balas dendam, bukan membuat kita puas, malah membuat kita sengsara dalam kubangan penyesalan.
__ADS_1
***************
Di sisi lain, wanita berwajah bulat itu. Berusaha ingin melarikan diri. Meraih satu pisau yang ada di pinggirnya, tapi tetap saja tidak berhasil. Sisi berusaha sekali lagi dan berhasil, ikatan tali yang merekat pada tubuhnya berhasil ia lepas begitu saja.
Membawa pisau tajam itu sewaktu-waktu untuk jaga-jaga jika Pak Hendra datang secara mendadak.
Pintu hotel terkunci rapat dia bingung harus bagaimana.
"Aku melihat Sisi, melihat kamu sudah terbebas dari ikatan tali yang telah mengikat tubuhmu," ucap seseorang yang tak lain adalah Pak Hendra. Sisi terus mencari sumber suara itu, melihat ada dimana kah Pak Hendra sekarang.
Ketika mengikuti suara itu ternyata suara itu terdengar dari sudut ruangan, alat kecil yang telah di pasang oleh Pak Hendra. Ternyata Pak Hendra berada di luar ruangan merekam Sisi di dalam kamar hotel itu.
"Halo Sisi, bagaimana apa kamu sudah memikirkan semuanya?" tanya Pak Hendra. Membuat Sisi mengobrak abrik kamar itu.
"Mana ada, aku tidak mau menikah dengan lelaki tua bangka macam kamu Pak Hendra!" teriak Sisi.
"Baiklah kalau begitu. Tunggu Ami dan Rudi datang meyeredmu," ucap Pak Hendra.
Sisi setengah kebingungan apa yang harus ia perbuat saat itu. Menjambak rambutnya dengan kedua tangan, seakan prustasi dengan semuanya.
Tawa kemenangan pada diri Pak Hendra kini menjadi kebahagian luar biasa. Selama ini Pak Hendra selalu mengiginkan Sisi, karna lelaki tua bangka itu sudah tertarik dari dulu.
"Baiklah sekarang kamu buang pisaumu itu, aku akan datang ke sana menjemputmu."
Sisi melemparkan pisau yang ia pengang, Saat itu pintu terbuka. Pak Hendra memeluk erat Sisi dengan rasa bahagia.
Tanpa menunggu lama, Pak Hendra membawa Sisi untuk segera melangsungkan acara pernikahanya, tanpa istri dan sang anak tahu. Wanita berwajah bulat itu seakan jijik jika di setuh oleh Pak Hendra.
Pergi ke bali melangsungkan pernikahan yang terbilang sederhana, saat malam pertama pun. Sisi enggan bila harus tidur bersama suaminya.
"Kalau kamu belum siap tidur bersama ku. Aku akan sabar menunggumu istriku," ucap Pak Hendra mencuil dagu istri barunya.
Sisi yang mendengar ucapan itu membuat dirinya mencabik bibir. Membanting semua perhiasan yang melingkar pada tanganya, mengacak-ngacak gaun pengantin yang ia pakai.
__ADS_1
"Ahk, kenapa hidup ku, seperti ini?" ucap Sisi terduduk di ranjang pengantin.
Bunga mawar merah menghiasi kamar pengantinnya, terlihat sangat indah. Harum bunga mawar bertebaran pada hidung Sisi. Harum bunga mawar itu tak mampu membuat pikiran Sisi tenang.
Mengobrak abrik setiap mawar yang melingkar mengambarkan kata Love. Membuat dia semakin jijik.
Menangis sekeras mungkin, dia tahu tidak ada orang yang akan mendengarkan tangisanya saat ini juga.
"Ahk, sekarang aku hancur!"
Saat Pak Hendra tengah menikmati pemandangan pantai, seseorang tiba-tiba menelpon.
"Halo, Alan ada apa?" tanya Pak Hendra dalam sambungan telepon.
Alan tak menjawab sama sekali. Tiba-tiba, " Berarti benar ini papahkan," ucap Alan. Yang sudah berada di hadapan Pak Hendra.
"Sejak kapan kamu ada di sini Alan?" tanya Pak Hendra. Ada gelagat mencurigakan dari dirinya, membuat Alan susah menebak. Kenapa dengan papahnya?
"Justru Alan nanya sama papah, ngapain ada di sini?"
Pertanyaan Alan, membuat Pak Hendra bingung untuk menjawab semuanya. Karna Alan begitu datang tiba-tiba. Delia yang mengekor dari belakang Alan, penasaran dengan mertuanya. Ia memberanikan diri bertanya pada Pak Hendra." Apa papah, tahu Sisi ada di sini?
Pak Hendra semakin bingung ia berbisik dalam hati, pertanyaan macam apa lagi. Kenapa Delia tahu
keberadaan Sisi.
"Maksud kalian apa? Papah enggak mengerti, papah di sini hanya ingin liburan saja!" jawab Pak Hendra wajahnya datar. Alan sedikit curiga karna telihat raut wajah papahnya yang seakan menyebunyikan sesuatu.
"Liat pa!" Delia menunjukan ponselnya dimana ponsel itu tersambung dengan ponsel Sisi.
Ternyata anak-anakku tengah menyelidiki keberadaan Sisi bagaimana ini? gumam hati Pak Hendra.
Saat itu Sisi tiba-tiba keluar, Pak Hendra bingung bagaimana kalau anak-anaknya tahu. Sisi berada bersama Pak Hendra.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi?