
Pagi menjelang.
Dodi dan Alan sudah bersiap-siap, mereka segera berangkat untuk bertemu Ami dan Rudi.
Tak cukup menunggu lama, memesan tiket.
"Ayo Dodi kita berangkat," ucap Alan.
"Baik, om," balas Dodi.
@@@
Beberapa jam kemudian sampailah di bandara, Dodi terlihat muram saat duduk. Alan yang melihat wajah Dodi mendekat dan berkata," kamu kenapa Dodi?" tanya Alan. Mengusap pelan rambutnya.
"Dodi rindu dengan Tante Delia, ingin sekali memeluk Tante Delia walau sebentar saja!" balas Dodi. Anak lelaki itu seakan merasakan kehilangan sosok sang penyemangat dirinya.
"Semangat, jangan sedih begitu. Nantikan kalau Tante Delia sembuh, Dodi bisa pelukan sama Tante Delia," ucap Alan mencoba menenangkan rasa rindu pada hati Dodi terhadap Delia.
Suara panggilan untuk pesawat yang akan di tumpangi Dodi dan Alan kini terdengar.
Mereka dengan sigap berjalan memasuki pesawat.
Dodi melihat ke arah belakang seakan penampakan Delia terpapang jelas. Melabaikan tangan ke arah Dodi. Anak lelaki itu langsung tersenyum senang.
Perjalanan masih seperti biasa, tak ada yang dikuatirkan. Alan dan Dodi tetap fokus menikmati pemandangan luar, dimana awan putih seakan mengelilingi pesawat yang mereka tumpangi.
Dodi terus saja tersenyum memandang ke arah jendela, pikirannya selalu terbayang wajah Delia tersenyum padanya.
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu. Apa yang sedang kamu bayangkan, Dodi?" tanya Alan membuat bayangan awan yang membentuk wajah Delia hilang seketika.
"Yah, om. Hilang deh," gerutu Dodi melipatkan kedua tangannya.
"Apasih yang hilang, Dodi. Kamu ini enggak jelas," balas Alan tertawa kecil melihat kepolosan Dodi.
Dodi menujuk pada gumpalan awan besar, dimana Alan menatap ke arah awan itu dan berkata," sebuah, awan. Apa hebatnya?"
Dodi menjawab perkataan sang om dengan nada cetus," awan itu berharga untuk Dodi lihat."
Alan menggelengkan kepala, entah apa yang di pikirkan anak kecil di hadapannya.
"Om enggak tahu, ya?" tanya Dodi. Menunjuk gumpalan awan itu.
"Maksud kamu!" jawab Alan. Penasaran dengan tingkah kekanak- kanankan Dodi.
"Awan itu cantik," ucap Dodi.
Alan malah tertawa begitu nyaring, membuat orang yang tengah tertidur pulas terbangun.
Segera mungkin ia menutup mulutnya dan berkata," awan itu putih bukan cantik."
Tangan Alan mulai memegang jidat Dodi, mengecek apakah Dodi demam.
Dengan rasa kesal Dodi menghempaskan tangan sang om dan berkata.
__ADS_1
"Awan itu cantik seperti Tante Delia."
Deg ....
Hati Alan tiba-tiba berdetak begitu saja, saat Dodi berkata jika awan itu cantik seperti Delia.
Alan yang merasa jika Dodi tak sanggup kehilangan Delia. Sampai ia selalu membayangkan benda di sekitarnya menyerupai Delia.
"Dodi jangan sering berhayal, itu tidak baik untuk otakmu."
Nasehat Alan terlontar untuk Dodi, berharap anak itu tidak terlalu mengharapkan Delia lagi.
"Om, tahu kamu masih rindu dengan Tante Delia. Tapi kamu harus berusaha melupakan rasa rindu di hati kamu. Agar kamu tidak terlalu tertekan Dodi," ucap Alan.
Dodi tetap saja cemberut, saat Alan menasehatinya. Ia tak tahu harus bagaimana lagi menasehati Dodi.
Tiba-tiba pesawat, tidak bergerak sewajarnya. Membuat suatu kepanikan. Pada para penumpang, semua orang di sana menjerit dan ketakutan.
Namun, para peramugari menenangkan keresahan mereka. Memberikan istuktur untuk berjaga-jaga. Jika hal terjadi pada mereka.
"Om ada apa ini?" tanya Dodi ketakutan.
"Kamu harus tenang, Dodi!" jawab Alan menenangkan rasa takut anak itu.
@@@@
Delia yang berada di rumah sakit, kini bertanya pada Ane.
"Mereka akan menjengukmu nanti. Makanya dari itu kamu harus cepat sehat seperti semula agar kamu bisa berkumpul lagi dengan Alan dan Dodi!" jawab Ane menjelaskan semuanya.
Delia tetap saja tak, mempercayai perkataan Ane. Ia seakan benci melihat kebaikan dokter yang merawatnya.
"Semua ulahmu pasti, Ane," ucap Delia. Meneriaki Ane.
"Tenanglah Delia, aku tidak ada niat jahat padamu, atau pun menyakiti Alan dan Dodi," balas Ane.
Dokter itu menyiapkan obat suntikan untuk Delia.
"Kamu mau suntik aku lagi, apa kamu gila. Ane. Cepat lepaskan aku dari ikatan tali ini," teriak Delia.
Ane seakan cuek, tak mempedulikan teriakan Delia.
Saat itu seseorang datang mengetuk pintu, orang itu ternyata sahabat Ane.
"Kamu sudah datang?" tanya Ane. Menyambut kedatangan seorang sahabat yang akan menangani kejiwaan Delia.
Sahabat Ane ternyata seorang lelaki yang akan membantu menyembuhkan kejiwaan Delia.
Namun lelaki itu tidak menunjukan sisi baiknya, ia terlihat sedikit sombong dan angkuh.
"Tentu aku tepat waktu, bukanya ini ke inginan kamu!" Balas Deni. Mencuil dagu Ane.
"Jaga sikapmu, Deni. Kenapa kelakuanmu tidak pernah berubah," bentak Ane. Kesal dengan Deni yang tak sopan.
__ADS_1
"Aku tidak akan berubah selama kamu mau menerima cintaku Ane," balas Deni dengan begitu santai.
Ane tak mengerti kenapa yang datang itu bukan Aldu kenapa harus Deni.
"Kemana Aldy kenapa malah kamu yang datang Deni?" tanya Ane.
Deni seakan kesal dengan pertanyaan Ane, saat membahas Aldy.
"Kan ada aku di sini!" jawab Deni. Tiba-tiba memeluk Ane dari belakang, mencium pundaknya.
Dengan segera mungkin Ane melepaskan pelukan Deni. Menampar lelaki berengsek itu.
"Sebaiknya kamu ke luar dari ruangan ini," hardik Deni.
"Hey, kenapa kamu mengusirku. Aku di sinikan bertugas untuk menyebuhkan pasien yang kata kamu depresi berat," ucap lembut Deni. Mengusap pipi kiri Ane.
"Bisa tidak tanganmu itu tidak keterlaluan," bentak Ane.
Deni menurunkan tangannya, mengepalkan seketika." baik."
"Oh ya, Deni. Aku tidak menyuruh kamu datang, yang aku suruh adalah Aldy," ucap tegas Ane.
"Sama saja. Kitakan sepekerjaan," balas Deni.
"Hey, walau kalian sepekerjaan tapi aku tetap suka dengan cara kerja Aldy," bentak Ane. Berterus terang
"Kenapa kamu tidak memberi aku sedikit kesempatan untuk mengurus pasien kamu. Aku juga ingin dekat denganmu Ane," rayu Deni.
Rasanya Ane tak bisa menyuruh Deni untuk menangani Delia. Karna Ane takut Delia kenapa-napa karna Deni.
"Sebaiknya kamu ke luar dari sini," usir Ane.
"Baiklah aku akan keluar, tapi kamu jangan menyesalnya nanti," ucap pelan Deni.
Meninggalkan ruangan Ane. Dengan senyuman kekecewaan.
Deni mengepalkan kedua tangannya dan berkata dari hati.
"Awas saja aku akan ganti posisi Aldy di rumah sakit ini." Tawa kecil Deni,
Ane bersiap untuk menyuntikan sebuah obat pada Delia. kini mendengar sebuah ucapan yang tak menyenangkan dari mulut Delia.
"Ternyata kamu ini wanita murahan, Ane."
"Jaga ucapan kamu, aku tidak seperti apa yang kamu katakan, Delia."
"Terus lelaki tadi. Bukannya simpanan kamu, Ane."
"Apa maksud kamu berkata seperti itu, Delia."
"Tidak ada maksudku hanya saja ...."
Belum perkataan Delia terucap semuanya, seseorang datang memanggil nama Delia.
__ADS_1