
"Ahkkkk."
Teriakan seorang wanita membuat Lita, langsung mengarahkan senternya ke arah teriakan itu.
"Ida."
seketika Ida langsung menghampiri Lita yang menyenteri wajahnya, membuat Ida dengan terburu buru. Menghampiri Lita.
"Akhirnya kamu ada di sini. Aku cari kamu ke setiap ruangan, Lita."
Lita tak menjawab pertanyaan Ida, ia langsung mengarahkan senternya kembali ke arah sosok yang membuat dirinya penasaran.
"Sial, kenapa sosok itu tiba tiba menghilang."
" kamu cari apa sih, Lit. Sebaiknya ayo kita pergi dari gudang ini," ajak Ida. Mengusap pelan pundaknya.
" Tunggu dulu," ucap Lita masih penasaran dengan sosok yang ia lihat.
" Tunggu apa lagi, ayo kita pergi dari sini. Tempat ini menyeramkan," balas Ida.
Lita masih saja menyenter nyenter tempat di mana sosok itu berada, hanya saja sosok itu tiba tiba hilang.
Ida yang tak tahan dengan ke adaan gudang itu, langsung menarik paksa Lita.
" Ayo cepat kita pergi dari sini." Menarik legan Lita hingga ke luar dari gudang.
Brug ....
Suara hantaman yang begitu keras membuat Lita melihat ke arah belakang, entah suara apa itu?
"Suara."
Karena rasa penasaran yang tak tertahankan pada hati Lita, saat itulah Lita mulai melepaskan tangan Ida yang memegang lengannya. berlari ke arah gudang itu.
"Lita, kamu mau ke mana?" teriak Ida.
Ida tak mungkin menyusul kembali Ida, karna gudang itu begitu menyeramkan.
"Ahk, kenapa sih dengan Lita. Kenapa juga dia mau masuk lagi ke gudang itu." Gerutu Ida.
"Masuk tidak, masuk tidak. Ya." Hati Lita terus bertanya tanya. Antara masuk ke dalam gudang atau hanya menunggu di luar.
" Lita." Teriak Ida.
Lita yang masuk kembali ke gudang itu, langsung mencari sumber suara yang membuat dirinya kaget dan penasaran.
setelah sampai di sumber suara itu, Lita melihat barang barang gudang yang berjatuhan. Membuat ia mengecek, sampai di mana.
"Ahhkkkk."
Lita berteriak, sekeras mungkin. Berusaha ke luar dari gudang itu.
Ida yang menunggu di luar gudang, hanya bisa mendengar teriakan sahabatnya. " Aduh. Gimana ini, Lita berteriak lagi. Ke sana atau tidak ya."
Ida benar benar ragu dan ketakutan, bingung harus berbuat apa? Ia bulak balik ke sana ke mari. " Bagaimana ini."
Sampai di mana Lita ke luar, sampai menabrak tubuh Ida.
__ADS_1
"Aw."
"Lita, kamu apa-apaan sih. Kenapa juga kamu balik lagi ke gudang," hardik Ida kesal dengan Lita.
" ya maaf, aku hanya ingin melihat suara apa tadi," ucap Lita.
"Hah, kamu ini," balas Ida.
Lita berusaha berdiri, dan langsung membantu Ida berdiri saat itu juga.
"Ya sudah ayo kita pergi dari sini."
"Ya."
Mereka mulai, memulai kembali aksi mereka. Untuk menjalankan rencana agar bisa membawa bayi pasien.
Pasien yang berada di ruangan tengah duduk bersandar di rajang tempat tidur. Di hampiri Oleh Lita.
"Permisi, ibu. Saya ingin mengabarkan duka," ucap Lita kepada pasien itu.
Pasien itu langsung menatap ke arah Lita yang memakai masker," duka apa?"
"Anak ibu sudah tiada," ucap Lita berbohong.
"Apa, itu tidak mungkin. Sekarang kemana jasad bayiku, jika benar bayiku sudah tiada," balas pasien itu.
"Bayi ibu sudah di makamkan," balas Lita.
"Kenapa? Kenapa tidak memberitahuku dulu. Aku ingin melihat anakku." teriak pasien itu.
Lita dengan tergesa gesa ke luar dari ruangan pasien, tak mau lagi membalas perkataan pasien itu.
Rencana berhasil. Tinggal Lita, mengurus semua data palsu tentang ke matian bayi pasien itu.
"Ahkk, rencanaku berhasil. sudah tenang."
@@@@@@
Sang dokter kini terbangun dari pingsannya, melihat ke setiap sudut ruangan. memegang kepala yang masih terasa sakit.
"Hah, sakit. Loh kok aku sudah berada di ruangan ku sendiri," ucap sang dokter.
Sang dokter mulai mengingat kejadian yang sudah ia alami, yang di mana Dirinya berniat untuk masuk ke dalam ruangan khusus bayi.
"Saat aku masuk, aku merasa ada seseorang yang tiba tiba memukul pundakku. Tapu siapa?"
sang dokter berusaha untuk berdiri, membuka pintu ruangannya. yang ternyata pintu ruangan itu terkunci begitu rapat.
"Terkunci?"
dokter itu langsung mencari keberadaan kunci pintu ruangannya, saat itulah ia melihat kunci itu tergeletak di meja ruangannya. perlahan berjalan dengan merasakan rasa sakit di kepala dan juga pundak. dokter itu langsung mengambil kunci dan membuka pintu ruangannya sendiri.
sesaat pintu terbuka, sang dokter berusaha berjalan untuk segera pergi ke ruangan bayi.
Lita yang baru saja keluar dari ruangan pasien, melihat dokter yang ia pukul berjalan menuju ke ruangan bayi.
yang dimana Lita berpura-pura membantu dokter itu.
__ADS_1
"Dokter, anda kenapa?" tanya Lita.
"Suster kepala saya sakit, Sekarang saya mau ke ruangan bayi!"
" Kenapa bisa dokter sakit kepala? Bukannya tadi pagi dokter baik-baik saja," ucap Lita.
"Entahlah, aku juga bingung. Oh ya. bayi yang baru di lahirkan ke marin aku mau lihat sekarang," ucap dokter
Lita mulai memperlihatkan wajah sedihnya, berpura pura menangis." bayi itu sudah meninggal, dan pihak keluarganya sudah menguburkannya."
"Apa. Mana mungkin, bukanya bayi itu sehat?" balas sang dokter.
"Mungkin semua sudah jadi takdir. Dok!" jawab Lita.
"Ya sudah tolong, bawa saya ke tempat si ibu itu," ucap dokter.
"Sebenarnya pasien kemarin sudah pulang," balas Lita.
"Bukanya ibu itu harus di rawat dulu. Bagaimana bisa dia di izinkan pulang?" tanya dokter.
"Kami juga sudah menahan pasien ibu itu, tapi pasein itu tetap ngeyel ingin melihat pulang!" jawab Lita.
sang dokter merasa heran, dengan perkataan suster Lita.
"Ya sudah. kalau begitu. Saya mau mencari alamat pasien itu."
Deg .....
perkataan sang dokter membuat hati suster Lita tak tenang, untuk apa juga dokter itu mau menemui pasien. Bukannya dia tidak ada kerabat dengan pasien?
"E .... untuk apa?" tanya Lita dengan nada gugupnya.
"Saya merasa kasihan dengan pasien itu, karna sudah berjanji akan menemui bayinya dan memberikan kepada pasien itu lewat tangan saya sendiri."
"Oh, sebaiknya dokter tak usah menemui pasien ibu itu."
"Loh, kenapa?"
"Pasien itu, tak mau di ganggu oleh siapa pun!"
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Karna saya yang mendengar ucapan dari pasien itu!"
sang dokter benar-benar merasa Curiga dengan perkataan suster Lita yang terlalu berbelit-belit. Apalagi suster Lita terlihat gugup.
Sesaat Lita mengantarkan dokter ke ruangannya, salah satu keluarga pasien datang dengan terlihat cemas. Membuat Lita dengan sigap mengantarkan dokter itu ke ruangannya.
"Ahk, sial. kenapa keluarga pasien datang lagi. saat bersamaan seperti ini." Gerutu hati Lita.
"Suster, ada apa?" tanya sang dokter.
"Oh enggak dok. Sebaiknya dokter istirahat dulu di ruangan. Saya antarkan dokter sekarang!" jawab Lita.
Keluarga pasien mulia memanggil suster Lita, membuat sang dokter berhenti dan melihat ke arah belakang.
"Aduh bagaimana ini."
__ADS_1