Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 185 Ketegasan Putra


__ADS_3

Pagi hari, rutinitas mulai dijalani. Kini Ane mulai berangkat bekerja, ia seakan terburu-buru sekali. Padahal waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.


Putra yang sudah bersiap-siap membawa anak-anak pergi untuk jalan-jalan. Memanggil sang istri secara mendadak.


“Bunda.”


Ane terus berjalan dengan tergesa-gesa sembari menatap layar ponselnya, sampai panggilan Putra terabaikan.


“ Bunda, kenapa berangkat pagi sekali. Apa kamu punya janji dengan lelaki bernama Deni,” ucap Putra pada Ane.


Deg ....


Langkah Ane terhenti secara tiba-tiba, kedua matanya mulai berhenti menatap layar ponsel. Ane kini membalikkan badan mendekat ke arah Putra. Yang berdiam diri mematung menunggu penjelasan dari sang istri. Untuk berkata jujur.


“ Ayah ngomong apa? Kenapa ayah berbicara seperti itu?”


Ane seakan kesal dengan ucapan sang suami, yang spontan mengucapkan nama Deni.


“Benar kan apa yang dikatakan, ayah!”


Ane menelan ludah, tak percaya dengan perkataan Putra yang tahu akan masalahnya.


Putra perlahan mendekat ke hadapan Ane, memegang kedua tangan sang istri,” berkata jujurlah padaku Ane. Aku tidak akan marah.”


Ane melepaskan kedua tangan Putra, ia berucap dengan sedikit membentak,” apa maksudmu, Aku tidak mengerti.’


Kata-kata sapaan kasih sayang kini lenyap sudah, saat kedua insan tengah memendam emosi. Satu sama lain.


“Aku hanya ingin menuntaskan masalah kamu, menyelesaikan secara baik-baik. Aku berhak tahu karna aku suamimu,” ucap Putra.


Ane memijit kepalanya, dan membalas dengan nada sedikit kesal,” aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan. Sekarang aku mau berangkat bekerja.”


Di mata Ane Putra seperti sosok orang yang tak pernah ada, Iya lebih baik memendam masalahnya sendiri daripada mengatakan kepada Putra apa yang sedang ia hadapi saat ini.


Namun Putra tak berputus asa dengan apa yang ia lakukan, Iya langsung memegang lengan sang istri agar tidak pergi begitu saja.


“ Cepat katakan yang sejujurnya. Kamu ini sudah janjian dengan lelaki bernama Deni, dan semalam. Wanita yang bersama kamu itu bukan sahabat kamu.”


Ane tak menyangka jika Putra tahu semua rahasia yang dia sembunyikannya.


“ Dari mana kamu tahu?”


Kini Ane mulai bertanya kepada sang suami, dengan nada sedikit meninggi.


“ Aku sudah tahu semuanya. Dari semalam saat melihat ponsel kamu, Ane.”

__ADS_1


Ane mulai menatap tajam kearah Putra, seraya berkata,” lancangnya kamu. Sudah berani membuka ponsel pribadi orang.”


Ucapan Ane, membuat Putra sedikit kesal. Putra mulai berucap dengan tegasnya.” Ane, aku tanya sama kamu. Aku ini di mata kamu ini sebagai apa?”


Ane terdiam, tak menjawab pertanyaan Putra. Bibirnya keluh saat Putra berkata sedemikian.


“ Ane, cepat jawab. Aku ini kamu anggap apa?”


Ane malah melepaskan tangan Putra, ia mulai menunjuk sang suami dengan perkataan yang sedikit tak pantas.” Aku ingatkan. Pernikahan kita hanya keterpaksaan orang tua, jadi kamu jangan ikut campur masalahku.”


Telunjuk tangan yang menunjuk wajah Putra, kini Putra raih dan ia genggam erat.” Keterpaksaan, apa kamu tidak pernah berpikir, selama kita menikah kamu bahagiakan. Hingga kamu melahirkan anakku.”


Deg ....


Wajah Ane memerah, dalam lubuk hatinya ia memang merasakan rasa kehangatan dari Putra. Tapi ia belum paham kehangatan itu masih di bilang cinta atau bukan.


“ kenapa kamu diam, Ane?” Tegas Putra.


Ane menundukkan pandangan ia seakan malu dengan dirinya sendiri. Yang memikirkan orang lain tanpa memikirkan keluarganya sendiri.


“ Aku ini suami kamu. Walau dalam keterpaksaan, tapi aku sudah sah menjadi imam kamu. Kenapa kamu tidak pernah menghargai aku sebagai suami kamu.”


Ane tak tahu harus berkata apa, tiba-tiba air matanya menetes secara perlahan mengenai pipi. Tanpa Putra sadari.


“ Jika kamu punya masalah bicaralah. Kamu mau merelakan tubuh kamu untuk lelaki bernama Deni, apa kamu tidak malu dengan kedua putrimu.”


Satu tamparan mengenai pipi Putra, Ane tak sadarkan diri, ia tak terima dengan ucapan Putra hingga menampar Putra tanpa sadar.


“ Kamu tampar aku.”


Putra mulai memegang tangan Ane, menempelkan pada pipinya beberapa kali.


“ Ayo tampar aku lagi.”


Ane terdiam, ia menangis. Hatinya terasa sakit. Putra yang tak tega melihat Ane menangis, ia langsung memeluk sang istri dengan pelukan kehangatan.


“ Maafkan aku. Ane.”


Ane terhanyut dalam pelukan Putra, kedua tangannya kini mulai merespons pelukan sang suami.


Putra tak henti mencium kepala Ane dengan ciuman penuh pengertian.


“ Kita selesaikan masalah ini berdua ya.”


Ane mulai menganggukkan kepala, pada dada bidang Putra.

__ADS_1


“ Coba kamu jujur padaku Ane. Siapa Deni itu, ada maksud tujuan apa dia sampai mengancammu seperti itu.”


Ane langsung mengatakan semuanya, Putra yang terus mendengarkan ucapan Ane kini mengerti dan tak salah paham lagi.


Putra mulai melepaskan pelukan Ane, ia mengusap pelan kedua pipinya. Yang sudah basah dengan air mata.


" Bunda tenang dulu, Ayah akan bantu jalan ke luar untuk permasalahan ini,"


ucap Putra. kini Ane seakan tenang, hatinya tak lagi terasa terbebani. suaminya yang ia tak cintai mengerti akan dirinya.


kebahagian Ane begitu lengkap. Ia hampir saja membuat kebahagiaan dirinya sendiri lenyap hanya karna ke egoisan.


" Maafkan aku putra. Aku tak tahu jika kamu tidak menyelidiki semuanya, mungkin aku sudah menghianati pernikahan kita."


" Hey, Bunda ngomong apa? Harusnya ayah sebagai suami lebih memperhatikan istri sendiri."


tawa kini terukir dari senyuman kedua Insan yang tengah merasakan rasa cinta yang seakan tumbuh secara mendadak.


kesabaran Putra kini membuahkan hasil, sang istri mulai membuka hatinya.


"Aku berjanji akan menjadi istri yang lebih baik lagi."


Putra tersenyum di kala mendengar Ane berkata seperti itu, Iya tak menyangka jika anda akan berubah sederastis ini.


Dalam hati Putra berucap," terima kasih tuhan telah menyatukan cintaku."


kedua anak kecil saling berlarian menghampiri Ane dan Putra.


mereka saling tertawa satu sama lain.


" Cie bunda, ayah. Pelukan enggak ngajak kita berdua."


mendengar ucapan sang anak Putra langsung menarik kedua anak mereka memeluk dengan penuh kasih sayang.


" Sirik aja nih. "


Ane mulai menyadari bahwa cinta terbesar itu adalah keluarga, Iya terlalu banyak menolong orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri dan juga keluarganya. iya lupa dia juga harus membahagiakan sang suami dan kedua putrinya.


mengusap pelan wajahnya, Anata mau tangisannya terlihat oleh kedua putrinya.


kedua putrinya kini mulai menghampiri sang ibunda, yang berdiam diri menatap kebahagian di depan mata.


"Bunda, ayo kita jalan-jalan sama-sama. sudah lama kita enggak kemana-mana sama-sama. Kaka dan adek bosen jalan-jalan sama ayah," rengekan kedua putra Ane membuat Ane tersenyum dan menjawab.


" Loh, kok gitu emang Ayah kenapa?" tanya Ane mengusap kepala kedua putrinya.

__ADS_1


Kedua putrinya langsung membisikan sesuatu pada sang ibunda. membuat Ane tertawa terbahak-bahak. sedangkan Putra mulai mengelitik kedua putrinya. Berlarian saling mengejar.


" Ayo ngomong apa ke bunda. ayah cubit nih."


__ADS_2