
Alan langsung menggandeng sang istri untuk masuk ke dalam ruangan,” Ayo sayang, kita ke ruanganmu.” Ucap Alan.
Delia menganggukkan kepala, berjalan bersama sang suami untuk masuk ke dalam ruangan. Ita yang baru saja selesai beristirahat, melihat Delia sudah bersama suaminya di dalam ruangan.
Saat langkah kaki Ita melangkah masuk ke dalam ruangan, Ita mendengar percakapan Alan dan Delia seakan serius. Membuat ia menunggu di luar, tak berani untuk masuk.
Kini Delia duduk di atas ranjang rumah sakit dan bertanya pada Delia,” apa yang terjadi saat aku tak ada?”
Delia terdiam pilu, bibirnya seakan keluh. Dirinya tak berani mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat Alan tak ada
”Delia, ayo katakan. Kenapa kamu diam saja?”
Pertanyaan Alan membuat kedua mata Delia berkaca-kaca, hatinya terasa sesak. Bagaimana ia menjelaskan semuanya, dirinya takut jika Alan tak mempercayai apa yang ia ceritakan.
“Delia tatap mataku, aku akan terus bersamamu. Jika memang kamu dalam kesulitan saat aku tak ada di sini?’
Delia malah memeluk sang suami dengan rasa kesalnya, ia tak ingin menceritakan semua yang sudah terjadi.
“Baiklah, aku tidak akan menekanmu. Kalau kamu belum siap, tenangkan dulu hatimu. Delia, bagaimana pun kamu tetap istriku.”
Tangan Alan kembali mengusap pelan rambut Delia, ia menangis. Dirinya seakan gagal menjadi seorang suami yang tak bisa menjaga istrinya sendiri,” maafkan aku Delia.”
Delia melepaskan pelukan sang suami dan bertanya,” kamu menangis?”
Tangan lembut Delia mengusap pelan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipi Alan.
“Aku tidak tahu apa yang sudah kamu alami saat aku tak ada di sampingmu.”
Jari tangan Delia ia tempelkan pada bibir tipis Alan,” semua sudah menjadi takdir kita.”
Ita yang mendengar obrolan itu, tak sadar jika air matanya mengalir perlahan. Membuat ia berucap,” bagaimana pun keadaan seorang istri, jika lelakinya menerima ia tak akan marah. Hanya menyesali diri sendiri. Betapa hebatnya Delia mempunyai suami seperti Pak Alan.”
Kini Ita berjalan pergi, ia tak mau mengganggu waktu Delia dengan sang suami. Karna ia tahu Delia begitu rindu dengan momen bersama sang suami.
“Biar sore aku cek kembali Delia. Biarkan saja waktunya ia habiskan dengan suaminya yang baru saja datang.”
Ucap Ita. Meninggalkan ruangan Delia.
Alan masih saja menyimpan rasa penasaran, tentang perut Delia yang membuncit seperti orang hamil pada umumnya. Ia berucap dalam hati,” akan aku temui Ane. Aku ingin mendengar apa penjelasannya. Mudah-mudahan perut Delia yang buncit ini hanya kebetulan karna penyakit. Bukan sedang hamil, tapi. Jika Delia hamil, siapa yang sudah tega menghamili istriku ini?”
@@@@@
__ADS_1
Sesaat memasuki ruangan Pak Deni.
Ane mulai mendekat mengecek keadaan Deni, terlihat kedua mata Deni membuka secara perlahan. Membuat Ane berkata,” Deni aku tak menyangka jika kamu masih bertahan hidup.”
Deni kini berusaha membuka mulut menjawab pertanyaan Ane, berusaha tertawa. Tapi mulutnya belum sepenuhnya normal dalam berucap.
“A-ne,”
Deni menyebut nama Ane, membuat Ane menyuruh Deni mengulang perkataannya.
“Coba sebut lagi namaku Deni.”
“An-e.”
Ane tak menyangka jika Deni begitu cepat sembuh, padahal luka yang di alaminya sangat parah. Apalagi kedua kakinya yang sudah tiada.
Deni mencoba mengerakkan tubuhnya, tapi Ane melarang. Ia tak mau jika Deni bangun, Ia akan syok ketika melihat keadaan fisiknya.
“Kamu istirahat dulu, ya. Deni.”
Namun Deni merasa ada yang aneh pada dirinya, kedua kakinya begitu ringan. Membuat ia penasaran ingin membuka selimut yang menutup kedua kakinya, tapi Ane berusaha menahan tangan yang ingin membuka selimut itu.
“Jangan bergerak dulu, kamu belum stabil.”
“A-ne a-ku m-eras-a ane-h de-ngan kakiku.”
“ Tidak ada yang merasa aneh dengan kakimu, kamu harus tenang. Dan beristirahat.”
Pada akhirnya Deni menuruti perkataan Ane, dia mulai membaringkan kembali tubuhnya. Beristirahat sejenak.
“Suster jangan dulu beritahu keadaan kaki pasien, ya. Saya takut jika pasien akan drop dan kesehatannya menjadi memburuk.” Ucap Ane memberitahu sang suster yang menjaga di ruangan Deni.
“Baik dok.”
Ane mulai kembali masuk ke dalam ruangannya, Iya mengecek semua data-data pasien.
Namun saat ia tengah fokus.
Ketukan pintu terdengar keras, seakan pintu sengaja di ketuk dengan begitu kencang.
TOK .... TOK .
__ADS_1
“Masuk.”
Orang yang mengetuk pintu itu langsung masuk ke dalam ruangan Ane, ternyata dia adalah Alan. Menampilkan wajah kesalnya terhadap Ane.
“Alan, ada apa?”
“ Aku ingin bertanya kepadamu, Kenapa perut istriku tiba-tiba buncit seperti itu? Apa istriku Tengah mengandung?”
Pertanyaan Alan membuat Ane bingung harus menjawab apa, bagaimana pun Ane menyembunyikan kenyataan tentang Delia hamil pasti akan terungkap juga.
“Jawab ....” Bentak Alan.
“Sebenarnya. Apa yang kamu curigai itu benar, istrimu tengah mengandung 4 bulan.” Ucap Ane.
Tubuh Alan seketika merosot ke atas lantai, Dia seakan tak menyangka dengan pernyataan Ane pada saat itu.
“Aku tanya kepadamu sekali lagi, siapa yang sudah menghamili istriku?” tanya Alan.
Ane Berusaha tetap tenang ia mengatakan jika bayi dalam kandungan itu adalah anak Alan sendiri. padahal yang sebenarnya anak yang di kandung Delia adalah anak Deni. lelaki yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan keadaan kritis.
“Jelas dia anakmu Alan,” ucap Ane berbohong. Ane berusaha menutupi semuanya, agar Alan tak menekannya lagi. Ane takut jika ia mengatakan kejujuran, dirinya tidak akan menerima Delia kembali. dan pertemanan mereka pastinya akan usai begitu saja.
sebenarnya Ane terlalu menyepelekan Alan dengan berkata berbohong, jelas- jelas Alan juga adalah seorang dokter mana mungkin dia percaya begitu saja pada Ane.
Ane mendekat kearah Alan, menyodorkan tangan dan memberikan selamat pada sahabatnya itu. berusaha Tetap Tenang Walau sebenarnya hatinya Bimbang, dimana ia berusaha menutupi semuanya.
Ane tersenyum, tapi senyuman itu tiba-tiba hilang. Saat Alan menghempaskan tangan yang mengajaknya bersalaman. Alan tak semudah itu percaya. membuat ia membentak Ane dengan tegas.
“Jangan menipuku, Ane. Apa kamu mau aku laporkan ke kantor polisi karna menipu seorang pasien.”
Deg ....
Telunjuk tangan kini di layangkan Alan pada wajah Ane, membuat Ane terdiam keluh.
“Kenapa apa kamu takut?” tanya Alan.
Ane menelan ludah, melihat Alan yang benar-benar marah kepadanya. Hingga di mana, teriakan terdengar.
Membuat Ane dengan sigap menghampiri teriakan itu, tapi Alan menahan tangan Ane.
“Kamu mau ke mana, Ane?”
__ADS_1
“Ahkkkk.”
Teriakan itu terdengar lagi, membuat Ane tak menjawab ucapan Alan. Ia berlari menghampiri ruangan di mana terdengar sebuah teriakan.