
"Alan aku tak menyangka sekarang kamu menjadi penyelamat Delia. Sungguh kejutan luar biasa," ucap sosok seorang pria yang tengah mengintip dalam kaca mobil, yang tengah ia kendarai.
"Aku kira Delia akan hancur bersama Ami begitu saja, tapi kenapa? Mereka malah bahagia. Aku sungguh benci kebahagian mereka, selama mereka bahagia, hidupku seakan menderita," gurutu lelaki yang tengah mengendarai mobil itu.
"Lepaskan aku dasar bajingan!" Sosok seorang lelaki yang tengah terikat oleh tali tambang, di belakang mobil terus meronta-ronta.
Hingga saatnya Doorr ....
Satu tembakan melayang pada dada kiri lelaki yang tengah meronta-ronta saat itu.
Darah mulai keluar secara perlahan, dari dada yang tertembak oleh pistol. Tubuhnya lemas merasa kesakitan, tembakan itu benar-benar membuat peluru menembus ke dalam tubuh.
"Gimana rasanya sakit kan?" tanyanya sembari menyodorkan pistol diatas kepala pria yang sudah tidak berdaya itu.
"Tembak lagi, biar kamu puas!" jawab lelaki yang terikat tali tambang itu.
Tertawa sembari menyodorokan pistol. Seraya berkata." Kasian sekali nasibmu Fairus, calon istrimu menikah dengan orang lain. Fairus menikah tak jadi, malah mati sia-sia di tanganku."
Tawa itu terus terdengar di telinga Fairus lelaki berkulit sawo matang, tak lain ia lah calon pengantin pria yang tidak datang pada pernikahanya.
"Dasar kamu bajingan!"
Doorr ... dorr ..., Dua tembakan melayang lagi pada kepala Fairus. Hingga tubuh lelaki itu tak lagi bergerak. Detak jantungnya sudah berhenti.
Setelah aksi penembakan sadis itu, jasad Fairus di bawa pergi. Ketempat pernikahan Delia di sebrang jalan.
Jasad Fairus yang terikat tali langsung di tendang ke luar mobil begitu saja. Hingga tubuhnya sedikit tersered oleh kendaraan yang tengah melaju.
Orang-orang yang melihat langsung mengejar mobil itu. Tapi sayang keadaan di jalan sangat sepi karna orang-orang tengah asik di dalam gedung yang memeriahkan acara pernikahan Delia dan Alan.
Orang-orang yanga tengah menikmati undangan, begitu pun dengan Alan dan Delia yang tengah berbahagia.
Mendengar orang-orang ramai dan berkumpul di sebrang jalan. Terdengar orang berteriak tentang pembunuhan, tamu undangan berlari melihat apa yang tengah terjadi.
"Kenapa? Orang-orang tengah berlarian, bukankah acaranya belum selesai?" tanya Ami pada Delia.
"Apa, kita lihat saja ke sana. Apa yang tengah terjadi?" jawab Delia.
Karna rasa penasaran menghantui Delia saat itu juga. Delia berjalan pelan menghampiri kerumunan itu bersama Alan.
Ami dan Rudi ikut serta karna rasa penasaran dalam hati.
Saat wanita bermata sipit itu masuk ke dalam kerumunan. Tiba-tiba Delia tertohok kaget.
Melihat pria yang ia kenal tergeletak berumuran darah. Bekas tembakan dibagian kepala dan juga dada kirinya.
"Apa kamu mengenal orang ini?" tanya Alan pada istrinya yang tengah menatap jasad itu.
Delia mengangguk seraya berucap," Dia adalah Fairus calon pengantin pria yang tak datang saat pernikahan di mulai."
Tanpa Delia sadari gaun putih yang melambai ke tanah, saat ini terkena lumuran darah dari lelaki yang tergeletak tanpa nyawa.
Kenapa bisa seperti ini? kenapa pengantin pria bisa terbunuh begitu saja? Bisik hati Alan saat itu, pikirannya dipenuhi semua pertanyaan.
Saat itu juga semua orang saling berbisik satu sama lain.
__ADS_1
"Kasian calon pengantinnya."
"Iya, kasian sekali."
"Kanyanya pengantin wanitanya bermasalah."
Itulah yang terdengar dari warga yang saling berbisik satu sama lain. Delia hanya bisa menunduk pandangan mendengar semua bisikan orang-orang yang berkerumun waktu itu.
Alan menghampiri Delia dan semakin mendekat, membisikan ketelinga istrinya." jangan dengerin radio rusak, warga memang kaya gitu mulutnya bermasalah."
Ada seyum kecil terlihat dari bibir Delia.
Namun, tetap saja Delia merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpa Fairus.
Saat itu polisi datang menyelidiki dimana Fairus tergeletak tak bernyawa. Diiringi dengan orang tua Fairus.
"Semua ini gara-gara kamu Delia, saya menyesal telah menjodohkan anak saya dengan kamu Delia," hardik Pak Husen tak lain adalah ayah dari Fairus.
"Jaga ucapan anda Pak Husen, semua di luar kendali. Kita tidak tahu kalau calon pengantin bisa terbunuh seperti ini," ucap Pak Gunandi tak lain ayah Delia.
"Pokonya kalian penyebab atas semua ini! Dasar keluarga pembawa sial."
Pak Husen berlalu pergi bergitu saja, setelah apa yang ia lontarkan pada Pak Gunandi dan Delian.
Dari awal Pak Gunandi tidak tahu bakal seperti ini. Yang di pikirkan saat itu oleh Pak Gunandi adalah calon pria tak mau datang karna perjodohan.
Delia meremas rambutnya dengan kedua tangan, membuat sanggul rambutnya yang indah kini menjadi berantakan dan tak beraturan.
Polisi segera membawa jenazah ke rumah sakit untuk segera di outopsi, karna kasus korban yang mengenaskan.
Delia menagis terisak-isak. Alan yang melihat istrinya menagis segera menenangkan tangisanya itu. Kedua tangan Delia bergetar, ada rasa salah menyelimuti dirinya, dengan di selimuti perasaan bingung.
"Tenang Delia, semua akan baik-baik saja. Semua bukan salahmu," ucap Alan memegang erat kedua tangan istrinya itu.
Pernikahan yang bahagia kini berujung menjadi petaka.
Dari kejauhan, sosok pembunuh itu tengah bersandar di sebelah sisi mobil menyalakan korek api pada batang rokonya.
Terseyum menyaksikan semua di depan mata seraya berkata." ini belum seberapa Delia. Andai saja kamu tidak ikut campur, urusan Rudi dan Ami. Mungkin aku tak akan membuat kamu menderita, jangan salahkan aku. Karna aku benci seseorang yang menjadi malaikat penolong kedua insan Rudi dan Ami."
Di sisi lain Ami seakan curiga. Dia melihat ke sekitar tempat, karna Ami berpikir. Pembunuh itu taakan jauh dari lingkungan ini.
Ami melihat dari kejauhan seorang pria tak nampak jelas raut wajahnya, seakan mempunyai gerak-gerik mencurigakan.
"Postur tubuhnya gendut, memakai jas hitam. Apa itu Luky? Tapi mana mungkin. Diakan sekarang berada dalam penjara.
Pertanyaan itu terus tergiang di dalam pikiran Ami saat itu.
Delia hanya menagis seharian, dan mengurung diri di dalam kamar tidur. Membayangkan apa yang terjadi saat kejadia itu. Darah bercecer, wajah Faisal yang mengenaskan membuat wanita bermata sipit itu. Terbayang-banyang dan trauma.
Kedua tangan Delia dan bibirnya terus bergetar. Alan yang melihatnya sungguh tak kuasa. Ia mencoba menenangkan sang istri dari kejadian waktu kemarin.
Apalagi sekarang hari dimana jenazah Faisal di makamkan. Alan menyuruh Delia agar tidak ikut. Karna takut terjadi hal-hal yang menyakitkan hati istrinya.
Ditambah lagi orang tua Faisal pasti enggan menatap wajah Delia. Tapi wanita bermata sipit itu terus saja memaksa, karna ingin melihat pemakaman Faisal. Yang terakhir kalinya. Mau tidak mau, Alan mengantar istrinya ke pemakaman itu.
__ADS_1
Saat langkah kaki menginjak tanah pemakaman, sosok seorang bapak-bapak datang tak lain ialah Pak Husen.
"Untuk apa kamu Delia, datang ke pemakaman anak saya? Sebaiknya kamu pergi dari sini, aku tidak sudi melihat wanita pembawa sial seperti kamu," hardik Pak Husen menunjuk wajah Delia.
Air mata wanita bermata sipit itu mengalir seraya berkata." Delia mohon om, untuk terakhir kalinya. Melihat Almarhum Faisal di makamkan."
Pak Husen mendengkus kesal, amarahnya semakin naik. Ia berteriak." Pergi dari sini atau aku lapori kamu ke kantor polisi, karna kasus pembunuhan anakku."
"Maafkan kami pak, kami akan segera pergi dari sini."
Delia mengeleng-geleng kepala, tidak mau pergi sebelum melihat pemakaman Fairus.
Alan terus memaksa Delia, berucap lembut. Sampai wanita berwajah sipit itu mendengarkan perkataan suaminya.
Saat sampai di rumah. Pelukan hangat ibu terasa pada tubuh Delia, penenang dari semua masalah yang ada.
Bu Lani berkata." Kamu harus tenang Del, ini semua takdir, jangan menyalahkan dirimu sendiri."
"Tapi ...!"
Satu cubitan mengenai bibir Delia dari tangan sang ibu." Ingat jangan menyalahkan diri sendiri, yang ada kita bakal tersiksa. Lebih baik kita cari siapa pembunuhnya. Kamu ini kuat masa lemah!"
Delia langsung mengusap kasar pipinya, dia lupa dirinya mempunyai kemampuan.
Dari sana wanita bermata sipit itu bangkit dari keterpurukanya.
Ibu terseyum dan mengelus rambut Delia dan berkata." Semangat."
Tidak ada kata bangkit kalau bukan dari seorang ibu, bisik hati Delia.
Dua hari melihat Delia terseyum, membuat Alan bahagia. Entah kenapa Alan langsung menggiring Delia ketempat tidur.
Membuka baju, melaksanakan apa yang tertunda setelah menikah.
"Apa sih Alan, pagi gini?"
Alan terseyum mengecup beberapa kali bibir Delia, membuat wanita itu tersipu malu.
dan menendang perut Alan.
" Masih ada waktu buat malam saja," ucap Delia berlalu pergi.
Alan mengeleng-geleng kepala, "momen berharga lenyap karna hari masih pagi.
Emh. Delia, Delia. Awas saja ku gigit kau semalaman."tawa Alan menggema di sudut ruangan.
"Kenapa ketawa?" tanya Delia menutup pintu kamar.
"Ingin ajah."
"Dasar."
Saat itu tok ... tok ..
Siapa pagi-pagi begini ketukan pintu semakin kencang, Delia lupa ibu sedang pergi ke pasar membeli bahan sayuran.
__ADS_1
Siapakah lelaki pembunuh itu?
Jangan lupa like dan komen.