
Pagi hari yang cerah, Arsyla membuka jendela kamar tidurnya, terlihat Arpan yang turun dari mobil dengan menenteng koper berwarna hitam.
"Arpan sudah pulang. Emh, aku punya ide."
Semua orang begitu sibuk menyiapkan sarapan pagi, berbeda dengan Arsyla yang lengak lengok dalam keadaa memakai baju tidur.
Sang ibu menjewer telinga anaknya, berharap anaknya mau membantu pekerjaan rumah yang menumpuk buka malah santai-santai.
"Kamu ini ngapain coba, bukannya bantuin ibu," ucap Bu Ira dengan nada sedikit meninggi. Arsyla mendengkus kesal mengosok-gosok telinganya.
"Sakit bu!" jawab Arsyla. Bibirnya mengkerut, kesal dengan sang ibu yang tiba-tiba marah dan menjewernya.
"Kamu sih, bikin kesal bikin ibu cape. Sudah tahu numpang di rumah orang. Harusnya kamu sadar diri Arsyla," hardik Bu Ira. Semenjak Bu Ira berada di rumah Sisi, wanita tua itu berani memarahi anaknya sendiri.
Arsyla hanya mendengarkan dan melipatkan kedua tangannya, tak perduli dengan ocehan sang ibu yang seperti apapun.
"Ibu bawel banget sih," jawab Arsyla berlalu pergi meninggalkan ibunya yang berkacak pinggang.
Brugggg ... Arsyla terjatuh.
"Aw."
Ternyata Sisi tengah mengepel lantai, dengan sedikit basah. Ia terseyum melihat Arsyla yang meringis kesakitan.
Rasain loe emang enak siapa suruh enak-enakan, orang pada sibuk kerja ini malah kaya tuan putri. Gumam hati Sisi.
Arsyla berusaha bangun sendiri. Pinggangnya terasa sakit sekali, Sisi yang melihatnya ingin sekali tertawa terbahak-bahak.
"Mau saya bantu Arsyla," ucap Sisi menyodorkan tangannya, berharap Arsyla meraih tangannya. Tapi ternyata Arsyla malah menghepaskan tangan Sisi.
"Tidak perlu, tante atau mba atau apalah," dengkus Arsyla ia seakan kesal. Dengan Sisi.
"Arsyla kalau kamu mau manggil apa sama saya, tante-tante apa Mba. Oh ya. kalau bisa coba nyoya," sindir Sisi. Membungkukan badanya, Arsyla masih terduduk di atas lantai.
kedua mata Arsyla membulat, tanganya mengepal rasanya ia ingin meninju wanita di depannya. Namun ia tahan karna ia masih butuh pertolongan Sisi menumpang di rumahnya.
Sabar, Arsyla. Nanti kamu bisa menyingkirkan dedemit sialan ini, gerutu hati Arsyla.
Sisi menyodorkan lagi tangannya, saat itu Arsyla terseyum untuk mengerjai wanita dihadapannya.
Dia menarik tangan Sisi dan Brug. Sisi ikut terjatuh, Arsyla pun bangkit, melihat Sisi yang tekena genangan air di lantai.
"Aduh maaf, tante atau mba. Arsyla enggak sengaja," sindir wanita berhidung mancung itu.
Sisi menarik kerudung Arsyla hingga hijab panjangnya terlepas.
"Kerudungku," teriak Arsyla.
__ADS_1
Sisi benar-benar kaget dengan penampakan Arsyla yang tidak memakai kerudung.
"Arysla, kenapa dengan rambutmu?"
Pertanyaan Sisi membuat Arsyla langsung menutup rambutnya.
"Sudahlah tidak usah banyak bertanya, Arsyla mau mandi! Jawaban Arsyla membuat Sisi bertanya-tanya apa dia malu? Ada-ada aja gadis itu.
"Assalamualaikum?"
Arpan pulang, membuat Sisi bangkit dan bergegas menemui suaminya itu.
"Walaikumsalam!" jawab Sisi, terseyum manis melihat kedatangan sang suami.
Tangannya langsung mengecup punggung tangan suaminya. Begitupun dengan Arpan ia langsung memeluk sang istri.
"Loh ko mamah basah?" tanya Arpan kepada sang istri. Sisi mengkerutkan bibirnya berkata." Mamah terpeleset tadi pas ngepel lantai.
"Kasian, banget. Ya udah ayo masuk!" jawab Arpan, lelaki berkulit sawo matang itu langsung menggendong istrinya masuk ke dalam rumah.
"Papah apa-apaan, ih malu."
Sisi tertawa, ia merasa malu. Karna tiba-tiba saja Arpan menggendong tubuhnya dari arah depan.
"Arpan," panggil Bu Ira. Sisi yang setengah malu turun dari gendongan suaminya dan menundukan pandangan.
"Wah kebetulan masak, dan kita bikin makanan banyak," ucap Bu Ira.
"Emh, nanti saja. Arpan kangen sama istri tercinta!" jawab Arpan. Tanpa rasa malu ia menggendong istrinya lagi.
"Pah malu?"
Bu Ira terseyum melihat kebahagian terpancar dari wajah Arpan dan Sisi.
"Sekarang manggilnya beda lagi ya. Biasanya sayang sekarang jadi mamah, papah," ucap Bu Ira pada mereka berdua.
"Kan bentar lagi mau punya dede bayi!" jawab Arpan berlalu pergi ke arah kamar. Sisi meronta-ronta malu dalam gendongan sang suami yang terlihat oleh Bu Ira.
Bu Ira menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata," anak muda sekarang."
Di tengah kemesraan mereka, Arsyla sudah merencanakan sesuatu kejailan wanita berhidung mancung itu sudah menyusun rencana.
"Hihi, rasakan kalian." Tawa Arsyla di atas meja makanan.
Ternyata Arsyala menaruh tangkapan dia waktu semalam, menaruh pada makanan yang sudah dimasak oleh Sisi dan ibunya.
"Nanti pas makan, Arpan pasti ngamuk besar."
__ADS_1
Arsyla tertawa pelan ia merasa senang telah membuat rencana yang luar biasa untuk kedatangan Arpan yang baru saja pulang dari luar kota.
Berlalu pergi dengan rasa bahagia dan juga senang.
"Siap-siap mereka akan menjerit ketakutan atau jijik. Huuu. Senang nya."
Arsyla berlalu pergi meninggalkan meja makan dan bergegas untuk mandi dan juga berdandan, menyambut kerusuhan di meja makan.
"Rasanya aku tak sabar."
Setelah mandi Arsyla merasakan sensasi yang sangat menyegarkan pada tubuhnya, ia segera memoles wajahnya. Saat memulai memakai make-up.
Dan Ahhkkkkk.
Bu Ira berlari dari dapur menemui anaknya.
"Astaga Arsyla ada apa dengan wajahmu?" tanya sang Ibu.
Sisi dan Arpan tiba-tiba keluar melihat siapa yang berteriak. Ia kaget bukan main tertawa terbahak-bahak di depan Arsyla.
"Kenapa dengan wajah kamu Arsyla?" tanya Arpan.
Arsyla mendengkus kesal, ia menagis kesal dengan alat make-up. Tiba-tiba isinya hitam semua.
"Ya, kenapa dengan wajah kamu, ko itam gitu. Kaya areng," ucap Sisi. Menutup mulutnya tak kuat ingin tertawa dan ingin sekali mencaci maki wanita bernama Arsyla itu.
"Semua ini pasti karna kamu ya Sisi," teriak Arsyla. Bi Ira langsung menutup mulut Arsyla.
"Aduh maafkan Arsyla ya Nak Arpan dan Nak Sisi."
Arsyla ingin sekali melawan dan menjambak wajah Sisi.
Bu Ira langsung menarik paksa Arsyla menuju dapur.
"Kamu apa-apaan sih. Pake acara pake make-up kaya genderowo begitu?" tanya sang ibu dengan wajah kesal.
"Arsyla ini dikerjain orang bu, make-up Arsyla ada yang nuker dengan sengaja!" jawab Arsyla memanyunkan bibirnya. Tak percaya jika ibunya sendiri menganggap Arsyala yang sengaja memakai make-up hitam.
"Ahk, pokonya ibu tidak percaya. Pasti ini akal-akalan kamu. Arsyla," hardik Bu Ira menujuk raut wajah anaknya.
Arsyla menggenggam erat kedua tangannya, pada meja dapur, ia benar-benar kesal. Entah siapa yang tega menukar make-up nya dengan abu berwarna hitam.
"Bu, percaya sama Arsyla. Si dedemit Sisi itu jahat!"
"Diam Arsyla. Ibu tidak percaya sama kamu, kamu yang jahat selama ini, kurang apa kita numpang di sini harusnya kamu hargai orang yang mempunyai rumah ini, buka malah membuat kekacauan."
Bu Ira berlalu pergi mengabaikan panggilan anaknya.
__ADS_1
"Ahk, semua pasti karna Si Mak lampir, dedemit. Tante girang." Gerutu Arsyla.