Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 329 Rencana jahat Deni


__ADS_3

Sang suster langsung bersujud meminta maaf di bawah kedua kaki palsu Deni. Memohon agar Deni tidak melaporkannya ke kantor polisi, apalagi menjebloskannya ke dalam penjara.


" saya mohon tuan, jangan Laporkan saya ke kantor polisi. saya akan lakukan apa saja, asalkan tuan tidak melaporkan saya ke kantor polisi."


Deni tersenyum, ia senang dengan suster yang begitu ketakutan akan ancaman darinya. " Ini kesempatanku." Gumam Deni.


Sang sahabat dari Suster itu hanya bisa menatap dari dekat, dirinya pun bingung tak bisa membantu apa-apa.


"Jangan bersujud, bangkitlah."


Perkataan Deni yang menyuruhnya untuk bangkit berdiri, ia lakukan. Dengan wajah yang masih menunduk, tak berani menatap kearah Deni.


"Apa aku tidak salah dengar. Jika kamu akan melakukan apa saja yang aku mau?"


Suster itu langsung menganggukkan kepala dan menjawab," iya benar tuan. Asalkan tuan tidak melaporkan saya ke kantor polisi."


"Oke kalau begitu aku tidak akan melaporkan kamu ke polisi, karna sembarangan mevideo orang tanpa izin," ucap Deni. membuat Suster itu langsung menatap ke arah Deni dan tersenyum seraya berucap," terima kasih, tuan."


"Ya, "


Deni mulai membalikan ponsel Suster itu, dan berkata," aku kembalikan ponselmu. Kamu harus melakukan apa yang aku printahkan sekarang juga."


Suster itu langsung mengerutkan dahinya dan bertanya pada Deni." apa yang harus aku lakukan, tuan."


"Gampang saja."


Deni langsung menyuruh Suster itu untuk mendekatkan telinganya pada Deni, sampai di mana Deni membisikan sebuah printah. yang di mana membuat kedua bola mata Suster itu membuat. Dan kaget.


"Bagaimana kamu bisa?" Tanya Deni.


Suster itu sangatlah ragu.


"Kenapa kamu diam saja, bagaimana. Kamu setuju apa tidak?" Tanya Deni.


"Baiklah, saya akan usahakan."


"Bagus. Akan aku tunggu cara kerjamu sekarang juga."


"Baik tuan."


kini Deni mulai memutarkan kursi rodanya, untuk segera kembali menemui Papa Ane yang sudah menunggunya dari tadi.


Ia sudah memerintahkan suster itu, untuk me jalankan tugasnya. Walau pun ada rasa tak yakin jika Suster itu akan berhasil.


Setelah kepergian Deni, yang sudah tak terlihat lagi. Suster yang bernama Lati kini mendekat ke arah sahabatnya yang bernama Ida, membuat rasa penasaran pada hati Ida untuk bertanya pada Lati.


" Sebenarnya kamu disuruh apa, oleh lelaki cacat itu?" Tanya Ida.


Lati seakan tak mau memberitahu apa yang di printahakan Deni, tapi mau tidak mau dia juga butuh bantuan Ida, agar dirinya bisa menjalankan printah Deni dengan benar.


"Setelah aku bercerita. apa kamu siap membantuku, da?" tanya Lati pada Ida sahabatnya itu.

__ADS_1


"Membantu apa?" tanya Ida dalam hati penuh ke raguan.


Saat itulah Lati mendekatkan mulutnya pada telinga Ida, membisikan sebuah rencana. Seketika Ida yang mendengar rencana itu langsung membulatkan kedua matanya. Mulutnya membuka lebar. Ia seketika menatap tajam ke arah Lati dan berkata," apa kamu yakin."


"Jika aku tidak melakukan semua ini, lelaki itu akan mengancamku. Memasukan aku ke dalam penjara," keluh Lati pada Ida.


"Ini terlalu berisiko, kalau kita gagal yang ada ....."


Belum perkataan Ida terlontar semuanya, Lati langsung menutup mulut Ida dengan jari tangannya. " kamu lihat, lelaki itu."


Lati menunjuk Alan yang tengah berjalan untuk keluar rumah sakit, " dia bukanyanya orang yang ada di video yang kamu rekam."


"Ya, itu kesempatan kita untuk menjalankan rencana, saat lelaki itu pergi kita bisa mengambil anaknya," ucap Lati.


Ida menelan ludah, ada rasa tak yakin. Karna semua tak semudah yang di bayangkan.


"Tapi, aku tak yakin."


" Sudah, kamu tak usah kuatir. Kita berdua pasti bisa."


"Baiklah."


mereka berdua langsung menjalankan rencana, yang di mana rencana itu akan di mulai lebih cepat.


Yang pertama masuk ke dalam ruangan adalah suster Ida, yang di mana suster itu mulai mengecek ke adaan Delia.


saat masuk ke dalam ruangan, suster Ida melihat Delia tengah terbaring tidur di ranjang rumah sakit dengan begitu nyenyak.


Suster itu langsung mendekat kearah bayi Delia, yang di mana bayi mungil itu tengah tertidur pulas. dengan perlahan suster Ida langsung menggendong bayi itu.


Namun, saat bayi itu ada dalam pangkuan sang suster, pada saat itu pula Delia tiba-tiba terbangun. melihat sang suster Tengah menggendong bayinya, membuat Iya langsung bertanya." Suster, ada apa dengan anakku?" tanya Delia.


Deg .... Hati suster Ida sangatlah kaget, saat Delia bertanya padanya.


"Haduh, gawat. Kenapa juga dia bangun." Gumam suster Ida menggendong bayi mungil itu.


Delia tanpak heran, karna sang suster tak menjawab perkataannya. Delia langsung bertanya kembali," suster."


Ida seakan enggan membalikan badannya ke arah Delia.


"Suster."


pada saat bersamaan, Alan datang ke dalam ruangan, melihat bayinya tengah di gendong sang suster.


membuat suster Ida langsung membalikkan badannya ke arah Delia," eh, sudah bangun ya. Ini tadi bayinya nangis dengan terpaksa saya gendong. Kemungkinan dia haus. Tapi pas saya gendong sudah tidur lagi kembali."


Delia merasa heran dengan apa yang di katakan suster yang mengendong bayinya, karna anaknya dari tadi sudah menyusu. Dan juga Delia tak mendengar tangisan bayinya menangis.


"Coba biar saya gendong saja bayi saya sus."


Suster Ida dengan terpaksa memberikan bayi yang hampir ia bawa pergi, kembali ke pangkuan Delia.

__ADS_1


Alan mendekat, mengusap pelan rambut bayinya yang tertidur pulas.


Suster Ida langsung berpamitan pergi, kepada Delia dan juga Alan.


kini rencana yang diperintahkan Lati gagal total.


"Ahkk, sial. Gagal." Gerutu Ida.


Suster itu, langsung mencari Lati. Yang ternyata Lati berada di dalam ruangan bayi.


"Ida bagaimana?" tanya Lati.


"Sorry, ti. Gagal!" jawab Ida.


"Ahkk, kenapa bisa gagal?" tanya Lati, kepada Ida dengan nada sedikit meninggi.


"Pasien yang mempunyai bayi itu terbangun. Dan membuat aku tak jadi membawa pergi bayinya," ucap Ida. Menjelaskan semuanya.


"Padahal, aku sudah menyiapkan tempat tidur bayi itu, dan sudah memberitahu orang yang akan memungut bayi itu," ucap Lati.


"Terus sekarang?" tanya Ida.


"Jika gagal seperti ini, kita harus cari cara lain," ucap Lati.


"Caranya?" tanya Ida.


saat itulah Lati mulai memikirkan cara untuk bisa mengambil bayi Delia, memikirkan cara baru lagi.


@@@@


sedangkan Delia yang berada di ruangan bersama sang suami.


Membuat ia sedikit merasa kuatir.


" Kamu kenapa sayang, kok terlihat kuatir seperti itu?" tanya Alan.


"Entahlah, saat melihat suster tadi. Aku merasa takut, jika suster itu akan membawa anakku pergi!" jawab Delia yang merasakan rasa kuatir pada hatinya.


"Loh, kok ngomongnya begitu," ucap Alan.


"Habisnya suster itu terlihat mencurigakan," balas Delia. Dengan wajah rasa cemasnya.


" Tidak baik berpikir seperti itu," ucap Alan mengusap pelan rambut sang istri.


"Ya habisnya ...."


Belum perkataan Delia terucap semuanya. nada ponsel Alan berdering. membuat Delia tak meneruskan ucapannya.


"Biar aku angkat telepon dulu ya."


Delia menganggukkan kepala saat Alan berkata seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2