
Sarah benar-benar kesal, Iya tak menyangka jika Arpan sudah tidak ada di ruangan. Membuat dirinya berteriak memarahi para suruhan,” kalian ini bisa kerja tidak, mengurus orang satu saja kalian tidak bisa. Dasar bodoh.”
..
kedua bola mata Sarah membulat, hatinya kini diselimuti amarah. seakan ada kobaran api pada hatinya.
Padahal di dalam rumahnya itu begitu banyak suruhan dan juga penjaga, tapi kenapa para penjaganya bisa lengah begitu saja. apa lagi di rumah Sarah sudah terpasang pengaman yang memang sangat aman dan susah jika orang keluar dari rumahnya.
"AKU TIDAK HABIS PIKIR DENGAN CARA BEKERJA KALIAN."
Hardik Sarah menunjuk-nunjuk suruhannya itu, mereka seakan pasrah dengan apa yang dikatakan sang nyonya. tak ada perlawanan sama sekali.
Para suruhan Sarah hanya menundukkan pandangan, mereka tak berani melawan sang nyonya. Yang memang hanya seorang wanita, tapi mampu membuat suruhannya ketakutan.
begitu berkuasanya salah di rumahnya sendiri, padahal hak rumah yang ditempati Sarah belum menjadi milikmu seutuhnya, rumah itu masih milik sang suami. yang tak lain ialah Pak Anton.
Entah di mana keberadaan Pak Anton sekarang?
Apa Sarah sudah membunuh suaminya? Atau Pak Anton mati di bunuh?
Sarah kini mulai melangkah, ke arah kamar yang jarang ditempati dirinya.
Iya menekan suatu kode rahasia, di balik tembok kamarnya.
tembok itu kini terbuka, menampilkan sebuah ruangan yang terlihat begitu kuno. tak ada penerangan sedikitpun. Sarah hanya mengandalkan cahaya dari ponselnya sendiri.
Kini terlihat badan yang berdiri tegak, dengan wajahnya yang hancur. Siapakah itu?
Pada saat itulah Sarah kembali lagi ke luar, setelah ia mengambil beberapa lembar surat yang entah surat itu untuk apa.
@@@@@
Sarah wanita yang baik kini berbalik, menjadi wanita yang sangat kejam. Tidak ada kata maaf darinya, Iya bisa saja memperlakukan orang yang sudah berkhianat pada dengan sangat keji.
Hati Sarah sudah diselimuti dengan rasa dendam yang membara, ia tak segan-segan membuat orang itu menderita.
Sarah kini mulai berjalan mencari keberadaan Dina dengan menenteng lembaran surat yang ia bawa dari ruangan rahasia yang tak pernah di ketahui orang lain atau pun suruhanya, Iya memanggil-manggil nama Dina. Tapi tak terdengar suara Dina yang menjawab panggilannya.
Biasanya Memanggil nama Dina, Dina akan langsung datang dengan sendirinya. Tapi sudah beberapa kali Sarah memanggil namanya, Dina tetap saja tidak menghampirinya.
“Ke mana wanita itu?”
Sarah mulai bertanya pada suruhannya, namun suruhannya hanya berkata,” Kami tak melihat Dina. Nyonya.”
Sarah mulai memukul tembok rumahnya, tangannya mulai mengeluarkan darah. Dia seakan tak merasakan rasa sakit pada tangannya itu.
__ADS_1
“Sial, apa dia melarikan diri.”
Sarah bergegas mengecek CCTV, melihat apa yang sudah terjadi seharian ini.
Dengan ditemani beberapa suruhannya, pada saat itulah Sarah melihat kejadian yang sangat tak terduga bagi dirinya.
Suruhan yang ia suruh-suruh ternyata adalah seorang wanita, di mana wanita itu adalah sahabat dari Dina.
“Ahk, sial aku terkecoh.”
Sarah tersenyum kecut, mengepalkan kedua tangannya. Pada saat itulah ia bergegas untuk pergi mencari keberadaan Dina, dan juga sahabatnya yang menyamar menjadi suruhan.
“Aku pasti akan menemukan kalian, lihat saja nanti.”
Mengepal kertas yang ia pegang lalu membuangnya begitu saja, padahal tadinya Sarah ingin memberikan kertas itu pada Dina menugaskan sesuatu. Tapi ternyata Dina malah kabur dari rumahnya, iYa sudah mengingkari janjinya begitu saja.
"Jika orang yang sudah berjanji padaku tak menepati janjinya, lihat saja apa yang terjadi setelah ini."
@@@@@@@@
Setelah sampai di rumah sakit, para suster dan perawat datang menghampiri mobil Alan. Pada saat itulah Alan mulai membuka pintu mobilnya, agar para perawat membawa Arpan ke ruangan UGD.
Arpan benar-benar tak sadarkan diri, tubuhnya seakan dingin. Alan sangat kuatir dengan keadaan Arpan pada saat itu, hanya saja. Yang di sangyangkan Alan, ia kehilangan Dodi.
Mengusap kasar wajahnya, ia bingung saat itu.
Semenjak menolong Dina, mereka jadi kehilangan satu sama lain. Berpencar tanpa tahu di mana letak masing-masing, apalagi Alan tak memegang ponsel sama sekali. Membuat dirinya benar-benar kebingungan.
Menunggu beberapa jam, Arpan akhirnya sadar juga. Ia tak tahu jika Arpan tiada bagaimana dengan dirinya yang harus menjelaskan pada Sisi.
Kini sang suster menyuruh Alan untuk masuk ke ruangan Arpan, lelaki itu tengah terbaring dengan perban di mana-mana. Karna banyaknya bekas penganiayaan Sarah.
“Alan, terima kasih,” ucap Arpan.
Alan melihat ke arah sang suster, meninta izin untuk meminjam ponselnya.
“Sus, boleh saya pinjam ponselnya.”
Suster yang baik hati dan ramah itu, langsung dengan senangnya meminjamkan ponselnya pada Alan.
“Silakan.”
Pada saat itulah, Alan menyuruh Arpan mengingat nomor istrinya.
“Arpan, apa kamu masih ingat dengan nomor Sisi?” tanya Alan. Arpan langsung menganggukkan kepala, saat itulah ia menyebut nomor telepon istrinya.
__ADS_1
Dan panggilan telepon pun terhubung.
Di mana Sisi tengah mengurus Dodi dan cucu pak Tejo, ia dengan sigap mengangkat panggilan telepon yang ia tak ketahui namanya.
“Halo.”
Dengan perasaan senang, pada akhirnya Alan menyebut nama Sisi.
“Si, ini aku Alan.”
“Alan.”
Saat Sisi mengatakan nama Alan, pada saat itulah Dodi berdiri. Ia merasa senang jika Omnya ternyata masih hidup.
“Iya, aku bersama Arpan di rumah sakit.”
“Benarkah itu?”
“Iya, Si!”
Betapa senangnya Sisi mendengar jika Alan bersama suaminya di rumah sakit, Iya menangis menutup mulutnya dengan telapak tangan. Masih tak percaya dengan apa yang didengar Alan.
Dodi yang melihat Sisi menangis langsung memberitahu Rudi pada saat itu juga, di mana Rudi tengah mengobrol dengan Pak Tejo.
“Papah, Om Alan menelepon,” ucap Dodi. Pak Tejo sangat senang, saat mendengar Alan menelepon.
“Benarkah itu?” tanya Rudi yang masih tak percaya.
Pada saat itulah Dodi mulai menarik tangan sang papah, untuk menemui Sisi.
Sisi ternyata sudah bersiap-siap dengan baju yang begitu rapi.
“Rudi, Arpan bersama Alan. Berada di rumah sakit.”
“Ya, sudah. Aku akan menyiapkan mobil, kita ke sana sama- sama.”
Betapa senangnya Sisi pada saat itu, ia mengusap pelan air mata kebahagiaan setelah mendengar kabar dari Alan.
Saat itulah mereka bergegas masuk ke dalam mobil, untuk segera menemui Arpan dan Alan di rumah sakit.
“Kita harus cepat-cepat. Sebelum Sarah mengetahui keberadaan Arpan dan Alan.”
Sisi masih merasa tak tenang, karna bisa saja Sarah mencari keberadaan Arpan dan Alan, ia takut jika Sarah menugaskan Suruhannya kembali.
Rudi mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai di rumah sakit.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah sakit, betapa kagetnya Rudi pada saat itu.
@@@@@@