
"Sial kenapa? Rudi susah sekali aku dapatkan," ucapan wanita berwajah bulat itu dalam hati, membuat orang sekeliling tertawa melihat Sisi yang marah-marah seperti orang gila.
"Ada apa kalian melihat aku seperti itu. Dasar pegawai tidak berguna." Hardik Sisi memarahi semua orang-orang yang melewatinya.
"Untung saja berkas itu ada di tangan mertua Ami, selebihnya aku bisa membuat Rudi bertekuk lutut di hadapanku." tawa Sisi begitu renyah seakan semua bisa ia kuasai.
Tut ... Tut ...
Panggilan telepon pun tersambung.
"Hallo, bu ada apa?" tanya Sisi setelah mengangkat telepon itu.
"Berkas itu hilang."
"Apa! Mana mungkin, siapa yang mengambil berkas itu?"
"Ibu tidak tahu, entah ibu lupa atau bagaimana?"
Bodoh wanita tua ini, kenapa dia bisa ceroboh? Padahal berkas itu sudah susah payah aku dapatkan dengan cara mencuri. Benar-benar gila sekarang aku di buatnya, aku harus temukan berkas itu.
Agar semua hutang Mas Andi suamiku bisa lunas. Ah ... kenapa sih mati pun kau menyengsarakan aku mas. Gumam hati Sisi saat itu.
Rudi yang mendengar percakapan Sisi di balik pintu, merasa curiga. Dengan percakapan Sisi di telepon.
"Ada apa dengan mereka?" ucap pelan Rudi menyender di pintu kantor.
Rudi mencari tau lewat Hp.
Dia heran sejak kapan di Hp-nya terpasang cctv, bukannya dia sudah menonaktifkan semua itu.
Tapi masih ada tersimpan.
Rudi mengecek dengan teliti. Melihat apa yang terjadi di rumah, benar saja. Vidio yang di ulang oleh Rudi menampilkan Sisi dan Ibu.
"Apa mereka tidak punya malu, benar-benar." Rudi mengepal kedua tangannya menahan semua amarah. Rahangnya mengeras.
Nafasnya seakan berat melihat kelakuan sang ibu seperti itu. Rudi terus bertanya pada dirinya.
"Apa yang akan mereka lakukan."
***********
Jam sudah menujukan waktu pulang dari kantor. Rudi segera bergegas untuk menemui istrinya, perasaan nya kacau takut terjadi apa-apa.
Rudi harus berpura-pura tidak tahu dengan semua ini. Takut membuat sang istri syok karna kelakuan ibu mertua dan Sisi sahabatnya.
Entah apa yang di inginkan wanita bernama Sisi itu, hingga ia tega berbuat sejahat itu pada sahabatnya sendiri.
"Am, maafkan aku sebagai suamimu. Bukanya menjaga. Malah banyak sekali yang berbuat jahat padamu."
Air mata sang suami mengalir tidak tertahankan, di dalam mobil Rudi terus melaju kendaraanya. Sembari mengusap bulir bening berjatuhan.
__ADS_1
Dia sudah tidak sabar untuk segera datang pada sang istri.
*****
Sesaat di rumah, keadaan begitu sepi. Rudi mencari Ami.
"Tuan, sudah pulang?" tanya Bi Lasmi.
"Loh bibi kerja di sini lagi?" tanya Rudi dengan tatapan heran.
Ami menghampiri dengan terseyum dan menujuk satu jempolnya, membuat Rudi menghelap nafas panjang.
Membuat tanganya menyentuh dada bidang, bertanda bahwa semuanya tidak apa-apa.
Rudi melihat sang ibu yang entah sedang mencari apa.
"Ibu sedang apa?" tanya Rudi membuat ibunya tidak bisa berkata apa-apa.
"Ini ibu lagi nyari ..."
"Nyari apa bu?"
"Oh enggak itu uang ibu 100 ribu entah dimana? Lupa naro!"
"Uang, bisa Rudi ganti sebaiknya ibu istirahat saja."
Raut wajah sang ibu seakan tidak suka, bila anaknya menyuruh untuk beristirahat.
"Ibu mau di antar Bi Lasmi?" ucap Ami menawarkan pembantunya untuk mengantar Ibu mertuanya.
"Tak usah, ibu bisa jalan sendiri. Ibu kan bisa melihat dan masih sehat." Sindir ibu melewati Ami begitu saja
Deg ... Ami yang hanya bisa terseyum berpura-pura mengelus dada.
"Ibu aku memang begitu bicaranya, asal ceplos aja. Maafkan dia yah sayang." Rudi mengelus kepala sang istri, Ami yang hanya berpura-pura buta terseyum sumringah seakan tidak terjadi apa-apa.
Ami menyuruh Rudi beristirahat.
Dengan begitu Ami leluasa melihat semua isi berkas apa yang ibu dan Sisi
Rencanakan.
Ternyata isi surat itu adalah, pengalihan nama perusahaan untuk Mas Rudi.
Jadi Sisi ini rencanamu. Menyingkirkan Ami, lalu menikahi Rudi dan menikmati harta Ami.
Ami mendengkus kesal melipat berkas itu dengan ke dua tanganya. Kurang puas kah Ami baik pada Sisi. Dan ibu mertua.
Semakin Ami baik, semakin mereka memangfaatkan kebaikan itu.
Mereka berdua harus di musnahkan.
__ADS_1
Tiba-tiba kepala Ami terasa pusing entah kenapa? Ami menahan rasa sakit itu.
Hingga tanpa sadar ia terkulai lemah dan terjatuh.
Bi Lasmi yang melihatnya, seakan kaget dan langsung menghampiri berteriak meminta tolong.
"Ada apa Lasmi?" tanya Rudi ke luar dari dalam kamar.
Untung saja Rudi dengan sigap membawa Ami ke rumah sakit.
"Ada apa dengan Mba Ami?" tanya Alan seketika membawa ke ruang ugd.
Alan langsung menangani Ami. Ternyata Ami hanya pingsan biasa, tubuhnya melemah harus segera mendapatkan infusan.
"Gimana keadaan istriku?" tanya Rudi kepada Alan yang baru saja ke luar dari ruangan.
Alan menatap raut wajah Rudi yang setengah panik. Membulatkan matanya.
"Kamu sebagai suami bisa tidak jaga Ami baik-baik." teriak Alan, membuat Rudi terdiam seketika.
Kenapa dia marah? Ada apa dengan Ami. Pertanyaan itu terus saja tergiyang di telinga Rudi.
Rudi mencengkram kerah baju Alan.
"Kamu ..."
"Ada apa?" tiba-tiba suster datang menenangkan keributan itu.
Cengkraman tangan Rudi seketika terhempas. Oleh pertayaan sang suster.
"Tidak ada apa-apa ko sus."
Alan pergi begitu saja dengan raut wajah yang menyimpan kebencian pada Rudi.
Rudi berlari menghampiri ruangan dimana Ami tertidur di rajang rumah sakit.
**********
Berbeda dengan Alan yang terduduk di lantai di tempat dimana ruangan itu kusus untuk dirinya sebagai dokter. ia menagis. Melihat keadaan Ami. Seakan tidak kuasa melihat penderitaan yang Ami rasakan sekarang ini. Kepalan tangan Alan dengan kuat menonjok satu dingding ruanganya. Hingga terlihat sekali ada retakan dalam dingding itu. Tanganya mengalir darah, ia seakan tak merasakan darah itu mengucur.
"Am, andai saja dulu keluarga kita tak menjadikan kita saudara. Mungkin aku bisa menjaga dan merawatmu. Aku mencintaimu Ami. Dari dulu sampai sekarang." ucap pelan sang Dokter yang terkulai lemah duduk dengan isakan tangis.
"Bukan ini yang ku harapkan, tapi rasa cinta yang aku ingin kan darimu, cinta bukan karna saudara melainkan cinta sebagai pasangan." Tangan Alan memijit-mijit kepalanya sendiri rasa pusing kesal bercampur aduk.
Melihat Ami yang menderita seperti itu.
Wah semakin penasaran ini dengan sosok seorang Alan, lelaki yang sering menyebut nama Ami sebagai sebutan mba, ternyata menyimpan cinta pada hatinya
Apakah Ami tau semua ini. Ketika cinta tumbuh dari hati Alan.
Bagaimana kelanjutanya ikuti terus.????
__ADS_1