
Benar saja dugaan Ami, saat ia berpura-pura tidur. Rudi mulai meninggalkan Ami di dalam ruangan. kini yang menunggu Ami di dalam ruangan adalah Bu Sumiati.
Saat itulah Ami bangun dari tempat tidurnya, membuat Bu Sumiati sedikit kaget." Mami kamu tidak tidur?" tanya sang ibu yang duduk di samping ranjang tempat tidur Ami.
"Bu, bisa tidak pinjamin aku ponsel ibu, sebentar saja," ucap Ami memohon kepada sang ibunda.
" tumben kamu, untuk apa?" balas Bu Sumiati sedikit mengerutkan dahinya.
"Aku ingin menelpon temanku, Sisi apa boleh Bu, sebentar saja."
Melihat sang menantu yang memohon Untuk dipinjamkan ponselnya, membuat Bu Sumiati Tak Tega. pada saat itulah Bu Sumiati merogoh tasnya, mengambil sebuah ponsel untuk dipinjamkan kepada Ami.
"Ini, kamu boleh pake semau kamu," ucap Bu Sumiati menyodorkan ponselnya kepada Ami.
" Terima kasih Bu, Ibu memang terbaik," balas Ami tersenyum senang.
Ami lupa jika ia tak mempunyai nomor Sisi.
"Kamu kenapa?"
"Aku lupa nomor Sisi. Bu!"
"Di sana ada nomor Bu Ira, kamu bisa minta sama dia."
"Benar juga, bu."
saat itu Ami mulai menelepon Bu Ira, untuk menanyakan nomor ponsel Sisi. dan akhirnya kami mendapatkan nomor Sisi.
Dengan Sigap Ami langsung menelepon Sisi, saat itulah sambungan telepon pun tersambung pada nomor Sisi.
"Halo, siapa ya?"
Suara Sisi terdengar begitu nyaring, membuat Ami langsung menjawab.
"Si, ini aku Ami!"
"Ami."
"Iya."
"Maaf tadi atas perilaku Mas Rudi, yang tiba-tiba mematikan ponsel, entah kenapa Mas Rudi menjadi pemarah seperti itu. Tanpa alasan yang tidak aku ketahui."
Sisi mulai bertanya-tanya pada hatinya," Apa mungkin Rudi tidak mengatakan semuanya, sampai Rudi dengan sengaja menutup teleponku."
"Si, kamu masih ada di sana?"
"Iya, am aku ada kok."
"Aku ingin tanya dengan ucapanmu tadi, kamu tahu Sarah. Dia sekarang ada di mana?"
Sisi kini mulai berada di ambang kebingungan dia harus menjawab dengan jujur, atau harus terpaksa berbohong.
"Sebenarnya ....."
"Sebebarnya kenapa, Si."
Tiba-tiba saja Rudi datang tanpa Ami sadari, lelaki berbadan kekar itu langsung merebut ponsel yang menempel pada telinga sang istri.
__ADS_1
Rudi mulai menatap pada layar ponsel itu, iya menempelkan ponsel itu pada telinganya, suara Sisi terdengar jelas pada telinga Rudi.
dengan terpaksa Rudi langsung mematikan sambungan telepon yang menyambung pada sisi.
" Pah Kenapa kamu matikan ponselnya, Aku sedang mengobrol dengan Sisi."
wajah Rudi terlihat memerah, Iya menahan kesal. karena istrinya tak menuruti apa perkataannya.
Rudi langsung mengembalikan ponsel pada sang Ibu, Seraya berkata," Bu aku pinta sama ibu, Jangan pernah pinjamkan HP pada Ami."
" kenapa?"
" sebaiknya kalian menurut apa perkataanku."
saat itulah Bu Sumiati terdiam ketika anaknya, berkata tak seperti biasanya.
" Ibu sebaiknya pulang. Biar aku saja yang menunggu Ami di ruangan ini."
"Baiklah Rudi."
Bu Sumyati ke luar dari ruangan, sedangkan Ami terdiam dengan wajah sedih karna sang suami yang melarangnya untuk memegang ponsel.
"Sayang, kamu bisa tidak menurut sedikit padaku."
Ami menampilkan wajah kesal, ia tak menjawab pertanyaan suaminya.
"Kenapa kamu diam sayang. Aku melakukan semua ini demi kebaikan kamu dan juga kesehatan kamu."
"Kamu seperti itu bukan membuatku tenang. Malah membuatku penasaran. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan pah."
Ami yang mendengar semua itu tak menyangka, jika Sisi ulah dari semuanya dulu. Ami mengira Sisi hanya ingin merebut Rudi dan juga hartanya. Tapi ternyata Sisi juga sudah membuat persahabatan Ami dan Sarah hancur seketika.
Hati Ami seakan tak menerima semuanya, karna mimpi yang masuk pada dirinya kemarin seperti nyata. Pantas saja ada dendam dari hati Sarah, ternyata Sisi yang sudah membuat semua kekacauan ini.
"Mah, mamah tolonglah mengerti. Kenapa awalnya papah tak berani mengatakan semuanya. Karna takut mamah akan syok dan menjadi tertekan, tapi melihat papah yang memaksa jadi dengan terpaksa papah katakan semuanya."
Ami masih terdiam, ia benar- benar syok berat dengan apa yang di ceritakan sang suami.
"Terus, apa Sisi tahu di mana Sarah sekarang?"
Rudi terdiam, ia mengatakan jika korban dalam pesawat ada wanita bernama Sarah. Yang dugaan Sisi itu adalah Sarah sahabat masa lalu Ami.
"Jadi apa mimpi itu adalah pertanda?"
Ami terus bertanya-tanya pada hatinya, jika memang pertanda Ami sangat ketakutan sekali. Karna dalam mimpi itu Sarah sungguh menyeramkan, apalagi penampakan setelah itu. Sarah begitu terlihat kesal pada Ami.
"Pah, aku takut Dodi kenapa- napa."
" Mamah, tenang dulu. Kita belum tahu info pesawat itu lagi. Kemarin sudah banyak korban jiwa yang di temukan."
"Mamah berharap Dodi masih hidup."
"Papah juga berharap seperti itu."
Pelukan Ami kini di layangkan pada Rudi. Membuat Ami sedikit tenang.
@@@@
__ADS_1
Sedangkan Sisi dalam kebingungan yang amat sangat berat baginya. Ia berusaha mencari info terus menerus tentang pesawat itu.
Sisi ingin tahu apa Sarah masih hidup atau tidak.
Jika Sarah mati, apa yang harus ia lakukan. Apakah hantunya akan gentayangan karna dendam berlum terbalaskan.
Sisi memukul kepalanya sendiri," Sisi mana mungkin orang mati akan balas dendam."
Sisi berucap sendiri, membuat sang suami tiba- tiba datang memeluk dirinya.
"Kamu kenapa sayang. Seperti orang tengah kebingungan seperti itu."
"A-ku."
Sisi langsung melepaskan pelukan sang suami, tangan dan tubuhnya terlihat bergetar hebat. ada rasa takut menyelimuti hatinya saat ini.
"Hey, kenapa?"
"Mas."
Sisi tiba-tiba menangis terus menerus, tanpa Arpan tahu apa penyebabnya.
" Loh, kenapa menangis. Ayo katakan kenapa?"
"Sebenarnya aku ada masalah di masa lalu."
"Masalah apa, ayo cerita."
Sisi menelan ludah, ia berusaha berkata jujur kepada Arpan.
mengatakan bahwa dirinya pernah melakukan kejahatan yang sangat patal hingga sekarang.
"Aku sudah berbuat kejahatan, pada Ami."
"Kejahatan apa?"
Saat itulah Sisi mengatakan semuanya, bahwa dia sudah memutuskan hubungan persahabatan antara Ami dan juga Sarah.
Ia membuat Sarah menjadi wanita pendendam, sampai saat ini.
Arpan mengusap kasar wajahnya, menenangkan perasaan sang istri.
"Kamu harus tenang ya. Nanti kita cari jalan ke luarnya."
"Kamu tidak marah."
"Untuk apa, aku marah. Aku sudah menerima kamu apa adanya."
"Terima kasih."
Pelukan hangat kini Sisi rasakan, rasa tenang mulai terasa membuat Sisi sedikit tenang.
Arpan mulai mencari sebuah cara untuk menemukan info pesawat yang di tumpangi Sarah.
Info pesawat yang di tumpangi Sarah dan Dodi. Begitu pun Alan seakan lenyap seketika, membuat rasa heran semua orang
Kenapa semua menjadi misteri seperti ini?.
__ADS_1