Istriku Kumel

Istriku Kumel
Bab 90 Mengerjai Arsyla di mulai


__ADS_3

Saat itu Delia dan Alan pamit untuk pulang, tapi Sisi malah menyuruh untuk Delia tinggal di rumahnya karna merasa kasihan dengan keadaan Delia saat itu.


"Kalian mau kemana? Sudah tinggalkan saja Delia di rumahku saja, kasian nanti kamu kerja Alan. Delia di vila sama siapa. Pembantu kalian kan belum datang?"


"Tapi Si, kami takut merepotkan kamu sama Arpan. Makanya mendingan kita pulang saja."


"Enggak ada yang merasa di repotkan ko, aku senang jika Delia berada di rumah ini!"


"Tapi."


"Sudah lah, jangan takut. Aku enggak merasa di repotkan ko."


"Ya, sudah kalau begitu. Kalau memang itu kemauan kamu."


"Iya."


Saat itu Alan menitipkan istrinya di rumah Sisi, untuk sementara waktu. Karna memang Sisi yang memaksa.


Sisi merasa senang saat di rumah dia tidak merasa jenuh karna ada Delia yang menemaninya.


Sisi benar-benar berubah, ia menjadi wanita yang begitu baik. Dan perhatian, sipat aslinya terpancar lagi, setelah menikah dengan lelaki bernama Arpan.


Di tengah-tengah percakapan itu, Arsyla mengintip ia seakan kesal dengan kebahagian Sisi dan juga Delia.


Mengepal kedua tangan, menatap tajam kearah mereka yang tengah berbahagia.


"Awas aja, sebentar lagi kebahagiaan kalian akan sirna," ucap pelan Arsyla mengintip.


Alan yang berjalan melewati Arsyla saat itu bertanya.


"Loh, ngapai kamu di sini?"


"Eh, Mas Alan. Enggak ko, aku lagi senang liat kebahagian kalian, jadi iri."


Alan menggeleng-ngeleng kepala seraya berkata," nikah cepet-cepet nanti bisa kaya Mas dan istri.


"Masa iya nikah, aku masih kecil."


"Ya sudah mas berangkat kerja, kamu baik- baik di rumah Arpan, bagaimana pun Arpan saudara kamu juga."


"Iya, mas makasih."


Alan pergi bekerja, dan Sisi membawa Delia untuk berbaring lagi di kamar.


"Makasih ya Si, kamu banyak bantu aku akhir-akhir ini."

__ADS_1


"Sudah enggak apa-apa kamu juga suka bantu aku, jadi kita harus saling membantu."


"Iya, berkat kamu aku jadi bisa istrirahat."


"Ya, sudah kamu istrirahat dulu. Aku akan buatkan kamu makanan sepesial, ala-ala Sisi."


Setelah mendengar percakapan Delia dan Sisi.


Arsyla mempunyai ide untuk menuangkan obat sakit perut ketika Sisi tengah memasak, untuk Delia.


Dia sudah menyiapkan perangkap sebaik mungkin, ketika tinggal di rumah Arpan saat itu.


Ketika sup tengah di masak, Arsyla mengendap-ngendap, melihat ke kiri ke kanan apakah masih aman. Sehingga dia bisa menjalankan aksinya.


Rasanya dia tak sabar melihat Sisi di salahkan atas keteledorannya, membuat Arsyla semakin yakin bisa menang dan menghancurkan Arpan saat itu juga.


"Sedang apa kamu di dapur?" tanya Sisi yang baru saja datang.


"Eh, mba maaf tadi aku enggak sengaja liat sup nya engga di tutupin. Jadi takut nanti matangnya lama!" jawab Arsyla. Beralasan.


"Oh, ya sudah."


Arsyala pergi dengan seyum liciknya, ia seakan menang dari apa yang telah ia perbuat.


Dasar wanita bodoh, emang aku enggak tahu apa yang kamu tuang saat ini ke dalam masakan ku. Untung saja aku buru-buru melihat kamu menuangkan serbuk sakit perut. Gerutu hati Sisi.


Bu Ira datang membantu Sisi memasak, dengan sepenuh hati, wanita tua itu bagaikan sosok pengganti untuk seorang ibu bagi Sisi. Dia senang ketika berada dekat dengan Bu ira. Tapi dia juga kesal karna, melihat anaknya yang jahat itu.


"Lagi masak nak, mau ibu bantuin," ucap Ibu Ira. Terseyum ramah kepada Sisi.


"Boleh bu, tapi sup nya udah mateng dan pas. Jadi ibu tinggal bantuin Sisi ajah masak rica-rica ayam," jawab Sisi ia menyingkirkan sup buatannya. Karna takut Bu Ira akan mencoba dan mengalami sakit perut.


"Oh, ya sudah ibu yang motongin ayam nya ya," ucap wanita tua itu meraih pisau.


Sisi melihat Bu Ira begitu senang, wanita itu seakan bahagia mendapatkan keramahan dari istri keponakanya.


"Si, makasih ya. Kamu ini benar-benar wanita baik. Mau menerima ibu di sini," ucap Bu ira.


Sisi meraih pundak wanita tua di sebelahnya seraya berkata," Bu aku sudah menganggap ibu sebagai ibu aku sendiri."


Arsyla yang melihat ibunya menggobrol dengan Sisi, membuat hatinya seakan tak suka. Ia benci dengan seyuman yang terpancar dari Sisi saat itu.


Senangnya, dia bisa seyum-seyum seperti itu bersama ibuku, liat saja nanti. Apa dia bisa sebahagia itu, gerutu Arsyla.


Setelah selesai memasak, Sisi menyiapkan semua hidangan di atas meja bersama Bu Ira.

__ADS_1


Arsyla yang baru saja datang tiba-tiba duduk begitu saja, sang ibu membulatkan kadua matanya seraya sedikit membentak," Arsyla kamu enggak sopan ya."


Arsyla memoyongkan kedua bibirnya, Sisi langsung menghampiri sang ibu seraya berkata," sudah bu enggak papa."


Saat itu, Sisi menuangkan Sup buatannya kepada Arsyla.


"Oh ya, Arsyla ini sup buatan mba. Coba kamu cobainnya. Soalnya Tante Diana enggak makan, jadi Tante Sisi berikan khusus buat kamu," ucap Sisi menuangkan sup itu kedalam piring Arsyla.


Wanita berbulu mata lentik itu, tertohok kaget. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sedangkan dalam sup itu sudah tercampur obat sakit perut.


"Kenapa? Ko di liatin gitu ajah, ayo makan. Tante Sisi udah susah biki nya," ucap Sisi tak lupa menapilkan seyuman penuh kepalsuan.


"Iya Tante."


Arsyla, menatap pada wajah ibunya. Ia mengedipkan beberapa kode mata, agar sang ibu mengerti. Namun Bu Ira, seakan memperdulikan anaknya, karna memang wanita tua itu tak mengerti dengan kode mata anaknya.


"Loh, ayo dong makan," ucap Sisi.


"Ya, tante."


Saat itulah, Arsyla menyuapkan sup itu kemulutnya. Ada rasa kesal menghantui hati dan pikirannya saat itu.


Kenapa, nasibnya benar-benar sial saat itu, dia harus memakan sup yang telah ia campur obat sakit perut.


"Gimana enak kan?"


"Enak tante!"


Sisi menuangkan beberapa sup buatanya lagi ke dalam mangkuk Arsyla saat itu.


Rasaain emang enak aku kerjain makanya jadi anak jangan bandel. Gerutu hati Sisi.


Tiba-tiba perut Arsyla merasakan sakit yang sangat luar biasa sakit, ia seakan tak bisa menahan rasa sakit itu. Saking sakitnya ia berlari menuju toilet.


"Loh, kenapa dengan Arsyla."


Bu Ira nampak kaget, melihat anaknya yang berlari sekilat mungkin masuk ke dalam kamar mandi.


"Maaf aku sakit perut."


Arsyla duduk dan beberapa menit kemudia merasakan rasa sakit di perutnya.


"Arsyla kamu tidak apa-apa." Sisi bertanya dan pura-pura perhatian.


"Tidak apa-apa tante."

__ADS_1


Enaknya aku kerjain balik Arsyla.


__ADS_2