
Setelah Sarah berhasil memukul Suster itu, dia perlahan membuka baju Suster itu. Menggantikannya dengan baju yang ia pakai, pada saat itulah ia membaringkan tubuh suster ke atas ranjang yang ia tempati.
“Hahha, dasar suster lemah.”
Setelah berhasil membopong tubuh Suster itu, dan menidurkannya di atas ranjang. Jenis arah mulai memakai masker untuk menutupi wajahnya, agar suster dan para perawat tidak mencurigai gerak-gerik nya.
Sarah perlahan membuka pintu ruangannya untuk keluar, dia melangkah maju secara perlahan bersikap seperti suster pada umumnya.
Perawat di sana menyapa Sarah, di mana Sarah hanya mengagukkan kepala tanpa berucap.
Namun betapa kagetnya Sarah pada saat itu, seseorang menepuk bahunya. Membuat ia menatap ke arah belakang. Dan ternyata itu adalah salah satu suster yang tak lain teman dari suster yang seragamnya di pakai Sarah.
“Tiara, kamu ada di sini. Kita makan siang yuk.”
Sarah mulai menolak ajakan Suster itu,” maaf aku buru-buru. Sebaiknya kamu duluan saja, nanti aku nyusul ke sana.”
“mm, benarannya.”
“Iya.”
Untung saja Suster itu tak mencurigai gerak-gerik Sarah, Iya langsung mengusap pelan dadanya. Suster itu pergi begitu saja.
“Untung saja penyamaranku tak di ketahui wanita itu.” Sarah mulai berjalan secara perlahan, IYa berusaha keras untuk berjalan seperti biasa. Walau dengan terpaksa, karna luka pada perutnya belum membaik seutuhnya.
Sarah masih bersyukur bahwa bayi dalam kandungannya tidak mengalami apa-apa.
Setelah sampai di rumah sakit, hatinya sangatlah lega. Sarah mulai mencari taksi yang melintas di depan matanya.
Sedangkan Rudi yang baru sampai di rumah sakit, melihat seorang suster yang mencurigakan naik ke dalam taksi.
“Kenapa wanita itu seakan tak asing bagiku?” tanya Rudi dalam hatinya.
Ia sengaja membawa Dodi, sekalian untuk menemui Sarah menegur wanita yang licik itu.
“Papah kenapa?” tanya Dodi.
Seketika Rudi langsung menatap kearah anaknya yang bertanya,” tidak sayang. Papah hanya melihat orang yang mencurigakan!” Jawab Rudi.
“Mana, pah.”
Ketika Dodi berucap ingin melihat orang yang dicurigai sang papah, kini Rudi mulai menunjuk ke arah taksi yang ternyata sudah tidak ada. Taksi itu melaju cepat dari apa yang Rudi bayangkan.
“Mana, pah.”
“Taksinya sudah pergi, ya sudah ayo kita ke luar mobil. Bisa saja papah asal menebak saja.”
__ADS_1
Pada saat itulah Rudi dan Dodi mulai turun dari dalam mobil, mereka bergegas menemui ruangan di mana Sarah dirawat.
“Sus, pasien bernama Sarah di rawat di mana ya?” tanya Rudi.
“Oh, pasien Sarah. Ada di ruangan nomor 17!” jawab sang suster.
“ Terima kasih, sus.”
Dengan tergesa-gesa Rudi mulai mencari ruangan, di mana Sarah Tengah dirawat. Bibir-nya sudah tak tahan lagi ingin berkata tentang fitnahan yang di buat-buat oleh Sarah, dengan langkah yang semakin cepat. Pada saat itulah Rudi menemukan ruangan nomor 17. Dimana ruangan itu ditempati oleh Sarah.
Sementara waktu Rudi menyuruh Dodi untuk menunggu di depan ruangan, ya takut jika Dodi shock berat mendengar sang ayah memarahi Sarah.
“Dodi, kamu tunggu dulu sebentar, ya. Papah mau menemui teman papah dulu.” ucap Rudi pada sang anak, saat itulah Dodi hanya menurut. Menganggukkan kepala menunggu di depan ruangan dengan duduk.
Rudi langsung menghampiri Sarah, yang terbaring di rajang tempat tidur. Dengan selimut yang menutup tubuhnya,” Sarah ternyata tengah tertidur.”
Karena tak tahan lagi pada saat itulah Rudi memberanikan diri membangunkan sarah, ia sudah tak tahan lagi dengan kelakuan Sarah dan juga cara licik sarah saat ini.
“Sarah, bangun.”
Saat itu tubuh sarah berhadapan ke arah samping, membelakangi Rudi yang memanggil manggil namanya. Mengusap kasar wajahnya, Rudi kesal karena sarah tak mau bangun juga dari tidurnya.
Hingga tangannya membalikkan tubuh sarah yang menyamping membelakangi tubuh Rudi.
Betapa kagetnya Rudi saat itu, wanita yang ia panggil ternyata bukanlah sarah. Wajahnya berbeda sekali,” Dia bukan Sarah.”
Wanita itu terbangun dengan memegang kepala belakangnya yang terasa sakit, melihat di hadapannya seorang lelaki yang menatap dirinya penuh kesal.
“Ke mana, Sarah?”
Rudi mulai bertanya pada wanita yang baru saja bangun dari tidurnya, pertanyaan Rudi membuat wanita itu mengerutkan dahinya.
“Kamu siapa?”
Tanya sang suster pada Rudi.
“Kenapa kamu malah bertanya balik, ke mana pasien bernama Sarah?” ucapan Rudi semakin meninggi, membuat ia membentak sang suster yang baru saja bangun.
Sang suster menatap ke arah samping kiri, ia melihat dirinya memakai baju pasien.
“Kenapa aku ada di sini?”
Tanya sang suster pada dirinya sendiri, dia mulai mengingat kejadian tadi pagi. Dimana dirinya dipukul oleh Sarah pasien yang tengah ia tangani.
Suster itu turun dari ranjang, membuat Rudi menahan lengannya saat itu,” Kenapa saat aku bertanya Kamu malah diam.”
__ADS_1
Suster itu masih bingung dengan keadaannya saat ini, sampai di mana salah satu suster datang ke ruangan Sarah.
“Suster Tiara kenapa kamu masih ada di sini?” tanya salah satu sahabat sang suster yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Iya begitu heran melihat baju suster Tiara berganti menjadi baju pasien.
Suster Tiara masih kesakitan dengan kepalanya, ia perlahan mulai berkata kepada sahabatnya itu,” entahlah tadi pagi aku masih menangani pasien Sarah. Tapi tiba-tiba saja aku mengingat di mana kepalaku di pukul dari arah belakang.”
Jawaban sang suster Tiara membuat sahabatnya seakan curiga,” sepertinya pasien yang ada di ruangan ini ini. Kabur.”
Deg ....
Rudi yang mendengar percakapan mereka sekarang Mengerti, bahwa Sarah sudah menukar bajunya dengan suster yang menanganinya.
“Sarah, kabur.”
Pada saat itu Rudi mulai keluar ruangan tanpa berucap sedikit kata pun, sahabat suster Tiara langsung membantu Tiara. Untuk beristirahat sejenak, ia akan melaporkan semua yang terjadi.
“Ini tidak salah lagi, wanita yang tadi memakai baju suster menunggu taksi datang sepertinya itu Sarah.” Gerutu Rudi.
Dodi yang menunggu di luar ruangan, langsung menatap ayahnya yang baru saja keluar ruangan.
“ Ayo Dodi sebaiknya kita cepat pergi dari sini.”
Dodi yang hanya sebagai anak kecil hanya bisa menuruti Apa perkataan ayahnya.
Mereka tergesa-gesa langsung masuk ke dalam mobil, Rudi yang mulai mengendarai mobil berucap dalam hati,” kenapa bisa suster di rumah sakit ini kecolongan.”
Rudi pada mau kehilangan jejak Sarah saat itu, dirinya harus menemukan Sarah bagaimana pun juga.
“Sarah, sepertinya kamu ingin mengelabuiku saat ini. Lihat saja jika nanti kamu aku temukan.” Gumam hati Rudi.
@@@@@
Para suster yang berada di rumah sakit langsung melaporkan semua kejadian yang terjadi, Dimana mereka melaporkan kepada polisi. Dengan sebuah bukti rekaman CCTV yang berada di rumah sakit.
“ Tiara, Bagaimana keadaanmu sekarang, sakit kepalamu sudah mulai membaik?” tanya sang sahabat yang masih merasa kuatir.
“Lumayan Yul,” balas Tiara.
“ pantas saja tadi aku ajak kamu ke kantin kamu menolak begitu saja, ternyata yang tadi aku tanya itu pasien Sarah yang memakai seragam kamu, Tiara,” ucap Sang sahabat.
“Iya, aku juga tak tahu jika pasien yang aku rawat nekat kabur dengan cara yang licik,” balas Tiara.
“ Aku berharap pasien Sarah dapat ketemu dengan lebih cepat, karna dia adalah tahanan dari kantor polisi,” ucap sang sahabat. Yang bernama Yuli.
“Aku juga berharap begitu,” balas Tiara.
__ADS_1