Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 297 Wajah cemberutnya Ami


__ADS_3

Saat Rudi terbangun di pagi hari, dia melihat dirinya sudah ditutupi selimut. Menatap ke arah lantai, laptop yang berserakan kini sudah tersapu bersih.


Rudi mulai membuka selimut yang menutupi tubuhnya, bangkit dari atas lantai. Melihat di meja kerjanya semua tampak bersih, kini ada laptop baru yang berada di atas meja.


“Apa Ami yang membersihkan semua ini.” Ucap Rudi.


Lelaki berbadan kekar itu langsung keluar dari tempat ruangan kerjanya, ia melihat sang istri yang tengah menata sarapan di atas meja. Begitupun dengan Dodi yang sudah duduk menunggu kedatangan Rudi sang papah.


“Papah, sudah bangun. Ayo sarapan bersama,” ajak Dodi pada sang papah.


Rudi menatap ke arah wajah sang istri, yang hanya menundukkan Pandangan Kedua bibirnya nampak cemberut. Tak ada sambutan ataupun sapaan di pagi hari, dari mulut tipis Ami.


Biasanya ketika Rudi ingin sarapan, Ami selalu bertanya kepada suaminya itu. “ Ingin sarapan apa?”


Tapi di pagi hari ini, suasana begitu suram. Senyuman tak ada apalagi pertanyaan.


“Papah, ayo.” Panggil Dodi.


Rudi yang melihat wajah sang istri seperti itu, langsung menjawab pertanyaan anaknya,” papah lagi enggak mau sarapan.”


Saat itu Rudi mulai melangkahkan kakinya ke arah kamar, dia mulai membuka bajunya untuk segera mandi dan berangkat bekerja.


Dodi yang tengah menikmati sarapan bersama sang mama, kini mulai berucap,” mah. Kok mamah diem aja, kasihan papah.”


“Sudah kamu sarapan yang banyak, papah emang udah bicara tadi ke mamah. Katanya lagi enggak mau sarapan hari ini.”


“Oh.”


Ami terpaksa berbohong, untuk menutupi rasa kesalnya pada Rudi, ia beralasan kepada anaknya agar. Dodi tak bertanya terus menerus.


Saat itu Ami mulai masuk ke dalam kamar, menyiapkan keperluan sang suami, dari seragam kerja dan yang lainnya.


Ceklek .....


Suara pintu terbuka, di mana Rudi sudah selesai mandi. Ia melihat Ami sudah membereskan bajunya dan pergi lagi ke luar kamar.


“Mmm, sampai kapan Ami kamu seperti itu.” Ucap Rudi.

__ADS_1


Rudi langsung mengambil pakaian yang telah di siapkan istrinya, memakaikan pada tubuhnya.


Biasanya rambutnya yang berantakan selalu di sisiri Ami, tapi sekarang Rudi hanya bisa menatap dirinya sendiri di kaca menyisiri rambutnya yang tak rapi. Memakai dasi sendiri.


Kebiasaan yang di lakukan Ami tak di lakukan sekarang, membuat Rudi merasa kehilangan akan ke manjaan dari istrinya.


Ami yang menampilkan wajah cemberutnya itu, tak peduli kepada sang suami. Ia mengemas makanan untuk Rudi agar makan di kantor, meletakan di dekat tas kantornya.


Rudi mulai ke luar dari kamar tidur, mengambil tas dan pergi begitu saja.


Ami ingin sekali meneriaki suaminya yang sudah pergi menuju mobil, tapi sipat kesalnya masih terpendam. Membuat ia menjadi cuek dan tak peduli.


Degan ide yang ada pada kepala Ami, saat itulah wanita itu menyuruh anaknya untuk memberikan makanan yang sudah di kemas rapi oleh Ami untuk Rudi.


“Dodi, sebelum papahmu pergi. Kamu kasih ini ke papahmu,” pinta Ami.


“Loh, kenapa enggak mamah aja. Biasanya yang ngasih itu mamah,” keluh Dodi.


“Kamu anak baik nurut dong sayang,” ucap lembut Ami.


Saat itulah Dodi mulai berlari menghampiri sang papah yang sudah masuk ke dalam mobil.


“Ada apa Dodi?” tanya Rudi.


Dodi langsung memberikan bekal makanan yang di suruh sang mamah untuk memberikan pada papahnya.


“Ini, dari mama.”


Rudi yang masih menghargai Ami sebagai istrinya, kini mengambil bekal yang di berikan Dodi.


“Terima kasih, nak.”


Rudi mulai menyalakan mesin mobilnya, untuk segera berangkat pergi ke kantor. Di dalam mobil, Rudi terpikirkan dengan sikap Ami yang benar-benar berubah drastis. Membuat dirinya sedih.


@@@@@


Satu minggu berlalu, sikap Ami tetap tidak berubah selalu cuek dan tidak pernah berucap satu patah kata pun. Saat Rudi mendekat ke arah Ami hanya untuk sekedar mengobrol, Ami selalu menjauh seakan pernikahan yang di bangun bertahun-tahun itu tidak ada artinya sama sekali.

__ADS_1


Tubuh Rudi semakin kurus memikirkan istrinya yang sudah tak melayaninya, ia jarang makan dan sering melamun. Membuat pandangannya seakan buyar.


Di dalam mobil, Rudi melihat penampakan Si Mbok yang melewati mobilnya saat berhenti di lalu lintas.


“Wanita tua itu?”


Dengan sigap Rudi ke luar dari mobil, untuk mengejar wanita paruh baya itu. Ia tidak mau kehilangan jejak lagi seperti kemarin, hari ini Rudi harus menemukan rumahnya.


Rudi dengan terpaksa memarkirkan mobil, ia turun dan mengikuti wanita tua itu, masuk ke dalam gang rumah- rumah kumuh seperti kontrakan.


Langkah wanita tua itu semakin cepat, membuat ia hampir kehilangan jejak. Melihat apa yang ia tengteng ternyata sebuah keresek putih yang berisi obat.


“Obat apa itu?” tanya Rudi dalam hati, saat itulah ia berjalan terus menerus sampai di mana Si Mbok merasakan ada seseorang yang mengikutinya.


Wanita tua itu berbalik arah ke arah belakang, melihat ada langkah kaki yang mengikutinya.


Membalikkan badan dan ternyata tidak ada siapa-siapa. ” Seperti ada yang mengikutiku?” Gumam hati Si Mbok.


Wanita tua itu menghilangkan rasa kuatirnya, ia terburu-buru pergi untuk menemui Sarah dalam keadaan darurat.


Deg .... Deg ....


Jantung Rudi seakan copot, ia hampir saja ketahuan si Mbok, mengusap pelan dadanya. Mengintip di balik tembok. Kini ia mengikuti kembali wanita tua itu,” sekarang jangan sampai lengah.” Ucap pelan Rudi.


Beberapa menit mengikuti wanita tua itu, akhirnya Rudi melihat rumah wanita tua itu yang begitu kumuh dan tak layak di tempati.


“Ternyata dia tinggal di sini.” Ucap Rudi masuk melihat wanita tua itu masuk ke dalam rumahnya.


Si Mbok, melirik ke sana ke mari dan langsung mengunci pintu. Ia takut jika perasaannya yang tak karuan menimbulkan masalah, saat itulah dengan sigap pintu di tutup rapat-rapat. Begitu pun dengan jendela rumah dan gordennya.


Sedangkan Rudi mulai menghampiri rumah kumuh itu, untuk sekedar mengintip. Ia mencari sela-sela gorden yang sedikit terbuka, karna rasa curiganya yang begitu berlebihan membuat ia terus menyelidiki semuanya.


“Si Mbok, sakiittt ....”


Teriakan seorang wanita membuat Rudi seakan menebak bahwa itu Sarah, rasanya ia ingin mendobrak pintu itu. Tapi dirinya takut salah, dan membuat kekacauan, apalagi nanti jika Rudi tersalahkan. Bisa- bisa si Mbok berteriak memanggil warga dan membuat Rudi tersalahkan.


Rudi mulai berpikir keras, seraya berkata,” apa yang harus aku lakukan?”

__ADS_1


Saat itu ide muncul begitu saja, Rudi mulai mencari seorang warga yang bisa membantunya dengan memberikan beberapa uang.


“Mbok sakit sekali.” Teriakan itu semakin terdengar keras. Membuat Rudi dengan sigap mencari seseorang yang mau di ajak kerja sama dengannya.


__ADS_2