Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 278 sebuah pilihan.


__ADS_3

Hanya dengan memakai handuk saja, Sarah masuk ke dalam ruangan itu, ia mencari keberadaan kedua gadis yang baru saja suruhannya tangkap.


Membuka lemari, Sarah tak menemukan keberadaan mereka, hanya tali tambang yang tergeletak begitu saja. Membuat ia mengambil tali itu dan melemparkannya.


“Sial, mereka tidak ada di sini. Ahhk, bodoh Sarah kamu kenapa bisa ceroboh seperti ini sih.” Gerutu Sarah di dalam ruangan.


Saat itulah Sarah, mulai bergegas memakai baju dan pergi menemui suruhannya yang tengah berjaga d luar.


“Kalau mereka kabur, bisa gawat.”


Sarah melihat suruhannya itu tengah berleha- Leha di depan rumah. Membuat Sarah kesal,” he, kalian.”


Hardik Sarah, mencoba menggebrak meja membuat mereka kaget. “ Cari kedua wanita yang baru saja aku tahan.”


“Baik, Nona.”


Kedua tangan Sarah mengepal erat, ia bingung saat itu. Ada rasa takut menghantuinya. Karna jika kedua gadis itu kabur mungkin dia akan terkena masalah dengan polisi.


“Ini tidak bisa aku biarkan.”


@@@@@


Di tengah kepanikan Dina, kini kedua suruhan Sarah menemukan Dina. Membuat Dina melangkah mundur,” Hey. Kamu mau ke mana, cantik?”


“Jangan mendekat!” jawab Dina ketakutan.


Kedua suruhan itu saling menatap satu sama lain, si jabrik mengusap dagunya sendiri dan berkata,” sebelum kita serahkan ke nona, bagaimana kalau kita cicipi dulu gadis ini.”


Sang teman tertawa senang,” benar juga.”


Dina yang mendengar obrolan mereka, langsung menunjuk dan berkata,” jangan macam-macam kalian. Atau ....”


Belum perkataan Dina terlontar, kedua lelaki berbadan kekar itu meraih tangan Dina. Mereka membawa Dina ke ruangan kosong.


Meletakan Dina di sebuah kayu lebar yang sudah tak terpakai.


“Eh, brow siapa dulu. Lu apa gua.”


“Terserah lu.”


“Ya sudah gua, dulu. Gua udah enggak bisa nahan lagi.”


Mereka berencana memperkosa Dina secara bergantian, si jabrik yang lebih dulu. Sedangkan si botak terakhir.


Si jabrik mulai beraksi dengan menyobek baju depan Dina, membuat tubuh Dina terlihat begitu saja.

__ADS_1


“Jangan macam-macam kau ya.”


“Sudah cantik, menyerah saja. Pasrah saja, kita nikmati bersama.”


“ Aku tidak mau.”


Dina berusaha berteriak, meminta pertolongan. Membuat Riri kini seketika mendengar teriakan Dina.


“Itu Dina,” ucap Riri kepada lelaki yang berada di sampingnya.


“Ayo kita ke sana,” balas lelaki yang belum di ketahui namanya.


Mereka berlari ke arah teriakan itu.


Ternyata benar, Dina tengah di telanjangi oleh suruhannya yang berambut jabrik. Membuat lelaki yang tidak di ketahui namanya memukul si jabrik itu, Bruk ....


Pukulan di layangkan beberapa kali membuat si jabrik terkulai lemah di atas lantai.


Si botak yang tengah menunggu giliran, dengan menghisap roko di belakang ruangan. Mendengar pukulan bertubi- tubi, membuat ia menghampiri sahabatnya.


“Ada apa ini?” tanya si botak.


Tanpa aba- aba. Lelaki itu langsung memukul wajah si botak.


Sedangkan Riri dengan sigap membantu Dina untuk berdiri, banyak sobekan pada baju Dina saat itu. Membuat lelaki yang sudah menghabisi kedua suruhan Sarah, memberikan jaketnya.


Saat itulah Riri mulai mengambil jaket yang di sodorkan lelaki itu, memakaikan pada tubuh Dina. Kini mereka mulai berjalan untuk pergi dari rumah Sarah secepat mungkin.


“Ayo kita harus ke luar dari tempat ini,” ucap lelaki itu.


Namun, ternyata saat langkah kaki mereka berhasil menuju ke luar rumah. Sarah datang dengan beberapa suruhannya.


“Wah, ternyata kalian mau kabur dari sini?” tanya Sarah tersenyum, ia menatap lelaki yang bersama Dina dan Riri. Membuat dirinya mengerutkan dahinya.


“Siapa kamu? Berani masuk ke rumahku, menjadi pahlawan?” tanya Sarah tersenyum kecil, langkahnya semakin dekat. Membuat lelaki itu perlahan membuka maskernya.


Betapa kagetnya Riri, saat melihat lelaki yang membuka masker itu sama seperti boneka yang di mainkan Sarah.


“Lelaki itu.” Gumam hati Riri.


Kedua mata Sarah membulat, ia tak henti menatap lelaki yang berada di hadapannya itu.


“Apa kabar, Sarah?” tanya lelaki yang membuka masker itu menanyakan kabar Sarah yang masih terdiam seribu bahasa.


“Sarah,” panggil lelaki itu, Sarah masih tetap saja diam tak menjawab pertanyaan lelaki itu.

__ADS_1


Riri mulai berucap pada Dina dengan menyenggol lengan tangannya,” dia kenapa?”


Dina mengangkat bahunya,” entahlah. Mungkin ia terpanah dengan wajah lelaki itu.”


Riri mulai berbisik pada telinga Dina,” kamu tahu tidak Din, wajah lelaki itu sama seperti boneka yang kita lihat di kamar Sarah.”


“Masa sih?” tanya Dina.


Suara langkah kaki Sarah kini terdengar pada telinga Dina dan Riri, membuat mereka menghentikan obrolan mereka berdua.


Sarah mendekat pada lelaki itu, ia senang dengan hadirnya lelaki yang sudah lama ia tunggu.


“ Akhirnya kamu datang juga, sudah lama ya. Aku kira kamu sudah tidak mengenalku lagi,” ucap Sarah. Tangannya mulai memegang pipi lelaki itu secara perlahan. Membuat lelaki itu menggenggam erat tangan Sarah.


“Sudah mulai berani memegangku, ya,” balas lelaki itu.


“Tentu, karna sudah lama tanganku ini tak merasakan pipi mulusmu ini, Rudi,” ucap Sarah.


Sarah dan Dina saling menatap satu sama lain mereka berucap,” Rudi.” Secara bersamaan.


Rudi, lelaki yang selalu di ceritakan Dodi yang tak lain ayah kandungnya Dodi sendiri.


Pantas saja Riri tak asing dengan wajah lelaki itu, ia pernah melihat pada lembar foto yang di tunjukan Dodi padanya.


Sekarang lepaskan mereka berdua, karna mereka tak salah,” ucap Rudi. Berharap Sarah melepaskan Dina dan Riri.


Sarah tertawa, hatinya senang dengan ucapan Rudi seperti itu. Ini kesempatannya untuk membalaskan dendam masa lalu kepada Ami,” mm. Itu mudah, aku bisa saja melepaskan kedua gadis itu, asal ....”


Ucapan Sarah yang tak di teruskan, membuat Rudi langsung bertanya,” asal apa?”


Sarah mendekat, menempelkan kedua tangannya pada dada bidang Rudi. Dengan sedikit membelai perlahan, kini bibirnya mendekat ke arah telinga Rudi dan berkata,” kamu mau jadi suamiku.”


Deg ....


Menjadi suami Sarah, tentu saja Rudi tak sudi. Apalagi Rudi sudah mempunyai seorang istri yang tak lain ialah Ami, menghela nafas panjang mengeluarkan secara perlahan. Rudi sedikit menyingkirkan badannya dari Sarah.


“Menjadi suamimu, mana mungkin. Karna aku sudah mempunyai seorang istri,” tegas Rudi.


Kini Sarah membalikkan badan, melangkah menjauhi Rudi dan berucap,” ya sudah. Terpaksa aku akan menyuruh suruhanku untuk memperkosa kedua gadis itu.”


Dina dan Riri sanggatlah kesal dengan ucapan wanita bernama Sarah itu, mereka berucap,” dasar wanita iblis.”


Rudi menggenggam erat kedua tangannya dan berucap dalam hati," Sarah benar-benar licik, memanfaat kan situasi ini hanya untuk membuat keinginan konyol yang tak bisa aku penuhi."


"Bagaimana, Rudi?" tanya Sarah.

__ADS_1


Rudi terdiam sejenak memikirkan perkataan Sarah, sesekali wajahnya menatap ke arah Riri dan Dina.


__ADS_2