Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 270 Alan yang sudah menyadari dari awal


__ADS_3

Air mata Ita mengalir, ia menatap ke arah Ane dan berkata,” Bisa tidak dokter tidak menyalahkan saya lagi, asal dokter tahu. Suami pasien Delia itu, sudah menyadari Semuanya dari awal.” Ucap Suster Ita sedikit bernada tinggi. Ita kesal dengan sang dokter yang selalu menyalahkannya padahal. Ita sudah berusaha membukam mulut menutupi semuanya.


Deg ....


Hati Ane seakan tak karuan saat mendengar Ita berkata seperti itu,” Maksud kamu Ita?" tanya Ane yang masih tak mengerti dengan perkataan yang terlontar dari mulut Ita.


“ Sudahlah aku sudah lelah berbicara dengan dokter, sebaiknya dokter tanya saja kepada suami pasien Delia yang tak lain ialah Pak Alan,” ucap Ita. Dengan tangan yang masih membereskan barang ke dalam tas besar.


Ita bersiap-siapa untuk pergi dari rumah sakit Ane, ia sudah tak kuat dengan tuduhan Ane yang selalu asal menuduh. Ita sudah membulatkan hatinya untuk pergi dan mengundurkan diri.


“ Jika kamu keluar dari sini, aku akan melaporkan kamu kepada polisi. Kalau sebenarnya yang memotong kedua kaki Deni adalah kamu,” teriak Ane. Mengancam Ita membuat Ita menghentikan langkah kakinya, membalikan badan ke arah Ane.


“Terserah, jika memang dokter punya buktinya,” balas Ita. Menatap tajam ke arah Ane. Yang masih berdiri tak jauh dari hadapnnya.


Kini Ita mulai membalikkan tubuh lagi, berjalan untuk menghentikan taksi.


Sedangkan Ane merasa kebingungan akan semua yang terjadi, ia takut jika Alan tidak mau mengakui dirinya sebagai sahabat.


Mengusap kasar wajah dan berkata,” kenapa Alan bisa tahu secepat ini, siapa yang sudah memberitahu semua ini.”


Di tengah keresahan yang dirasakan Ane, Afdal mulai mengintip di balik pintu. Dia hanya berkata dalam hati,” Maafkan aku Ane sudah membocorkan semuanya. Ini semua demi kebaikanmu, dan aku sudah puas jika Deni masuk ke dalam penjara. Karena ia pantas menerima semua ganjaran itu. Terlalu banyak yang ia perbuat kepada orang-orang yang tak bersalah.”


Afdal mulai melangkahkan kaki, melihat ke ruangan Delia. Alan dan Delia menangis dalam pelukan, mereka seakan berusaha saling menerima kenyataan yang ada. Walau kenyataan begitu menyakitkan hati masing-masing.


Hati Afdal tak kuasa melihat kedua insan yang memang menerima apa adanya. Ia melangkahkan kaki, menurunkan jasnya dan menaruh di dalam ruangan. Menuliskan surat pengunduran diri.


@@@@@


Di tengah-tengah amarah yang menggebu, Ane mulai ingat kepada Afdal, ia mencari keberadaan Afdal menelusuri setiap ruangan pasien. Tapi tak menemukan keberadaan Afdal.


Hingga Ia memutuskan untuk menemui Afdal di ruangannya, namun tak ada siapa-siapa. Hening hanyalah sebuah kertas yang tergeletak diatas meja, dan jas dokter yang tersusun rapi di atas meja.

__ADS_1


“Afdal. Ke mana dia?” tanya Ane mencari keberadaan Afdal.


Saat itulah Ane Mulai mengambil kertas yang tergeletak di atas meja, yang ternyata di dalam kertas itu, isi dari pengunduran dirinya Afdal dari rumah sakit Ane.


Ane menggenggam erat kertas putih itu,ia menggulung kertas itu dengan kedua tangannya. Melemparkannya pada tong sampah yang berada di hadapannya,” kenapa semua orang mengundurkan diri.”


Kesal bercampur sedih, itulah yang di rasakan Ane. Tubuh Ane kini merosot ke atas lantai. Air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja, kedua tangannya mengusap air mata itu secara perlahan.


@@@@


Sedangkan Alan yang berada di dalam ruangan, sedikit bernafas lega. Karena ia sudah mengetahui semuanya dari Afdal, jika Afdal tidak bercerita dan menjelaskan semuanya. Mungkin hati Alan tidak akan tenang, melihat Delia yang sering melamun dan juga mengigau dalam tidurnya.


Dimana mengigaunya Delia menyebutkan lelaki baji*gan. Yang membuat Alan mengingat Afdal sang dokter yang menangani Delia.


Alan mengingat di mana dirinya bertanya pada Afdal, saat itu. Alan dengan lancangnya, masuk ke dalam ruangan Afdal tanpa mengetuk pintu.


“Heh, baj*ngan.”


“Kamu lelaki baj*ngan itukan?”


Afdal berusaha menghentikan pukulan Alan yang sangat menyakitkan pada wajahnya, dia berusaha menenangkan Alan pada saat itu. Namun Alan tetap saja melontarkan sebuah pukulan demi pukulan pada wajah dan juga perut Afdal.


Sampai dimana Afdal terjatuh ke atas lantai, Iya langsung berucap pada Alan,” aku akan ceritakan semuanya pada kamu Alan.”


Pada saat itulah Afdal dengan beraninya mengatakan apa yang terjadi pada Delia, saat Alan tak ada di samping Delia.


Penjelasan itu membuat Alan seketika sok berat, sebenarnya Alan juga menemukan bukti video. Di mana video itu Alan temukan di ponsel sang suster Ita.


Dengan sengaja Alan mengambil ponsel Ita yang tergeletak di meja dekat ranjang Delia.


Alan menelusuri semua video dan juga isi dari ponsel itu, iya kaget dengan sebuah video menampilkan Delia yang tengah dipaksa oleh seorang lelaki. Untuk melakukan hubungan terlarang, lelaki itu memberikan obat pada mulut Delia. Dan juga tak segan- segan menyiksa Delia dalam hubungan terlarang itu.

__ADS_1


Jika Alan mengingat semua itu, hatinya sanggatlah sakit. Delia menderita. Dan Ane tak bisa mengurus Delia dengan benar.


“Alan.”


Ucap Delia dengan bernada lembut.


Alan mengusap kasar wajahnya, lamunannya seketika membuyar saat Delia menyebut namanya.


Kedua tangan kekarnya memegang pipi Delia dan berkata,” ada apa?”


Air mata Delia terus saja mengalir membasahi tangan Alan sampai di mana Alan berucap,” jangan menangis lagi.”


Bukannya Delia tenang, tangisannya semakin menjadi-jadi, “ hey. Kenapa menangis lagi, cukup Delia. Nanti bayi dalam kandunganmu ikut sedih.”


“Kamu masih mau menerimaku kan Alan?” tanya Delia. Hatinya benar-benar ketakutan, akan ucapan Ane. Jika kejujuran terbongkar Alan akan marah dan meninggalkan Delia.


“Kamu ngomong apa Delia? Mana mungkin aku meninggalkan kamu. Aku sangat mencintaimu, dan aku tak mau kehilanganmu!” Jawab Alan.


“ Apa kamu yakin dengan ucapanmu Alan, apa kamu akan menerima aku lagi?” tanya Delia.


“ Hei Sejak kapan aku tidak menerima kamu sebagai istriku, bagaimanapun keadaanmu. Kamu tetap istriku Delia!” jawab Alan.


Delia Memegang perutnya dengan tangan kanannya dan berkata,” tapi anak ini ....”


Belum perkataan dilihat terucap semuanya, Alan mulai menempelkan Jari tangannya pada bibir sang istri dan berkata,” aku akan menerima kamu apa adanya. Walau bayi dalam kandungan itu bukan bayi ku.”


Alan mengecup kening Delia, memeluk erat sang istri.


“Terima kasih, Alan.”


Delia tak menyangka jika semuanya, tidak seperti yang diucapkan Ane. Kalau begitu menyayanginya, walau bayi dalam kandungan Delia bukanlah bayi Alan. Tapi Alan tetap menerima.

__ADS_1


Delia sangatlah beruntung memiliki suami yang menerima apa adanya dirinya, ya tak peduli dengan semua masalah yang ada pada diri Delia.


__ADS_2