
Dodi yang sudah menyelesaikan doa di setiap sujud, ia mulai merapikan sajadah dan kembali lagi untuk tertidur. Bersama sang nenek dimana sang nenek berlari dan berpura-pura lagi tertidur.
Dodi mulai merebahkan tubuhnya kembali lagi untuk tertidur, sang nenek yang berpura-pura tidur mulai membuka mata melihat kedua mata cucunya begitu terlihat bengkak karna sisa tangisan dalam setiap doanya.
******
Ami yang berada di rumah sakit mulai bertanya kepada suaminya," sayang tiga hari lagi kan, acara pernikahan kita. Nah, nanti di acara pernikahan kita. Aku tidak mau ada anak itu lagi."
Deg ....
Perasaan Rudi mulai tak karuan, ketika Ami berkata seperti itu. walau dia hilang ingatan tapi bagaimanapun Dodi adalah anak kandung Ami.
Rudi mulai bingung menjawab perkataan Ami, ia harus berkata apa lagi. Ingatannya hanya mengingatkan dimana masa-masa Ami dan Rudi sedang berpacaran dan mulai melangsungkan pernikahan.
Memijat sedikit kening kepalanya, ada rasa pusing yang terus melingkari otak Rudi. Bagaimana tidak menanggapi Ami yang hilang ingatan dan tidak mengingat sama sekali anaknya sendiri.
kalau Rudi mengingatkan tentang Dodi kepala Ami pasti akan terasa sakit.
Cobaan yang dihadapi Rudi begitu berat, membuat satu tekanan pada hatinya. Dirinya seakan merasakan beban yang begitu berat di mana Dodi yang merasakan sakit hati dengan perubahan ibunya yang seperti ini.
Apa yang harus dikatakan lagi Rudi kepada Dodi, hati Rudi sudah rapuh. Iya tak sanggup lagi menyakiti hati anak kecil seperti Dodi.
"Sayang, kamu ko melamun?" tanya Ami dengan kepolosannya.
Rudi tersenyum seraya berkata," ya. Sayang, aku turuti apa kemauan kamu!"
" Oh, ya. Gimana kabar Ibu kamu, Ibu Sarah."
Ami bertanya tentang Bu Sarah, mertua Ami yang sangat kejam, dan orang yang membuat pikiran Ami sekalu stres, di mana Ami selalu tersiksa ketika menikah dengan Rudi apalagi dalam keadaan hamil dan juga melahirkan Dodi, banyak siksaan dan sakit hati yang diterima Ami dari Bu Sarah.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku. Sebenarnya Ibu Sarah sudah meninggal!" jawab Rudi. Seketika Ami tertohok kaget.
"Kamu tidak bohongkan, sayang?" tanya Ami yang masih tak percaya.
"Aku serius sayang!" jawab Rudi.
Ami terdiam pilu mulutnya seakan keluh.
Rudi langsung mengusap pelan pipi istrinya dan berkata," sudah jangan di pikirkan lagi. Semua sudah menjadi takdir. Sekarang kamu tidur lagi, sudah jam 1 malam loh, kamu gadang terus."
Ami mulai meneruskan tidurnya, ia bermimpi seorang anak kecil yang menangis tersedu-sedu kakinya mulai melangkah pelan. Menghampiri anak kecil itu.
"Kenapa anak itu menangis."
Baru beberapa langkah Ami mendekat kearah anak kecil yang sedang menangis tersedu-sedu. Saat itu kakinya tiba-tiba terasa berat, ia seakan berjalan dengan beban yang ia panggul pada punggungnya.
Tangan Ami ingin sekali meraih bahu anak kecil itu, menenangkan di setiap tangisannya. Hatinya terasa sakit, pilu. Bagaimana Ami bisa meraih bahu anak itu, Sedangkan dirinya begitu jauh.
"Dek, kamu mau kemana," teriak Ami. Tidak ada jawaban dari sang anak, dia terus melangkahkan kaki menjauh entah pergi kemana, dengan sekuat tenaga Ami mulai berjalan berlari menghampiri anak kecil itu.
"Siapa sebenarnya anak kecil itu?"
Sampai dimana Ami terbangun dari tidurnya, bayangan anak kecil itu hilang seketika. Membuat Ia terduduk di ranjang tempat tidur, sedangkan Rudi tengah menyandar pada sofa dan tertidur begitu pulas.
Wanita berbulu mata lentik itu menatap ke arah jam, melihat ternyata masih pukul tiga malam. Ami Masih memikirkan anak kecil yang tengah menangis tersedu-sedu, hatinya terasa sakit. Seakan dirinya mempunyai ikatan batin yang sangat kuat pada anak itu.
"Kenapa aku mengingat anak yang bernama Dodi, ya. Padahal jika aku bersentuhan dengannya kepalaku seakan sakit. Ya Tuhan, sebenarnya ada apa dengan semua ini."
Ami mulai kembali lagi melanjutkan tidurnya, mengistirahatkan kedua mata. Ia mulai memejamkan kedua matanya lagi, sosok bayangan anak kecil itu datang lagi. Wajahnya dipenuhi dengan cahaya, sampai mata Ami yang melihatnya pun. Seakan sakit, karna cahaya yang seakan merusak pada kedua mata Ami.
__ADS_1
" kamu siapa dek?" tanya Ami menutup kedua matanya karena cahaya yang terus menyinari wajah.
"Buka hati dan rasa kasih sayangmu, sebagai seorang ibu," ucap anak laki-laki itu. Ia membalikkan lagi tubuhnya pergi meninggalkan Ami sendirian.
Sampai tiba Ami terbangun lagi, keringat dingin mulai bercucuran pada dahi dan juga tubuh Ami.
" Ya Tuhan, aku bermimpi lagi untuk kedua kalinya. Ada apa sebenarnya dengan diriku, siapa sebenarnya anak itu."
Rudi tersadar dari tidurnya, ia segera menghampiri Ami yang sudah duduk di atas ranjang tempat tidur.
"Sayang kenapa kamu sudah bangun. Ini masih jam empat subuh loh."
Ami memegang kepalanya ia mulai merasakan rasa pusing," aku bermimpi seorang anak kecil mendekat ke arahku. Wajahnya begitu bercahanya, aku menatapnyapun begitu susah, anak itu mengisaratkan sebuah kata-kata bermakna bagiku."
"Sudah lupakan, itu hanya sebuah mimpi, tak usah dipikirkan nanti kamu sakit lagi loh."
Ami hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia mulai membaringkan lagi tubuhnya. Rudi dengan Sigap menutup tubuh sang istri dengan selimut mencium keningnya dan berkata," jangan terlalu memikirkan apa yang tidak ada kaitannya dengan dirimu ya sayang."
Ami mulai memejamkan matanya, namun rasanya begitu susah. Kedua matanya seakan berat, bayangan anak itu terus menghantui pikirannya. Hatinya terus berbisik," apa aku harus mencari tahu, tentang anak itu. Tapi bagaimana bisa, sedangkan aku masih terbaring di rumah sakit ini. Dan sebentar lagi Hari pernikahanku bersama Rudi.
Rudi yang duduk di atas sofa menatap dari kejauhan wajah istrinya.
Rudi Sempat berpikir," apa Ami bermimpi anaknya sendiri."
Rudi hanya bisa mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. Seraya berkata," mudah-mudahan mimpi itu tidak mengganggu Ami." Rudi berharap mimpi itu mendatangkan kebaikan untuk istrinya dan membuat Ami bisa sayang lagi terhadap Dodi.
Mengingat kenangan yang sudah lama ia jalani bersama anaknya, dari susah, senang. Duka, kesedihan dan rasa sakit dari sang Ibu yang tak lain Ibu Sarah.
Rudi mengerti saat ini, Mengerti akan hal yang membuat wanita selalu terbebani banyak pikiran di mana Ia mengurus seorang anak dan juga pekerjaan rumah. Apalagi dengan penyakit yang diderita Seorang Istri belum lagi beban dari seorang mertua. yang memang tak mengerti keadaan seorang menantu.
__ADS_1
Begitu hebatnya seorang wanita bisa menanggung beban lebih berat dari pada seorang lelaki. wanita tangguh ialah wanita yang selalu sabar dalam menghadapi setiap ujian.
Air mata Rudi seketika menetes, melihat perjuangan istirnya yang selalu sabar. Dia berkata dalam hati," aku adalah lelaki bodoh jika harus meninggalkan wanita sebaik Ami."