
Tiga hari sudah berlalu di rumah sakit, Ami masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit pikirannya bingbang. dia ingin sekali bertemu dengan sang anak yang tak lain Dodi.
"Ke mana, Dodi?"
Hari demi hari Ami terus menanyakan keadaan Dodi kepada Rudi, membuat Rudi Tak Tahan Lagi ingin mengatakan yang sebenarnya yang sudah terjadi pada Dodi.
Rudi sedikit bingung, iya harus mulai darimana untuk mengatakan kejujuran tentang anaknya yang menjadi korban hilangnya pesawat yang ditumpangi Dodi saat itu.
"Pah, kemarin papa sudah janji mau bawa Dodi ke sini?"
Ami terus menekan Rudi, namun Rudi tetaplah diam tak menjawab pertanyaan sang istri saat itu.
"Apa Dodi kenapa-napa Pah?"
Tanya Ami dengan rasa kuatirnya.
Rudi memijit depan kepalanya ya sudah tak tahan lagi dengan pertanyaan Ami yang menyulitkan dirinya saat itu.
"Sudah, jangan tanya lagi ke adaan Dodi, mendingan sekarang mamah istirahat dulu ya. Sekarang kan sudah malam waktunya tidur."
Ucapan yang dilontarkan Rudi seakan tak membuahkan hasil untuk Ami, padahal Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, di mana waktunya Rudi harus beristirahat tapi malah terganggu oleh pertanyaan sang istri setiap waktu.
Rudi mulai mengusap kepala alami secara perlahan, menenangkan sang istri untuk cepat tidur.
"Pah, mamah ingin bertemu Dodi sekarang."
"Besok saja, ya."
"Besok terus dari kemarin."
Amii sedikit bernada kesal, Iya Sedikit memajukan kedua bibirnya tak berani menatap sang suami yang sudah terlihat kelelahan sekali, menunggu dirinya.
"Jangan marah gitu donk sayang. Papah janji akan pertemukan kamu dengan Dodi, tapi belum sekarang waktunya."
" Benar , ya. Pah."
"Iya benar, sekarang waktunya kamu tidur."
akhirnya Ami menurut juga terhadap Rudi, kini ia mulai menutup kedua matanya mengistirahatkan seluruh badan di atas ranjang rumah sakit.
sedangkan Rudi menunggu kami untuk terlelap tidur, hingga beberapa menit kemudian Rudi pun ikut tertidur dengan posisi duduk sembari menyandarkan punggung pada kursi.
Saat Ami sudah terlelap dalam tidur.
Tiba-tiba, ia ter bangun dari ranjang rumah sakit. Berjalan ke arah suara yang seakan tak asing pada telinganya.
"Seperti suara, Dodi?"
Ami melihat suaminya tertidur lelap disampingnya, ia tak berani membangunkan Rudi. tanpa ia sadari juga, Iya bisa berjalan begitu lancar mengikuti suara suara yang seakan meneriakinya.
"Mamah tolong."
"Dodi, apakah itu kamu? Nak."
Ami berusaha lari dengan sekuat tenaga mengejar suara itu, ia mencari sumber suara lolongan minta tolong kepada dirinya. yang di mana suara itu begitu jelas terdengar oleh kedua telinganya, suara Tak asing yang tak lain ialah suara Dodi.
"Ahkkkk ....."
teriakan itu begitu terdengar jelas, teriakan yang sangat menyakitkan kedua telinga Ami.
__ADS_1
"Dodi, tunggu mamah nak. Mamah akan segera datang ke sana."
saat kami berlari, tiba-tiba saja suara itu seketika hilang terdengar kembali.
kami terus berteriak memanggil-manggil nama Dodi.
"Dodi ini mamah nak, kamu di mana nak?"
Tidak ada jawaban, begitu hening. Rumah sakit yang seakan tak berpehuni sama sekali.
Kemana orang-orang, kenapa sepi seperti rumah sakit yang sudah tak terpakai. Gumam hati Ami.
Teriakan Ami terus terus bergeming di setiap ruangan, ruangan pasien begitu terlihat kosong.
"Mama ...."
"Dodi."
Ami berlari menghampiri Dodi yang sudah berada di depan mata," tunggu mamah nak. Mamah akan ke sana."
"Mamah."
Tawa sosok seorang wanita terdengar nyaring, membuat langkah Ami seketika berat.
Dengan sekuat tenaga pada akhirnya Ami bisa memeluk Dodi, terasa begitu diging tubuh Dodi, membuat Ami seketika melepaskan pelukannya.
"Kenapa tubuhmu dingin, nak?"
Wajah Dodi terlihat begitu pucat, tak ada senyuman sama sekali. "Kenapa dengan wajahmu, nak?"
Ami mulai memegang pipi Dodi perlahan, membuat tetesan darah tiba-tiba keluar dari mulut Dodi.
Ami seakan syok dengan Dodi yang mengeluarkan darah segar.
"To-lo-ng."
Dodi batuk seketika, tubuhnya lunglay terjatuh ke atas lantai. Membuat ia seketika muntah, mengeluarkan beberapa hewan kecil yang menggeliat.
"Nak, kamu kenapa?"
Dodi masih saja diam, mulutnya tak henti mengeluarkan darah segera. Tawa seorang wanita kini terdengar kembali, Langkah kaki semakin terdengar mendekat.
Membuat Ami menatap ke arah belakang, sosok wanita berambut panjang bermata bulat itu menatap lekat pada Ami.
"Biarkan anakmu bersamaku."
"Siapa kamu?"
Tawa itu benar-benar menyeramkan, membuat kedua kuping Ami serasa terbakar.
"Pergi, jangan ganggu anakku."
Wanita itu mendekat semakin dekat, membuat Ami menatap lekat ke arah wajah wanita itu.
Dodi memegang tangan Ami dengan kasar, membuat Ami melihat sang anak yang begitu terlihat kesakitan.
"Tolong Dodi."
"Nak, mamah pasti akan menolongmu, kamu tenang saja, ya."
__ADS_1
Tawa Wanita itu semakin kencang, ia seakan puas dengan kesedihan yang di rasakan Ami.
"Pergi dari sini, atau aku akan ...."
Ami berdiri, mencekik leher wanita itu. Namun wanita itu malah tertawa semakin kencang.
Kedua matanya keluar, membuat Ami langsung melepaskan tangannya.
"Mata."
"Aku tidak sebanding denganmu. Asal kamu tahu aku bukan manusia yang bisa kamu musnakan."
Deg .... Deg ....
Ami segera meraih tangan Dodi, membawa Dodi untuk berlari mejauh dari hadapan wanita itu.
"Dodi. Ayo kita pergi."
Ami berlari sekuat tenaga, berusaha membawa Dodi untuk segera menjauh. Dari hadapan wanita itu.
Entah kenapa rasanya begitu ringan, saat membawa Dodi pergi. Ami membalikan wajah ke arah belakang. Yang ia bawa hanyalah sebuah tangan Dodi yang sudah terbelah.
Ami seketika melepaskan tangan itu dan Menjerit.
Dodi masih menunduk, sedangkan tangannya sudah terpotong begitu saja.
"Do diiiiiiiii ....."
Napas Ami seketika naik turun, jantungnya berdetak tak karuan.
"Sayang .... bangun .... bangun."
Ami langsung membuka mata, melihat ke sekelilingnya, Rudi berada di sisinya dan begitu pun Pak Gunandi dan Bu Sumyati.
"Kamu kenapa sayang?"
Keringat dingin bercucuran, membuat Rudi mengelap-ngelap Keringat itu.
Semua orang menenangkan Ami seketika, mengusap punggung Ami.
"Kamu tenang dulu. Setelah tenang nanti cerita ke papah."
Ami masih terdiam, tatapan matanya kosong. Ia masih syok dengan apa yang ia lihat. Seperti nyata.
Bu Sumyati mengusap pelan rambut Ami dan bertanya kembali," kenapa sayang. Kenapa diam?"
Mulut Ami seakan keluh, ia bingung harus menjawab dari mana. Menatap ke arah depan. Bayangan wanita itu seakan muncul menakuti-nakuti Ami.
Ami menujuk-nunjuk ke arah pintu sembari berucap," Itu .... itu ...
Dodi."
"Apa mah?"
Rudi menatap ke arah pintu, tak ada apa-apa. Kenapa dengan Ami?
"Kamu tenang sayang."
Rudi langsung memeluk sang istri, membuat Ami seketika menjerit. Teriakan Ami tak henti-henti seakan Ami tak terkendali, Rudi meneteskan air mata, hatinya rapuh melihat tingkah sang istri.
__ADS_1