
"Aku tak menyangka jika ayahmu seperti itu kepada anaknya sendiri, sebenarnya apa yang sudah terjadi. Apa Deni dalang semua ini."
"Entahlah, aku sudah pusing memikirkan ayahku sendiri. Semenjak aku menjadi wanita dewasa dan memiliki seorang anak. Ayahku berubah derastis."
Putra mulai menenangkan sang istri, mengusap pelan bahunya. Hingga di mana Ane menyenderkan kepalanya pada bahu kiri sang suami.
"Terima kasih, selalu ada di saat aku mempunyai masalah."
"Jadi bagaimana dengan anak Delia yang kamu ambil saat ini?" tanya Putra.
"Aku akan memberikan anak Delia, setelah anak itu tubuh besar!" jawab Ane.
"Apa itu tidak keterlaluan, Ane. Kamu sama saja seperti orang jahat yang menjauhkan seorang ibu dengan anaknya, bagaimana jika nanti Delia kembali deprsi," ucap Putra. Berharap Ane akan sadar dengan rencananya yang terlalu beresiko dan membahayakan dirinya sendiri.
"Pah, ini cara satu satunya. Mamah menyelamatkan anak Delia," ucap Ane.
Saat itulah Ane mulai mendengar suara tangisan bayi Delia, yang begitu terdengar keras. Membuat Ane dengan sigap menghampiri tangisan sang bayi.
"Mah, papah belum selesai berbicara."
"Tunggu pah, mamah mau melihat bayi Delia, kasihan bayi itu menangis."
Ane pergi begitu saja, Sedangkan Putra mulai menyusul.
Ane memeluk bayi Delia menganyun penuh kasih sayang, tapi Putra yang melihat Ane seperti itu sedikit resah dan cemas.
@@@@@@
Di dalam rumah sakit, Lita dan Ida sudah menyusun rencana. Mereka bersiap siapa untuk mengambil bayi pasien lain.
"Bagaimana Lita, kamu sudah siap dengan rencana yang sudah aku siapkan?"
Menarik napas mengeluarkan secara perlahan," aku siap."
"Bagus. aku berharap kita bisa berhasil dalam rencana ini?"
Mereka menepuk tangan satu sama lain, "ayo. kita pasti bisa."
Rencana sudah di mulai, di mana ada pasien melahirkan. Yang di mana kini Lita mulai beraksi.
Setengah jam menunggu, saat itulah Pasien melahirkan anak laki-laki. Membuat Lita begitu senang." akhirnya bayi pasien ini laki laki." Gumam hati Lita mengurus bayi itu.
Sang ibu terlihat masih sadarkan diri, menghentikan Lita yang berencana ke luar dari ruangan ibu itu." Suster boleh saya melihat bayi saya."
Lita berusaha untuk tetap tenang, dan menjawab." Maaf sebelumya. Saya mau memandikan dulu bayi ini."
Dokter mengerutkan dahinya, bukanya memandikan bayi bisa di ruangan pasien.
__ADS_1
Namun sang dokter yang memang begitu sibuk, hanya bisa diam dan fokus mengurus pasien.
Lita memegang erat bayi itu, ia dengan tergesa gesa menemui Ida yang menunggu di ruangan Bayi.
"Lita, akhirnya kamu berhasil membawa bayi pasien yang baru saja melahirkan." ucap Ida.
"Tentu saja, itu mudah bagiku," balas Lita.
"Terus dengan pasiennya bagaimana?" tanya Ida.
"Pasiennya, tadi menanyakan bayi. Hanya saja aku beralasan untuk memandikan bayi itu!" balas Lita.
"Bagus, hanya saja. Kita harus memikirkan cara agar pasien itu tahu bahwa bayinya meninggal," ucap Ida.
"Caranya."
Ida langsung membisikan suatu cara pada telinga Lita. Membuat Lita langsung tersenyum.
"Itu urusan gampang."
Pasien yang baru saja melahirkan, begitu cemas dengan keadaan bayinya yang tak kunjung datang. Membuat ia bertanya pada dokter yang sudah menanganinya.
"Dokter, di mana bayi saya?" tanya pasien itu. Terlihat wajahnya begitu cemas.
"Ibu sabar dulu ya. saya akan mencoba menyusul pada suster yang membawa pasien ibu!" jawab Dokter yang menangani pasien.
Dokter itu kini mulai berjalan ke ruangan bayi. Untuk melihat keadaan bayi yang di bawa suster.
Namun, saat langkah dokter itu semakin dekat pada pintu ruangan.
Bruggggg .....
Lita, memukul Dokter itu hingga jatuh pingsan.
"Berhasil." Ucap Lita kepada Ida.
Saat itulah mereka mulai menyeret dokter itu. mendudukan di kursi roda, untuk segera dibawa ke dalam ruang dokter itu.
"Kamu harus waspada jika banyak yang bertanya. Abaikan saja."
"Oke."
Suster Lita dengan sigap mendorong kursi roda yang diduduki sang dokter, dengan tergesa gesa. Tanpa satu orang pun tahu, sampai di mana mendekati ruangan sang dokter.
Seseorang memanggil suster Lita, akan tetapi suster Lita berusaha mengabaikan teriakan orang itu. karena ia mengingat ucapan Ida.
"Siapa lagi dia?"
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa Lita langsung memasuki sang dokter ke dalam ruangannya, suster Lita mulai berusaha mendudukkan sang dokter pada kursinya sendiri.
Iya langsung terburu-buru Mengunci pintu ruangan dokter itu, mau tidak mau Lita harus keluar melalui jendela. karena itu salah satu jalannya agar tidak menemui orang yang terus memanggil dirinya.
"Aku pasti bisa."
Lita mulai berusaha bersikap tenang, turun dari jendela, yang di mana saat ia melihat ke arah bawah jendela itu. begitu tinggi.
"Kamu harus berani Lita." Gumam hati Lita.
dengan keteguhan hatinya dan rasa takut yang ia hilangkan, saat itulah Lita berhasil turun dari jendela lantai 3 menuju jendela lantai 2.
yang di mana jendela lantai 2 itu adalah gudang, Lita langsung mengambil ponselnya untuk menelepon Ida saat itu juga.
Beberapa kali, Lita menelepon Ida. tak ada respon sama sekali dari sahabatnya itu," kenama si Ida ini. Kenapa dia tak mengangkat panggilanku."
Lita benar-benar panik saat itu juga, Iya takut terkurung lama di dalam gudang itu. karena gudang yang iya singgahi. adalah gudang yang sudah lama tak di pakai.
ada rasa ketakutan saat ia melangkah mencari pintu keluar gudang itu. gelap gulita di dalam gudang. Lita mulai menyalakan lampu ponselnya, berjalan ke arah pintu. yang dimana ia belum menemukan pintu itu.
"Ke mana pintu ke luarnya?" tanya Lita.
Brak ....
suara yang tiba-tiba saja terdengar oleh kedua telinga Lita, membuat Lita terkejut dan berucap." siapa itu? Ida. Apa itu kamu?"
Brak ....
tidak ada jawaban sama sekali, saat Lita terus memanggil nama Ida dan berteriak.
"Suara apa sih. Bikin bulu kudukku merinding saja."
Lita mengusap pelan bulu kuduknya yang tiba-tiba saja berdiri. Karena rasa takut yang tiba-tiba muncul pada hatinya. apalagi Lita mendengar suara yang begitu jelas pada kedua telinganya.
."Siapa. Ida jangan bercanda deh. Aku tahu pasti itu kamu?" Teriak Lita.
Brak ....
suara itu semakin terdengar begitu jelas, dan seakan semakin mendekat ke arah Lita.
"Ida. Ayolah. Aku tak suka jika kamu terus saja bercanda."
tak ada salah satu orang pun yang muncul dari suara itu, Karena rasa penasaran Lita yang semakin menggebu-gebu pada hatinya, Lita memutuskan untuk semakin mendekat dan mencari sumber suara itu.
saat Lita mendekat ke arah suara itu, ia melihat sosok seorang wanita yang membungkuk, dengan posisi setengah berdiri membelakangi tubuh. membuat Lita langsung menyenter cahaya ponselnya pada sosok itu.
Sosok apakah itu?
__ADS_1